Rusli Bintang, Sang Peduli Anak Yatim

Tulisan Kabul Budiono, Pimpinan di Direktorat Program dan Produksi RRI, tentang Rusli Bintang.

Kami tidak merencanakan pertemuan itu. Berangan angan pun tidak. Namun, kami memang bertemu. Dari pertemuan itu saya belajar banyak tentang kebaikan hati dan keikhlasan luar biasa. Di mana? Di dalam pesawat terbang yang membawa kami ke Banda Aceh. Karenanya, saya percaya Allah lah yang mempertemukan kami. Allah yang berkehendak agar saya mendengar dan melihat apa yang dilakukan laki laki yang bernama Rusli Bintang.

“ Bapak, tinggal di Aceh?” Demikian tanya laki-laki di sebelah saya. Itulah awal perbincangan kami. Sayapun akhirnya tahu bahwa laki-laki berusia 65 tahun itu bernama Rusli Bintang. Saya sesungguhnya sudah melihatnya di depan pintu masuk pesawat Garuda Indonesia. Dari cara dia memalingkan muka, saya berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan  lehernya. Pun saya tidak menduga bahwa laki-laki berkaos sederhana itu akan duduk di samping saya di kelas bisnis.

“ Ya Bapak lihat, saya tidak bisa memalingkan muka dengan benar. Ini karena dulu saya sering memanggul beras“. Ya, Rusli Bintang, yang sekarang naik pesawat bersama saya, telah melewatkan hidupnya dengan kerja keras. Ia adalah anak sulung dari 9 bersaudara. Ia dan saudara saudara menjadi anak yatim karena Allah memanggil pulang bapaknya ketika ia masih remaja. Ia pernah menjadi tukang bersih-bersih salah satu kantor.  Ia juga pernah menjadi tukang angkat barang di pasar Ulee Kareeng tidak jauh dari rumahnya.

Namun, kini, apa yang terjadi ? Rusli Bintang yang tidak pernah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah yang setingkat SD itu kini pulang ke tanah kelahirannya untuk membagi bagi uang untuk ratusan anak yatim dan ibunya.

“Selama bulan Ramadhan ini, kami jalan terus. Saya langsung datangi anak anak yatim ke rumahnya. Saya bagikan uang untuk beli baju lebaran. Habis dari Aceh kami ke Padang, kemudian ke Ujung Pandang (Makassar). Setiap bulan kami keluarkan uang 2 milyar untuk sedekah anak anak yatim“.

Mengapa demikian? Ia meminta saya mengingat ayat 261 Surat Al Baqarah. “Bapak baca ayat itu,“ demikian pintanya. Ayat 261 Surat Al Baqarah adalah permintaan Allah agar seorang Muslim menyedekahkan hartanya untuk anak yatim. “Coba Bapak hitung. Sekali memberi, akan berlipat tujuh ratus kali. Tetapi Bapak harus yakin, harus ikhlas. Bahagia sekali memberi anak yatim itu… “

Saya menanyakan mengapa ia peduli betul sama anak yatim? Ia bercerita bagaimana derita hidupnya ketika menjadi anak anak yatim ketika ditinggal mati ayahnya saat ia masih remaja. Ia adalah sulung dari adik-adiknya.

“ Saya sedih sekali pak. Adik saya meninggal gara gara uang 1000 rupiah dan saya tidak dapat memberinya. Adik saya itu, mau ujian SMP harus membayar uang untuk ujian. Ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Tetapi ia tidak bisa ikut karena tidak bayar. Sayapun mencari uang. Tetapi susah sekali. Akhirnya saya dapat uang itu dan saya berikan uang itu untuk bayar uang ujian. Tetapi….”

Tiba tiba suaranya tersendat. Air matanya menetes. “Malam itu adik saya sakit. Ia mencret-mencret. Saya gendong dia ke rumah sakit. Punggung saya belepotan  kotorannya itu. Sampai di rumah sakit. Ia sudah lemah sekali. Akhirnya dia meninggal…… Saya sedih sekali pak. Karena kata dokter ia sakit karena stress. Sedih dan panik karena tidak bisa ikut ujian.“

Rusli pun menyeka air matanya. Saya terhenyak mendengar ceritanya. Karena itulah ia sangat berempati pada anak anak yatim dan berusaha membantunya.

Rusli Bintang sejak muda, sudah membiasakan diri bersedekah untuk anak-anak yatim.  Ketika Allah telah memberi rizki dengan mengubah kehidupannya dari seorang buruh menjadi pengusaha, terus menggelontorkan sebagian hartanya untuk para yatim piatu.

Dari hasil usahanya, di Banda Aceh dia mempunyai perguruan tinggi yang diberinama Abuyatama, yang berarti ayah anak yatim. Di Bandar Lampung berdiri megah Universitas Malahayati, dan di Jakarta perguruan tingginya ada di kawasan Kelapa Gading, yaitu Insititut Kesehatan, dan di Batam ada Universitas Batam.

Selain terhenyak mendengar kisah hidupnya pertemuan saya dengan Rusli menyebabkan kekagetan lain. Ketika saya bercerita bahwa saya ke Banda Aceh untuk membuka Pekan Tilawatil Qur’an tingkat Nasional dan bercerita bahwa tahun lalu ada dermawan yang memberi hadiah umrah untuk juara 1, di atas pesawat itu Pak Rusli bilang, “Kali ini saya yang akan membiayai umrah untuk para pemenang itu.”

Sungguh, saya tidak meyakini apa yang dikatakannya itu. Tetapi begitu sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda, di pintu keluar ia bertemu Mirza Musa Kepala RRI Banda Aceh, pak Rusli Bintangpun bilang, “untuk juara yang lima itu, umrahnya dari saya“. Mirza kelihatan bingung. Ia baru percaya ketika saya menceritakan pembicaraan kami di pesawat.

Dalam mobil yang membawa saya dari bandara Mirza berkata, “Pak Rusli itu dulu bekerja, sama bapak saya. Ia yang membuka pintu pagi pagi dan bersih bersih kantor bapak saya.“

Subhanallah, Allahu Akbar…

Keindahan Wisata Pantai Lampuuk, Bukti Kekayaan Alam Indonesia

SENGATAN sang surya diatas hamparan pasir putih seakan menyilaukan mata. Indah dan birunya lautan lepas juga menghipnutis para pengunjung akan indahnya pantai Lampuuk ini. Terdengar riuh ombak yang bersahabat untuk para peselancar. Sambil menikmati indahnya pantai, saya menunggu keanggunan matahari terbenam. Disinilah para pengunjung bisa menikmati kesempurnaan tempat wisata pantai Lampuuk yang terletak di wilayah Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, yang menghadap ke Samudra Hindia.

Pantai ini berpasir putih bersih nan lembut, air laut berwarna biru kehijauan, melihat ke arah daratan terdapat pepohonan pinus yang rimbun dan lebih jauh lagi terlihat deretan pegunungan yang hijau dengan ukiran tebing yang sangat menawan.

Ketika malahayati.ac.id ke pantai tersebut pada 25 Juli lalu, terlihat para pengunjung menikmati suasana pantai tersebut. Ada pengunjung yang berenang sembari bermain ombak, ada yang membuat istana dari pasir, ada yang bermain banana boat, dan ada pula yang sekadar duduk di pinggiran pantai atau di pondokan sembari minum es kelapa muda.

Ketika menjelang petang, pengunjung pun bergegas ke pinggir pantai menanti sang surya turun ke peraduannya. Kebanyakan mereka bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan keindahan alam kala sang surya terbenam di ufuk barat.

Panorama alam itu membuat Pantai Lampuuk menjadi salah satu primadona wisata di Aceh. Apalagi, pantai itu berada di daerah perkampungan yang masih sepi dan tenang. Di sana, wisatawan bisa sesaat melepas penat dari hiruk-pikuk suasana kota yang bising.[]

Kampus Hijau Malahayati; Tak Pernah Jemu Untuk Diceritakan

TAK sekalipun terasa jemu ketika menceritakan tentang salah satu kampus yang dimiliki oleh Dr (HC) H Rusli Bintang. Terletak di Jalan Pramuka, Bandar Lampung, Universitas Malahayati hadir menjadi pelita para mahasiswa yang ingin menimba Ilmu dan meraih kesuksesan. Fasilitas yang lengkap, lahan luas dengan kontur berbukit yang unik. Kampus ini dikenal dengan sebutan “Kampus Hijau” Lampung. Karena memang didominasi oleh warna hijau dan lingkungan yang begitu terjaga keasriannya.

Saat pertama kali melewati pintu gerbang kampus, mata anda akan disuguhkan dengan pemandangan dan perasaan yang berbeda dari kampus lainnya. Anda akan seolah merasa sedang berada di puncak Bogor, karena rindangnya pepohonan yang membuat udara menjadi sejuk. Dengan luas sekitar 84 hektar, lahan berkontur berbukit itu disulap menjadi bagunan nan megah namun tetap mengutamakan kelestarian lingkungan.

Letaknya yang cukup sentral, dan diapit oleh Kota Bandar Lampung, Kabupaten Pesawaran, dan Kabupaten Lampung Selatan menjadikan kampus ini berperan aktif dalam pelestarian lingkungan selain sebagai gudang ilmu pengetahuan tentunya. Karena jika kita lihat dari ketinggian, nampak jelas bagaimana Universitas Malahayati ribuan pohon yang mengelilinginya menjadi paru-paru Kota dan pemukiman penduduk disekitarnya.

Selain fasilitas pendidikan yang lengkap, juga dilengkapi asrama, apartemen dosen, sarana olahraga seperti golf, badminton, futsal, hingga kolam renang, helipad juga dilengkapi tempat kuliner. Bahkan ada fasilitas rumah sakit yang terletak beberapa meter di sebelah kiri gerbang kampus yang diberi nama Rumah Sakit Bintang Amin. Salah satu pendidikan yang dimiliki oleh Malahayati yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Pertamina Jakarta.

Dan yang membuat kampus ini berbeda adalah visi yang diembannya yaitu menciptakan lulusan yang beretika religius. Sehingga mahasiswa dari lima fakultas seperti Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Teknik, Ekonomi dan Akafarma dituntut tidak hanya mampu unggul dalam skill namun juga memiliki etika yang baik pula. Tak hanya itu, Universitas Malahayati juga mewajibkan karyawan dan mahasiswanya untuk menyantuni setidaknya satu anak yatim. Sehingga 1300-an lebih anak yatim secara bergantian, melakukan silaturahmi, makan bersama dan membaca Surah Yasin setiap Sabtu ditepian danau yang juga diperuntukan khusus bagi anak yatim binaan Malahayati.

Jadi tunggu apalagi, lets join us at Malahayati University, and Lets Challenge the future together.

Bertemu Mahasiswa RB Media Abulyatama, Berbincang Sambil Melepas Rindu

BERTEMU mahasiwa Rusli Bintang Media (RB Media) dari Universitas Abulyatama adalah suatu kesempatan yang begitu bernilai dan berharga bagi saya. Kami bertemu dan berkumpul di lapangan Blang Padang Banda Aceh pada Selasa, 26 Juli 2016. Acara temu ramah ini dihadiri oleh delapan mahasiwa, diantaranya lima mahasiwa dari Universitas Abulyatama, satu mahasiwa dari Malahayati dan dihadiri pula oleh dua mahasiswa Malikussaleh dan satu mahasiswa UIN Ar-Raniry Aceh. Acara temu ramah ini berjalan dengan lancar.

ketika itu kami sedang duduk-duduk menyantap es buah, Silvira Nazzai datang dan lansung menyapa nama saya CMW di tengah keramaian. CMW adalah singkatan nama dari Cut Mutiawati. Begitulah sapaan nama yang begitu rindu didengar dari teman lama yang tidak berjumpa lima tahun lamanya. Saya lansung tertawa dan menggenggam tangannya begitu erat. Silvira Nazzai adalah teman dekat saya di pondok pesantren Misbahul Ulum dulu dan ia sekarang adalah seorang mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama. Kami memanfaatkan kesempatan berumpul ini untuk benbincang-bincang sambil melepas rindu.

Saat arloji menunjukkan pukul 17:00 WIB, semua mahasiwa pun telah berkumpul dan kami masih menunggu kehadiran tamu istimewa yang belum kunjung hadir. Bang Budi dan Bang Riski adalah abang kami yang ingin duduk bersama untuk bersilaturrahmi juga di lapangan Blang Padang pada sore itu. Bang Riski adalah anak kandung dari Ayah Rusli Bintang pemilik Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama. Karena abang kami berhalangan hadir, kami pun lansung melanjutkan perbincangan sambil menyantap jajanan di Blang Padang.

“Ayah Rusli ureung yang dermawan, tingat teu keu goknyan artinya Ayah Rusli adalah sosok yang dermawan, saya rindu akan Ayah Rusli”, ucap saya memulai pembicaraan. Dari pembicaraan awal itulah mengalir pembicaraan yang begitu akrab. Ternyata Rusli Bintang seorang yang ramah dan dermawan dengan siapa saja dan sangat menghormati tamunya. Saya bercerita tentang ayah Rusli yang begitu menyayangi anak yatim. Ayah Rusli rutin mengadakan kegiatan acara anak yatim di danau Universitas Malahayati setiap hari Sabtu. Seperti yang disebutkan dalam hadist Rasulullah SAW :”bahwa siapa saja yang menyayangi anak yatim, maka di surga bersama RAsulullah SAW bagaikan jari telunjuk dan jari tengah”.

Begitulah perbincangan para mahasiswa temu ramah dalam berbincang-bincang sambil melepas rindu kepada Ayah Rusli Bintang. Tak terasa waktu senja pun tiba dan kami pun mengakhiri acara temu ramah ini dengan saling bersalaman. kami berharab semoga acara temu ramah selanjutnya bisa mengumpulkan seluruh mahasiswa dari RB Media Batam, Lampung, dan Jakarta. Selain kami bisa berkumpul untuk bersilaturrahmi, disinilah kami bisa saling berbagi ilmu, cerita dan pengalaman mengenai Rusli Bintang Media.

Salam jurnalis Rusli Bintang Media !!!.[]

Erasmus Universiteit Rotterdam dan Gedung Bung Hatta

Pendiri Universitas Batam (Uniba) H Rusli Bintang mengunjungi kampus Erasmus Universiteit di Rotterdam, Balanda, sebulan lalu. Ini bukan sebuah kunjungan resmi, ia hanya ingin melihat lebih dekat seperti apa sebetulnya sebuah kampus di kawasan Eropa itu didesain.

Ia memilih Erasmus lantaran perguruan tinggi ini termasuk salah satu yang terbaik di Eropa bahkan di dunia. Misalnya, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Erasmus adalah yang terbesar dan salah satu pusat medis terkemuka akademik dan pusat-pusat trauma di Belanda. Begitu juga dengan fakultas ekonomi dan sekolah bisnisnya.

Adalah Belanda School of Commerce (Nederlandsche Handels-Hoogeschool atau RSA) yang menjadi dasar keberadaan Universitas Erasmus ini. Berdiri sejak 1913, RSA hadir berkat dukungan komunitas bisnis di Rotterdam.

Kemudian pada 1939, nama RSA menjadi Belanda School of Economics (Nederlandse Economische Hogeschool – NEH). NEH terus berkembang.  Pada 1960, berdiri fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, diikuti filsafat, sejarah dan seni, dan administrasi bisnis.

Sementara itu, pada 1966 pemerintah setempat juga telah mendirikan FK Rotterdam. Kemudian, pada 1973, NEH dan FK Rotterdam digabung menjadi satu dengan nama Erasmus University Rotterdam. Erasmus adalah nama seorang tokoh yang dianggap berjasa pada Rotterdam. Bahkan namanya saja disebut Desiderius Erasmus Roterodamus (atau Desiderius Erasmus dari Rotterdam). Pria ini lagir  di Gouda, 27 Oktober 1466 – meninggal di Basel, Swiss, 12 Juli 1536 pada umur 69 tahun. Ia adalah seorang filsuf, humanis dan ahli teologi Belanda.

Di Rotterdam, kami mengunjungi dua kampus Erasmus. Masing-masing terbagi dalam tiga domain. Di kampus pertama yang terletak di Woudestein di sebelah timur kota Rotterdam menjadi domain untuk ekonomi dan manajemen; dan domain hukum, kultur, sosial. Sedangkan domain kesehatan dan farmasi berada di kampus Hoboken Erasmus MC di sebelah barat kota. Erasmus MC inilah yang dulunya bernama FK Rotterdam.

erasmus mc 3

Kampus pertama yang kami kunjungi adalah Erasmus MC. Ini kampus sangat megah. Gedung akademik menyatu dengan rumah sakit. Gedung-gedungnya berwarna putih ditingkahi warna biru yang menjadi pemanis. Didesain mirip gerbong-gerbong kereta api bersusun bertingkat-tingkat. (Klik Tautan Ini untuk Melihat Foto-fotonya)

Di dalamnya ada rumah sakit dengan fasilitas kelas satu di dunia. Di sini juga menjadi tempat mahasiswa fakultas kedokteran belajar. Selain fasilitas rumah sakit, dan laboratorium yang sangat lengkap, yang paling menonjol adalah perpustakaannya. Di desain begitu luas, dan nyaman.

Kemudian di kampus yang terletak di Woudestein bernuansa berbeda. Begitu masuk areal kampus, banyak sekali tempat parkir sepeda. Di trotoar, bahkan disediakan tempat-tempat parkir khusus untuk sepeda. “Pemerintah di negeri Belanda sangat memanjakan orang-orang bersepeda dan pejalan kaki,” kata Rusli. Barangkali itulah sebabnya budaya hidup sehat itu menjalar ke berbagai sisi kehidupan di sini. (Klik Tautan Ini untuk Melihat Foto-fotonya)

Saat berkeliling areal kampus, tiba-tiba Rusli menunjuk sebuah gedung berwarna coklat di kempleks kampus Erasmus ini. “Coba lihat gedung itu. Nah, itulah gedung Bung Hatta,” katanya. Gedung berlantai 17 ini diresmikan pada 2013. Memiliki 372 kamar berfungsi sebagai apartemen mahasiswa. Inilah satu-satunya gedung yang namanya diambil dari tokoh atau alumni yang bukan orang Belanda. Bung Hatta yang dimaksud memanglah Mohammad Hatta yang adalah Wakil Presiden RI yang pertema. Ia pernah pernah belajar ekonomi di Universitas Erasmus antara tahun 1921 sampai 1932.

erasmus universitas 20

Rusli memang suka mengunjungi kampus-kampus, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia ingin melihat sejumlah model pendidikan di berbagai penjuru dunia. Ia juga akan mengambil contoh yang bagus dari kampus yang dikunjunginya untuk diterapkan di kampus-kampus yang didirikannya. Misalnya, perpustakaan yang dilihatnya di Erasmus yang cukup menarik, ia ambil menjadi model untuk kampusnya, walau kemudian ia memodifikasi dengan kearifan lokal.

Ini sudah terwujud di perpustakaan Universitas Malahayati, Bandar Lampung, sebuah kampus yang juga ia dirikan. Ia juga berencana mewujudkannya juga di kampus-kampus yang telah didirikannya seperti Universitas Abulyatama di Aceh, dan Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Saat ini, Rusli sedang mengembangkan pembangunan kampus Universitas Batam. Ia akan mengambil beberapa model di Erasmus untuk diwujudkannya di Universitas Batam. Termasuk di antaranya adalah fasilitas rumah sakit yang saat ini sedang dibangun di Universitas Batam.[]

Terpilihnya Dessy Menjadi Seorang Gubernur FKM Malahayati

MAHASISWA cantik dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Dessy Elviyanti. Wanita cantik ini biasa disapa Dessy, kelahiran di Way Kanan 03 Desember 1995. Tak dapat dibayangkan, bahwa seorang wanita ini memiliki hoby bermain catur dan badminton.

Pada 23 April lalu, ia terpilih menjadi Gubernur FKM periode 2016-2017. Pasalnya, ia termotivasi karena ingin belajar menjadi seorang pemimpin yang dapat mengayomi dan menjembatani mahasiswa di FKM untuk mengedepankan rasa solidaritas satu sama lain.

“Perasaan saya senang, tetapi dengan terpilih nya sebagai gubernur, saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar dan pola pikir yang logis dalam mengambil sebuah keputusan. Saya memiliki Visi, yaitu menumbuhkan rasa solidaritas antar anggota, dan memperkenalkan FKM di lingkungan kampus dan di luar kampus pada tahun 2016. Lalu Misi saya, yaitu meningkatkan rasa kebersamaan, rasa saling memiliki BEM, menjunjung tinggi musyawarah mufakat bersama dan mengadakan kegiatan bersama untuk meningkatkan kreativitas yang dimiliki anggota.

Dessy berharap semoga banyak orang mengetahui adanya Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Malahayati, dan untuk anggota semoga tetap kompak, mengedepankan rasa saling menghargai, dan musyarawah mufakat bersama.[]

Metamorphosis of Malahayati University From Nothing to Something

UNIVERSITY of Malahayati established by the Alih Teknologi Foundation Bandar Lampung on 27 August 1993. Start out of a shop on the street Kartini Bandar Lampung, now at the age of nearly 23 years, the University Malahayati metamorphosed into a stately campus with all facilities prepared for it civillian.

Dorms, faculty apartments, Shop, sports facilities such as golf, badminton, futsal, to the swimming pool, helipad is also equipped with a culinary built to meet the needs of the occupants. A clinic and a pharmacy was also built as a preventative measure to maintain the health of the students, there is even a hospital facility which is located a few meters to the left of the campus gates named Amin Star Hospital. One owned by Malahayati education in cooperation with Pertamina Hospital in Jakarta.

The atmosphere is cool and conducive purposely built for the convenience of the students in the learning process. Layered security from the entrance gate to the campus dormitory entrance to routine patrols the campus security force to provide security while on campus.

Upon entering the gate of the University of Malahayati you will be presented with a great view and a different feeling from other campuses. Outside looks small, but when you getting in, you’ll see this campus has 84 hectares area with a contoured hills and blanketed with shade trees, you will feel like being at the peak of Bogor, because the shade of the trees that make the air becomes cool and cozy.

And that makes this campus different is its vision of creating graduates who are ethical religious. So that students from six faculties such as Medicine, Public Health, Engineering, Economics Law and Pharmacy required not only able to excel in skill but also have good ethics anyway. No wonder if Malahayati continue to contribute scored graduates who are competent, ethical and religious integrity in the workplace.

Another uniqueness of this campus is the University Malahayati also require employees and students to sympathize at least one orphan. So that in the 1300s more orphans in turn, do the gathering, eating together and read Surah Yasin Saturday shores of the lake are also intended specifically for orphans built Malahayati.

What are you waiting, lets join us at Malahayati University, and Lets Challenge the future together…

Metamorfosis Universitas Malahayati, Merangkak dari Sebuah Ruko Kini Menjadi Kampus Hijau nan Megah

UNIVERSITAS Malahayati didirikan oleh Yayasan Alih Teknologi Bandar Lampung pada tanggal 27 Agustus 1993. merangkak dari sebuah ruko di jalan Kartini Bandar Lampung, kini di usia yang hampir 23 tahun, Universitas Malahayati bermetamorfosis menjadi sebuah kampus nan megah dengan segala fasilitas yang disiapkan bagi civitasnya.

Asrama, apartemen dosen, Minimarket, sarana olahraga seperti golf, badminton, futsal, hingga kolam renang, helipad juga dilengkapi tempat kuliner dibangun untuk memenuhi kebutuhan para penghuninya. Sebuah klinik dan apotik juga dibangun sebagai tindakan preventif menjaga kesehatan para mahasiswa, bahkan ada fasilitas rumah sakit yang terletak beberapa meter di sebelah kiri gerbang kampus yang diberi nama Rumah Sakit Bintang Amin. Salah satu pendidikan yang dimiliki oleh Malahayati yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Pertamina Jakarta.

Suasana sejuk dan kondusif sengaja dibangun demi kenyamanan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Keamanan berlapis dari pintu masuk gerbang kampus hingga ke pintu masuk asrama hingga patroli rutin para satuan pengaman kampus memberikan rasa aman saat berada di lingkungan kampus.

Saat memasuki pintu gerbang Universitas Malahayati anda akan disuguhkan dengan pemandangan dan perasaan yang berbeda dari kampus lainnya. Diluar terlihat kecil, ternyata kampus ini memiliki luas 84 hektar dengan berkontur berbukit dengan diselimuti rindangnya pepohonan, Anda akan seolah merasa sedang berada di puncak Bogor, karena rindangnya pepohonan yang membuat udara menjadi sejuk.

Dan yang membuat kampus ini berbeda adalah visi yang diembannya yaitu menciptakan lulusan yang beretika religius. Sehingga mahasiswa dari lima fakultas seperti Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Teknik, Ekonomi dan Akafarma dituntut tidak hanya mampu unggul dalam skill namun juga memiliki etika yang baik pula. Tak heran jika Malahayati terus berkontribusi mencetak lulusan-lulusan yang berkompeten, berintegritas dan beretika religius di dunia kerja.

Keunikan lain kampus ini adalah, Universitas Malahayati juga mewajibkan karyawan dan mahasiswanya untuk menyantuni setidaknya satu anak yatim. Sehingga 1300-an lebih anak yatim secara bergantian, melakukan silaturahmi, makan bersama dan membaca Surah Yasin setiap Sabtu ditepian danau yang juga diperuntukan khusus bagi anak yatim binaan Malahayati.

Jadi tunggu apalagi, lets join us at Malahayati University, and Lets Challenge the future together.

This History of Establishment of the University Malahayati

UNIVERSITY of Malahayati is a private university founded by Yayasan Alih Teknologi Bandar Lampung on August 27, 1993 which officially became the anniversary of the University Malahayati. Malahayati start operating after it is passed by the Minister of Education and Culture RI No.02 / D / 0/1994 on January 28, 1994. At first Malahayati located in street of Kartini Bandar Lampung since 1994. Then moved to street of Pramuka No. 27 Bandar Lampung.

Initial establishment of Malahayati consisted of the Faculty of Medicine, Faculty of Engineering, Faculty of Economics and Nursing Academy. Then in 2002, Faculty of Public Health (FKM) was officially established. In 2005 the degree program of Nursing opened, and then in 2006 Program of D-III and D-IV Midwifery opened. In 2009, the Faculty of Public Health opened the Post Graduate Program for Magister of Health. In 2015, the Faculty of Medicine opened program of study such as Psychology and Pharmacy degree program. Faculty of Law also formally endorsed on December 7, 2015.

Malahayati name is taken from the name of a warlord woman from Aceh, namely Laksamana Malahayati.Malahayati is a figure of a woman in Aceh who are intelligent, have high morale, brave, resolute, tenacious, resilient, and responsible, which is always based on the light of faith and devotion in accordance with the teachings of Islam. Because it was Laksamana Malahayati was awarded degree as National Hero.

To respect and continue the fighting spirit Malahayati the College is named University Malahayati are resolute to participate significantly in national development together. Along and in line with other universities were earlier present in Lampung Province.[]

Professor Sutrisna Wibawa Bersilaturahmi ke Universitas Malahayati

SETDITJEND Pembelajaran dan Kemahasiswaan Riset dan Teknologi Dikti, Professor Sutrisna Wibawa, bersilaturahmi ke Universitas Malahayati, 30 Maret 2016. Ia datang sore kemarin setelah mengisi seminar di Universitas Lampung. Ia sengaja mampir ke Malahayati untuk sharing dan diskusi demi perkembangan positif  di Universitas Malahayati.

“Saya ada acara seminar di Unila, kebetulan saya juga kenal dekat dengan pak Rusli Bintang. Jadi saya mampir untuk silaturahim, ngobrol dan diskusi hal-hal positif untuk pengembangan Universitas,” kata Prof Sutrisna.

Diskusi yang dimulai pukul 19.00 WIB dihadiri oleh Wakil Rektor I sebagai moderator. Selain itu juga nampak WR II, III, Ka BAK, Ka BAU, Kaprodi Fakultas Kedokteran serta dosen-dosen Fakultas Kedokteran antusias berdiskusi bersama Prof Sutrisna. Tak ada kesan formal tadi malam, mereka asyik berbincang sambil duduk lesehan di Ruang Tamu Apartment VVIP Malahayati.

Mereka melihat data-data perkembangan Malahayati dari tahun pertahun sambil mendiskusikan pengembangan sistem yang lebih terintegritas demi efektifitas pengembangan kampus. Baik Prof Sutrisna maupun pihak Malahayati berharap, diskusi malam ini bermanfaat sebagai gambaran, acuan pengembangan sumberdaya dan sistem pembelajaran di Universitas Malahayati. []