Terpilihnya Dessy Menjadi Seorang Gubernur FKM Malahayati

MAHASISWA cantik dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Dessy Elviyanti. Wanita cantik ini biasa disapa Dessy, kelahiran di Way Kanan 03 Desember 1995. Tak dapat dibayangkan, bahwa seorang wanita ini memiliki hoby bermain catur dan badminton.

Pada 23 April lalu, ia terpilih menjadi Gubernur FKM periode 2016-2017. Pasalnya, ia termotivasi karena ingin belajar menjadi seorang pemimpin yang dapat mengayomi dan menjembatani mahasiswa di FKM untuk mengedepankan rasa solidaritas satu sama lain.

“Perasaan saya senang, tetapi dengan terpilih nya sebagai gubernur, saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar dan pola pikir yang logis dalam mengambil sebuah keputusan. Saya memiliki Visi, yaitu menumbuhkan rasa solidaritas antar anggota, dan memperkenalkan FKM di lingkungan kampus dan di luar kampus pada tahun 2016. Lalu Misi saya, yaitu meningkatkan rasa kebersamaan, rasa saling memiliki BEM, menjunjung tinggi musyawarah mufakat bersama dan mengadakan kegiatan bersama untuk meningkatkan kreativitas yang dimiliki anggota.

Dessy berharap semoga banyak orang mengetahui adanya Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Malahayati, dan untuk anggota semoga tetap kompak, mengedepankan rasa saling menghargai, dan musyarawah mufakat bersama.[]

M Bagus Dharma Bulan; Ketua Himpunan HMJ-TM

MENGENAKAN seragam Teknik Mesin (TM) saat ditemui di lantai dua Gedung Perkuliahan Universitas Malahayati, Sabtu 04 Juni 2016. Ia adalah sosok pemuda yang ramah. Muhammad Bagus Dharma Bulan begitu nama lengkapnya.

Bagus, sapaan akrab pemuda kelahiran Kalianda, 14 Mei 1995 ini dipercaya oleh teman-temannya mengemban amanah sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin (HMJ-TM). Berkat dukungan teman-teman terdekatnya hingga ia terpilih menjadi ketua HMJ-TM, dengan sistem voting suara terbanyak. Ini merupakan tahun ketiga ia bergabung dengan HMJ-TM sejak 2013 sebelum pada akhirnya ia terpilih menjadi ketua himpunan pada Re-Organisasi TM Jum’at 03 Juni 2016 lalu. Banyak pengalaman yang ia dapat dalam kurun waktu itu sehingga ia siap menjadi ketua himpunan HMJ-TM.

Motivasinya menjabat sebagai ketua himpunan ini ingin menjadikan mahasiswa TM lebih maju diberbagai hal, khususnya dibidang akademik dan organisasi. Menurutnya organisasi yang ia pimpin ini merupakan sebuah amanah, tantangan dan tanggungjawab yang harus ia jalani.

Mahasiswa angkatan 2013 ini juga terbilang aktif diperkuliahan. Pengalamannya dalam dunia organisasi tak perlu diragukan lagi, ia pernah tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan Satgas di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA N) 1 Kalianda, Lampung.

Ia berharap dalam memimpin HMJ-TM ini mahasiswa Teknik Mesin Malahayati dapat berkontribusi dan berkoordinasi dengan baik dalam membangun HMJ-TM lebih baik serta lebih erat kekluargaannya atau solidaritasnya. Dan sebagai mahasiswa semester enam jurusan Teknik Mesin ini ia juga berbagi kesannya mengenai perkuliahan di Malahayati. “Universitas Malahayati mengajarkan akan kemandirian, disitu organisasi berperan penting untuk mengembangkan skill dan kemandirian,” kata mahasiswa asal Kalianda itu.

Ia juga berharap Universitas Malahayati untuk lebih meningkatkan fasilitas yang ada, khususnya bagi Teknik Mesin itu sendiri. “Alangkah baiknya jika yang sudah baik menjadi lebih baik lagi,” katanya menambahkan.[]

Ervan Sebagai Ketua AMDM Tahun 2013

ANGGOTA Muda Dewan Mahasiswa (AMDM) adalah suatu wadah khusus untuk mahasiswa baru tahun ajaran baru yang ingin lebih mengetahui tetantang organisasi di Universitas Malahayati yang dibina langsung oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPM-U). Adapun ketua AMDM angkatan 2013, Ervan Eka Prasetiadi begitu nama lengkapnya. Pemuda yang akrab disapa Ervan ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Program Studi Kedokteran Umum angkatan 2013..

Ervan kelahiran Metro, 8 November 1994 memiliki hobi bermain vespa antik. segudang pengalaman organisasi dan prestasi yang sudah ia raih semenjak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Pengalaman organisasi seperti Pramuka, dokter kecil, pencak silat, Osis, Paskibra, BEM FK, Menwa dan organisasi lain diluar kampus. serta prestasi yang sudah ia capai ialah Pencak silat, Peraturan Baris Berbaris (PBB), pramuka baik tingkat kota maupun provinsi.

Menurutnya AMDM merupakan suatu wadah untuk belajar berorganisasi dan mengenal seluruh organisasi yang ada di Malahayati termasuk DPM, BEM, UKM yang intinya termasuk dalam Keluarga Mahasiswa Universitas Malahayati (KM Unmal).

Semasa ia menjabat sebagai Ketua AMDM angkatan 2013, banyak sekali yang dapatkan seperti mendapat kenalan baru, menambah saudara dari berbagai jurusan, dan mengenal para petinggi di Malahayati.

“Harapan saya adalah ingin memajukan AMDM dengan eksistensi AMDM dan memanfaatkan organisasi untuk mendapatkan ilmu dan wawasan yang luas di kampus tercinta ini,” ujar Ervan.[]

dr Hetti Rusmini M Biomed; Dosen Supel, Alumni FK Malahayati

DOKTER supel dan ramah ini bernama lengkap dr Hetti Rusmini M Biomed. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malahayati yang kini menjadi seorang dosen di tempat ia menimba ilmu dulu. Menariknya, sejak pertama ia masuk kuliah hingga menyelesaikan gelar Magisternya, ia dibiayai program beasiswa penuh dari Malahayati.

“Awalnya passion saya dibidang hitung menghitung, makanya saya sempat coba di STAN dan Unila. Orang tua saya yang merekomendasikan agar kuliah di Fakultas Kedokteran karena ada program beasiswa waktu itu. Dengan separuh hati saya coba menyenangkan mereka. Ternyata setelah setahun saya jalani, akhirnya saya meneguhkan hati dan yakin kalau saya memang tepat kuliah di FK Malahayati. Saat itu bahkan IPK saya sempat 3,94, bukti kalau memang saya mampu dan harus terus berjuang,” kata dr Hetti bercerita.

Ia juga bercerita dulu mengawali pendidikan di SDN 5 Rajabasa, lalu lanjut di SMP 8 Bandar Lampung dan SMA 9 Bandar Lampung barulah akhirnya memilih FK Universitas Malahayati di tahun 2004 silam. Setelah meraih gelar dokter di tahun 2011, ia langsung mengajar di Universitas Malahayati selama beberapa bulan di tahun yang sama. Beruntung, ditahun itu juga ia disekolahkan kembali oleh Yayasan agar meraih gelar Magister di Universitas Brawijaya Malang. Sepulangnya dari Malang di tahun 2014, ia kini mulai aktif mengajar kembali di Malahayati hingga sekarang.

Menurutnya, sekolah itu merupakan perjuangan, akan banyak sekali hal yang dikorbankan dalam perjuangan. Baik waktu, tenaga, pikiran, materi dan masih banyak lagi. Tapi percayalah, niat baik dan ikhlas untuk terus menyenangkan hati kedua orang tua kita, Insya Allah jalan kita akan dipermudah. Tak ada kata tak mungkin jika kita berjuang dengan sungguh-sungguh.

“Pendidikan itu sama, hanya bagaimana kualitas manusianya saja. Apakah dia sanggup berjuang untuk menjadi sesuatu, atau hanya berleha-leha membuang waktu. Ingat, sekolah itu jangan studi oriented atau berkutat di nilai dan nilai saja. Tapi ilmunya itu yang penting, kalu ilmunya sudah diserap pasti nilainya bagus. Kalau hanya orientasi pd nilai ujung-ujungnya melakukan hal curang toh,” kata dr Hetti menggebu-gebu.

Ia berpesan kepada Mahasiswa Malahayati untuk terus mengejar kesuksesan dengan keteguhan hati. Berjuang dan berdoa itu wajib hukumnya. Jangan durhaka kepada orang tua termasuk dosen. Terus jaga attitude agar pribadi kita dan Malahayati khususnya semakin maju lagi dan berkembang lagi.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat,” ujar dr Hetti mengutip surat Al-Mujaadilah ayat 11.[]

Titus Prayogo; Ketua AMDM 2015

ANGGOTA Muda Dewan Mahasiswa (AMDM) adalah suatu wadah khusus untuk mahasiswa baru tahun ajaran baru yang ingin lebih mengetahui tetantang organisasi di Universitas Malahayati yang dibina langsung oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPM-U). Adapun ketua AMDM angkatan 2015, Titus Prayogo begitu nama lengkapnya. Pemuda yang akrab disapa titus ini adalah mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2015.

Titus yang bergabung dengan AMDM sejak 15 November 2015 ini dipercaya oleh teman-temannya mengemban amanah sebagai ketua AMDM 2015. Ia dilantik tepat pada 06 Januari 2016. Banyak pengalaman yang ia dapat dalam kurun waktu itu sehingga ia siap memimpin AMDM 2015.

Motivasinya menjabat sebagai ketua AMDM ini ingin menanamkan kekompakan antar rekan AMDM. “Saya ingin menjadikan antar rekan AMDM lebih kompak dan saya tidak suka hanya menjadi ekor yang hanya mengikuti kemana arah kepala berjalan, itu sebabnya saya ingin jadi kepala yang menentukan arah ekor saya,” kata Titus kepada malahayati.ac.id via pesan elektronik.

Menurut Titus organisasi yang ia pimpin ini merupakan tantangan baginya, karena sulit menyatukan perbedaan sifat untuk menjadi kompak. Namun ini tak jadi penghalang baginya memimpin AMDM 2015. Pengalamannya dalam dunia organisasi pun tak perlu diragukan, ia pernah tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Mahasiswa kelahiran 28 Juli 1998 ini mengaku terkesan dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Malahayati. “Organisasi di Malahayati ini mandiri, karena meski minim akan dana kegiatannya mampu terlaksana,” kata mahasiswa asal Kalianda, Lampung itu.

Ia pun berharap agar AMDM 2015 menjadi lebih kompak lagi dan Universitas Malahayati mendukung lebih kegiatan kemahasiswaan supaya mahasiswa mendapatkan manfaat lebih dari berorganisasi. “Alangkah baiknya jika yang sudah baik ini menjadi lebih baik lagi,” katanya menambahkan.[]

Berparas Ayu, Dokter Muda Widhia Meraih IPK 3,95

TERLIHAT anggun dengan tata rias dan busana yang sepadan saat ditemui malahayati.ac.id usai Sumpah Dokter periode ke-37, Selasa 12 April 2016. Prosesi sakral ini diikuti oleh 74 peserta dengan tema “Dengan Revolusi Mental, Mari Kita Tingkatkan Dedikasi Profesi Dokter Melayani Masyarakat Demi untuk Peningkatan Derajat Kesehatan Bangsa” ini melahirkan dokter muda yang berkualitas. Dialah Dokter N K Widhia Puspitasari, si peraih IPK 3,95.

Widhia begitu ia disapa, lahir di Metro, 06 Januari 1992. Ia menjalani koas di Rumah Sakit umum di Medan. Ia mengaku lega, karena perjuangan yang ia lalui cukup panjang. Mulai dari pendidikan sarjana kedokteran, jalani koas dan ikuti Uji Kompetensi Program Profesi Dokter (UKMPPD) hingga mengambil sumpah dokter.

Menjadi salah satu peraih IPK tertinggi adalah suatu kebanggaan, terlebih berkat motivasi dari orang tua dan orang terdekat. “Tidak menyangka, karena awalnya tak begini, semua ini karena motivasi dari orang tua dan orag-orang terdekat saya sehingga saya terdorong untuk membuktikan bagaimana menjadi peringkat terbaik,” kata Widhia.

Ia pun bangga kuliah di Universitas Malahayati. Menurutnya kuliah di Malahayati menyenangkan. “Siapapun bisa masuk dan menimba ilmu di sini, tapi tak semudah itu untuk keluar dari sini, butuh perjuangan dan kerja keras untuk menjadi lulusan berkualitas di kampus ini,” katanya menambahkan.

Ia juga berpesan kepada adik tingkat yang masih menempuh pendidikan dokter maupun yang sedang koas untuk terus belajar dan menggali keilmuan. Dan jika ingin sukses ingatlah orang tua, ingat dengan mereka akan mempermudah perjuangan diri dan tak ada proses yang akan menghianati hasil. Ia berharap setelah ini ia dapat menjalani internship dengan baik dan dapat melanjutkan sebagai dokter spesialis.

Widhia juga berharap Universitas Malahayati semakin maju, pendidikannya semakin baik, dan program studinya lebih ditingkatkan lagi sehingga dapat melahirkan lulusan baru yang berkualitas lagi. “Untuk teman-teman sejawat selamat atas sumpah dokter ini dan mudah-mudahan bisa jadi dokter yang mengayomi masyarakat dan bekerja dengan hati nuarni,” kata wanita asal Metro itu.[]

Dokter Baru Ini Meraih IPK 3,95

SUMPAH Dokter periode XXXVII Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati berjalan khidmat. Berlangsung di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, Selasa 12 April 2016, prosesi sakral ini diikuti oleh 74 peserta. Acara yang mengusung tema “Dengan Revolusi Mental, Mari Kita Tingkatkan Dedikasi Profesi Dokter Melayani Masyarakat Demi untuk Peningkatan Derajat Kesehatan Bangsa” ini melahirkan dokter baru yang berkualitas. Salah satunya dr Tara Berliyandhi, dokter baru dengan perolehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95.

Tara begitu ia disapa, lahir di Tulang Bawang Lampung 25 tahun silam. Menurut Tara meraih IPK tertinggi memang suatu hal yang membanggakan, namun semua itu tak luput dari usaha dan doa. Telah mengambil Sumpah Dokter membuat hatinya lega dan bahagia, karena perjuangannya selama ini mengantarkannya menuju impiannya.

“Lega, senang dan bahagia telah melewati masa 6 hingga 7 tahun berjuang, suatu hal yang membanggakan karena kami lulus dengan jalur tes yang murni,” kata Tara.

Tara mengaku bangga kuliah di Universitas Malahayati, karena di sini ia menimba ilmu dengan fasilitas yang memadai hingga menjadi apa yang diimpikan. Tara juga berpesan kepada adik tingkat yang masih menempuh pendidikan dokter maupun yang sedang koas untuk terus belajar dan menggali keilmuan.

“Untuk yang koas dapat memberikan keseimbangan pada teori dan prakteknya dan tetap tingkatkan belajar, mulailah membaca soal-soal ukmppd, sambil koas sambil cicil belajar agar siap menghadapi ujian yang akan datang,” kata dokter baru asal Rawajitu, Tulang Bawang itu.

Ia berharap setelah ini para dokter baru diberi jalan yang lurus untuk menjadi dokter yang pintar, memiliki aturan, amanah, menjadi kebanggaan dan barguna bagi nusa dan bangsa serta memiliki ikatan alumni yang kuat. “Untuk Universitas Malahayati semoga menjadi kampus yang lebih maju lagi, lebih hebat lagi sehingga mampu menjadi juara satu di tingkat nasional maupun internasional,” kata Tara menambahkan.[]

Restu Ayu Noviyanti; Peraih IPK 3,95

SUMPAH Dokter periode XXXVII Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati berjalan khidmat. Berlangsung di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, Selasa 12 April 2016, prosesi sakral ini diikuti oleh 74 peserta. Acara yang mengusung tema “Dengan Revolusi Mental, Mari Kita Tingkatkan Dedikasi Profesi Dokter Melayani Masyarakat Demi untuk Peningkatan Derajat Kesehatan Bangsa” ini melahirkan dokter baru yang berkualitas. Salah satunya dr Restu Ayu Noviyanti, dokter baru dengan perolehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95.

Restu begitu ia disapa, lahir di Tanggerang, 09 November 1992. Ia menjalani koas di berbagai Rumah Sakit di Medan. Dan meraih IPK tertinggi memang suatu hal yang membuatnya bangga dan bahagia.

Restu mengaku lega dan bahagia telah mengambil sumpah dokter, dan ini menjadi moment yang tak terlupakan baginya. Ia pun bangga kuliah di Universitas Malahayati. Menurutnya Malahayati semakin bagus, dari yang belum dipandang orang hingga sekarang menjadi kampus yang terpandang. Terlebih lulusan Uji Kompetensi Program Profesi Dokter (UKMPPD) Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati menduduki peringkat ke 39 di tingkat Nasional.

Ia juga berpesan kepada adik tingkat yang masih menempuh pendidikan dokter maupun yang sedang koas untuk terus belajar dan menggali keilmuan. Dan berharap setelah ini persaudaraan antar teman sejawat tak sampai disini tetapi tetap terus jalin silahturahmi. Ia juga berharap Universitas Malahayati semakin maju dan semakin melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas.[]

Sutiyasa Yusuf: Today is My Last Day

MENGENAKAN kemeja putih yang berpadu dengan celana dasar hitam saat ditemui malahayati.ac.id di Lapangan Basket Universitas Malahayati Sabtu, 09 April 2016. Dengan rias wajah yang unik, pemuda asal Karawang, Jawa Barat ini menampilkan trik sulap pada parade show dalam pembukaan Dekan Cup Fakultas Kedokteran kemarin. Sutiyasa Yusuf, begitu nama lengkapnya.

Pemuda yang akrab disapa Ucup ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum Universitas Malahayati angkatan 2013. Ia mengaku tertarik dengan sulap sejak duduk di semester dua. Dan mulai menekuni sejak ia tergabung dalam komunitas sulap yang terdapat di kawasan jalan dr Harun, Tanjung Karang Bandar Lampung.

Dunia sulap hanya hobi baginya, untuk mengisi waktu senggangnya sekaligus mengobati rasa lelah dan jenuh. Menurutnya, sulap tak hanya sekedar menghibur. “Namun bagi tenaga ahli kesehatan sulap dapat digunakan sebagai sarana menghibur pasien seperti yang diterapkan Deddy Cobuzier di akun instagramnya yakni Emergency Magic, jadi buat para dokter umum maupun dokter spesialis dapat menghibur pasiennya agar proses penyembuhannya cepat dengan media sulap,” kata Ucup.

Sebagai mahasiswa, ia berbagi kesannya selama kuliah di Universitas Malahayati. Ucup mengatakan, mahasiswa/i di sini kreatif dan sebenarnya banyak bakat terpendam hanya saja belum siap untuk di perlihatkan. Dan suatu kebanggaan kuliah di kampus seperti ini, dimana fasilitas pembelajarannya mendudkung para mahasiswa.

Untuk dunia sulap, ia merasa ada suatu kesenangan tersendiri ketika dapat membuat orang lain tertawa. “Today is My Last Day”, sepenggal kata yang ia jadikan motivasi hidupnya. “Yang berarti motivasikan dirimu seakan-akan hari ini adalah hari terakhirmu, maka perbanyaklah kamu berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu dan orang lain dan membuat kamu bahagia di dunia maupun di akhirat kelak,” kata Ucup menambahkan.[]

 

 

Leni Oktaviani; Wanita Cantik Jago Pencak Silat

SEHUBUNGAN dengan diadakannya Pelantikan Himpunan Mahasiwa Program Studi Ilmu Keperawatan (HIMA PSIK) Universitas Malahayati pada Jumat, 08 April 2016 di Malahayati Carrer Center (MCC). Leni Oktaviani yang akrab disapa Leni ini terpilih menjadi Ketua Hima PSIK periode 2016-2017.

Leni merupakan seorang mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati angkatan 2014. Baginya Hima PSIK seperti kaki kirinya Prodi Keperawatan. jadi tanpa Hima PSIK, Prodi ini tidak akan dapat berjalan atau pincang.

Wanita cantik asal Sumber Agung ini kelahiran 30 Juli 1996. Tak disangka ia memiliki hobi pencak silat dan bermain voli. Sudah dari Sekolah Menengah Atas (SMA), ia sudah menjadi ketua tim voli putri. Dan pada saat ini, ia mengikuti pencak silat Provinsi Lampung dan Koperasi Pencak Silat Provinsi Lampung.

Sejak SMA memang ia sudah menyukai organisasi, hingga sekarang pun ia menggeluti berbagai UKM di Universitas Malahayati seperti Dewan Mahasiswa (Dema) dan SAR Medis. Ia tak tercaya bahwa dirinya terpilih sebagai ketua Hima PSIK berkat dukungan dari berbagai pihak yang terus menyemangati dan mendukungnya hingga ia terpilih menjadi ketua Hima PSIK periode 2016-2017.[]