Sejarah Hari Tentara Pembela Tanah Air

HARI Pembela Tanah Air (PETA) diperingati pada 03 oktober setiap tahunnya. Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau PETA (郷土防衛義勇軍 kyōdo bōei giyūgun?) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai.

Tentara PETA telah berperan besar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA telah menentukan perkembangan dan evolusi militer Indonesia, antara lain setelah menjadi bagian penting dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya TNI. Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia.

Latar belakang

Pembentukan PETA dianggap berawal dari surat Raden Gatot Mangkoepradja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Pada pembentukannya, banyak anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) yang kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri. Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran “Asia Raya” pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama: K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Mohammad Sadri, yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa .Hal ini menunjukkan adanya peran golongan agama dalam rangka pembentukan milisi ini. Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan bintang (simbol kepercayaan Islam).

Pemberontakan Batalion PETA di Blitar

Pada tanggal 14 Februari 1945, pasukan PETA di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan sebuah pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PETA sendiri maupun Heiho. Supriadi, pimpinan pasukan pemberontak tersebut, menurut sejarah Indonesia dinyatakan hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh Kempeitai (PM), diadili dan dihukum mati dengan hukuman penggal sesuai dengan hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang di Eevereld (sekarang pantai Ancol) pada tanggal 16 Mei 1945.

Pembubaran PETA

Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan para daidan batalion PETA untuk menyerah dan menyerahkan senjata mereka, dimana sebagian besar dari mereka mematuhinya. Presiden Republik Indonesia yang baru saja dilantik, Sukarno, mendukung pembubaran ini ketimbang mengubah PETA menjadi tentara nasional, karena tuduhan blok Sekutu bahwa Indonesia yang baru lahir adalah kolaborator Kekaisaran Jepang bila ia memperbolehkan milisi yang diciptakan Jepang ini untuk dilanjutkan. [2][3][4]. Sehari kemudian, tanggal 19 Agustus 1945, panglima terakhir Tentara Ke-16 di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro, mengucapkan pidato perpisahan pada para anggota kesatuan PETA.

Pemuda Indonesia dalam pelatihan di Seinen Dojo yang kemudian menjadi anggota PETA

Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI. Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor, bekas markas besar PETA.

Tokoh Indonesia yang merupakan lulusan PETA antara lain:

Jenderal Besar Sudirman (Panglima APRI)

Jenderal Besar Soeharto (Mantan Presiden RI ke-2)

Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani (Mantan Menteri/Panglima Angkatan Darat)

Soepriyadi (Mantan Menhankam Kabinaet I in absentia)

Jenderal TNI Basuki Rahmat (Mantan Mendagri)

Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo (Mantan Komandan Kopassus)

Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah (Mantan Wapres RI)

Jenderal TNI Soemitro (Mantan Pangkopkamtib)

Jenderal TNI Poniman (Mantan Menhankam)

Letjend TNI Kemal Idris

Letjend TNI Supardjo Rustam

Letjend TNI GPH Djatikoesoemo (Mantan KASAD, sesepuh Zeni, pejuang kemerdekaan, putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X Surakarta,dan lain-lain)

 

Potret monumen dan museum PETA

Berdasarkan sejarah, Jepang pernah mengeluarkan dekrit membentuk Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Alih-alih dibentuk untuk membantu Jepang melawan sekutu, PETA kemudian dijadikan sebagai korps tentara yang disiapkan untuk mencapai Indonesia merdeka oleh para pemimpin pergerakan kebangsaan.

Peran tentara PETA tidak lepas dari tanah Bogor, karena di daerah inilah untuk pertama kali pendidikan perwira PETA didirikan. Untuk mengenang Bogor sebagai kota pembela tanah air, dibangunlah monumen yang berdiri berdampingan dengan museum yang diberi nama Museum PETA. Museum PETA terletak di Jalan Jenderal Sudirman No 35, Bogor, menempati lokasi yang dahulu dijadikan tempat pendidikan kemiliteran para perwira PETA. Konon, pemilihan lokasi ini atas berbagai pertimbangan. Antara lain karena lokasinya strategis, udara yang sejuk, dukungan fasilitas, dan yang terpenting masyarakat sekitar pada saat itu juga mendukung didirikannya pusat pendidikan militer dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia.

Pembangunan Museum PETA diprakarsai oleh Yayasan Pembela Tanah Air, sebuah yayasan yang menjadi tempat bersatunya mantan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air. Pembangunan dimulai pada 14 November 1993 dan memerlukan waktu sekitar 2 tahun sebelum bangunan selesai. Pada 18 Desember 1995, Museum PETA diresmikan oleh Presiden Soeharto – yang juga merupakan mantan perwira PETA angkatan I.

Memasuki kawasan museum, pengunjung akan disambut sebuah prasasti yang dituliskan pada dinding marmer. Tulisan bernada nasionalisme tersebut berisi sebuah pernyataan: “Bumi Pembela Tanah Air Ini Merupakan Kawah Candradimuka Keprajuritan Indonesia, Kami Datang dan Berkumpul di Bogor Tidak Saling Mengenal, Kami Berpisah sebagai Kawan Seperjuangan untuk Membela Tanah Air.”

Masuk lebih ke dalam, pengunjung akan menjumpai berbagai diorama yang menjelaskan sejarah dan perkembangan tentara PETA dalam meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia. Selain diorama, terdapat juga koleksi pakaian dan berbagai jenis senjata yang pernah digunakan tentara PETA. Koleksi lainnya berupa foto dokumentasi sepak terjang tentara PETA hasil guntingan dari media masa pada saat itu.

Terdapat sebuah monumen di bagian belakang Museum PETA. Monumen tersebut berupa patung Daidancho Soedirman. Daidancho merupakan pangkat kemiliteran buatan Jepang. Daidancho setara dengan Komandan Batalyon (Letkol/Mayor). Di bagian yang lain, terdapat patung Supriyadi dengan gestur yang heroik, tangan kanan mengepal ke atas sementara tangan kiri menggenggam sebilah samurai.

Pahlawan Nasional yang bernama lengkap Fransiskus Xaverius Supriyadi ini mempunyai pangkat Shodancho atau setara dengan Komandan Pleton (Letnan). Beliau berperan memimpin pemberontakan tentara PETA terhadap pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Sementara, pada dinding monumen yang berbentuk setengah lingkaran terdapat nama-nama perwira tentara PETA yang berasal dari seluruh Jawa, Bali, Madura, dan Sumatera lengkap dengan informasi yang menerangkan fungsi dan jabatannya.

Museum dan Monumen PETA dibuka untuk umum setiap hari kecuali Sabtu, Minggu, dan hari besar nasional. Jam operasional museum dibuka mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIB.

Berkunjung ke Museum PETA, pengunjung akan diajak kembali ke masa pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia – masa ketika sikap nasionalisme menjadi panglima melebihi sikap individualisme kelompok dan golongan. Di museum ini, pengunjung juga diajak untuk mengetahui sejarah panjang cikal bakal berdirinya TNI di Indonesia, sambil mengenang jasa para perwira tentara PETA yang telah gugur mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk cita-cita kemerdakaan Indonesia.

Sumber : www.wikipedia.org, www.netralnews

Selamat Hari Ulang Tahun Pembela Tanah Air pada 03 Oktober 2016

HARI ini kita memperingari Hari Ulang Tahun Pembela Tanah Air yang ke-73. Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 03 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnal Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela sekaligus pendiri PETA. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyugun Kanbu Resentai.

Tentara PETA telah berperan besar dalam perang kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden, Soeharto dan Jendral Besar, Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA telah menentukan perkembangan dan evolusi militer Indonesia, antara lain setelah menjadi bagian penting dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya menjadi TNI. Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada pembentukannya, banyak anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) yang kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri.

Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran “Asia Raya” pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan adanya peran golongan agama dalam rangka pembentukan milisi ini.

Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan bintang (simbol kepercayaan Islam).|Dari berbagai sumber.

02 Oktober Diperingati Sebagai Hari Batik Nasional, Berikut Sejarahnya!

INDONESIA melalui badan PBB untuk kebudayaan UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the oral and intangible Heritage of Humanity) pada 02 Oktober 2009. Pada tanggal ini, beragam lapisan masyarakat dari pejabat pemerintah dan pegawai BUMN hingga pelajar disarankan untuk mengenakan batik sebagai bentuk peringatan Hari Batik Nasional.

Bahkan, melalui surat edaran bernomor SE-11/Seskab/X/2013, tertanggal 1 Oktober 2014, Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam meminta para menteri dan seluruh pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) untuk memerintahkan kepada seluruh pegawai di bawah jajajrannya agar memakai baju batik hari ini.

Pemilihan Hari Batik Nasional pada 02 Oktober berdasarkan keputusan UNESCO yaitu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, yang secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia.
Penetapan Hari Batik Nasional juga sebagai usaha pemerintah dalam meningkatkan martabat bangsa Indonesia dan citra positif indonesia di forum internasional. Karena pengakuan terhadap batik sebagai warisan leluhur bangsa indonesia sama hal nya dengan pengakuan dunia internasional terhadap mata budaya Indonesia. Tujuan lain dari pengakuan batik sebagai warisan leluhur indonesia adalah untuk menumbuhkan kecintaan serta rasa bangga masyarakat indonesia terhadap kebudayaan Bangsanya.

Dalam situs resmi UNESCO ditulis bahwa Batik Indonesia memiliki banyak simbol yang bertautan erat dengan status sosial, alam, kebudayaan lokal dan sejarah itu sendiri. Batik merupakan identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Batik dipercaya menjadi bagian penting yang tak terpisahkan pada masyarakat Indonesia sejak ia lahir hingga meninggal. Karena Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia, khususnya Jawa, yang sampai saat ini masih ada.

||sumber: id.wikipedia.org, www.markijar.com dan berbagai sumber lainnya.

Hari Tani Nasional: Pangan adalah soal hidup dan mati

Pada tanggal 24 September tiap tahunnya diperingati dengan suka cita oleh kaum tani Indonesia. Inilah harinya petani Indonesia, pada hari itu ditetapkan Undang-Undang N0. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (yang dikenal dengan UUPA 1960) yang mengatur tentang hak-hak dan kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, hak atas sumber-sumber agraria untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran petani dan bangsa. Kelahiran UUPA inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Tani Nasional. Penetapannya berdasarkan Keputusan Presiden Soekarno No 169/1963, menandakan bagaimana pentingnya peran dan posisi petani sebagai tulang punggung bangsa.

Pertama, semangatnya bahwa pertanian itu penting. Berbicara pertanian adalah berbicara soal pangan. Bung Karno pernah berkata, “Pangan adalah soal hidup dan mati”. Coba bayangkan jika para petani mogok menanam padi satu musim saja. Bagaimana dengan makan kita? Petanilah yang memberi makan dunia.

Kedua, Hari Tani Nasional harus menjadi refleksi untuk evaluasi. Apa saja yang sudah kita capai? Sebenarnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti masalah kerawananan pangan, perubahan iklim global, kekeringan, dan impor bahan pangan Tak ketinggalan adalah swasembada pangan berkelanjutan dan diversifikasi pangan. Terkait dengan Hari Tani Nasional adalah melakukan perubahan bagus di bidang agraria/pertanian.

Begitu hebatnya para petani yang telah bekerja keras demi bahan pangan agar selalu tersedia untuk kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghormati jasa para petani? Dari yang mudafrsaja. Kita harus belajar menghargai makanan,apapun itu. Karena bagaimana pun adanya makanan adalah hasil jerih payah dan kerja keras petani yang kehidupannya belum tentu sesejahtera kita. Kita juga bisa belajar dengan mencintai tanaman, dengan merawatnya, sehingga bias menghasilkan buah atau biji yang bermanfaat.

Sekarang 56 tahun sudah Hari Tani Nasional kita rayakan, ditengah situasi pertanian dan kehidupan diperdesaan tidak mengalami kemajuan berarti. Kemiskinan, kelaparan, konflik agraria serta infrastruktur yang tidak memadai merupakan hal yang lazim dialami sampai kini. Petani Indonesia tetap berharap untuk hidup yang lebih baik dan sejahtera. Karena secara relnya telah tersedia dalam politik agraria UUPA 1960 yang berakar pada kesadaran atas realitas sosio-politik dan sosio-ekonomi rakyat yang sangat tegas ingin membongkar ketidakadilan struktural dalam rangka menyiapkan prakondisi sosial untuk membangun kehidupan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.|Dari berbagai sumber

 

24 September Ditetapkan Sebagai Perayaan Hari Tani Nasional

MELALUI keputusan Presiden Soekarno Tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963, 24 september ditetapkan sebagai perayaan Hari Tani Nasional. Tiga tahun sebelumnya, pada hari Sabtu tanggal 24 September 1960 rancangan UUPA disetujui oleh Dewan PerwakilanRakyat Gotong Royong (DPRGR) dan kemudian disahkan oleh Presiden RI Soekarno menjadi Undang-undang Nomor: 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, yang lazim disebut Undang-undang Pokok Agraria ((UUPA).

UUPA merupakan kebijkan hukum yang mengarah pada bidang agraria dalam usaha mengurus dan membagi tanah dan sumber daya alam lainya yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan dan ksejahteraan rakyat, dimana dasar politik hukum agraria nasional dinyatakan ddalam teks asli UUD 1945 dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyebutkan:Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

 

Semangat inilah yang mendasari keriaan petani setiap tahunnya. Maka tak heran tiap tanggal 24 September, pesan-pesan yang kerap muncul adalah yang bertujuan membongkar ketidakadilan struktur agraria. Juga pesan-pesan untuk peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan. Semangat Hari Tani Nasional masih sangat relevan hingga saat ini. Tanah adalah modal dasar bertani. Kepemilikan tanah rata-rata petani cuma 0.3 hektar per keluarga.

Hari Tani Nasional harus diperingati segenap bangsa Indonesia dengan kegembiraan. Bahwa kita masih punya petani, bahwa kita harus selalu menyejahterakan petani. Keppres 169 tahun 1963 menjadi bukti pentingnya peran dan posisi petani di negeri ini. Pemahaman terhadap momentum Hari Tani harus ditempatkan pada prospek sejarah sebagai sebuah upaya untuk mengembalikan esensi hari tani, 24 september bukan hanya sebuah gerakan serimoni perayaan hari tani nasional, tapi lebih pada gerakan “Tanah untuk Rakyat”. 

Mari bekerja. Bergotong-royong. Demi pembaruan agraria sejati, demi kedaulatan pangan rakyat. Demi kesejahteraan petani!.[]

Mahasiswa Diharuskan Untuk Peka Terhadap Permasalahan Bahari Yang Terjadi

Pada 23 September merupakan peringatan Hari Bahari.Namun apakah  kita sudah memahami apa Hari Bahari? Mungkin perayaan hari bersejarah ini hanya dirayakan oleh insan-insan tertentu, atau sebagian kecil dirayakan oleh universitas dan masyarakat yang peka dan peduli akan keadaan laut kita.

Coba tanyakan kepada para nelayan, apakah makna Hari Bahari bagi mereka. Mungkin hanya sebagian dari mereka yang  peduli dengan adanya Hari Baharidan sangat peduli dengan keadaan laut Republik ini. Bagi mereka, kesejahteraan merupakan hal yang terpenting diatas segalanya. Namun realita yang terjadi adalah kebanyakan nelayan kita masih berada di bawah garis kemiskinan, miris melihat hal ini masih terjadi di Negara yang hampir tiga per empat wilayahnya merupakan hamparan luas lautan.

Sementara bagaimana sikap mahasiswa dalam menyikapi Hari Bahari ini?. Bukanlah sebuah prestasi ketika mahasiswa dapat merayakan Hari bersejarah tersebut, apalagi yang notabene merupakan mahasiswa yang bergelut dalam disiplin ilmu perikanan dan kelautan. Ketika para mahasiswa memaknai Hari Bahari hanya dengan berorasi, membagi-bagikan pamflet, dan mengumpulkan tandatangan, semua itu tidaklah cukup.

Mahasiswa harus peka terhadap realita yang terjadi di lapangan, bagaimana realita pengelolaan pesisir yang hingga sekarang belum maksimal dan terkesan tidak berbasis lokal. Apakah terasa tak malu ketika Hari Bahari ini kita rayakan, namun kita masih tidak peka terhadap realita yang terjadi.

Mari kita lakukan fungsi kontrol sosial kita sebagai mahasiswa yang merupakan mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan. Tak hanya itu, seluruh golongan mahasiswa dan masyarakat pun wajib dalam melestarikan bahari. Dikarenakan hasil laut yang dihasilkan akan kita rasakan kembali. Lautan memang menjanjikan sesuatu yang luar biasa, namun hal itu tidak akan ada artinya kalau hanya sekadar tahu namun tidak bertindak.[]

Catatan dan Renungan Yang Perlu Digarisbawahi Pada Peringatan Hari Bahari

Setiap merayakan Hari Bahari pada 23 September, dada mesti bergetar terlebih apabila mengingat lagu lama yang bersyair sebagai “nenek moyangku orang pelaut,”. Betapa tidak, semenjak nenek moyang kita, jauh sebelum generasi ini terlahirkan, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah menyadari akan karunia lautan yang sungguh luas ini. Hampir tiga per-empat luas Indonesia, didominasi oleh lautan.

Oleh sebab itu, negeri ini sebenarnya bukan merupakan negeri kepulauan, namun negeri lautan (bahari). Dengan penyebutan yang demikian, hampir bisa dipastikan akan mempengaruhi setiap keputusan pembangunan. Setidaknya, dengan pemahaman yang demikian, aspek kelautan akan senantiasa mewarnai setiap gerak langkah kebijakan pembangunan yang ada, sehingga aspek yang selama ini hampir terlupakan akan bisa digarap lebih optimal.

Kenyataannya tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini pemerintah Indonesia seolah tertutup matanya akan persoalan ini. Indonesia misalnya, justru belajar dari negara-negara yang tidak banyak memiliki lautan. Jelas, kebijakan pembangunan yang kurang tepat ini perlu dikoreksi sedemikian, sehingga nantinya benar-benar memiliki pijakan yang kuat sebagai negara maritim.

Padahal dari lautan inilah, negara Indonesia dapat memulai dan membenahi krisis yang tengah dihadapi ini. Nampanya sudah disadari akan pentingnya persoalan ini, yaitu dengan dibentuknya Departemen Eksplorasi Kelautan dan Perikanan dalam kabinet persatuan nasional dan juga Kabinet Gotong Royong. Melalui pembentukan departemen teknis tersebut, terlihat visi dan arah pembangunan Indonesia, dimana pemerintah ingin benar-benar back to basic, yakni benar-benar memperhatikan persoalan yang satu ini.

Indonesia bukan hanya pulau Jawa, namun beribu-ribu pulau, yang dipisahkan oleh lautan yang demikian luasnya. Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma pembangunan, dari yang sangat Jawa sentris, menjadi kebijakan yang benar-benar mampu untuk mengeksploitasi kekayaan lautan yang demikian hebatnya. Lautan memang menjanjikan sesuatu yang luar biasa, namun hal itu tidak akan ada artinya kalau hanya sekadar tahu namun tidak bertindak.

Mau tidak mau, kita perlu memalingkan perhatian pada sektor kelautan (kebaharian). Pada sektor inilah, tumpuan harapan bangsa bisa diletakkan. Percepatan pemulihan ekonomi Indonesia, akan dapat terjadi apabila kita dapat menggarap sektor kebaharian ini dengan maksimal. Selama ini, kita belum optimal memanfaatkan kekayaan sumber daya laut kita. Oleh sebab itu, langkah ke depan yang perlu segera dilakukan adalah memalingkan perhatian secara lebih serius pada sektor ini, jangan hanya sekadar dilirik saja. Segenap perhatian bangsa ini harus mulai difokuskan untuk memanfaatkan sumber daya laut secara optimal.

Itulah beberapa catatan dan renungan yang perlu digarisbawahi pada peringatan hari bahari. Potensi raksasa yang setengah tertidur ini perlu dibangun, bahkan penyadaran (awareness) yang terus menerus terhadap pentingnya kawasan bahari ini, perlu terus dilakukan. Dengan demikian, kawasan wisata pantai ini akan dapat terus dilestarikan sembari mengeruk devisa. Inilah bentuk ideal yang bisa diupayakan kita bersama di hari-hari mendatang. Lewat laut ini pula, warisan nenek moyang akan tetap bisa lestari sampai kapanpun, asal kita semua bisa menjaga dan melestarikannya.[]

Ayo Dukung Indonesia Bebas Kendaraan Bermotor!

Untuk mencegah penurunan kualitas lingkungan akibat pencemaran udara, salah satunya adalah dengan dilaksanakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau dapat disebut juga dengan Car Free DayHasilnya telah dapat mengurangi tingkat pencemaran udara sebesar 35% untuk Partikel Debu, 70% untuk Karbon Monoksida, 81% untuk Nitrogen Oksida dan 22% untuk total Hidrokarbon. Keempat parameter tersebut merupakan pencemar primer yang bersumber dari kendaraan bermotor.

Salah satu indeks lingkungan hidup di sebuah kota diukur melalui kualitas udara. Melihat hasil yang signifikan terhadap kualitas udara, pelaksanaan HBKB dintensifkan. Penilaian dilakukan melalui 3 indeks yaitu polusi udara dan kesehatan, kapasitas manajemen udara bersih dan kebijakan serta implementasi udara bersih.

Car Free Day adalah sebuah kegiatan kampanye untuk mengurangi tingkat pencemaran udara di kota-kota besar di seluruh dunia yang disebabkan oleh kenderaaan bermotor. Bermula pada tanggal 25 November 1956, Belanda melaksanakan Car Free Day setiap hari Minggu, kemudian Francis pada tahun tahun 1995 melaksanakan pesta memperingati Green Transport Week di kota Bath, semua masyarakat turun ke jalan untuk merayakan acara tersebut. Inilah perjalanan panjang sejarah kegiatan Car Free Day , yang pada akhirnya kegiatan ini diperingati setiap tanggal 22 September di seluruh dunia.

Kegiatan Car Free Day pertama kali dilaksanakan tahun 2001 di Jl Imam Bonjol yang saat itu dilakukan penutupan jalan setelah beraudiensi dengan pihak kepolisian dan diputuskan oleh Irjen Pol Djoko Susilo untuk melakukan penutupan jalur sudirman, Thamrin. Pada saat hari bumi dan dilanjutkan tanggal 22 September 2002 yang berlangsung dengan sukses, dimana pada saat itu KPBB dan para aktifis lingkungan hidup bersama masyarakat mengkampanyekan penghapusan penggunaan bensin bertimbel. Maka dicetuskanlah untuk melakukan kegiatan Car free day yang pada awalnya kegiatan ini hanya sebatas kampanye semata, untuk mengingatkan para pemilik kendaraan bermotor pribadi agar lebih bijak dalam pemakaian kendaraan pribadinya. Setahun berikutnya, tepatnya pada tanggal 21 September 2003, Pelaksanaan Car Free Day mulai menyebar keseluruh penjuru dunia. Perayaan kegiatan car free sedunia serempak dilaksanakan oleh 1500 kota di dunia termasuk Jakarta, dihadiri 112 juta manusia.

Ibukota negara kita yakni Jakarta, terkenal sebagai kota macet dan gudangnya polusi kini mulai berbenah diri dan mulai sadar dan memulai HBKB. Hal ini bertepatan dengan hari bebas kendaraan bermotor sedunia yang jatuh pada tanggal 22 September. Pada hari bebas mobil ini jalan-jalan utama di ibukota ditutup dari kendaraan bermotor. Yang ada hanyalah pejalan kaki, para biker santai serta aktifitas olahraga lainnya. Jalanan yang biasanya padat kendaraan bermotor kini terlihat lengang.  .

Sebagai penggagas pertama, Jakarta menjadi inspirasi bagi kota – kota lain di Indonesia HBKB jadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi tingkat polusi udara dan mendorong masyarakat menggunakan moda transportasi ramah lingkungan seperti sepeda. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), setiap kali kendaraan mengeluarkan asap, sekitar 1.000 unsur beracun yang terkandung di dalamnya turut mengotori udara. Unsur-unsur beracun yang terkandung asap kendaraan seperti karbon monoksida, karbon dioksida, partikulat, ozon, timbel, dan sulfur dioksida pada akhirnya dapat menimbulkan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Oleh karena itulah dukung terus CFD di kota anda.|Dari berbagai sumber

Selamat bersepedah dan menikmati Hari Bebas Kendaraan Bermotor!

Kisah Menarik Dibalik Hari Perdamaian Internasional

HARI Perdamaian Internasional diperingati pada 21 September setiap tahunnya. Tanggal 21 September ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi Nomor 55/282 pada Tahun 1991 sebagai Hari Perdamaian Internasional (the International Day Of Peace). Ini adalah hasil kebulatan tekad para pemimpin dunia yang disuarakan sebagai Hari Tanpa Kekerasan dan Gencatan Senjata serta Perdamaian Dunia. Penetapan Hari Perdamaian Dunia tersebut merupakan sebuah himbauan dan ajakan bagi semua bangsa dan anggota masyarakat di muka bumi ini untuk menghentikan segala bentuk permusuhan dan konflik.

Peringatan ini didedikasikan demi perdamaian dunia, dan secara khusus demi berakhirnya perang dan kekerasan, misalnya yang mungkin disebabkan oleh suatu gencatan senjata sementara di zona pertempuran untuk akses bantuan kemanusiaan. Hari Perdamaian Internasional pertama kali diperingati tahun 1982, dan dipertahankan oleh banyak negara, kelompok politik, militer, dan masyarakat. Pada tahun 2013, untuk pertama kalinya, hari peringatan ini didedikasikan oleh Sekretaris Jenderal PBB untuk pendidikan perdamaian, sebagai sarana pencegahan yang penting untuk mengurangi peperangan yang berkelanjutan.

Untuk membuka hari peringatan ini, Lonceng Perdamaian PBB dibunyikan di Markas Besar PBB (di Kota New York). Lonceng tersebut dibuat dari koin-koin yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh benua selain Afrika, dan merupakan hadiah dariAsosiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dari Jepang, sebagai “suatu pengingat atas korban manusia akibat peperangan”; pada salah satu sisinya tertulis, “Long live absolute world peace” (Panjang umur perdamaian dunia sepenuhnya).

Tahun 1991, suara tentang perdamaian sudah dikisahkan dalam cerita Legenda Burung Bangau Kertas oleh gadis kecil Jepang berumur dua tahun, yakni Sadako Sasaki yang meninggal akibat radiasi bom atom Amerika Serikat dan sekutunya yang meluluhlantakan Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Kisah anak kacil itu menyerukkan perdamaian lewat 1.000 burung Bangau kertas (Versi ini diambil dari buku “Sadako and the Thousand Paper Cranes”) yang dilipatnya bersama teman-temannya pada November 1954-1955 ketika ia dalam perawatan di rumah sakit karena diagnosa penyakit Leukemia akibat radiasi bom.

Melalui 1.000 Burung Bangau Kertas yang kemudian dikubur bersama-sama dengan Sadako ketika ia meningal dunia meninggal di pagi hari 25 Oktober 1955 pada umur 12 tahun adalah ingin menyampaikan satu hal besar kepada dunia, yaitu: “Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no), yang kurang lebih artinya: “Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun kedamaian di dunia”. Cerita kuno itu memang tidak populer tetapi mempunyai makna yang sangat besar bagi perdamaian dunia. Itulah sebabnya Patung Sadako didirikan di  Taman Perdamaian Seattle, Amerika Serikat. Sadako telah menjadi simbol dampak Perang Nuklir. Itulah cerita kecil tentang perdamaian yang mungkin terlupakan oleh dunia.

Ketika hari ini (21 September 2016) masyarakat dunia menyerukan tentang perdamaian yang artinya tidak ada peperangan, tidak ada permusuhan, tidak ada konflik di muka bumi ini, di masyarakat kita adalah sebuah kerinduan untuk mendambakan kedamaian dan keamanan meskipun harapan itu masih jauh berangan-angan.

|Sumber :www.kompasiana, www.wikipedia.org

Universitas Malahayati Mengucapkan Selamat Menyambut Hari Raya Idul Adha

UNIVERSITAS Malahayati mengucapkan selamat menyambut hari Raya Idul Adha 1437 Hijriyah pada Senin 12 September 2016.  Universitas Malahayati juga akan menggelar acara Qurban setelah peaksanaan salat Idul Adha.

Idul Adha (bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya untuk Allah SWT, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba.

Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang atau di masjid, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.

Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.

Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Idul Adha disebut pula sebagai Idul Qurban atau Lebaran Haji.
Sumber : www.wikipedia.com