Hadiah Umrah Pemenang PTQ RRI dari Rusli Bintang

Presiden Direktur RRI Rosarita Niken Widiastuti mengapresiasi kepedulian Dr. H. Rusli Bintang yang telah ikut berpartisipasi dalam Pekan Tilawatil Quran (PTQ) Nasional RRI yang dilaksanakan di Banda Aceh. “Beliau menghadiahkan paket umrah untuk enam pemenang PTQ kali ini,” kata Mirza Musa, Mantan Kepala RRI Banda Aceh yang saat ini menjabat Kepala RRI Padang kepada wartawan di Jakarta, Selasa 11 Maret 2015.

Mirza mengatakan, RRI sangat berterimakasih kepada Rusli Bintang. “Beliau telah menunjukkan niat baik, serta kepedulian yang tinggi pada kegiatan-kegiatan yang positif,” kata Mirza. Ia menambahkan, pada Senin malam kemarin direksi RRI telah mengundang Rektor Universitas Abulyatama Banda Aceh, R. Agung Efrino Hadi, MSc, PhD ke kantor Pusat RRI di Jakarta. Agung dijamu langsung oleh Presiden Direktur RRI.

Universitas Abulyatama Andalah salah satu perguruan tinggi yang didirikan Rusli Bintang. Selain Universitas Abulyatama, Rusli juga mendirikan Universitas Malahayati Lampung, Universitas Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. “Sebab kegiatan PTQ itu dilaksanakan di Aceh, maka kami yang dari Universitas Malahayati yang mewakili beliau,” kata Agung.

Agung juga yang diminta Rusli untuk menemani peserta PTQ yang mendapat hadiah umrah itu sampai selesai menjalankan ibadahnya di Mekkah. “Ini memang keikutsertaan kita yang pertama pada event yang dilaksanakan RRI ini. Insya Allah kita akan terur berpartipasi dalam berbagai kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi Universitas Abulyatama,” kata Agung.

Rusli selama ini memang dikenal peduli pada kegiatan-kegiatan yang bersifat positif. Bahkan, ia memiliki program yang wajib dijalankan di seluruh perguruan tinggi yang didirikannya, yaitu menyantuni anak-anak yatim dari berbagai tempat. Dalam menyantuni anak-anak yatim, Rusli tak membeda-bedakan. “Semua dipedulikannya,” kata Agung.

Muhammad Kadafi Raih Gelar Doktor

Muhammad Kadafi SH MH, putra pendiri Universitas Abul Yatama (Unaya) Aceh, DR HC Rusli Bintang, meraih gelar doktor (DR) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Kadafi berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian promosi doktor di Kampus Undip, Jumat (27/2).

Penelitiannya berjudul “Rekonstruksi Kebijakan Pertanahan Berbasis Pluralisme Hukum” mengupas persoalan hak kepemilikan tanah di Aceh Besar pascatsunami 2004. Pendekatan pluralisme hukum (legal pluralism) ditawarkan Kadafi dalam penyelesaian sengketa masalah tanah di Aceh Besar setelah musibah tsunami.

Dalam pemaparan di hadapan para penguji, Kadafi menyatakan bahwa penyelesaian sengketa tanah melalui hukum formal seperti dalam penelitiannya banyak tidak tuntas, untuk itu Kadafi merumuskan model dengan pendekatan adat dan nilai hukum yang berlaku di masyarakat Aceh Besar. “Di Aceh Besar ada janda korban tsunami yang kehilangan kepemilikan tanah yang seharusnya hak dia. Dan persoalan ini banyak terjadi,” katanya

Sidang ini melibatkan enam profesor penguji, dipimpin oleh Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum, Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Dalam sidang yang berlangsung 2,5 jam tersebut, Prof Yos Johan sempat menyebut Kadafi sebagai doktor ahli tanah khusus bencana. “Jika saya bidang hukum pertanahan, maka saudara ini doktor khusus tanah bencana,” ujarnya mencandai Kadafi.

Muhammad Kadafi adalah putra kelahiran Aceh Besar, 8 Oktober 1983. Selain bergelut di bidang pendidikan, ia juga sebagai staf ahli bidang pendidikan Wali Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Di Provinsi ini, Rusli Bintang

(ayah Muhammad Kadafi) mendirikan perguruan tinggi yang diberinama Universitas Malahayati. Rusli Bintang juga pendiri Institut Kesehatan Indonesia Jakarta dan Universitas Batam.

Rusli Bintang yang hadir pada sidang promosi doktor kemarin mengaku bahagia anaknya dapat meraih gelar doktor dari universitas yang banyak melahirkan tokoh ahli hukum di Indonesia.”Tentu saya bahagia Muhammad Khadafi meraih gelar doktor. Semoga bermanfaat bagi masyarakat dan dunia pendidikan yangtelah menjadi dunianya saat ini,” kata Rusli Bintang.

Ia juga mengatakan, Muhammad Kadafi termasuk beruntung dapat menyelesaikan pendidikan doktornya dengan aktivitas cukup pada mengelola beberapa lembaga pendidikan di Bandar Lampung.

Sidang promosi doktor kemarin juga dihadiri oleh Rektor Universitas  Abulyatama Aceh (Unaya) Ir.R.Agung Efriyo Hadi, M.Sc., Ph.d. Dekan Fakultas Hukum Unaya, Wiratmadinata, SH, MH. Keluarga Muhammad Kadafi juga terlihat hadir, di antaranya Disa Bahazzad (istri) dan Ratu Kaila Al Hasya (anak).

Sumber: Arif Ramdan (Serambi Indonesia)

Dr. M. Kadafi: Anak Yatim Bukan Hanya Butuh Uang

DR. MUHAMMAD Kadafi,  sudah menjabat Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung sejak berusia 30 tahun. Dua tahun menduduki jabatan rektor, putra Aceh ini terus berupaya meningkatkan mutu kampus yang telah berdiri sejak 1993 itu.

Khadafi saat ini mengurus kampus yang didirikan orang tuanya, Rusli Bintang, pengusaha dan tokoh pendidikan Aceh yang melebarkan sayap usahanya di bidang pendidikan hingga ke Lampung, Batam, dan Jakarta.

Apa saja yang membedakan kampus ini dengan kampus lain? Diantaranya, memberlakukan sistem asrama atau dormitory bagi mahasiswanya. Setiap mahasiwa yang tinggal di asrama diwajibkan menyantuni satu anak yatim. Hal lain: para mahasiswa juga ditekankan untuk menghargai jerih orang tuanya.

Bagaimana caranya? Berikut penuturan Muhammad Khadafi yang baru saja menyandang gelar Doktor bidang hukum dalam bincang-bincang santai dengan ATJEHPOST.CO dan sejumlah wartawan lain usai menerima kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Profesor Muhammad Nasir pada Sabtu, 28 Februari 2015.

Mengapa Universitas Malahayati begitu peduli anak yatim?

Ketua Yayasan kita Pak Rusli Bintang selalu berpesan dan mendorong kesadaran kita untuk peduli bahwa dalam setiap hak-hak kita itu ada hak-hak anak yatim dan fakir miskin. Anak yatim kita sampai ke Makassar juga ada, ada 250 anak yatim di Makasar.

Sistem anak yatim di kita, mereka tidak hanya mendapat dana. Tetapi ada perwakilan dari kita yang menjadi orang tua asuh. Kenapa? Karena mereka bukan hanya menginginkan bantuan dari segi materi tetapi juga kasih sayang, dan perhatian. Mereka kehilangan seorang ayah, jadi perhatian itu yang sangat dibutuhkan.

Makanya mengapa di Universitas Malahayati itu salah satu poin di Statuta-nya adalah setiap karyawan wajib memiliki minimal satu anak yatim. Nah, dari situlah nantinya yayasan sebagai donatur. Sedangkan karyawan menjadi orang tua asuh yang memantau perkembangannya. Kita beri motivasi mereka. Anak yatim terbaik itu kita berangkatkan umrah ibunya. Alhamdulillah harapan kita anak yatim kita semakin berprestasi di dunia pendidikan.

Kita tahu mereka kurang kasih sayang dari orang tua. Jadi dengan adanya motivasi seperti itu dan harapan masa depan mereka, mereka sudah mempersiapkan diri. Kan dulunya cita-cita untuk bisa kuliah itu kan mimpi bagi mereka. Mimpi yang sulit sekali digapai. Dengan adanya kita kan mereka jadi mudah.

(Menristek Dikti ketika berkunjung ke Universitas Malahayati mengapresiasi kepedulian kampus Malahayati terhadap anak yatim. “Pesan ke rektor untuk terus membina hubungan baik dengan anak-anak yang kurang beruntung yang menjadi aset ke depan bangsa kita,” kata Nasir dalam pidatonya).

Mahasiswa yang belajar di sini dari mana saja yang terbanyak?

Untuk tahun ini mahasiswa terbanyak pertama dari Lampung, kedua Jawa Barat, ketiga Sumatera Selatan. Pernah juga Jawa Barat lebih banyak.

Bagaimana peningkatan mutu akademik di Universitas Malahayati?

Sekarang ini arahnya untuk pengembangan ke internasional. Dari Universitas Putra Malaysia (UPM) kita sudah diakui akreditasi kita. Jadi mahasiswa Malaysia sudah bisa masuk ke sini. Dan kita setiap tahun ada pertukaran pelajar untuk setiap Program Studi. Ada yang per dua minggu, per satu bulan, ada yang per dua bulan. Dan juga kita kerjasama di bidang riset bersama dengan UPM. Dan Lab sector yang ditunjuk oleh kementerian itu ada tiga, salah satunya Universitas Malahayati.

Perpustakaan Malahayati didesain dengan konsep yang unik, itu ide awalnya darimana?

Tadinya dilatarbelakangi oleh banyaknya mahasiswa kita dari beragam daerah, provinsi, makanya terbangun suatu ide kenapa tidak bangun perpusnya itu untuk lebih cinta rasa nasionalisme. Kita jadi bisa tahu bagaimana budaya Aceh, Lampung, Kalimantan dan lain-lain. Jadi di sini semua bisa berbaur untuk bagimana mengembangkan keilmuwan ke depan.

Mengapa Malahayati menerapkan sistem pendidikan asrama?

Jadi ini adalah kampus yang one stop service. Jadi iklim kampusnya kalau bisa jangan lepas. Makanya mereka itu lebih konsepnya dormitory semua kan. Jadi iklim akademiknya itu tidak hilang. Kan bergaul pun dengan teman-teman kuliah. Kalau kita di luar (kampus) kan kadang-kadang terlambat bangun tidur, kuliah pun jadi telat. Kalau begini kan mau gak mau temannya yang melihat ada rekannya belum ada di ruang kuliah akan bangunin. Bahkan perpustakaan pun kita bukanya sampai jam 10 malam.

Kalau malam, di sekeliling  tempat kita duduk ini ini mahasiswa belajar semua. Kenapa konsepnya dormitory ini kita belajar dari UPM yang 80 persen mahasiswanya di dormitory dan tingkat kelulusannya lebih tinggi.

Saat wisuda, mahasiwa pakai peci dan toga. Itu idenya darimana?

Kita lihat di luar itu wisuda tidak semuanya pakai toga. Jadi kita sesuaikan dengan budaya kita. Di Malahayati saat wisuda itu ada budaya sungkeman. Setelah upacara wisuda, para orang tua naik ke panggung dan anak-anaknya sungkeman. Supaya apa? Biar mereka juga bisa menghargai perjuangan orang tuanya. Jangan sudah jadi wisudawan, sudah merasa hebat. Wah, saya sudah punya gelar sekarang, bapaknya dianggap remeh. Padahal semua itu berkat perjuangan orang tuanyalah dia bisa diwisuda. []

Menristek Resmikan Gedung Terpadu Universitas Malahayati

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohammad Nasir, meresmikan Gedung Terpadu Universitas Malahayati, Bandar Lampung, Sabtu 28 Februari 2015. Informasi ini disampaikan Pembantu Rektor II Universitas Malahayati, Wahyu Dhani Purwanto, kepada sejumlah wartawan dari berbagai daerah yang saat ini berada di Kampus Universitas Malahayati. Read more

Ketika Menteri Nasir Menilai Malahayati

KUNJUNGAN Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof Mohammad Nasir, ke Universitas Malahayati menjadi titik balik isu miring yang menerpa kampus ini di Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

“Universitas Malahayati saat ini sudah baik. Setelah datang ke sini saya menaruh harapan yang besar,” kata Menteri Nasir.

“Universitas Malahayati saat ini sudah baik,” Menteri Nasir mengatakannya saat berkunjung ke kampus ini pada Sabtu 28 Februari 2015.  “Setelah melihat langsung ke sini (Universitas Malahayati) saya menaruh harapan besar,” katanya. “Kita harapkan menjadi lebih baik lagi.”

Menteri Nasir tak asal bicara. Ia melihat langsung beberapa titik vital di kampus seluas 84 hektar di Jalan Pramuka 27, Kemiling, Bandar Lampung. Sebuah universitas swasta di Lampung yang telah hadir sejak 1993.

Didampingi Ketua Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi, Dr (HC) H Rusli Bintang dan Rektor Universitas Malahayati Dr. Muhammad Kadafi SH, MH, Menteri Nasir tiba di kampus pukul 10.00 WIB. Begitu menjejakkan kaki, ia langsung blusukan ke Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin yang terletak tak jauh dari gerbang Universitas Malahayati. Tepatnya di tanjakan pertama di sebelah kiri jalan masuk kampus.

Ia menelusuri beberapa sudut penting rumah sakit ini. Setelah itu, Nasir mengunjungi Gedung Terpadu Universitas Malahayati.

***

MENURUNI bukit dari Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin, ada dua bukit bersisian. Laksana bukit kembar. Gedung Terpadu Universitas Malahayati berada di sebelah kanan. Di sini ada sembilan gedung tersebar di lahan tiga hektar. Antar gedung terkoneksi dengan jembatan, jadi tak perlu naik turun tangga untuk berpindah lokasi.

Adalah blok Kabara yang pertama di jumpai. Ini gedung bertingkat tujuh.  Masing-masing lantai berfungsi berbeda. Di antaranya lantai paling dasar ada Kabara Shop, di atasnya ada mushala, kabara prasmanan, di lantai empat Malahayati Carier Center, lantai lima ruang kuliah, berikutnya ada bak air, dan ruang teknologi informasi di lantai tujuh.

Kemudian di sebelah kanan blok Kabara ini ada gedung yang difungsikan menjadi tempat kuliner hingga pencucian pakaian.

Tepat di belakang gerai kuliner inilah berdiri tegak gedung berlantai delapan yang menjadi sentral mahasiswa dan dosen dalam beraktifitas.

Dipandu Wakil Rektor II dr Ahcmad Farid MM, Menteri Nasir menelusuri beberapa lantai gedung yang terdapat fasilitas lengkap penunjang kegiatan akademik di Universitas Malahayati.

Lantai satu hingga lantai empat difungsikan menjadi asrama putri yang jumlahnya mencapai 384 kamar. Kemudian lantai lima dan enam adalah apartemen para dosen. Menteri Nasir sempat masuk ke salah satu apartemen dosen dan melihat kondisi di dalamnya.

Disebut Asrama Green Dormitory, semua fasilitas universitas tanpa membebankan biaya pada mahasiswa maupun dosen. “Di sini mahasiswa dan mahasiswi wajib masuk asrama, dan kita tak memungut bayaran untuk fasilitas ini,” kata Drs. Rayendra Hermansyah MM, Kepala Asrama Green Dormitory Universitas Malahayati. “Bahkan untuk mencuci pakaian pun ada fasilitas yang gratis.”

Selain asrama mahasiswi, tentu saja ada asrama mahasiswa yang terletak di sebelah utara Blok Kabara. Berjumlah lima gedung dengan 276 kamar, asrama mahasiswa dilengkapi sarana olah raga, seperti kolam renang, lapangan basket, voli, tenis, dan driving golf.

Bagaimana peran suppotting akademik yang selama ini dijalankan asrama Universitas Malahayati? “Misalnya, bimbingan agama. Ada instruktur yang bertanggungjawab pada pembinaan agama dan etika moral para mahasiswa, juga ada bimibingan minat dan bakat melalui organisasi kemahasiswaan,” kata Rayendra.

Setelah dari lentai enam, Menteri Nasir menjejakkan kakinya ke lantai tujuh, maka tampaklah sejumlah peralatan teknis untuk ilmu kedokteran, sehingga disebut Laboratorium Kesehatan Terpadu.

Contohnya, laboratorium dasar, biomolekuler, osce, dan laboratorium CBT (Computer Basic Training). Dalam bahasa sederhana bisa disebut sebagai lokasi laboratorium kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, dan farmasi. “Semua peralatan yang kita gunakan adalah yang terbaru,” kata Rayendra.

Selanjutnya, Menteri Nasir menuju lantai delapan yang menjadi lokasi Perpustakaan. Sebelum masuk masuk ke ruang perpustakaan yang luasnya hampir satu hektare ini, Menteri Nasir meneken Prasasti Gedung Terpadu Universitas Malahayati.

Di depan pintu masuk perpustakaan, Menteri Nasir berhenti sejenak. Matanya menyapu ruangan besar yang didalamnya ada 35 ribu koleksi buku yang tersusun rapi di dalam rak, ia juga melihat 34 rumah adat yang berjejer rapi di sisi dinding kaca mengepung rak buku.

Jadi, berada di dalam perpustakaan ini tak hanya membaca buku juga menyelami adat dan budaya yang ada di Indonesia.

“Ilmu pengetahuan yang baik tentu saja akan makin bagus jika dikuatkan dengan pemahaman kearifan lokal. Perpustakaan ini menyempaikan pesan untuk menjadi Indonesia yang cerdas,” kata Rusli Bintang.

Perpustakaan juga dilengkapi fasilitas internet untuk mempermudah pengunjung mengakses atau mencari bahan rujukan melalui beberapa portal, seperti Proquest, Ebsco, dan IGI Global.

Keunikan perpustakaan Universitas Malahayati juga menyebabkan banyak wisatawan lokal berdatangan. Selain membaca, mereka juga berfoto-foto. Begitu pula pelajar dari berbagai kabupatan di wilayah Lampung rajin berkunjung.

Adapun para mahasiswa di Universitas Malahayati, setiap datang ke perpustakaan biasanya menempati rumah adat di kampungnya.  Maklum, mahasiswa di Universitas Malahayati setidaknya untuk saat ini berasal dari 27 provinsi.

Di sebelah kanan perpustakaan,  ada ruang yang lebar dan bersekat-sekat dengan berbagai fasilitas. Didominasi warna abu-abu, tempat ini disebut ruang baca. Berbagai fasilitas untuk kenyamanan membaca ada di sini termasuk perpustakaan digital.

Ruang Baca ini merujuk pada salah satu universitas ternama di negeri Belanda. Dari ruang baca, Menteri Nasir melihat-lihat ke arah luar, terbentanglah panorama alam Bandar Lampung, perumahan penduduk, dan gedung-gedung kampus Universitas Malahayati.

Perpaduan perpustakaan modern dengan kearifan lokal ini mendapat pujian dari anggota DPR RI Daerah Pemilihan Lampung, Dwie Aroem Hariyatie, yang berkunjung ke perpustakaan Universitas Malahayati Lampung sehari menjelang kedatangan Menteri Nasir.

“Perpustakaan Universitas Malahayati luar biasa. Tidak hanya untuk di Lampung, tapi di Indonesia sekali pun sangat sedikit kampus yang menyediakan fasilitas sangat memadai untuk mahasiswanya. Tidak banyak pula yang mengelola perpustakaan dengan serius seperti yang dilakukan di Universitas Malahayati ini,” kata Dwie Aroem Hariyatie.

Aroem yang alumni London School Jakarta itu mengatakan apa yang dilakukan Universitas Malahayati dengan membuat perpustakaan yang lengkap dan didesain dengan bagus untuk mahasiswa selayaknya dikembangkan di tempat lain.

[pullquote]Perpustakaan Universitas Malahayati luar biasa. Tidak hanya untuk Lampung, tapi di Indonesia sekali pun.”
Dwie Aroem Hariyatie[/pullquote]

Aroem lantas membandingkan perpustakaan Malahayati dengan perpustakaan milik DPR RI. Katanya, DPR RI punya perpustakaan yang lumayan besar, namun belum dilengkapi dengan ruang baca

“Jadi yang ada di sini ini fasilitasnya luar biasa. Sofa di ruang baca sudah seperti hotel.  Intinya, apa yang dibuat oleh Universitas Malahayati ini bagus banget,” kata wanita yang juga pengusaha ini.

Pendapat yang sama juga disampaikan Anggota DPR-RI Musa Zainuddin. Ia sangat mengagumi ide perpustakaan yang ia bilang baru ada satu ini di Indonesia. “Saya bangga bisa datang ke sini dan kagum melihat fasilitas yang ada di Universitas Malahayati,” kata Musa.

***

SALAWAT badar menggema dari dalam ruang Graha Bintang yang letaknya berhadap-hadapan dengan Gedung Terpadu Universitas Malahayati. Ribuan anak yatim dari Bandar Lampung memadati ruangan dengan kapasitas 5000 orang itu.

Mereka semuanya berdiri menyambut kedatangan Menteri Nasir yang baru saja meninggalkan Gedung Terpadu.

Graha Bintang berada dalam blok gedung rektorat yang berdiri di atas tanah sekitar satu hektar. Rektorat yang bersisian dengan Graha Bintang ituberupa gedung tujuh lantai yang di dalamnya ada ruang kuliah di lantai satu hingga lantai tiga.

Kemudian di lantai empat ada ruang ujian OSCE CBT (Ujian Kelulusan Dokter Indonesia), Medical Education Unit (MEU), dan ruang Dosen Terpadu.

Adapun di lantai lima adalah ruangan yayasan, rektor, para wakil rektor, para kepala prodi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, LPMI (Lembaga Penjamin Mutu Internal), ruang Kepala Biro Umum, Biro Akademik, Biro Kemahasiswaan dan Alumni, uang P3T (Pusat Pelayanan Pendidik Terpadu), keuangan, ruang Pascasarjana Kesehatan Masyarakat, Pusat Teknologi Informasi Komunikasi (PTIK).

Sedangkan di lantai enam dan tujuh ada lapangan Futsal, Kantin Kabara Lunch, dan ruang tempat makan tamu saat acara-acara kampus.

Kembali ke dalam ruang Graha Bintang, di sini Menteri Nasir berpidato, begitu juga Rektor Muhammad Kadafi.  Mereka memberi semangat pada anak-anak yatim.

Nasir juga berharap pada semua pihak untuk terus berperan serta peduli pada anak-anak yatim. “Mereka adalah harapan bangsa,” katanya.

Selanjutnya, Menteri memberi santunan pada anak-anak yatim ditemani Rusli Bintang.

Rusli Bintang melalui empat kampusnya, yaitu Universitas Malahayati (Lampung), Universitas Batam, Universitas Abulyatama (Banda Aceh), dan Intitut Kesehatan Indonesia (Jakarta), sudah menyantuni ribuan anak yatim. Rata-rata setiap bulan Rusli mengeluarkan Rp 1,2 miliar untuk menyantuni anak yatim.

Semua kampus di bawah manajemen Rusli Bintang juga memberi beasiswa untuk anak-anak yatim, dan membiayai seluruh kebutuhannya untuk menimba ilmu. Bahkan ia memberdayakan janda-janda untuk bekerja di kampus.

Karena itu, Rusli sangat berterimakasih pada Menteri Nasir yang sudah memberi imbauan yang menurutnya sangat bermanfaat dan memompa semangat.

“Kedatangan menteri ke kampus ini telah menambah keyakinan yang luar biasa, sehingga kami menjadi terpacu untuk berbuat yang terbaik untuk dunia pendidikan. Sudah pasti berbagai saran dari Pak Nasir akan kita ikuti. Semuanya demi kebaikan bersama,” kata Rusli.

Pendapat yang sama juga disampaikan Rektor Universitas Malahayati, Muhammad Kadafi. “Kami akan terus mengupdate perkembangan dunia pendidikan. Dari segala sisi, kita akan terus membuat perubahan-perubahan ke arah kemajuan,” katanya.

Menteri Nasir meninggalkan Universitas Malahayati pukul 13.30 WIB. Berbagai tuduhan miring itu pun berlalu.

“Tak perlu berbalas pantun untuk membalas tuduhan miring. Kita lebih suka mengajak segenap komponen untuk datang ke sini. Silahkan lihat langsung, beri penilaian, lalu silahkan bercerita,” kata Rusli Bintang.

“Kami juga akan mendengarkan semua saran demi kemajuan akademik dan keberlangsungan kehidupan kampus yang nyaman. Jika semua lancar maka saluran bantuan untuk anak-anak yatim berjalan dengan baik.” []

 

DPR RI Cantik Kunjungi Perpustakaan Malahayati

ANGGOTA DPR RI Daerah Pemilihan Lampung, Dwie Aroem Hariyatie, berkunjung ke perpustakaan Universitas Malahayati Lampung sehari menjelang diresmikan oleh Menristek dan Perguruan Tinggi. Dwie Aroem pun mengungkapkan kekagumannya melihat perpustakaan memadukan konsep modern tanpa meninggalkan kearifan lokal itu.

Dwie Aroem Hariyatie | wikidpr.org

“Luar biasa. Tidak hanya untuk di Lampung, tapi di Indonesia sekalipun sangat sedikit kampus yang menyediakan fasilitas sangat memadai untuk mahasiswanya. Tidak banyak pula yang mengelola perpustakaan dengan serius seperti yang dilakukan di Universitas Malahayati ini,” kata Dwie Aroem Hariyatie, Jumat, 27 Februari 2015.

Aroem yang alumni London School Jakarta itu mengatakan apa yang dilakukan Universitas Malahayati dengan membuat perpustakaan yang lengkap dan didesain dengan bagus untuk mahasiswa selayaknya dikembangkan di tempat lain. (Baca juga: Membaca di Perpustakaan Malahayati yang Tak Biasa)

“Kalau misalnya kampus tidak menyedikan fasilitas memadai untuk mahasiswa mencari data, mencari informasi, memang agak menyusahkan,” kata perempuan berusia 35 tahun ini.

Aroem lantas membandingkan perpustakaan Malahayati dengan perpustakaan milik DPR RI.  Katanya, DPR RI punya perpustakaan yang lumayan besar, namun belum dilengkapi dengan ruang baca.  “Mungkin karena keterbatasan ruangan juga,” katanya.

“Jadi yang ada di sini ini fasilitasnya luar biasa. Sofa di ruang baca sudah seperti hotel.  Intinya, apa yang dibuat oleh Universitas Malahayati ini bagus banget,” kata wanita yang juga pengusaha ini. (Lihat: ViDEO: Keren, Perpustakaan Unik Universitas Malahayati Lampung)

Aroem sendiri mengaku tertarik berkunjung ke perpustakaan Malahayati setelah mendengar ada perpustakaan yang didesain dan dikelola dengan serius di Universitas Malahayati Lampung. “Karena saya memang suka membaca, jadi ketika mendengar seperti itu, jadi pengen melihat sendiri ke sini,” katanya