Kabar Gembira untuk Keperawatan

Hari ini ada kabar gembira untuk seluruh alumni, mahasiswa, dan calon mahasiswa keperawatan Universitas Malahayati. Sepucuk Surat Keputusan tentang hasil akreditasi Prodi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners sudah sampai ke kampus Universitas Malahayati.

Setelah melalui proses sidang majelis yang cukup lama, akhirnya SK Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor : 488/SK/BAN-PT/Akred/PN/XII/2014 tentang Nilai dan Peringkat Akreditasi Program Studi Keperawatan dan Program Studi Profesi Ners terbit dengan nilai 304 (B) untuk Prodi Ilmu Keperawatan dan 307 (B) untuk Profesi Ners Universitas Malahayati.

Proses Visitasi oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM PTKes) dilaksanakan pada Oktober 2014, visitasi yang dilakukan selama 3 Hari itu bertujuan untuk meninjau dan menilai kelengkapan atau bukti-bukti dari borang akreditasi yang telah dikirimkan pantia akreditasi Prodi Ilmu Keperawatan Unimal.

Ketua Prodi Ilmu Keperawatan, Andoko, S.Kep.,Ns.,M.Kes merasa bahagia dan bersyukur atas hasil yang didapatkan. “Hasil ini sesuai dengan usaha dan kerja keras yang di lakukan teman-teman panitia Akreditasi. Kendati demikian kita tak boleh berpuas diri. Kita harus tetap bekerja keras untuk kemajuan Prodi ini. Seperti penambahan SDM, Promosi yang lebih baik, meningkatkan proses akademik, dan semua hal menyangkut kemajuan kita bersama,” katanya.

Senada dengan Kaprodi, Wakil Rektor III yang juga Ketua Panitia Akreditasi PSIK, Dr. Dessy Hermawan, S.kep.,Ns.,M.Kes juga merasa bangga dengan hasil ini. Namun, ia tetap menginginkan yang terbaik untuk Universitas Malahayati. “Ini peningkatan bagi prodi ini. Tetapi, Keperawatan tetap membenahi diri untuk dapat meningkatkan akreditasinya lagi pada 2019.” | ricko gunawan

Apa Kata Komut Pertamina untuk Universitas Malahayati?

SETELAH mengisi kuliah umum di gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, Bandar Lampung, Lampung, Komisaris Utama Pertamina Dr Soegiharto MBA disodori sejumlah pertanyaan oleh sejumlah media Lampung. Mereka bertanya tentang Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati menurut pengamatan Mantan Menteri Negara BUMN itu.

Lalu apa jawaban Soegiharto? “Dengan fasilitas yang sangat bagus, bahkan ada Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin di sini, menurut saya dari kampus ini mampu melahirkan dokter-dokter yang bagus. Fasilitas sudah sangat lengkap di sini, para mahasiswa bisa memanfaatkan dengan baik,” kata Soegiharto kepada sejumlah wartawan, Kamis 26 Maret 2015.

Soegiharto menjawab demikian setelah ia berkeliling kampus, dan juga blusukan ke dalam Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Ia mengagumi fasilitas yang ada di dalam Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Sehingga ketika mengisi materi kuliah umum untuk ribuan mahasiswa Universitas Malahayati, ia memompa semangat mahasiswa untuk meningkatkan semangat belajarnya. “Saya bukanlah orang pintar. Tapi saya hanya rajin saja, sehingga bisa seperti ini,” katanya.

Bahkan bukan kepada mahasiswa saja ia memberi spirit yang tinggi, juga kepada seluruh dosen dan pegawai yang ada di Universitas Malahayati. Ia meningkatkan bahwa yang paling utama dalam bekerja adalah soal tanggung jawab.

“Saya tak pernah mempersoalkan berapa gaji yang saya terima, Namun saya menerima sebuah pekerjaan dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Jadi yang menjadi fokus utama adalah tanggungjawab dan apa yang bisa kita berikan,” katanya.

Kepada wartawan, Soegiharto secara khusus menyatakan sangat senang jumpa Rusli Bintang, pendiri Universitas Malahayati. “Kita patut berbangga pada Pak Rusli Bintang, lihatlah bagaimana kampus yang sudah dibangunnya ini demikian bagusnya, fasilitasnya sangat lengkap. Saya sangat mengapresiasi Pak Rusli, ia seorang yang sepanjang hidupnya selalu berbagi,” kata Soegiharto sambil menarik Rusli Bintang ke depan wartawan.

Rusli menimpali pernyataan Soegiharto, “Saya orang bodoh pak, jadi berbuat sesuatu hanya bisa saya lakukan sebatas kebodohan saya, orang yang pintar menurut saya adalah orang yang mampu memahami apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang-bodoh seperti saya ini Pak,” kata Rusli Bintang yang disambut gelak tawa Soegiharto.

Ini Kata Rektor Malahayati tentang Sosok Soegiharto

Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi SH MH dalam sambutannya mengapresiasi kedatangan Komisaris Utama PT Pertamina Dr Soegiharto MBA untuk memberi kuliah umum ke kampusnya yang terletak di Bandar Lampung, Lampung. Kadafi bahkan memberi sambutannya tanpa teks, dan ia memahami sekarang mendalam tentang sosok Soegih

“Saya banyak membaca tentang sosok Pak Soegiharto, dan juga mendengarkan dari berbagai kalangan tentang Pak Soegiharto yang perjalanan hidupnya sangat mengagumkan. Kami di Universitas Malahayati tentu akan memetik pelajaran dari beliau,” kata Kadafi saat memberi sambutannya pada kuliah umum Soegiharto di Graha Bintang, Universitas Malahayati, Kamis 26 Maret 2015.

Pelajaran pending yang menjadi contoh, kata Kadafi, adalah ketekunan Soegiharto. “Bagaimana beliau menjalani kehidupan, dari seorang kuli hingga menjadi menteri. Dan saat ini beliau adalah seorang Komisaris Utama di PT Pertamina, kini di sini bersama-sama kita dan membagi ilmu. Kita harus memetik pelajaran-pelajaran hebat darinya,” kata Kadafi yang disambut teruskan tangan ribuan mahasiswa yang ikut kuliah Umum hari itu.

Soegiharto sendiri sudah me buka rahasia utama perjalan hidupnya, yaitu rajin. Sebab rajin itulah, Soegiharto mempu meraih berbagai prestasi. Ia yang dimasa kecil dulu adalah seorang kuli yang juga penjaga parkir, di masa dewasa bisa masuk ke Bank Trust Company and Chemical, kemudian menjadi Direktur Keuangan dan Direktur Utama Medco Energy, bahkan bisa menjadi Menteri Negara BUMN. Kini ia adalah Komisaris Utama PT. Pertamina.

Kadafi melanjutkan ucapannya, “yang menarik perjalanan hidup yang hampir sama juga ada pada diri Bapak Rusli Bintang, Ketua Pembina Yayasan Alih Teknologi yang juga adalah pendiri Universitas Malahayati. Beliau juga melalui perjalanan hidupnya dari seorang kuli pengangkut pasir. Mari kita ikuti jejak kehidupan yang hebat dari dua orang yang hebat ini,” katanya.

Rusli Bintang memang telah mendirikan empat universitas. Dimulai dengan Universitas Abulyatama di Banda Aceh, lalu Universitas Malahayati di Bandar Lampung, menyusul Universitas Batam di Batam, dan saat ini telah mendirikan Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta. []

Mahasiswa Malahayati Antusias Ikuti Kuliah Umum Soegiharto

USAI meninjau Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin, Komisaris Utama PT. Pertamina, Doktor Soegiharto MBA, memberi materi kuliah umum di Gedung Graha Bintang, Universitas Malahayati, Bandar Lampung, pukul 10.00 WIB Kamis 26 Maret 2015.

Di dalam ruang Gedung Graha Bintang, Soegiharto menaburi semangat kepada ribuan mahasiswa yang menjadi peserta kuliah umum. Tiada henti tepuk tangan memberi aplaus pada pria kelahiran Medan 29 April 1955 yang telah memikat mahasiswa dengan gayanya memberi kuliah.

Doktor jebolan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan judicium cum laude ini menanamkan sebuah keyakinan tentang bagaimana menggapai keberhasilan. “Yang paling utama adalah rajin. Saya ini tidak pintar, tapi rajin. Di sekolah dulu, jika orang lain cukup dengan sekali membaca sudah memahami mata pelajaran, saya sampai sepuluh kali membaca baru mengerti,” katanya. Dan kendati sepuluh kali membaca, ia tetap menjalankannya.

Sebab rajin itulah, Soegiharto mempu meraih berbagai prestasi. Ia yang dimasa kecil dulu adalah seorang kuli yang juga penjaga parkir, di masa dewasa bisa masuk ke Bank Trust Company and Chemical, kemudian menjadi Direktur Keuangan dan Direktur Utama Medco Energy, bahkan bisa menjadi Menteri Negara BUMN. Kini ia adalah Komisaris Utama PT. Pertamina.

Soegiharto kemudian mencontohkan sosok Rusli Bintang, Ketua Pembina Yayasan Alih Teknologi. “Ia yang dulunya adalah buruh kasar, tanpa sekolah namun mampu mendirikan empat perguruan tinggi di berbagai provinsi,” katanya. “Itu semua disebabkan perilaku yang rajin dan pantang menyerah,” katanya.

Rusli Bintang memang telah mendirikan empat universitas. Dimulai dengan Universitas Abulyatama di Banda Aceh, lalu Universitas Malahayati di Bandar Lampung, menyusul Universitas Batam di Batam, dan saat ini telah mendirikan Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta.[]

Dr. Soegiharto: RS Pertamina-Bintang Amin Membanggakan

KOMISARIS Utama PT. Pertamina, Dr. Soegiharto MBA, berkunjung ke Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin di kompleks Universitas Malahayati, Kamis 26 Maret 2015. Didampingi Ketua Pembina Yayasan Alih Teknologi, H. Rusli Bintang, dan Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi SH, MH, mantan Menteri BUMN ini mengelilingi rumah sakit itu.

Ia memasuki berbagai ruangan rumah sakit. Bahkan, ia menyempatkan diri ke ruang tunggu dan berbincang-bincang dengan masyarakat yang sedang mendaftar pengobatan dari BPJS. “Alhamdulillah, Rumah Sakit kita ini sudah mampu menampung rakyat melalui BPJS. Ini adalah program pemerintah yang telah mampu dilaksanakan oleh Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin,” kata Soegiharto.

Selanjutnya, ia juga melihat langsung sejumlah peralatan canggih yang tersedia di rumah sakit hijau ini. Di antaranya, ia melihat alat CT-Scan, alat bedah syaraf, cuci darah, dan juga alat untuk pengobatan jantung, dan sejumlah alat-alat modern yang telah tersedia di rumah sakit Pertamina – Bintang Amin.

Selain melihat peralatan, Soegiharto juga menelusuri berbagai tempat perawatan. Dan memasuki ruang-ruang inap pasien. “Semuanya bagus-bagus, melebihi dari pada apa yang saya bayangkan selama ini,” katanya. “Pertamina jelas sangat bangga bekerjasama dengan Universitas Malahayati.” []

Sosialisasi Perawat ke Jepang

Pejabat dari BP2TKI Jakarta, Nanang Hendarto BA, Rabu 25 Maret 2015, mensosialisasikan program penempatan perawat dari Indonesia ke Jepang di Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Ratusan calon perawat dari Universitas Malahayati mengikuti acara ini di gedung Malahayati Career Center.

Nanang menjelaskan bahwa program yang disampaikannya itu adalah resmi kerjasama antar pemerintahan. “G to G, antara Indonesia dan Jepang. Ini adalah program resmi,” kata Nanang.

Karena itu, Nanang menjamin program yang disosialisasikannya itu sangat aman. “Legal, dijamin oleh  pemerintah. Perlindungan diperhatikan, perawat diasuransikan, tak perlu khawatir akan kesusahan. Penggjian juga jelas antara Rp10 juta hingga Rp20 juta. Ditambah bonus, dan juga ada tunjangan pensiun setelah kontrak kerja selesai,” kata Nanang.

Bahkan, kata Nanang, perawat dari Indonesia juga bisa meniti karier secara berkelanjutan di Jepang. “Asalkan lulus seleksi nasional Jepang yang diselenggarakan tiga kali selama kontrak berlangsung. Kontrak kerja ini juga berlaku tiga tahun. Jika lulus ujian nasional Jepang maka bisa melanjutkan terus berkarier di Jepang, jika tak lulus ujian itu maka kontrak akan berakhir,” katanya.

Di Jepang, kata Nanang, para perawat juga bisa mengembangkan ilmunya, bahkan mendapat pengetahuan-pengetahuan yang baru. Kerjasama ini sudah dimulai sejak 2008.  “Tahun ini, Jepang membutuhkan 348 perawat, namun yang tersaring hanya 283 orang. Mereka sedang dalam program pelatihan di Jakarta,” katanya.

Para perawat itu, kata Nanang sudah lulus sejumlah seleksi. “Dimulai dengan pendaftaran yang dokumennya pasti diverifikasi. Lulus kesehatan, juga test kemampuan keperawatan, serta psiko test. Setelah itu mereka dilatih selama enam bulan untuk belajar bahasa Jepang.

Selama pelatihan semuanya ditanggung, selain itu mendapat tunjangan 10 dolar sehari,” katanya. “Setelah pelatihan, ada test lagi. Setelah lulus baru dikirim ke Jepang. Peserta latihan biasanya lulus semua jarang yang tidak lulus.”

Bahkan di Jepang pun, peserta akan mendapat pelatihan juga selama enam bulan, baru kemudian diterjunkan ke rumah-rumah sakit dan panti jompo. “Jika berminat silahkan klik website BP2TKI,” kata Nanang. “Di Lampung juga bisa mendaftar di BP3TKI Lampung,” katanya lagi. Untuk informasi lebih lanjut klik www.bnp2tki.go.idwww.bppsdmk-depkes.go.id.

“Jaga kesehatan, dan belajarlah bahasa Jepang,” kata Nanang. “Mulailah dari sekarang jika berminat.” Saat ini sudah dibuka pendaftaran untuk perawat yang ingin berkarier di Jepang pada 2016 mendatang.

Hadiah Umrah Pemenang PTQ RRI dari Rusli Bintang

Presiden Direktur RRI Rosarita Niken Widiastuti mengapresiasi kepedulian Dr. H. Rusli Bintang yang telah ikut berpartisipasi dalam Pekan Tilawatil Quran (PTQ) Nasional RRI yang dilaksanakan di Banda Aceh. “Beliau menghadiahkan paket umrah untuk enam pemenang PTQ kali ini,” kata Mirza Musa, Mantan Kepala RRI Banda Aceh yang saat ini menjabat Kepala RRI Padang kepada wartawan di Jakarta, Selasa 11 Maret 2015.

Mirza mengatakan, RRI sangat berterimakasih kepada Rusli Bintang. “Beliau telah menunjukkan niat baik, serta kepedulian yang tinggi pada kegiatan-kegiatan yang positif,” kata Mirza. Ia menambahkan, pada Senin malam kemarin direksi RRI telah mengundang Rektor Universitas Abulyatama Banda Aceh, R. Agung Efrino Hadi, MSc, PhD ke kantor Pusat RRI di Jakarta. Agung dijamu langsung oleh Presiden Direktur RRI.

Universitas Abulyatama Andalah salah satu perguruan tinggi yang didirikan Rusli Bintang. Selain Universitas Abulyatama, Rusli juga mendirikan Universitas Malahayati Lampung, Universitas Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. “Sebab kegiatan PTQ itu dilaksanakan di Aceh, maka kami yang dari Universitas Malahayati yang mewakili beliau,” kata Agung.

Agung juga yang diminta Rusli untuk menemani peserta PTQ yang mendapat hadiah umrah itu sampai selesai menjalankan ibadahnya di Mekkah. “Ini memang keikutsertaan kita yang pertama pada event yang dilaksanakan RRI ini. Insya Allah kita akan terur berpartipasi dalam berbagai kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi Universitas Abulyatama,” kata Agung.

Rusli selama ini memang dikenal peduli pada kegiatan-kegiatan yang bersifat positif. Bahkan, ia memiliki program yang wajib dijalankan di seluruh perguruan tinggi yang didirikannya, yaitu menyantuni anak-anak yatim dari berbagai tempat. Dalam menyantuni anak-anak yatim, Rusli tak membeda-bedakan. “Semua dipedulikannya,” kata Agung.

Muhammad Kadafi Raih Gelar Doktor

Muhammad Kadafi SH MH, putra pendiri Universitas Abul Yatama (Unaya) Aceh, DR HC Rusli Bintang, meraih gelar doktor (DR) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Kadafi berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian promosi doktor di Kampus Undip, Jumat (27/2).

Penelitiannya berjudul “Rekonstruksi Kebijakan Pertanahan Berbasis Pluralisme Hukum” mengupas persoalan hak kepemilikan tanah di Aceh Besar pascatsunami 2004. Pendekatan pluralisme hukum (legal pluralism) ditawarkan Kadafi dalam penyelesaian sengketa masalah tanah di Aceh Besar setelah musibah tsunami.

Dalam pemaparan di hadapan para penguji, Kadafi menyatakan bahwa penyelesaian sengketa tanah melalui hukum formal seperti dalam penelitiannya banyak tidak tuntas, untuk itu Kadafi merumuskan model dengan pendekatan adat dan nilai hukum yang berlaku di masyarakat Aceh Besar. “Di Aceh Besar ada janda korban tsunami yang kehilangan kepemilikan tanah yang seharusnya hak dia. Dan persoalan ini banyak terjadi,” katanya

Sidang ini melibatkan enam profesor penguji, dipimpin oleh Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum, Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Dalam sidang yang berlangsung 2,5 jam tersebut, Prof Yos Johan sempat menyebut Kadafi sebagai doktor ahli tanah khusus bencana. “Jika saya bidang hukum pertanahan, maka saudara ini doktor khusus tanah bencana,” ujarnya mencandai Kadafi.

Muhammad Kadafi adalah putra kelahiran Aceh Besar, 8 Oktober 1983. Selain bergelut di bidang pendidikan, ia juga sebagai staf ahli bidang pendidikan Wali Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Di Provinsi ini, Rusli Bintang

(ayah Muhammad Kadafi) mendirikan perguruan tinggi yang diberinama Universitas Malahayati. Rusli Bintang juga pendiri Institut Kesehatan Indonesia Jakarta dan Universitas Batam.

Rusli Bintang yang hadir pada sidang promosi doktor kemarin mengaku bahagia anaknya dapat meraih gelar doktor dari universitas yang banyak melahirkan tokoh ahli hukum di Indonesia.”Tentu saya bahagia Muhammad Khadafi meraih gelar doktor. Semoga bermanfaat bagi masyarakat dan dunia pendidikan yangtelah menjadi dunianya saat ini,” kata Rusli Bintang.

Ia juga mengatakan, Muhammad Kadafi termasuk beruntung dapat menyelesaikan pendidikan doktornya dengan aktivitas cukup pada mengelola beberapa lembaga pendidikan di Bandar Lampung.

Sidang promosi doktor kemarin juga dihadiri oleh Rektor Universitas  Abulyatama Aceh (Unaya) Ir.R.Agung Efriyo Hadi, M.Sc., Ph.d. Dekan Fakultas Hukum Unaya, Wiratmadinata, SH, MH. Keluarga Muhammad Kadafi juga terlihat hadir, di antaranya Disa Bahazzad (istri) dan Ratu Kaila Al Hasya (anak).

Sumber: Arif Ramdan (Serambi Indonesia)

Dr. M. Kadafi: Anak Yatim Bukan Hanya Butuh Uang

DR. MUHAMMAD Kadafi,  sudah menjabat Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung sejak berusia 30 tahun. Dua tahun menduduki jabatan rektor, putra Aceh ini terus berupaya meningkatkan mutu kampus yang telah berdiri sejak 1993 itu.

Khadafi saat ini mengurus kampus yang didirikan orang tuanya, Rusli Bintang, pengusaha dan tokoh pendidikan Aceh yang melebarkan sayap usahanya di bidang pendidikan hingga ke Lampung, Batam, dan Jakarta.

Apa saja yang membedakan kampus ini dengan kampus lain? Diantaranya, memberlakukan sistem asrama atau dormitory bagi mahasiswanya. Setiap mahasiwa yang tinggal di asrama diwajibkan menyantuni satu anak yatim. Hal lain: para mahasiswa juga ditekankan untuk menghargai jerih orang tuanya.

Bagaimana caranya? Berikut penuturan Muhammad Khadafi yang baru saja menyandang gelar Doktor bidang hukum dalam bincang-bincang santai dengan ATJEHPOST.CO dan sejumlah wartawan lain usai menerima kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Profesor Muhammad Nasir pada Sabtu, 28 Februari 2015.

Mengapa Universitas Malahayati begitu peduli anak yatim?

Ketua Yayasan kita Pak Rusli Bintang selalu berpesan dan mendorong kesadaran kita untuk peduli bahwa dalam setiap hak-hak kita itu ada hak-hak anak yatim dan fakir miskin. Anak yatim kita sampai ke Makassar juga ada, ada 250 anak yatim di Makasar.

Sistem anak yatim di kita, mereka tidak hanya mendapat dana. Tetapi ada perwakilan dari kita yang menjadi orang tua asuh. Kenapa? Karena mereka bukan hanya menginginkan bantuan dari segi materi tetapi juga kasih sayang, dan perhatian. Mereka kehilangan seorang ayah, jadi perhatian itu yang sangat dibutuhkan.

Makanya mengapa di Universitas Malahayati itu salah satu poin di Statuta-nya adalah setiap karyawan wajib memiliki minimal satu anak yatim. Nah, dari situlah nantinya yayasan sebagai donatur. Sedangkan karyawan menjadi orang tua asuh yang memantau perkembangannya. Kita beri motivasi mereka. Anak yatim terbaik itu kita berangkatkan umrah ibunya. Alhamdulillah harapan kita anak yatim kita semakin berprestasi di dunia pendidikan.

Kita tahu mereka kurang kasih sayang dari orang tua. Jadi dengan adanya motivasi seperti itu dan harapan masa depan mereka, mereka sudah mempersiapkan diri. Kan dulunya cita-cita untuk bisa kuliah itu kan mimpi bagi mereka. Mimpi yang sulit sekali digapai. Dengan adanya kita kan mereka jadi mudah.

(Menristek Dikti ketika berkunjung ke Universitas Malahayati mengapresiasi kepedulian kampus Malahayati terhadap anak yatim. “Pesan ke rektor untuk terus membina hubungan baik dengan anak-anak yang kurang beruntung yang menjadi aset ke depan bangsa kita,” kata Nasir dalam pidatonya).

Mahasiswa yang belajar di sini dari mana saja yang terbanyak?

Untuk tahun ini mahasiswa terbanyak pertama dari Lampung, kedua Jawa Barat, ketiga Sumatera Selatan. Pernah juga Jawa Barat lebih banyak.

Bagaimana peningkatan mutu akademik di Universitas Malahayati?

Sekarang ini arahnya untuk pengembangan ke internasional. Dari Universitas Putra Malaysia (UPM) kita sudah diakui akreditasi kita. Jadi mahasiswa Malaysia sudah bisa masuk ke sini. Dan kita setiap tahun ada pertukaran pelajar untuk setiap Program Studi. Ada yang per dua minggu, per satu bulan, ada yang per dua bulan. Dan juga kita kerjasama di bidang riset bersama dengan UPM. Dan Lab sector yang ditunjuk oleh kementerian itu ada tiga, salah satunya Universitas Malahayati.

Perpustakaan Malahayati didesain dengan konsep yang unik, itu ide awalnya darimana?

Tadinya dilatarbelakangi oleh banyaknya mahasiswa kita dari beragam daerah, provinsi, makanya terbangun suatu ide kenapa tidak bangun perpusnya itu untuk lebih cinta rasa nasionalisme. Kita jadi bisa tahu bagaimana budaya Aceh, Lampung, Kalimantan dan lain-lain. Jadi di sini semua bisa berbaur untuk bagimana mengembangkan keilmuwan ke depan.

Mengapa Malahayati menerapkan sistem pendidikan asrama?

Jadi ini adalah kampus yang one stop service. Jadi iklim kampusnya kalau bisa jangan lepas. Makanya mereka itu lebih konsepnya dormitory semua kan. Jadi iklim akademiknya itu tidak hilang. Kan bergaul pun dengan teman-teman kuliah. Kalau kita di luar (kampus) kan kadang-kadang terlambat bangun tidur, kuliah pun jadi telat. Kalau begini kan mau gak mau temannya yang melihat ada rekannya belum ada di ruang kuliah akan bangunin. Bahkan perpustakaan pun kita bukanya sampai jam 10 malam.

Kalau malam, di sekeliling  tempat kita duduk ini ini mahasiswa belajar semua. Kenapa konsepnya dormitory ini kita belajar dari UPM yang 80 persen mahasiswanya di dormitory dan tingkat kelulusannya lebih tinggi.

Saat wisuda, mahasiwa pakai peci dan toga. Itu idenya darimana?

Kita lihat di luar itu wisuda tidak semuanya pakai toga. Jadi kita sesuaikan dengan budaya kita. Di Malahayati saat wisuda itu ada budaya sungkeman. Setelah upacara wisuda, para orang tua naik ke panggung dan anak-anaknya sungkeman. Supaya apa? Biar mereka juga bisa menghargai perjuangan orang tuanya. Jangan sudah jadi wisudawan, sudah merasa hebat. Wah, saya sudah punya gelar sekarang, bapaknya dianggap remeh. Padahal semua itu berkat perjuangan orang tuanyalah dia bisa diwisuda. []

Menristek Resmikan Gedung Terpadu Universitas Malahayati

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohammad Nasir, meresmikan Gedung Terpadu Universitas Malahayati, Bandar Lampung, Sabtu 28 Februari 2015. Informasi ini disampaikan Pembantu Rektor II Universitas Malahayati, Wahyu Dhani Purwanto, kepada sejumlah wartawan dari berbagai daerah yang saat ini berada di Kampus Universitas Malahayati. Read more