Meski Berat, Kita Tidak Boleh Menyerah Teman Sejawat!

Lihatlah adik-adik kecil yang memegang gitar di perempatan lampu merah…

Lihatlah kakek tua itu di pinggir jalan dengan kaki bersila dan tangan menengadah ke udara..

Lihatlah pemuda-pemuda yang sedang mangambil sampah plastik di depan rumahmu..

Masih belum cukup? Dengar lah rintihan suara mereka yang berkata: saya belum makan hari ini.. Dengarlah tangisan anak mereka yang hitam legam terkena terik matahari karena tak memiliki rumah..

Dengarlah keluhan mereka yang ingin memakai seragam sekolah namun harapan itu tidak pernah terwujud.

Sungguh, hidup kita lebih beruntung beribu kali lipat dari mereka semua. Lalu, masihkah kita pantas menyerah?

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran tentu tidak mudah untuk melewati kuliah demi kuliah hingga ujian demi ujian. Terkadang kita terlalu lelah untuk mengikuti jadwal perkuliahan dari pagi hingga sore hari. Hari-hari penuh dengan skillab, tutorial, dan praktikum. Hingga tak jarang kita merasa malas dan jenuh.

Belum lagi ketika kita melihat papan pengumuman yang menuliskan nama kita di daftar nama-nama mahasiswa yang tidak lulus ujian. Semua terasa sangat pahit dan menyedihkan, bahkan tak jarang ada beberapa mahasiswi yang meneteskan air mata di depan papan pengumuman.

Semua menjadi bertambah buruk seiring dengan harapan yang begitu besar dari orang tua dan keluarga agar kita bisa lulus tepat waktu dan mendapat IPK diatas 3.

Benar bahwa, dibalik setiap pilihan yang kita pilih pasti mengandung resiko dibaliknya. Namun, hari ini ada bukan untuk kita mengeluh, meratapi atau bahkan meyesali pilihan kita untuk menjadi bagian dari mahasiswa kedokteran. Kita harus belajar bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Mungkin beberapa di antara  kita ada yang terpaksa mengikuti paksaan orang tua untuk kuliah di kedokteran. Jika memang kalian tidak inggin dan tidak sanggup, saya lebih menyarankan kalian untuk berani jujur dengan diri sendiri dan orang tua.

Bicarakan semuanya dengan baik-baik jika kalian benar-benar tidak inggin  mejadi dokter. Karena, kita tidak akan pernah berhasil jika kita tidak mencintai apa yang kita kerjakan.

Menjadi dokter itu harapan dari banyak orang, kalau kalian tidak percaya lihat saja di internet atau media massa, berapa jumlah pelajar SMA yang ketika test masuk perguruan tinggi memilih jurusan Fakultas Kedokteran di pilihan pertamanya.

Dan perhatikan, jurusan Fakultas Kedokteran selalu menduduki rangking-rangking atas disetiap perguruan tingginya. Itu menjadi buktinya nyata bahwa kita sangat beruntung bisa duduk dikursi yang kita duduki sekarang, kursi ini akan mengantarkan kita menjadi seseorang yang mengenakan snell jas putih dan stetoskop yang kita kalungkan di leher di kemudian hari.

Saya jadi teringat kata-kata guru saya, beliau adalah salah satu konsulen bedah urologi di bagian bedah tepat saya koaas. Saat itu beliau berbicara didepan  dua puluh satu orang dokter muda yang akan memulai koass di bagian bedah.

Ketika itu beliau prihatin melihat koass yang mudah sekali mengeluh saat menjalani dunia perkoassan, hingga beliau berkata, “yang ingin menggantikan posisi kalian itu banyak, mereka bahkan rela untuk antri. Tapi, mereka tidak ditakdirkan seperti kalian.”

Sesaat saya terdiam dan mencerna kata demi kata secara perlahan-lahan. Ternyata ungkapanya itu mampu menyentuh alam bawah sadar yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah saya dapatkan saat ini.

Saya berharap kata-kata dari guru saya itu juga bisa menjalar ke teman-teman yang sedang berusaha di perkulihan dan juga teman-teman yang sedang berjuang bersama saya di dunia koass.

Tidak ada kesuksesan yang dapat diraih dengan mudahnya. Semuanya butuh keringat dan kerja keras. Dan ingat “Orang yang berhasil itu bukan orang yang hanya tidur, tapi mereka tidur ketika mereka telah berhasil”.

Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Mungkin kita akan menghadapi kegagalan yang datang secara bertubi-tubi dan memporak-porandakan semangat  hingga tak tersisa.

Maka, disaat itu. Ingat lah “Tak ada nahkoda yang handal lahir dari ombak yang tenang” jadi jika kita inggin berhasil lihat lah ujian atau cobaan itu sebagai sebuah batu loncatan untuk kita bisa melangkah lebih jauh dan lebih tinggi.

Masyarakat indonesia sedang menantikan kita teman. Sudah terlalu lama mereka akrab dengan TBC dan malaria, sudah jenuh rasanya diabetes dan hipertensi ada dalam tubuh mereka dan sudah ribuan anak-anak yang meninggal karena diare dan gizi buruk. Itu sepenggal kisah dari tangisan mereka di pelosok-pelosok negri ini.

Ingat lah rakyat yang sedang sakit, saat rasa malas ini menyelimuti. Bayangkanlah keringat orang tua kita yang menetes deras saat jenuh ini menghantui. Renungkanlah apa yang terjadi jika kita memilih untuk diam dan menyerah!

Pilihan ini ada padamu, teman sejawat!

Penulis : dr. Sigit Prama Iustitia N

Dosen Fakultas Kedokteran

Puncak Dekan Cup 2015, Luar Biasa!

PENUTUPAN Dekan Cup 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati laksana gong pamungkas untuk sebuah event berkelas di kampus ini. Meriah, rapi, mempesona dan dua jempol untuk panitia.

Para mahasiswa fakultas kedokteran menyulap Graha Bintang, biasanya sepi dan gelap di malam hari menjadi sentra penuh pesona bermandikan cahaya pada Minggu malam 17 Mei 2015. Tak tanggung-tanggung, mereka memboyong bintang, RAN, grub band nasional yang masih malang melintang di panggung musik negeri ini.

Jadilah Graha Bintang laksana maknit raksasa di tengah-tengah areal kampus seluas 84 hektare ini. Mahasiswa-mahasiswi Universitas Malahayati tersedot ke dalam Graha Bintang. Merekalah yang membuat acara penutupan Dekan Cup 2015 ini gegap gempita.

Ribuan mahasiswa ini membuat panggung semakin bercahaya. Sorak-sorai yang ditingkahi suitan dan juga tepuk-tangan membuat siapapun yang berada di atas panggung acara akan bertambah semangat.

Para mahasiswa yang berada di Graha Bintang malam itu telah menjadi ribuan bintang yang mengelilingi RAN yang menjadi satu bintangnya.

Tak ada pecundang di sini, hanya ada satu kemenangan dalam satu kesatuan utuh keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Wajah-wajah ceria nan bahagia malam itu berkumpul dalam satu atap Graha Bintang.

Tak pelak lagi, melalui ajang Dekan Cup ini, mahasiswa-mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati memberi pelajaran yang baik. Sebuah contoh bagaimana menggarap sebuah kegiatan yang terencana, kompak, tak pernah mengeluh, bekerja dengan gembira dan sepenuh hati, juga maksimal.

Mereka mampu menjalankan kegiatan selama sebulan penuh setiap hari, yang kemudian diakhiri dengan puncak acara yang mengagumkan.

Selama kegiatan berlangsung, tak pernah kita mendengar kata-kata saling menyalahkan, juga tak seorangpun ada yang merasa paling berjasa. Mereka adalah satu tim, benar-benar sejatinya sebuah tim. Bergandengan tangan dan bahu membahu untuk kesuksesan sebuah event.

Dan, jangan lupa juga bahwa Dekan Cup ini adalah kegiatan mandiri para mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati yang sudah berlangsung sejak 20 tahun lalu.

Sukses untuk Dekan Cup 2015.[]

Tentang Gunung Betung dan Para Aulia

DARI kampus Universitas Malahayati, Bandar Lampung, terlihat jelas puncak gunung yang tingginya mencapai 1200 m dpl, ini setara dengan 3937 kaki. “Di situ,” kata Ismi Hanifah, Koordinator Humas Tim Bantuan Medis (TBM) Coronarius Universitas Malahayati sambil menunjuk ke arah Gunung Betung.

Nah, salah satu agenda Latihan Gabungan Medis se-Sumatra adalah mendaki Gunung Betung, Sabtu 25 April 2015. TMB Coronius adalah salah satu delegasi dalam tim latihan gabungan ini. Bahkan Universitas Malahayati menjadi tuan rumahnya.

Seperti apa Gunung Betung itu? Gunung ini sangat dekat dengan Kota Bandar Lampung, hanya satu jam perjalanan dengan kenderaan bermotor. Gunung Betung tercatat masuk kawasan konservasinya dilindungi oleh negara dan masuk kedalam hutan register 19 Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (TAHURA WAR).

Secara administratif, Gunung Betung masuk ke beberapa wilayah yang masuk ke Kota Bandar Lampung, dan Kabupaten Pesawaran. Namun sering disebut, gunung ini terletak di Desa Wiyono, Wiyono, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran.

Jika berselancar dalam internet, maka akan sangat banyak artikel para traveler yang menceritakan pengalamannya mendaki gunung ini. Di antara para traveler itu ada yang mencari tempat yang bernama batu lapis. Mengapa disebut batu lapis, karena batu ini selain besar dan datar juga berlapis-lapis.

Tak jauh dari batu lapis ada air terjun keramat dan wiyono yang juga ramai dikunjungi setiap Jumat dan Sabtu. Di gunung ini sebetulnya ada 17 air terjun yang ketinggiannya beragam.

Selain cerita keindahan alam, Gunung Betung ternyata menyimpan sejarah juga. Ini menurut cerita dari sejumlah pendaki yang menuliskan pengalamannya.

Di sebutkan, sejumlah aulia mengungsi ke puncak Gunung Betung lantaran dikejar-kejar penjajah Belanda. Di antaranya Kiai Sultan Alamsyah, Batin Panji, Dalom Kesuma Ratu, Raden Jaya Kesuma Ratu, Pangeran Jaya Sakti, dan Pangeran Jaya Sampurna.

Walikota Bandar Lampung Drs. H. Herman HN MM, menyambut baik tentang rencana Tim Bantuan Medis se-Sumatera memilih Gunung Betung sebagai salah satu tempat latihannya. Ia menyarankan untuk berhati-hati.

“Banyak binatang buas juga,” katanya. Ia juga meminta delegasi untuk berkunjung ke tempatnya juga di Batu Putu. “Tetapi jalanannya masih rusak,” kata Herman.

Nasihat untuk berhati-hati juga disampaikan Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH. Kendati demikian, Kadafi mengatakan kegiatan itu sangat baik untuk mengetahui keragaman budaya. “Jadi ingatlah petuah yang mengatakan di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung,” katanya.

Oh ya, ada nama lain untuk gunung ini, yaitu Sukma Ilang. []

Antara Perpustakaan dan Rindu Kampung Halaman

Di areal seluas 7000 meter persegi itu terdapat desain ruang baca berbentuk rumah adat dari 34 provinsi. Masing-masing rumah adat memiliki daya tampung 15 orang, dilengkapi dengan LCD dan whiteboard untuk mencatat hasil diskusi kelompok pembaca. Oleh MUHAMMAD RAMLI ARISNO, Bandar Lampung

Masih ada cukup banyak waktu selepas salat Jumat untuk mengisi perut di Kafe Kabara. Masjid Kampus Universitas Malahayati ini letaknya berdekatan dengan Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. Tepatnya berseberangan dengan salah satu dari rumah sakit yang berada di lingkungan kampus.

Sebagian besar jemaahnya adalah para mahasiswa. Sebagian lainnya ada juga keluarga pasien yang kebetulan sedang membesuk maupun yang menunggui keluarganya yang sedang dirawat inap.

Masih mengenakan baju koko, celana panjang dan berpeci, mahasiswa yang terlihat nongkrong di Kabara ini sepertinya memilih langsung makan siang ketimbang pulang ke asrama terlebih dahulu.

Melihat Kabara penuh, kami akhirnya memilih beristirahat sebentar di kamar VIP Green Dormitory yang memang sengaja disiapkan untuk kami selama menjadi tamu universitas. Sempat juga tertidur sebenar. Sejam kemudian baru kami keluar lagi, dan benar saja Kabara sudah mulai ada meja yang kosong.

Belum lagi habis mie Aceh yang kami santap, terlihat Ery Rizaldy dan Ibnu Furqon berjalan keluar dari gerbang Green Dormitory Putera yang letaknya di utara Kabara. Sejak kemarin malam. mahasiswa asal Sambas Kalbar ini selalu terlihat berdua. Mungkin karena mereka berasal dari daerah yang sama, semester dan fakultas yang sama dan sama-sama anak pegawai negeri.

Melihat kami di Kabara, mereka menyapa. “Kawan-kawan sudah ngumpul sejak tadi, Bang,” ujar mereka. Kami bergegas segera menyudahi makan siang dan bergegas menuju ke Perpustakaan.

Jalur masuk ke area perpustakaan kebetulan melalui koridor kiri Kafe Kabara. Belakangan, kami baru tahu, ada jalur lain yang bisa diakses menuju perpustakaan, yaitu melewati sebuah tangga naik di dekat koridor Green Dormitory VIP tempat kami menginap.

Di areal seluas 7000 meter persegi itu terdapat desain ruang baca berbentuk rumah adat dari 34 provinsi. Masing-masing rumah adat memiliki daya tampung 15 orang, dilengkapi dengan LCD dan whiteboard untuk mencatat hasil diskusi kelompok pembaca.

Selain ruang baca berbentuk rumah adat, ada juga ruang pelayanan, pengolahan bahan pustaka, loker-loker, ruang fotokopi, ruang diskusi. Di lantai atasnya lagi terdapat juga ruang perpustakaan digital, ruang referensi, dan lain-lain.

Menurut Kepala Perpustakaan Meni Sutarsih SPd MSi, sebagian ruangan diadopsi dari Universitas Erasmus Rotterdam Belanda. “Tapi kalau ruang baca dengan desain rumah adat 34 provinsi itu, murni ide dari Pak Rusli Bintang,” ujarnya.
Terdapat koleksi memiliki buku-buku teknis, ekonomi, kedokteran dan lainnya. Rak-rak buku ini di susun memanjang searah barisan rumah-rumah adat, dan dilingkari kolam ikan berbentuk parit. “Kami juga memiliki buku-buku elektronik di lantai atas, atau bisa diakses melalui website universitas Malahayati,” cerita Meni.

Seperti direncanakan sebelumnya, para mahasiswa asal Kalimantan sudah menunggu di dekat anjungan rumah adat Bubungan Tinggi (Kalsel) dan Rumah Adat Lamin (Kaltim) yang letaknya berdekatan. Dan kebetulan diantara rumah adat ini juga ada bangku-bangku dari kayu yang dipahat, yang memang sengaja disiapkan untuk kenyamanan pengunjung saat berada di dalam perpustakaan.

Kalau malam sebelumnya penulis hanya bertemu M Khairul, mahasiswa semester dua warga Gatot Subroto Banjarmasin, sore itu bertemu lebih banyak mahasiswa asal Kalsel. Ada Martin asal Binuang Tapin, Asih Dwi Cahyani Kandangan, Sri Agustina dan Risky Putra warga Pal 6 Banjarmasin, dan Sri Rahayu warga Sekumpul. Tapi dimana Rahma Hayati? Putri Walikota Banjarmasin H Muhiddin itu ternyata tidak berada diantara mereka. “Tadi ada kok. Setumat ulun cari dulu,” Martin berinisiatif.

Martin benar, gadis manis berkacamata itu masih berada di ruang perpustakaan. Diantara rak-rak buku jurnal dan kedokteran. Rupanya Rahma sedang mencari referensi untuk keperluan skripsi: “Hubungan Pola Kuman dan Sifat Resistensinya dengan Kejadian Infeksi Nasokomial di Ruang Rawat Inap di RS H Abdul Moeluk 2014” yang sedang dikerjakannya.

Ramah, supel dan mandiri, itulah kesan yang tampak dari perkenalan dengan anak dari orang nomor satu di Pemko Banjarmasin itu. Bahkan ketika ditanya soal pengalaman pertama dia masuk boarding di Kampus Malahayati dan jauh dari orang tua dan fasilitas. Rupanya pendidikan sistem boarding  seperti ini ternyata bukanlah pengalaman pertama baginya.

“Waktu SMA ulun sekolah di Internasional Islamic High School Kuningan,” ujarnya.
Sama sekali tidak tampak kesan manja pada Rahma. Ketika ditanyakan berapa kali dalam setahun dia pulang ke Banjarmasin. “Paling-paling pas lebaran dan libur semesteran,” ujarnya.

Karena kesibukan orangtuanya sebagai Walikota, Rahma mengaku hanya sekali dikunjungi abahnya selama tiga tahun kuliah di Lampung. “Kalau mama dua kali, abah hanya sekali,” ujarnya.

Bagaimana kalau rindu orangtua dan kampung halaman? Rahma, Martin Asih, Sri Agustina, Risky Sri Rahayu, dan Khairul kompak menjawab, mereka bisa menelepon atau datang ke perpustakaan dan duduk di ruang baca rumah adat bubungan tinggi, demi merasakan sensasi kampung halaman.

Kabara Tak Sekadar Kafe Mahasiswa Biasa

Azan salat Isya berkumandang dari arah musala kampus. Letaknya berdekatan dengan Cafe Kabara. Jangan membayangkan musala itu kecil seperti musala kebanyakan yang sering ditemukan sebagai pelengkap perkantoran, mall atau gedung lainnya. Oleh MUHAMMAD RAMLI ARISNO, Bandar Lampung

Musala yang berada di lingkungan Asrama Green Dormitory itu dapat menampung tiga ribuan jemaah. Terbagi dalam dua ruangan yang terpisah. Satu ruangan khusus untuk laki-laki, satunya lagi untuk jemaah wanita. Sejenak Cafe Kabara lengang, hampir semua mahasiswa yang sedang duduk-duduk di cafe bergegas menuju ke musala. Demikian pula Ayah Ray. Dia pamit untuk menunaikan ibadah salat Isya. “Sebentar, nanti kita sambung lagi,” pesannya.

Cafe berangsur ramai lagi selepas Isya. Mereka yang singgah di sini tentu saja kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Mereka duduk melingkari meja bundar lebar, dengan bangku-bangku senada bahan maupun warnanya. Satu meja akan dilengkapi dengan enam kursi yang mengelilinginya. Di cafe yang berbentuk L itu, sedikitnya ada 32 meja.

Tidak ada musik yang menghentak. Musik instrument lembut yang keluar dari sound system di pojok cafe pun masih kalah nyaring dengan suara LCD TV 42 inci yang menggantung di salah satu sudut yang mudah terlihat dari semua meja.
Tapi sepertinya tidak ada yang begitu peduli dengan dua fasilitas tersebut. Sepanjang kami duduk di cafe itu, tak sekalipun channel tv berganti. Sepertinya semua pengunjung di sini telah bersepakat untuk stay di salah satu channel yang biasa menyiarkan berita politik.

Tapi ada yang menarik, hampir semua pengunjung membawa laptop, dan buku-buku. Ada yang sibuk membaca dan mengerjakan sesuatu, ada juga yang terlibat diskusi yang serius. Suasananya kok seperti di ruang kuliah yang kental dengan nuansa akademis. Yang sedikit membedakannya mungkin, di ruang kuliah pasti tak terhidang jus alpukat, roti bakar keju, nasi goreng spesial, mie dan martabak Aceh dan menu lainnya di atas meja.

Ayah Ray telah kembali dari musala. Dia bergabung lagi bersama kami. “Sampai dimana tadi. Oh iya, hampir semua pengunjung kafe ini mahasiswa. Kalaupun ada pengunjung selain mahasiswa, pastilah itu orangtua mahasiswa atau tamu-tamu universitas seperti kalian,” ujar Ray.

Kafe sengaja di desain multiguna. Selain untuk tempat makan minum, di sana juga bisa dimanfaatkan mahasiswa dan dosen untuk berdiskusi, membahas kuliah  dan lainnya. “Itu disana ada Pak Wahyu bersama mahasiswa bimbingannya,” tunjuk Ray.
Kami mendadak menengok ke arah yang ditunjuk Ray. Rupanya Wahyu Dani Purwanto (Pembantu Rektor II Universitas Malahayati) merasa juga sedang diperbincangkan. Dia melambaikan tangan. Setelah menyelesaikan urusannya dengan mahasiswa, Wahyu mendekati kami. Bang Nurlis lagi-lagi berinisiatif mengenalkan kami. “Ow, dari Kalimantan. Mahasiswa di sini juga banyak yang dari Kalimantan. Bahkan ada yang anak walikota,” ujarnya.

Mendengar ada anak walikota di Kalimantan yang menuntut ilmu sampai di pulau Sumatera, kami berempat kompak tertarik, “Kalimantan mana, Pak,” serbu kami berbarengan.

“Kalau tak salah, Walikota Banjarmasin,” sahutnya. Kini giliran penulis yang makin penasaran.

Wahyu kemudian melambaikan tangan ke arah mahasiswanya yang masih duduk di meja lamanya. Mahasiswanya yang dipanggil mendekat. “Coba kamu panggil Reza (Ketua Ikatan Mahasiswa Kalimantan), minta dia kumpulkan semua teman-temannya sekarang. Bilang, lagi ditunggu om-om wartawan,” perintahnya.

Adalah Ery Rizaldy dan Ibnu Furqon dari Sambas Kalbar yang datang pertama kali, disusul M Lutfi Alfandi dari Sanggau perbatasan Kucing, Malaysia. Tidak berapa lama menyusul Rian Alfian dari Samboja Kabupaten Kutai. Namun sampai pukul 21.30 waktu setempat, belum juga ada tanda-tanda Rahma Hayati, putri kedua Walikota Banjarmasin H Muhiddin datang.
Beruntung M Khairul datang. Dari informasi Mahasiswa semester dua asal Jl Gatot Soebroto Banjarmasin inilah kami tahu, bahwa  Rahma Hayati sudah tidak lagi mendiami asrama, karena sudah merupakan mahasiswa semester akhir dan sedang menggarap skripsi. “Sepertinya Kak Rahma tak bisa datang,” ujarnya.

Akhirnya muncul usulan, mahasiwa asal Kalimantan dan wartawan sepakat ketemuan lagi besok sore di perpustakaan, di anjungan rumah adat Kalimantan

Ketika Menteri Nasir Menilai Malahayati

KUNJUNGAN Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof Mohammad Nasir, ke Universitas Malahayati menjadi titik balik isu miring yang menerpa kampus ini di Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

“Universitas Malahayati saat ini sudah baik. Setelah datang ke sini saya menaruh harapan yang besar,” kata Menteri Nasir.

“Universitas Malahayati saat ini sudah baik,” Menteri Nasir mengatakannya saat berkunjung ke kampus ini pada Sabtu 28 Februari 2015.  “Setelah melihat langsung ke sini (Universitas Malahayati) saya menaruh harapan besar,” katanya. “Kita harapkan menjadi lebih baik lagi.”

Menteri Nasir tak asal bicara. Ia melihat langsung beberapa titik vital di kampus seluas 84 hektar di Jalan Pramuka 27, Kemiling, Bandar Lampung. Sebuah universitas swasta di Lampung yang telah hadir sejak 1993.

Didampingi Ketua Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi, Dr (HC) H Rusli Bintang dan Rektor Universitas Malahayati Dr. Muhammad Kadafi SH, MH, Menteri Nasir tiba di kampus pukul 10.00 WIB. Begitu menjejakkan kaki, ia langsung blusukan ke Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin yang terletak tak jauh dari gerbang Universitas Malahayati. Tepatnya di tanjakan pertama di sebelah kiri jalan masuk kampus.

Ia menelusuri beberapa sudut penting rumah sakit ini. Setelah itu, Nasir mengunjungi Gedung Terpadu Universitas Malahayati.

***

MENURUNI bukit dari Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin, ada dua bukit bersisian. Laksana bukit kembar. Gedung Terpadu Universitas Malahayati berada di sebelah kanan. Di sini ada sembilan gedung tersebar di lahan tiga hektar. Antar gedung terkoneksi dengan jembatan, jadi tak perlu naik turun tangga untuk berpindah lokasi.

Adalah blok Kabara yang pertama di jumpai. Ini gedung bertingkat tujuh.  Masing-masing lantai berfungsi berbeda. Di antaranya lantai paling dasar ada Kabara Shop, di atasnya ada mushala, kabara prasmanan, di lantai empat Malahayati Carier Center, lantai lima ruang kuliah, berikutnya ada bak air, dan ruang teknologi informasi di lantai tujuh.

Kemudian di sebelah kanan blok Kabara ini ada gedung yang difungsikan menjadi tempat kuliner hingga pencucian pakaian.

Tepat di belakang gerai kuliner inilah berdiri tegak gedung berlantai delapan yang menjadi sentral mahasiswa dan dosen dalam beraktifitas.

Dipandu Wakil Rektor II dr Ahcmad Farid MM, Menteri Nasir menelusuri beberapa lantai gedung yang terdapat fasilitas lengkap penunjang kegiatan akademik di Universitas Malahayati.

Lantai satu hingga lantai empat difungsikan menjadi asrama putri yang jumlahnya mencapai 384 kamar. Kemudian lantai lima dan enam adalah apartemen para dosen. Menteri Nasir sempat masuk ke salah satu apartemen dosen dan melihat kondisi di dalamnya.

Disebut Asrama Green Dormitory, semua fasilitas universitas tanpa membebankan biaya pada mahasiswa maupun dosen. “Di sini mahasiswa dan mahasiswi wajib masuk asrama, dan kita tak memungut bayaran untuk fasilitas ini,” kata Drs. Rayendra Hermansyah MM, Kepala Asrama Green Dormitory Universitas Malahayati. “Bahkan untuk mencuci pakaian pun ada fasilitas yang gratis.”

Selain asrama mahasiswi, tentu saja ada asrama mahasiswa yang terletak di sebelah utara Blok Kabara. Berjumlah lima gedung dengan 276 kamar, asrama mahasiswa dilengkapi sarana olah raga, seperti kolam renang, lapangan basket, voli, tenis, dan driving golf.

Bagaimana peran suppotting akademik yang selama ini dijalankan asrama Universitas Malahayati? “Misalnya, bimbingan agama. Ada instruktur yang bertanggungjawab pada pembinaan agama dan etika moral para mahasiswa, juga ada bimibingan minat dan bakat melalui organisasi kemahasiswaan,” kata Rayendra.

Setelah dari lentai enam, Menteri Nasir menjejakkan kakinya ke lantai tujuh, maka tampaklah sejumlah peralatan teknis untuk ilmu kedokteran, sehingga disebut Laboratorium Kesehatan Terpadu.

Contohnya, laboratorium dasar, biomolekuler, osce, dan laboratorium CBT (Computer Basic Training). Dalam bahasa sederhana bisa disebut sebagai lokasi laboratorium kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, dan farmasi. “Semua peralatan yang kita gunakan adalah yang terbaru,” kata Rayendra.

Selanjutnya, Menteri Nasir menuju lantai delapan yang menjadi lokasi Perpustakaan. Sebelum masuk masuk ke ruang perpustakaan yang luasnya hampir satu hektare ini, Menteri Nasir meneken Prasasti Gedung Terpadu Universitas Malahayati.

Di depan pintu masuk perpustakaan, Menteri Nasir berhenti sejenak. Matanya menyapu ruangan besar yang didalamnya ada 35 ribu koleksi buku yang tersusun rapi di dalam rak, ia juga melihat 34 rumah adat yang berjejer rapi di sisi dinding kaca mengepung rak buku.

Jadi, berada di dalam perpustakaan ini tak hanya membaca buku juga menyelami adat dan budaya yang ada di Indonesia.

“Ilmu pengetahuan yang baik tentu saja akan makin bagus jika dikuatkan dengan pemahaman kearifan lokal. Perpustakaan ini menyempaikan pesan untuk menjadi Indonesia yang cerdas,” kata Rusli Bintang.

Perpustakaan juga dilengkapi fasilitas internet untuk mempermudah pengunjung mengakses atau mencari bahan rujukan melalui beberapa portal, seperti Proquest, Ebsco, dan IGI Global.

Keunikan perpustakaan Universitas Malahayati juga menyebabkan banyak wisatawan lokal berdatangan. Selain membaca, mereka juga berfoto-foto. Begitu pula pelajar dari berbagai kabupatan di wilayah Lampung rajin berkunjung.

Adapun para mahasiswa di Universitas Malahayati, setiap datang ke perpustakaan biasanya menempati rumah adat di kampungnya.  Maklum, mahasiswa di Universitas Malahayati setidaknya untuk saat ini berasal dari 27 provinsi.

Di sebelah kanan perpustakaan,  ada ruang yang lebar dan bersekat-sekat dengan berbagai fasilitas. Didominasi warna abu-abu, tempat ini disebut ruang baca. Berbagai fasilitas untuk kenyamanan membaca ada di sini termasuk perpustakaan digital.

Ruang Baca ini merujuk pada salah satu universitas ternama di negeri Belanda. Dari ruang baca, Menteri Nasir melihat-lihat ke arah luar, terbentanglah panorama alam Bandar Lampung, perumahan penduduk, dan gedung-gedung kampus Universitas Malahayati.

Perpaduan perpustakaan modern dengan kearifan lokal ini mendapat pujian dari anggota DPR RI Daerah Pemilihan Lampung, Dwie Aroem Hariyatie, yang berkunjung ke perpustakaan Universitas Malahayati Lampung sehari menjelang kedatangan Menteri Nasir.

“Perpustakaan Universitas Malahayati luar biasa. Tidak hanya untuk di Lampung, tapi di Indonesia sekali pun sangat sedikit kampus yang menyediakan fasilitas sangat memadai untuk mahasiswanya. Tidak banyak pula yang mengelola perpustakaan dengan serius seperti yang dilakukan di Universitas Malahayati ini,” kata Dwie Aroem Hariyatie.

Aroem yang alumni London School Jakarta itu mengatakan apa yang dilakukan Universitas Malahayati dengan membuat perpustakaan yang lengkap dan didesain dengan bagus untuk mahasiswa selayaknya dikembangkan di tempat lain.

[pullquote]Perpustakaan Universitas Malahayati luar biasa. Tidak hanya untuk Lampung, tapi di Indonesia sekali pun.”
Dwie Aroem Hariyatie[/pullquote]

Aroem lantas membandingkan perpustakaan Malahayati dengan perpustakaan milik DPR RI. Katanya, DPR RI punya perpustakaan yang lumayan besar, namun belum dilengkapi dengan ruang baca

“Jadi yang ada di sini ini fasilitasnya luar biasa. Sofa di ruang baca sudah seperti hotel.  Intinya, apa yang dibuat oleh Universitas Malahayati ini bagus banget,” kata wanita yang juga pengusaha ini.

Pendapat yang sama juga disampaikan Anggota DPR-RI Musa Zainuddin. Ia sangat mengagumi ide perpustakaan yang ia bilang baru ada satu ini di Indonesia. “Saya bangga bisa datang ke sini dan kagum melihat fasilitas yang ada di Universitas Malahayati,” kata Musa.

***

SALAWAT badar menggema dari dalam ruang Graha Bintang yang letaknya berhadap-hadapan dengan Gedung Terpadu Universitas Malahayati. Ribuan anak yatim dari Bandar Lampung memadati ruangan dengan kapasitas 5000 orang itu.

Mereka semuanya berdiri menyambut kedatangan Menteri Nasir yang baru saja meninggalkan Gedung Terpadu.

Graha Bintang berada dalam blok gedung rektorat yang berdiri di atas tanah sekitar satu hektar. Rektorat yang bersisian dengan Graha Bintang ituberupa gedung tujuh lantai yang di dalamnya ada ruang kuliah di lantai satu hingga lantai tiga.

Kemudian di lantai empat ada ruang ujian OSCE CBT (Ujian Kelulusan Dokter Indonesia), Medical Education Unit (MEU), dan ruang Dosen Terpadu.

Adapun di lantai lima adalah ruangan yayasan, rektor, para wakil rektor, para kepala prodi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, LPMI (Lembaga Penjamin Mutu Internal), ruang Kepala Biro Umum, Biro Akademik, Biro Kemahasiswaan dan Alumni, uang P3T (Pusat Pelayanan Pendidik Terpadu), keuangan, ruang Pascasarjana Kesehatan Masyarakat, Pusat Teknologi Informasi Komunikasi (PTIK).

Sedangkan di lantai enam dan tujuh ada lapangan Futsal, Kantin Kabara Lunch, dan ruang tempat makan tamu saat acara-acara kampus.

Kembali ke dalam ruang Graha Bintang, di sini Menteri Nasir berpidato, begitu juga Rektor Muhammad Kadafi.  Mereka memberi semangat pada anak-anak yatim.

Nasir juga berharap pada semua pihak untuk terus berperan serta peduli pada anak-anak yatim. “Mereka adalah harapan bangsa,” katanya.

Selanjutnya, Menteri memberi santunan pada anak-anak yatim ditemani Rusli Bintang.

Rusli Bintang melalui empat kampusnya, yaitu Universitas Malahayati (Lampung), Universitas Batam, Universitas Abulyatama (Banda Aceh), dan Intitut Kesehatan Indonesia (Jakarta), sudah menyantuni ribuan anak yatim. Rata-rata setiap bulan Rusli mengeluarkan Rp 1,2 miliar untuk menyantuni anak yatim.

Semua kampus di bawah manajemen Rusli Bintang juga memberi beasiswa untuk anak-anak yatim, dan membiayai seluruh kebutuhannya untuk menimba ilmu. Bahkan ia memberdayakan janda-janda untuk bekerja di kampus.

Karena itu, Rusli sangat berterimakasih pada Menteri Nasir yang sudah memberi imbauan yang menurutnya sangat bermanfaat dan memompa semangat.

“Kedatangan menteri ke kampus ini telah menambah keyakinan yang luar biasa, sehingga kami menjadi terpacu untuk berbuat yang terbaik untuk dunia pendidikan. Sudah pasti berbagai saran dari Pak Nasir akan kita ikuti. Semuanya demi kebaikan bersama,” kata Rusli.

Pendapat yang sama juga disampaikan Rektor Universitas Malahayati, Muhammad Kadafi. “Kami akan terus mengupdate perkembangan dunia pendidikan. Dari segala sisi, kita akan terus membuat perubahan-perubahan ke arah kemajuan,” katanya.

Menteri Nasir meninggalkan Universitas Malahayati pukul 13.30 WIB. Berbagai tuduhan miring itu pun berlalu.

“Tak perlu berbalas pantun untuk membalas tuduhan miring. Kita lebih suka mengajak segenap komponen untuk datang ke sini. Silahkan lihat langsung, beri penilaian, lalu silahkan bercerita,” kata Rusli Bintang.

“Kami juga akan mendengarkan semua saran demi kemajuan akademik dan keberlangsungan kehidupan kampus yang nyaman. Jika semua lancar maka saluran bantuan untuk anak-anak yatim berjalan dengan baik.” []

 

Dari Aceh, Mengejar Mimpi Hingga ke Lampung

Zaleha Ulfa tak pernah membayangkan akan berpisah dengan kedua orangnya pada usia 18 tahun. Sudah hampir dua tahun gadis mungil alumni SMA Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, ini hijrah ke Lampung. Kini, di usianya yang menginjak 20 tahun, Zaleha harus bisa hidup mandiri di negeri orang. Read more