Bert Aukema: Fasilitas Universitas Malahayati Sangat Bagus

KEGIATAN Senior Expert Netherland, Belanda, Bert Aukema, di Universitas Malahayati, Bandar Lambung, berakhir hari ini. Ia telah memberikan materi pelatihan untuk tiga universitas, yaitu Universitas Malahayati, Abulyatama, dan Universitas Batam.

Materi yang sama juga diberikan untuk Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Ia memang berpengalaman menangani rumah sakit, sebab pernah menjadi pemimpin di beberapa rumah sakit di Belanda. Saat ini Bert berada dalam lembaga bernama Pum, ia salah satu tenaga ahli di sini.

Selain memberi materi pelatihan manajemen, Bert juga akan membuka jalinan hubungan universitas di bawah grup Rusli Bintang ini dengan perguruan tinggi di luar negeri. “Salah satunya adalah Erasmus yang berada di Rotterdam, Belanda,” kata Bert.

Bert mengatakan sudah menjajaki hubungan kerjasama itu. “Saat ini mereka sedang mempelajarinya. Mereka sudah mempertimbangkan untuk bekerjasama,” kata Bert.

“Untuk itu, kita di sini akan mempelajari sejumlah hal, agar bisa bekerja sama dengperpustakaan 2perpustakaan 3an mereka. Secara fisik kampus, misalnya soal fasilitas yang ada di sini sudah sangat bagus.”

Berikut ini foto-foto Bert di Universitas Malahayati

bert 6bert 3bert g aukemaperpustakaan 2bert aukema

Perpustakaan Malahayati yang Tak Biasa

BAYANGKAN suasana ini: puluhan ribu buku, sungai buatan berisi ikan mas yang berenang kesana kemari, pohon-pohon buatan nan rindang, rumah-rumah adat dari seluruh provinsi di Indonesia, juga komputer untuk mengakses perpustakaan digital.  Itulah isi perpustakaan Universitas Malahayati di Lampung yang didirikan oleh putra Aceh, Rusli Bintang.

Dengan gambaran suasana seperti itu, berada di lantai tujuh bangunan induk, perpustakaan ini lebih terasa seperti membaca buku di taman daripada di dalam ruangan.

Memasuki perpustakaan ini, Anda akan disambut petugas yang duduk di meja yang berada di sisi kiri dan kanan pintu masuk. Melangkah ke dalam, terlihatlah suasana perpustakaan yang berbeda dari perpustakaan lain yang biasanya terkesan kaku.

Buku-buku diatur dalam empat baris rak yang memanjang hingga ke ujung ruangan yang luas. Rak-rak buku itu dikelilingi sungai buatan selebar sekitar 1,5 meter.  Di sela-sela rak, ada pohon besar buatan yang dibawahnya ditempatkan kursi-kursi tempat orang-orang bisa duduk sambil membaca buku. Rasanya, seperti sedang membaca di sebuah taman.

Di sisi kiri kanan yang menempel di dinding, berdiri puluhan miniatur rumah adat dari seluruh Provinsi di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua Barat. Di dalam rumah-rumah adat itu ada meja panjang, tempat mahasiswa bisa duduk berdiskusi berjam-jam lamanya.

Khusus Aceh, yang ditampilkan di sana bukan rumah adat, melainkan miniatur sebuah meunasah dengan dinding terbuka. Meunasah ini memang difungsikan sebagai tempat salat dan dilengkapi tempat wudhu. Di bawah atapnya ada tulisan: Nanggroe Aceh Darussalam.

Di sisi kanan ruang perpustakaan ini, ada lagi ruangan yang disebut ruang baca. Di sini, ada ruangan-ruangan besar berbentuk kubus yang dibatasi dinding setinggi orang dewasa. Di dalamnya, tersedia sofa-sofa panjang tempat mahasiswa bisa duduk beramai-ramai. Membaca sambil berdiskusi.

Menurut Wakil Kepala UPT Perpustakaan Universitas Malahayati Lampung, Nowo Hadi Yanto S.Sos, perpustakaan yang memiliki 32.500 koleksi buku ini juga sering dikunjungi mahasiswa dari kampus lain di luar Univesitas Malahayati. Dibuka sejak pagi, perpustakaan baru tutup pukul 10 malam.

Menurut Nowo, demikian ia biasa disapa, perpustakaan dengan konsep ini dibuat sejak dua tahun lalu. Sebelumnya, beberapa kali perpustakaan berpindah tempat. Ide membuat perpustakaan seperti itu, kata Nowo, tercetus dari Rusli Bintang, setelah berkunjung sebuah universitas di Rotterdam, Belanda.

Penempatan rumah adat di ruang pustaka,  kata Nowo, merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan kearifan lokal  dari berbagai daerah di Indonesia.

“Sekarang para mahasiswa dari berbagai daerah sering menempati rumah adat mereka masing-masing,” kata Nowo.

Dengan keunikan seperti itu, kata Nowo, para mahasiswa dari kampus lain sering datang ke sana dan berfoto di sana. “Jadinya seperti tempat wisata,” tambah Nowo yang berasal dari Jawa Tengah.

Universitas Malayahati yang didirikan oleh Rusli Bintang sejak 1992 adalah universitas swasta terbesar di Lampung. Kampus ini mewajibkan mahasiswanya tinggal di asrama. Selain di Lampung, Rusli Bintang juga mendirikan Universitas Abulyatama di Aceh, Universitas Batam di Riau, dan yang terbaru adalah Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Konsep perpustakaan yang dibangun Universitas Malahayati memberi kesan tersendiri bagi mahasiswanya. Novela, mahasiswi D4 Kebidanan di Fakultas Kedokteran mengatakan ketika berkunjung ke perpustakaan, ia seperti seperti tidak di sebuah perpustakaan.

“Rasanya kayak berada di luar ruangan. Bikin mahasiswa betah dan mau belajar di sini. Setahu saya perpustakaan yang begini cuma ada di Malahayati,” kata Novela saat ditemui di perpustakaan,  Jumat, 27 Februari 2015.

Novela yang berasal dari Lampung Barat telah menjadi mahasiswa Malahayati sejak 2011. Saat ini, sebagai mahasiswi semester VIII, ia sedang menyusun tugas akhir. Itu sebabnya,”harus sering-sering datang ke perpustakaan,” katanya.

Keberadaan ruang baca dan tempat diskusi di dalam rumah adat, kata Novela, adalah hal yang membuatnya betah berlama-lama berada di perpustakaan.

Hal senada juga disampaikan Cicilia Intan Putri, mahasiswi asal Way Kanan, Lampung. Seperti Novela, Cicilia juga duduk di semester VIII Kebidanan yang berada di bawah naungan Fakultas Kedokteran.

“Kalau saya pribadi bangga dengan perpustakaan yang unik seperti ini. Tambaha semangat belajar juga. Tidak membosankan, selain tempat belajar juga ada hiburannya,” kata Cicilia.

Menurut Cicilia, setahunya tidak ada perpustakaan seperti itu di tempat lain, khususnya di Lampung. “Kalau di Lampung kayaknya baru ini. Kalau di luar kurang tahu. Suasanannya kayak taman,” katanya.

Seringkali, kata Cicilia, mahasiswa yang datang dari kampus lain terkaget-kaget melihat perpustakaan Malahayati. “Yang dari kampus lain juga masuk ke sini kaget. Langsung foto-foto di sini,” kata mahasiswi kelahiran 1993 ini.

Cicilia juga bersyukur dengan adanya rumah-rumah adat di dalam ruang perpustakaan. “Dengan adanya rumah-rumah dari daerah ini juga menambah pengetahuan. Dari yang tadinya tidak tahu seperti apa rumah adat Jawa Barat, sekarang jadi tahu,” katanya.![]

Perpustakaan 1 perpustakaan 2 perpustakaan 3 perpustakaan 5 perpustakaan 6 ruang baca

Arbandi: Terima Kasih Pak Rusli, Terima Kasih Malahayati

HARI itu, Selasa 21 April 2015, Arbandi S. Pd, MM menempati kamar VVIP di kampus Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Pengawas di Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Kepihyang, Bengkulu, itu tak sendiri. Ia bersama istrinya, Ratna Juani S Pd.

“Ini adalah hari spesial bagi kami, sebuah hari yang kami nanti-nantikan bertahun-tahun,” kata Arbandi. Maklum, hari itu mereka menyaksikan putri sulungnya, Veronita Octaviani, ikut dalam wisuda yang digelar Universitas Malahayati di gedung Graha Bintang, kampus Universitas Malahayati.

Veronita adalah salah satu dari mahasiswi Fakultas Kedokteran yang diwisuda hari itu. Bersama Veronita ada ratusan mahasiswa yang ikut diwisuda, totalnya ada 542 mahasiswa. Ia menjadi bagian dari 7.702 sarjana alumni Universitas Malahayati.

Kini Veronita telah menyandang gelar S.Ked di belakang namanya, jadilah Veronita Octaviani S.Ked. “Kami sangat bangga dan berterimakasih pada Universitas Malahayati. Kepada Bapak Rusli Bintang, kami sangat berterimakasih. Kami tahu beliau pekerja keras, dan sangat sosial,” kata Arbandi.

Arbandi mengatakan, ia ingin melihat Universitas Malahayati terus makin maju dan berkembang. Ia juga meminta seluruh alumni untuk membantu memajukan kampus ini.

“Kemajuan Universitas Malahayati tentu memberi kontribusi positif bagi semuanya,” katanya. “Seperti kata rektor (Dr. Muhammad Kadafi SH MH), kita semua wajib menjaga nama almamater kita sendiri,” katanya.

Pendapat yang sama juga disampaikan istrinya, Ratna Juani. Adapun Veronita menyatakan sangat bahagia dengan kelulusannya itu. Ia tentu akan menjaga nama baik kampus, dan mengabdikan ilmunya pada masyarakat.

[Galery] Senyum, Awal Perjuangan

Wisuda merupakan kebahagian yang mendalam bagi mahasiswa maupun orang tua, namun mereka harus mempersiapkan diri untuk terjun ke dunia sebenarnya, perjuangan yang sebenarnya. (Foto by McD)

 

IMG_2343

IMG_1937

IMG_1938

IMG_1929

IMG_6964

IMG_1932

IMG_1935

IMG_2369

IMG_2372

 

[Galery] Rusli Bintang Hadiri Seabad Pesantren Denanyar

KETUA Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi, H. Rusli Bintang, pekan lalu mengunjungi Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Kunjungan pendiri Universitas Malahayati ini berkaitan dengan peringatan satu abad pendirian dayah yang akrab disebut Pesantren Denanyar.

Pesantren Denanyar didirikan Kiai Haji Bisri Syansuri yang lahir di Pati Jawa Tengah, pada 18 September 1886, dan wafat di Jombang, Jawa Timur pada 25 April 1980. Kiai Bisri adalah ulama dan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.  Ia terkenal atas penguasaannya di bidang fikih agama Islam.

Kiai Bisri Syansuri juga pernah aktif berpolitik, antara lain sempat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masyumi, menjadi anggota Dewan Konstituante, ketua Majelis Syuro Partai Persatuan Pembangunan dan sebagai Rais Aam NU.

Kiai Bisri adalah kakek dari Kiai Haji Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur, Presiden Republik Indonesia keempat. Gus Dur  lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940  dan wafat di Ciganjur, 30 Desember 2009. Gus Dur adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001

Rusli Bintang adalah salah satu teman diskusi Gus Dur. Rusli sangat menghormati Gus Dur yang dinilainya sebagai orang terhormat dan bermartabat. (Berita selengkapnya klik di sini)

Foto-fotonya klik di bawah ini:

h rusli dan gub jatim2 h rusli2 h rusli dan prof nasir rusli dan muaimin

 

Kadafi: Malahayati Harus Siap Sambut ASEAN Economic Community 2015

Ada semangat yang berbeda pada prosesi wisuda Universitas Malahayati. Bertema “Menghasilkan Lulusan yang Mampu Bersaing di Era Asean Economic Community 2015”, wisuda kali ini diharapkan menambah semangat civitas akademika Universitas Malahayati dalam menyongsong era tersebut.
“Ekonomi abad ke 21 yang ditandai dengan globalisasi ekonomi, merupakan proses kegiatan ekonomi dan perdagangan dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi tanpa batas teritorial negara. Lulusan Universitas Malahayati harus siap menyambut ASEAN Economic Community 2015 itu,” papar Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH. MH dalam sambutannya.

Menurut Kadafi, pada era globalisasi, akan terjadi persaingan tajam antarnegara dalam hubungan intraregional dan internasional. Pemerintah Indonesia pun telah menyatakan kesiapan untuk mengikuti berlakunya Asean Economic Community (AEC) 2015. AEC 2015 merupakan hasil dari kesiapan tingkat negara-negara, dimana para pimpinan ASEAN sepakat untuk mengintegasikan wilayah ASEAN sebagai bentuk persiapan menghadapi era globalisasi dunia tahun 2020.

Dalam kesepakatan AEC 2015, terdapat beberapa kesepakatan, diantaranya free movement of goods and service. Yakni semua pengusaha ASEAN akan bebas untuk memasarkan barang yang di produksi di kawasan ASEAN, termasuk juga pekerja jasa seperti dokter, perawat, guru, finance, bank, dan lainnya.

Lalu free Of movement for skilled and talented labors, dimana setiap orang yang berada di kawasan ASEAN bebas untuk mencari pekerjaan sesuai klasifikasi dan keterampilan yang dimiliki. Kemudian freedom establishment and provision of service yang berarti setiap orang yang berada di kawasan ASEAN yang memiliki keahlian profesi bebas untuk membuka praktek dimanapun di kawasan ASEAN. Terakhir free movement of capital, dimana konsep ini menjamin adanya kekebasan perpindahan modal dari suatu negara ke negara ASEAN lainya.

“Fenomena perubahan era perdagangan pasar bebas, menjadi cambuk bagi kita sebagai anak bangsa untuk mempersiapkan diri bersaing di tingkat regional, nasional, dan internasional. Sehingga diharapkan mampu membawa bengsa indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya,” ungkap Kadafi kemudian.

Universitas Malahayati sebagai lembaga pendidikan yang turut melahirkan anak bangsa, senantiasa berbenah agar para lulusan memiliki hard skill and soft skill sebagai bekal untuk berkompetisi menuju era perdagangan pasar bebas dan era globalisasi dunia pada tahun 2020.

“Kami menyadari mungkin masih banyak hal-hal yang perlu dilakukan perubahan untuk menjadi sebuah universitas, yang mempu melahirkan anak-anak bangsa yang memiliki integritas dan mampu bersaing di era global. Untuk itu mari kita berbenah satukan visi, mempersiapkan diri menjadi bangsa besar. Yakni bangsa yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa yang telah maju dan berkembang,” paparnya lagi disambut tepukan meriah peserta wisuda.[] Andry/Bowo

Rusli Bintang Hadiri Seabad Pesantren Denanyar

KETUA Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi, H. Rusli Bintang, pekan lalu mengunjungi Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Kunjungan pendiri Universitas Malahayati ini berkaitan dengan peringatan satu abad pendirian dayah yang akrab disebut Pesantren Denanyar.

Pesantren Denanyar didirikan Kiai Haji Bisri Syansuri yang lahir di Pati Jawa Tengah, pada 18 September 1886, dan wafat di Jombang, Jawa Timur pada 25 April 1980. Kiai Bisri adalah ulama dan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.  Ia terkenal atas penguasaannya di bidang fikih agama Islam.

Kiai Bisri Syansuri juga pernah aktif berpolitik, antara lain sempat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masyumi, menjadi anggota Dewan Konstituante, ketua Majelis Syuro Partai Persatuan Pembangunan dan sebagai Rais Aam NU.

Kiai Bisri adalah kakek dari Kiai Haji Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur, Presiden Republik Indonesia keempat. Gus Dur  lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940  dan wafat di Ciganjur, 30 Desember 2009. Gus Dur adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001

Rusli Bintang adalah salah satu teman diskusi Gus Dur. Rusli sangat menghormati Gus Dur yang dinilainya sebagai orang terhormat dan bermartabat.

“Ia seorang tokoh besar. Publik negeri ini masih mengenangnya hingga kini. Lihat saja ke makamnya yang dikunjungi pengunjung setiap hari hingga sekarang,” kata Rusli yang juga berkunjung ke makam Gus Dur.

Rusli datang ke Jombang berbaur dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Menristek Dikti Prof. Mohamad Nasir, dan juga Gubernur Jawa Timur, serta tokoh-tokoh ulama lainnya.

Rusli juga sangat peduli pada pondok pesantren. Melalui Yayasan Abulyatama, Rusli juga mendirikan Pondok Pesantren Babulnajah di Jalan Ie Maseen, Ulee Kareng, Banda Aceh. Di sini ia menampung anak-anak yatim untuk menimba ilmua agama.

Selain itu, anak-anak yatim juga digratiskan untuk melanjutkan pendidikan ke beberapa universitas yang didirikannya. Di antaranya adalah Universitas Malahayati, Universitas Abulyatama, Universitas Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. Selain itu, Rusli menyantuni ribuan anak yatim setiap bulannya. []

Klik di sini untuk melihat foto-foto kunjungan Rusli Bintang ke Pesantren Denanyar

Universitas Malahayati Perkuat Cinta Anak pada Orang Tua

SEBANYAK 542 wisudawan Universitas Malahayati (Unimal) melakukan budaya sungkeman yang dipertahankan pihak kampus sejak wisuda perdana. Acara sungkeman ini merupakan upaya untuk memperkuat ikatan emosional serta cinta antara orang tua dan anak yang baru saja diwisuda. Hal ini dikatakan Rektor Unimal Dr. Muhammad Kadafi saat wisuda ke-XVI, Selasa (21/4/2015).

“Setiap wisudawan harus menyadari dan mensyukuri keberhasilannya menyelesaikan kuliah berkat usaha dan doa orang tua,” kata Kadafi. Momen sungkeman itu juga bisa menjadi kesempatan bagi wisudawan meminta maaf atas kesalahannya.

Tidak hanya itu, ujar Kadafi, sungkeman juga menjadi kesempatan wisudawan memohon doa restu agar berhasil mendapat pekerjaan terbaik setelah lulus kuliah. “Kami akan terus menghidupkan budaya sungkeman agar wisudawan kembali mengingat dan menghayati sosok orang tuanya,” kata pria berdarah Aceh itu.

Ia meminta wisudawan tetap menjaga nilai-nilai luhur dan mengamalkan keilmuannya untuk kemajuan bangsa. Selain berbakti kepada orang tua, karakter lain yang harus dimiliki wisudawan adalah daya juang terutama menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir Desember 2015.

Dalam MEA, kegiatan ekonomi dan perdagangan internasional akan terintegrasi tanpa mengenal batas negara. “Tenaga kerja Indonesia, termasuk dari Lampung harus mampu bersiang dalam percaturan tersebut,” kata Kadafi.

Ia mengatakan Unimal terus meningkatkan layanan pendidikannya untuk menyiapkan mahasiswa bersaing di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. “Jangan cepat berpuas diri. Teruslah belajar,”kata Kadafi. | sumber: lampost.co

Ini Artikel Radar Lampung tentang Wisuda Universitas Malahayati

PELAKSANAAN wisuda bersama XVI 2015 program magister, profesi, sarjana, dan diploma Universitas Malahayati Bandarlampung berjalan sukses. Kegiatan dilaksanakan di gedung Graha Bintang Universitas Malahayati kemarin (21/4).

Kegiatan dibuka Rektor Universitas Malahayati Dr. Mohammad Kadafi, S.H., M.H. yang menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan beserta orang tua dan keluarga. Ia berharap ilmu yang diperoleh mampu mengantarkan menapaki tangga kehidupan.

’’Di mana, persaingan global di masa yang akan datang semakin dinamis seperti yang dirasakan saat ini,” kata Kadafi.

Wisuda kali ini mengusung tema Menghasilkan Lulusan yang Mampu Bersaing di Era Asian Economic Community Tahun 2015. Ini merupakan gambaran semangat civitas akademika Universitas Malahayati dalam menyongsong era economic community 2015.

Universitas Malahayati telah meluluskan 7.702 sarjana dari semua fakultas yang sudah tersebar dan terserap di pasar kerja.

Ada pula alumni kedokteran Universitas Malahayati yang membuka praktik di daerah pedalaman dengan biaya berobat sangat murah. Bahkan ada pula pasiennya yang tidak mampu membayar. Salah satu alumni bekerja tidak mengedepankan materi, tetapi lebih mementingkan kesehatan masyarakat.

”Karena di Universitas Malahayati kami juga mengajarkan nilai-nilai budi pekerti dan rasa peduli akan sesama,” ungkapnya.

Hadir pula dalam wisuda Koordinator Kopertis Wilayah II Prof. Dr. Diah Natalisa, M.B.A. Ia menyampaikan, fasilitas dan kinerja Universitas Malahayati semakin maju. Seperti perpustakaan dengan suasana sangat nyaman dan bertambahnya jumlah Dosen.

”Kita harapkan Universitas Malahayati terus berkembang dan semakin maju. Kopertis akan terus memberi dukungan dan bantuannya,” kata Diah.

Beberapa wisudawan terbaik tingkat fakultas yakni Fakultas Kedokteran Profesi Dokter dr. Fentti Seli Kurnia, Kedokteran Umum (Rendy Aprian Priatma, S.Ked.), Diploma IV Bidan Pendidik (Dhea Ayutyas Pratiwi, S.S.T.). Lalu Fakultas Kesehatan Masyarakat yakni Magister Kesehatan Masyarakat (Elfa Rahmi, M.Kes.). (pms2/p7/c1/dna) | sumber: radar lampung

Sungkeman dan Pakai Peci, Prosesi Wisuda Unik Universitas Malahayati

Ada yang berbeda dan unik pada prosesi wisuda di Universitas Malahayati (Unimal), bisa jadi satu-satunya prosesi yang ada di Indonesia. Yakni prosesi sungkeman mahasiswa yang diwisuda kepada kedua orantuanya.

Apalagi, wisuda pada Selasa (21/4) ini bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Tak pelak, suasana haru membahana di dalam Gedung Graha Bintang, dimana prosesi wisuda diadakan. Isak tangis para wisudawan dan orang tua masing-masing memecah suasana. Derai air mata tak dapat dibendung lagi.

“Setiap kesuksesan yang diperoleh seorang anak itu adalah berkat doa restu orangtuanya. Maka dari itu, sungkeman ini adalah prosesi yang wajib dilakukan saat pelaksanaan wisuda di Universitas Malahayati,” ungkap Rektor Unimal, Dr. Muhammad Kadafi, SH. MH.

Menurut salah satu rektor termuda di Lampung ini, peran orangtua harus mendapat penghormatan yang layak, apalagi saat momen kelulusan. “Ridho Allah itu tergantung ridho orangtua. Jadi semoga setelah lulus kuliah, para wisudawan harus mengucapkan terima kasih sekaligus meminta restu orangtua agar sukses menapaki masa depannya,” papar Kadafi lagi.

Selain prosesi sungkeman, hal unik lain yang ada saat kegiatan wisuda di Unimal adalah, seluruh wisudawan maupun wisudawati menggunakan peci, bukan topi toga pada umumnya.

Hal ini adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap budaya di Indonesia yang ketimuran. Hal itu juga menjadi simbol dari visi Unimal yang mengedepankan etika dan sikap relijiusitas.[] Andry/ Bowo