10 Oktober; Diperingat Sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

HARI Kesehatan Jiwa Sedunia diperingati pada 10 oktober setiap tahunnya. Hari kesehatan jiwa ini telah diperingati di Indonesia sebelum tanggal 10 Oktober. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta menggelar peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) dengan pelaksanaan beberapa rangkaian kegiatan mulai pada 29 September 2016 hingga 9 Oktober 2016. Kegiatan-kegiatan tersebut di antaranya ialah sosialisasi kepada masyarakat tentang gejala-gejala gangguan kejiwaan.

Masalah kesehatan jiwa merupakan suatu masalah serius. WHO (1990) melaporkan dari 10 masalah kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas, 5 diantaranya adalah masalah kesehatan jiwa yaitu: depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan obsesif kompulsif. WHO juga memprediksikan pada tahun 2020 mendatang depresi akan menjadi penyakit urutan kedua dalam menimbulkan beban kesehatan.

Menurut Prof. Askobat Gani (2005) menyatakan bahwa beban penyakit gangguan mental mencapai 13,8% dari seluruh beban penyakit di Indonesia.

Masyarakat kota-kota besar harus memiliki mental yang kuat. Jika tidak, maka mental mereka bisa sakit. Data Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes menyebutkan bahwa masyarakat Jakarta rentan terkena sakit jiwa. Itu karena tekanan mental, psikologis dan emosional kota-kota besar seperti Jakarta cukup besar. Mulai dari tekanan ekonomi, daya saing, dan sebagainya.

Namun, perhatian pemerintah akan penyakit jiwa sangatlah kurang. Perbandingan antara jumlah masyarakat atau pasien dengan sarana dan prasarana masih dapat dikatakan jauh dari harapan. Di Jakarta baru tersedia 2 RSJ milik Pemda DKI. Lainnya berupa klinik dan panti-panti kesehatan milik swasta.

Tak heran, banyak individu-individu yang sakit jiwa berkeliaran di jalan, dipasung di kamar karena tak punya biaya, dan lain sebagainya. Seakan-akan pemerintah lebih terfokus pada penyakit fisik dibandingkan dengan penyakit jiwa. Seharusnya aspek kejiwaan juga menjadi perhatian yang perlu lebih disorot oleh pemerintah, sehingga diharapkan kesehatan jiwa masyarakat menjadi lebih sehat, dan bukan sebaliknya, menjadi lebih sakit.

Sumber : solo.tribunnews.com, wikipedia.org, suarajakarta.co

Selamat Hari Habitat Sedunia 2016: Rumah Sebagai Peradaban

Hari Habitat Dunia (HHD) yang setiap tahunnya, tema yang diangkat pada peringatan Hari Habitat Dunia 2016 adalah “Housing at The Centre” yang diterjemahkan sebagai “Rumah sebagai Peradaban”. Tujuan dari Hari Habitat Dunia ini adalah merefleksikan keadaan perkotaan dan pemenuhan hak dasar untuk memiliki tempat tinggal yang memadai. Mengingatkan kepada dunia bahwa kita semua memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk membentuk masa depan kota-kota yang ada di Indonesia.

Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak. Pada dasarnya, habitat adalah lingkungan fisik di sekeliling populasi suatu spesies  yang memengaruhi dan dimanfaatkan oleh spesies tersebut. Menurut Clements dan Shelford (1939), habitat adalah lingkungan fisik yang ada di sekitar suatu spesies, atau populasi spesies, atau kelompok spesies, atau komunitas.

Dalam ilmu ekologi, bila pada suatu tempat yang sama hidup berbagai kelompok spesies (mereka berbagi habitat yang sama) maka habitat tersebut disebut sebagai biotop.

Melalui Hari Habitat Dunia, kita, sebagai bagian dari masyarakat, harus memikirkan kembali kondisi permukiman perkotaan kita khususnya ruang-ruang publiknya. Sudahkah ruang publik di kota kita menjalankan fungsinya untuk masyarakat? Sudahkan ruang publik menjadikan kondisi perkotaan menjadi lebih baik? Dan apakah yang sudah kita lakukan, sebagai bagian dari permukiman perkotaan, untuk menjaga kota kita khususnya ruang publiknya? Kita bisa dan harus mencari solusi dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dan pertanyaan-pertanyaan lain selanjutnya karena kita semua memiliki kemampuan dan tanggung jawab terhadapa masa depan permukiman perkotaan kita.|Dari berbagai sumber

Sejarah Hari Binatang Sedunia Pada 04 Oktober

SEJARAH awal diperingati hari binatang sedunia ini di Florence, Italia tahun 1931 pada konvensi para ahli ekologi. Pada tanggal ini, kehidupanbinatang di segala jenis bentuk dihargai, dan event khusus direncanakan di berbagai lokasi di seluruh dunia.

Tanggal 4 Oktober pada awalnya dipilih sebagai Hari Binatang Sedunia karena pada tanggal itu diadakan pesta perjamuan Francis of Assisi, seorang pecinta alam dan pelindung binatang dan lingkungan. Dan beberapa gereja ketika itu melakukan pemberkatan terhadap binatang di hari Minggu yang berdekatan dengan tanggal 4 Oktober. Ketika itu, hari perayaan yang berkaitan dengan binatang seperti itu adalah perayaan khusus agama kristen.

muslim-and-dog-620x330

potret muslim pecinta binatang

Saat ini, perayaan Hari Binatang Sedunia dirayakan oleh seluruh penyayang binatang dari seluruh agama dan kepercayaan, kebangsaan, dan latar belakang, namun pemberkatan terhadap binatang tetap dilakukan di berbagai gereja. Tim penyelamat binatang dan berbagai organisasi satwa liar melakukan kegiatan pengumpulan dana, bazar, dan sebagainya di berbagai sekolah dan tempat kerja. Di hari itu, mereka juga memberikan penghargaan terhadap individu, sekelompok orang, atau lembaga yang dianggap telah memberikan kontribusi terbaik pada dunia binatang.

Selamat memperingati hari binatang sedunia. Terus sayangi semua binatang karna begitu berharganya nyawa bagi seluruh makhluk hidup. Mari sama-sama kita menjaga binatang langka dan binatang peliharaan kita. Contohnya saja habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.

800px-varanus_komodoensis1

Potret Komodo

|Sumber : www.wikipedia.org, www.malahayati.ac.id

Hari Binatang Sedunia; Hindari Kepunahan Binatang Langka di Dunia Ini

HARI Binatang Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Oktober. Berdasarkan sejarah, Hari Binatang Sedunia itu pertama kali diperingati di Florence, Italia, tahun 19311931 pada konvensi para ahli ekologi. Sejak saat itu, sampai sekarang peringatan itu masih berlangsung setiap tahun. Pada tanggal ini, kehidupan binatang di segala jenis bentuk dihargai, dan event khusus direncanakan di berbagai lokasi di seluruh dunia.

Tanggal 4 Oktober pada awalnya dipilih sebagai Hari Binatang Sedunia karena pada tanggal itu diadakan pesta perjamuan Francis of Assisi, seorang pecinta alam dan pelindung binatang dan lingkungan. Dan beberapa gereja ketika itu melakukan pemberkatan terhadap binatang di hari Minggu yang berdekatan dengan tanggal 4 Oktober. Ketika itu, hari perayaan yang berkaitan dengan binatang seperti itu adalah perayaan khusus agama kristen.

Saat ini, perayaan Hari Binatang Sedunia dirayakan oleh seluruh penyayang binatang dari seluruh agama dan kepercayaan, kebangsaan, dan latar belakang, namun pemberkatan terhadap binatang tetap dilakukan di berbagai gereja. Tim penyelamat binatang dan berbagai organisasi satwa liar melakukan kegiatan pengumpulan dana, bazaar, dan sebagainya di berbagai sekolah dan tempat kerja. Di hari itu, mereka juga memberikan penghargaan terhadap individu, sekelompok orang, atau lembaga yang dianggap telah memberikan kontribusi terbaik pada dunia binatang.

Karena itu sebagai hobi dan pencinta binatang dan hewan hias, kita sangat perlu mengenal dan ikut merenungkan tentang pentingnya hari binatang sedunia ini, terkait dengan pelestarian dan pembinaan untuk mengihindari kepunahan binatang-binatang langka di dunia ini.

Terdapat 4 hewan yang akan punah dan tercatat sebagai hewan langka dalam IUCN (International Union for Conservation). Hewan-hewan langka itu antara, Jalak Bali ( (Leucopsar rothschildi), Lutung Budeng (Trachypithecus auratus), Bekantan (Nasalis larvatus) dan juga trenggiling raksasa.|Dari berbagai sumber.

Sejarah Hari Tentara Pembela Tanah Air

HARI Pembela Tanah Air (PETA) diperingati pada 03 oktober setiap tahunnya. Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau PETA (郷土防衛義勇軍 kyōdo bōei giyūgun?) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai.

Tentara PETA telah berperan besar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA telah menentukan perkembangan dan evolusi militer Indonesia, antara lain setelah menjadi bagian penting dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya TNI. Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia.

Latar belakang

Pembentukan PETA dianggap berawal dari surat Raden Gatot Mangkoepradja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Pada pembentukannya, banyak anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) yang kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri. Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran “Asia Raya” pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama: K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Mohammad Sadri, yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa .Hal ini menunjukkan adanya peran golongan agama dalam rangka pembentukan milisi ini. Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan bintang (simbol kepercayaan Islam).

Pemberontakan Batalion PETA di Blitar

Pada tanggal 14 Februari 1945, pasukan PETA di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan sebuah pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PETA sendiri maupun Heiho. Supriadi, pimpinan pasukan pemberontak tersebut, menurut sejarah Indonesia dinyatakan hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh Kempeitai (PM), diadili dan dihukum mati dengan hukuman penggal sesuai dengan hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang di Eevereld (sekarang pantai Ancol) pada tanggal 16 Mei 1945.

Pembubaran PETA

Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan para daidan batalion PETA untuk menyerah dan menyerahkan senjata mereka, dimana sebagian besar dari mereka mematuhinya. Presiden Republik Indonesia yang baru saja dilantik, Sukarno, mendukung pembubaran ini ketimbang mengubah PETA menjadi tentara nasional, karena tuduhan blok Sekutu bahwa Indonesia yang baru lahir adalah kolaborator Kekaisaran Jepang bila ia memperbolehkan milisi yang diciptakan Jepang ini untuk dilanjutkan. [2][3][4]. Sehari kemudian, tanggal 19 Agustus 1945, panglima terakhir Tentara Ke-16 di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro, mengucapkan pidato perpisahan pada para anggota kesatuan PETA.

Pemuda Indonesia dalam pelatihan di Seinen Dojo yang kemudian menjadi anggota PETA

Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI. Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor, bekas markas besar PETA.

Tokoh Indonesia yang merupakan lulusan PETA antara lain:

Jenderal Besar Sudirman (Panglima APRI)

Jenderal Besar Soeharto (Mantan Presiden RI ke-2)

Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani (Mantan Menteri/Panglima Angkatan Darat)

Soepriyadi (Mantan Menhankam Kabinaet I in absentia)

Jenderal TNI Basuki Rahmat (Mantan Mendagri)

Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo (Mantan Komandan Kopassus)

Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah (Mantan Wapres RI)

Jenderal TNI Soemitro (Mantan Pangkopkamtib)

Jenderal TNI Poniman (Mantan Menhankam)

Letjend TNI Kemal Idris

Letjend TNI Supardjo Rustam

Letjend TNI GPH Djatikoesoemo (Mantan KASAD, sesepuh Zeni, pejuang kemerdekaan, putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X Surakarta,dan lain-lain)

 

Potret monumen dan museum PETA

Berdasarkan sejarah, Jepang pernah mengeluarkan dekrit membentuk Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Alih-alih dibentuk untuk membantu Jepang melawan sekutu, PETA kemudian dijadikan sebagai korps tentara yang disiapkan untuk mencapai Indonesia merdeka oleh para pemimpin pergerakan kebangsaan.

Peran tentara PETA tidak lepas dari tanah Bogor, karena di daerah inilah untuk pertama kali pendidikan perwira PETA didirikan. Untuk mengenang Bogor sebagai kota pembela tanah air, dibangunlah monumen yang berdiri berdampingan dengan museum yang diberi nama Museum PETA. Museum PETA terletak di Jalan Jenderal Sudirman No 35, Bogor, menempati lokasi yang dahulu dijadikan tempat pendidikan kemiliteran para perwira PETA. Konon, pemilihan lokasi ini atas berbagai pertimbangan. Antara lain karena lokasinya strategis, udara yang sejuk, dukungan fasilitas, dan yang terpenting masyarakat sekitar pada saat itu juga mendukung didirikannya pusat pendidikan militer dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia.

Pembangunan Museum PETA diprakarsai oleh Yayasan Pembela Tanah Air, sebuah yayasan yang menjadi tempat bersatunya mantan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air. Pembangunan dimulai pada 14 November 1993 dan memerlukan waktu sekitar 2 tahun sebelum bangunan selesai. Pada 18 Desember 1995, Museum PETA diresmikan oleh Presiden Soeharto – yang juga merupakan mantan perwira PETA angkatan I.

Memasuki kawasan museum, pengunjung akan disambut sebuah prasasti yang dituliskan pada dinding marmer. Tulisan bernada nasionalisme tersebut berisi sebuah pernyataan: “Bumi Pembela Tanah Air Ini Merupakan Kawah Candradimuka Keprajuritan Indonesia, Kami Datang dan Berkumpul di Bogor Tidak Saling Mengenal, Kami Berpisah sebagai Kawan Seperjuangan untuk Membela Tanah Air.”

Masuk lebih ke dalam, pengunjung akan menjumpai berbagai diorama yang menjelaskan sejarah dan perkembangan tentara PETA dalam meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia. Selain diorama, terdapat juga koleksi pakaian dan berbagai jenis senjata yang pernah digunakan tentara PETA. Koleksi lainnya berupa foto dokumentasi sepak terjang tentara PETA hasil guntingan dari media masa pada saat itu.

Terdapat sebuah monumen di bagian belakang Museum PETA. Monumen tersebut berupa patung Daidancho Soedirman. Daidancho merupakan pangkat kemiliteran buatan Jepang. Daidancho setara dengan Komandan Batalyon (Letkol/Mayor). Di bagian yang lain, terdapat patung Supriyadi dengan gestur yang heroik, tangan kanan mengepal ke atas sementara tangan kiri menggenggam sebilah samurai.

Pahlawan Nasional yang bernama lengkap Fransiskus Xaverius Supriyadi ini mempunyai pangkat Shodancho atau setara dengan Komandan Pleton (Letnan). Beliau berperan memimpin pemberontakan tentara PETA terhadap pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Sementara, pada dinding monumen yang berbentuk setengah lingkaran terdapat nama-nama perwira tentara PETA yang berasal dari seluruh Jawa, Bali, Madura, dan Sumatera lengkap dengan informasi yang menerangkan fungsi dan jabatannya.

Museum dan Monumen PETA dibuka untuk umum setiap hari kecuali Sabtu, Minggu, dan hari besar nasional. Jam operasional museum dibuka mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIB.

Berkunjung ke Museum PETA, pengunjung akan diajak kembali ke masa pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia – masa ketika sikap nasionalisme menjadi panglima melebihi sikap individualisme kelompok dan golongan. Di museum ini, pengunjung juga diajak untuk mengetahui sejarah panjang cikal bakal berdirinya TNI di Indonesia, sambil mengenang jasa para perwira tentara PETA yang telah gugur mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk cita-cita kemerdakaan Indonesia.

Sumber : www.wikipedia.org, www.netralnews

Selamat Hari Ulang Tahun Pembela Tanah Air pada 03 Oktober 2016

HARI ini kita memperingari Hari Ulang Tahun Pembela Tanah Air yang ke-73. Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 03 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnal Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela sekaligus pendiri PETA. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyugun Kanbu Resentai.

Tentara PETA telah berperan besar dalam perang kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden, Soeharto dan Jendral Besar, Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA telah menentukan perkembangan dan evolusi militer Indonesia, antara lain setelah menjadi bagian penting dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya menjadi TNI. Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada pembentukannya, banyak anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) yang kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri.

Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran “Asia Raya” pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan adanya peran golongan agama dalam rangka pembentukan milisi ini.

Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan bintang (simbol kepercayaan Islam).|Dari berbagai sumber.

02 Oktober Diperingati Sebagai Hari Batik Nasional, Berikut Sejarahnya!

INDONESIA melalui badan PBB untuk kebudayaan UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the oral and intangible Heritage of Humanity) pada 02 Oktober 2009. Pada tanggal ini, beragam lapisan masyarakat dari pejabat pemerintah dan pegawai BUMN hingga pelajar disarankan untuk mengenakan batik sebagai bentuk peringatan Hari Batik Nasional.

Bahkan, melalui surat edaran bernomor SE-11/Seskab/X/2013, tertanggal 1 Oktober 2014, Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam meminta para menteri dan seluruh pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) untuk memerintahkan kepada seluruh pegawai di bawah jajajrannya agar memakai baju batik hari ini.

Pemilihan Hari Batik Nasional pada 02 Oktober berdasarkan keputusan UNESCO yaitu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, yang secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia.
Penetapan Hari Batik Nasional juga sebagai usaha pemerintah dalam meningkatkan martabat bangsa Indonesia dan citra positif indonesia di forum internasional. Karena pengakuan terhadap batik sebagai warisan leluhur bangsa indonesia sama hal nya dengan pengakuan dunia internasional terhadap mata budaya Indonesia. Tujuan lain dari pengakuan batik sebagai warisan leluhur indonesia adalah untuk menumbuhkan kecintaan serta rasa bangga masyarakat indonesia terhadap kebudayaan Bangsanya.

Dalam situs resmi UNESCO ditulis bahwa Batik Indonesia memiliki banyak simbol yang bertautan erat dengan status sosial, alam, kebudayaan lokal dan sejarah itu sendiri. Batik merupakan identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Batik dipercaya menjadi bagian penting yang tak terpisahkan pada masyarakat Indonesia sejak ia lahir hingga meninggal. Karena Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia, khususnya Jawa, yang sampai saat ini masih ada.

||sumber: id.wikipedia.org, www.markijar.com dan berbagai sumber lainnya.

Hari Tani Nasional: Pangan adalah soal hidup dan mati

Pada tanggal 24 September tiap tahunnya diperingati dengan suka cita oleh kaum tani Indonesia. Inilah harinya petani Indonesia, pada hari itu ditetapkan Undang-Undang N0. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (yang dikenal dengan UUPA 1960) yang mengatur tentang hak-hak dan kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, hak atas sumber-sumber agraria untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran petani dan bangsa. Kelahiran UUPA inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Tani Nasional. Penetapannya berdasarkan Keputusan Presiden Soekarno No 169/1963, menandakan bagaimana pentingnya peran dan posisi petani sebagai tulang punggung bangsa.

Pertama, semangatnya bahwa pertanian itu penting. Berbicara pertanian adalah berbicara soal pangan. Bung Karno pernah berkata, “Pangan adalah soal hidup dan mati”. Coba bayangkan jika para petani mogok menanam padi satu musim saja. Bagaimana dengan makan kita? Petanilah yang memberi makan dunia.

Kedua, Hari Tani Nasional harus menjadi refleksi untuk evaluasi. Apa saja yang sudah kita capai? Sebenarnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti masalah kerawananan pangan, perubahan iklim global, kekeringan, dan impor bahan pangan Tak ketinggalan adalah swasembada pangan berkelanjutan dan diversifikasi pangan. Terkait dengan Hari Tani Nasional adalah melakukan perubahan bagus di bidang agraria/pertanian.

Begitu hebatnya para petani yang telah bekerja keras demi bahan pangan agar selalu tersedia untuk kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghormati jasa para petani? Dari yang mudafrsaja. Kita harus belajar menghargai makanan,apapun itu. Karena bagaimana pun adanya makanan adalah hasil jerih payah dan kerja keras petani yang kehidupannya belum tentu sesejahtera kita. Kita juga bisa belajar dengan mencintai tanaman, dengan merawatnya, sehingga bias menghasilkan buah atau biji yang bermanfaat.

Sekarang 56 tahun sudah Hari Tani Nasional kita rayakan, ditengah situasi pertanian dan kehidupan diperdesaan tidak mengalami kemajuan berarti. Kemiskinan, kelaparan, konflik agraria serta infrastruktur yang tidak memadai merupakan hal yang lazim dialami sampai kini. Petani Indonesia tetap berharap untuk hidup yang lebih baik dan sejahtera. Karena secara relnya telah tersedia dalam politik agraria UUPA 1960 yang berakar pada kesadaran atas realitas sosio-politik dan sosio-ekonomi rakyat yang sangat tegas ingin membongkar ketidakadilan struktural dalam rangka menyiapkan prakondisi sosial untuk membangun kehidupan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.|Dari berbagai sumber

 

24 September Ditetapkan Sebagai Perayaan Hari Tani Nasional

MELALUI keputusan Presiden Soekarno Tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963, 24 september ditetapkan sebagai perayaan Hari Tani Nasional. Tiga tahun sebelumnya, pada hari Sabtu tanggal 24 September 1960 rancangan UUPA disetujui oleh Dewan PerwakilanRakyat Gotong Royong (DPRGR) dan kemudian disahkan oleh Presiden RI Soekarno menjadi Undang-undang Nomor: 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, yang lazim disebut Undang-undang Pokok Agraria ((UUPA).

UUPA merupakan kebijkan hukum yang mengarah pada bidang agraria dalam usaha mengurus dan membagi tanah dan sumber daya alam lainya yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan dan ksejahteraan rakyat, dimana dasar politik hukum agraria nasional dinyatakan ddalam teks asli UUD 1945 dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyebutkan:Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

 

Semangat inilah yang mendasari keriaan petani setiap tahunnya. Maka tak heran tiap tanggal 24 September, pesan-pesan yang kerap muncul adalah yang bertujuan membongkar ketidakadilan struktur agraria. Juga pesan-pesan untuk peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan. Semangat Hari Tani Nasional masih sangat relevan hingga saat ini. Tanah adalah modal dasar bertani. Kepemilikan tanah rata-rata petani cuma 0.3 hektar per keluarga.

Hari Tani Nasional harus diperingati segenap bangsa Indonesia dengan kegembiraan. Bahwa kita masih punya petani, bahwa kita harus selalu menyejahterakan petani. Keppres 169 tahun 1963 menjadi bukti pentingnya peran dan posisi petani di negeri ini. Pemahaman terhadap momentum Hari Tani harus ditempatkan pada prospek sejarah sebagai sebuah upaya untuk mengembalikan esensi hari tani, 24 september bukan hanya sebuah gerakan serimoni perayaan hari tani nasional, tapi lebih pada gerakan “Tanah untuk Rakyat”. 

Mari bekerja. Bergotong-royong. Demi pembaruan agraria sejati, demi kedaulatan pangan rakyat. Demi kesejahteraan petani!.[]

Mahasiswa Diharuskan Untuk Peka Terhadap Permasalahan Bahari Yang Terjadi

Pada 23 September merupakan peringatan Hari Bahari.Namun apakah  kita sudah memahami apa Hari Bahari? Mungkin perayaan hari bersejarah ini hanya dirayakan oleh insan-insan tertentu, atau sebagian kecil dirayakan oleh universitas dan masyarakat yang peka dan peduli akan keadaan laut kita.

Coba tanyakan kepada para nelayan, apakah makna Hari Bahari bagi mereka. Mungkin hanya sebagian dari mereka yang  peduli dengan adanya Hari Baharidan sangat peduli dengan keadaan laut Republik ini. Bagi mereka, kesejahteraan merupakan hal yang terpenting diatas segalanya. Namun realita yang terjadi adalah kebanyakan nelayan kita masih berada di bawah garis kemiskinan, miris melihat hal ini masih terjadi di Negara yang hampir tiga per empat wilayahnya merupakan hamparan luas lautan.

Sementara bagaimana sikap mahasiswa dalam menyikapi Hari Bahari ini?. Bukanlah sebuah prestasi ketika mahasiswa dapat merayakan Hari bersejarah tersebut, apalagi yang notabene merupakan mahasiswa yang bergelut dalam disiplin ilmu perikanan dan kelautan. Ketika para mahasiswa memaknai Hari Bahari hanya dengan berorasi, membagi-bagikan pamflet, dan mengumpulkan tandatangan, semua itu tidaklah cukup.

Mahasiswa harus peka terhadap realita yang terjadi di lapangan, bagaimana realita pengelolaan pesisir yang hingga sekarang belum maksimal dan terkesan tidak berbasis lokal. Apakah terasa tak malu ketika Hari Bahari ini kita rayakan, namun kita masih tidak peka terhadap realita yang terjadi.

Mari kita lakukan fungsi kontrol sosial kita sebagai mahasiswa yang merupakan mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan. Tak hanya itu, seluruh golongan mahasiswa dan masyarakat pun wajib dalam melestarikan bahari. Dikarenakan hasil laut yang dihasilkan akan kita rasakan kembali. Lautan memang menjanjikan sesuatu yang luar biasa, namun hal itu tidak akan ada artinya kalau hanya sekadar tahu namun tidak bertindak.[]