Menyambangi Hutan Kera di Tengah Kota Bandar Lampung

MENYAKSIKAN hutan yang dihuni ratusan kera liar di tengah  padatnya permukiman kota barangkali merupakan pemandangan yang langka. Di Bandar Lampung, kita bisa menyaksikan berbagai polah binatang berekor panjang tersebut secara gratis. Mudah dijangkau dan murah. Hewan bernama latin macaca fascicularis itu berkembang baik di Kawasan Hutan Kera Kota di Umbul Tirtosari, Telukbetung Utara Bandar Lampung.

Jangan membayangkan Kawasan Hutan Kera Tirtosari itu seperti hutan pada umumnya. Hutan dengan luas tak lebih dari tiga hektar itu adalah lahan berupa lereng bukit milik Pemerintah Kota Bandar Lampung. Aneka pohon seperti akasia, rambutan, mentru, sengon berdiri menjulang diselingi pohon-pohon perdu. Meski begitu, kondisi alam yang masih asri bisa membuat kita merasakan “dunia lain” di hiruk pikuk bising kota. Kita masih bisa menikmati kesejukan dan rindang pohon yang melepaskan oksigen di siang hari. Ada keheningan di tengah bising angkuh kota.

Tepat di bawah kawasan  hutan yang berbentuk lereng curam itu, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering di musim kemarau. Warga di sekitar kawasan itu sangat bergantung pada sumber mata air itu. Mereka mandi, mengambil air untuk memasak dan mencuci di tempat itu.

Untuk menikmati suasana hutan di tengah kota ini, hanya butuh lima menit dari pusat kota jika ditempuh dengan kendaraan pribadi. Kawasan wisata ini juga bisa ditempuh dengan angkutan umum jurusan Tanjungkarang—Telukbetung. Cukup membayar Rp 3000. Turun di pertigaan Sarijo, Jalan Diponegoro kita harus melanjutkan perjalanan dengan naik ojek dengan ongkos Rp 5 ribu. Jika kita hobi berjalan kaki, rasanya tidak terlalu jauh dari pertigaan itu, sekitar 1,5 kilometer saja.

Sebelum disambut ratusan kera, di tempat ini ada kolam pemancingan yang selalu ramai dikunjungi penghobi mancing. Mungkin karena tempatnya yang dikelilingi pohon bambu yang tertata asri membuat para pemancing itu betah. Terlebih di akhir pekan. Mereka bisa sehariang di tempat itu menanti sambaran ikan nila, gurame, lele hingga patin.

Kawasan Huta Kera Tirtosari sebelumnya tidak terlalu dikenal. Nama Hutan Kera sendiri baru populer akhir tahun 1990-an seiring berkembangnya habitat kera ekor panjang di kawasan ini. Sekarang sedikitnya 300-an ekor kera ekor panjang menghujni kawasan seluas sekitar 3 hektar. Kera-kera itu mencari makan seperti buah-buahan, daun, jamur dan umbi-umbian yang memang sengaja ditanam warga sekitar. Mereka hidup berkelompok dengan anggota 3 hingga 20 ekor.

Asal usul kera ini bermula pada tahun 1986 lalu. Adalah  Bagio, 50 tahun, warga di sekitar kawasan yang tidak sengaja melepas kera piaraannya ke tengah hutan itu. Dua ekor betina itu dilepasliarkan setelah berulangkali menyerang dan melukai tetangganya. Tidak lama berselang, seorang warga juga melepasliarkan seekor kera jantan. “Mereka ternyata berkembang biak di hutan. Kami sempat kaget karena ternyata hutan yang dulunya hanya tempat warga untuk mengambil air dihuni puluhan kera,” kata Bagio saat ditemua malahayati. ac.id akhir pekan lalu.

Perkembangan pesat kera ekor panjang itu membuat persoalan sendiri. Hutan tidak menyediakan cukup makanan. Jadilah kera-kera itu keluar kawasan dan mencari makan ke rumah penduduk. Warga yang resah kemudian memutuskan untuk membasmi kera itu. “Saya menentang. Kera-kera itu ngacak ke rumah penduduk karena kelaparan. Di hutan tidak  cukup makanan. Saya kemudian menanami hutan itu dengan aneka tanaman yang bisa menjadi sumber makanan untuk kera itu,” katanya.

Sudah hampir 20 tahun Bagio memberi makan kera itu. Setiap pagi dan sore bagio menyediakan pisang, singkong dan makanan apa saja untuk kera-kera itu. Kedekatan itu membuat Bagio mempunyai cara unik memanggil ratusan kera untuk turun dari hutan. “Eneeeeeeeeennn,..eneeeeennnnn, eneeeennn! Bagio berteriak nyaring memanggil. Ajaib, tidak berselang lama, ratusan kera turun mengerubutinya.

Kalau sudah begini, Bagio harus menyediakain makanan. Jangan sekali-kali memanggil dengan tangan hampa. Kera-kera itu akan ngamuk dan mendatangi rumah Bagio yang hanya berjarak lima ratus meter dari kawasan hutan itu. Rumahnya bisa diacak-acak. “Enen” merupakan panggilan kesayangan Bagio untuk salah seekor kera yang pada tahun 1986 lalu dilepasliarkan. “Ternyata keturunan kera itu tetap melestarikan, hahaha,” kata dia sambil tertawa lepas.

Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat Bagio keteteran memberi makan ratusan hewan yang biasa dieksploitasi menjadi “topeng monyet”. Lelaki itu hanya mengandalkan warung kelontong dan dua petak kolam pemancingan. Kondisi itu membuat Bagio akan memasang “tarif” jika ada pengunjung meminta dipanggilkan monyet dari hutan. “Cukup dua sisir pisang atau dua kilo kacang,” katanya.

Sebenarnya kera-kera itu mendapat bantuan Rp 20 juta dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. Uang itu diberikan setiap tahun sekali. Dengan anggaran sebesar itu Bagio dan kelompok Sadar Wisata Tirtosari, hutan dan kera harus tetap lestari. []

Festival Krakatau; Mengangkat Kebudayaan Lampung

INGIN tahu ketika hampir semua budaya dan ciri khas Lampung berkumpul menjadi satu? Jawabannya tentu Festival Krakatau, festivalnya rakyat Lampung.

Festival Krakatau merupakan salah satu perhelatan kebudayaan unggulan dari Provinsi Lampung. Festival yang rutin diadakan setiap tahun ini merupakan parade kebudayaan yang mengangkat kekayaan budaya dan tradisi yang dimiliki Lampung. Selain itu, perhelatan ini juga menjadi ajang promosi potensi pariwisata yang dimiliki setiap kabupaten dan kota yang ada di Lampung.

Festival yang diramaikan dengan karnaval, atraksi seni tradisional, pameran, dan berbagai lomba ini mulai diadakan sejak tahun 1990. Dalam perjalanannya, terdapat banyak variasi yang dilakukan.

Karenanya, dari tahun ke tahun, terdapat perbedaan pada konten acara yang ditampilkan. Bagian acara yang selalu mendapat perhatian besar adalah karnaval karena melibatkan partisipasi dari semua lapisan masyarakat.

Karnaval diisi dengan parade busana tradisional dari dua suku besar di Lampung, yaitu Sai Batin dan Pepadun. Ditampilkan pula kesenian topeng tradisional tupping dan sekura yang menjadi salah satu kekhasan seni tradisional Lampung.

Karnaval juga dimeriahkan peragaan busana kreasi kontemporer dari bahan kain tapis. Selain itu, atraksi unik seperti parade baris berbaris polisi cilik, marching band, dan gajah-gajah dari Taman Nasional Way Kambas juga ikut meramaikan Festival Krakatau.[]

(Sumber: Indonesiakaya.com)

Menapak Jejak Lampung di Museum Ruwa Jurai

MUSEUM yang mengabadikan perjalanan sejarah Lampung ini diberi nama Mausem Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”. Berada di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, Rajabasa, Bandar Lampung, letaknya strategis. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari Terminal Bus Rajabasa dan kampus-kampus terkenal di Lampung.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hasan meresmikan secara langsung museum ini pada 24 September 1988. Peresmian tersebut bersamaan juga dengan peringatan Hari Aksara Internasional yang dilaksanakan di Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim.

Nama “Ruwa Jurai” diambil dari tulisan yang ada di logo resmi Provinsi Lampung yang juga berarti 2 golongan masyarakat, Saibatin dan Pepadun.

Menurut data tahun 2011, Museum Lampung “Ruwa Jurai” menyimpan sekitar 4.735 buah benda koleksi, yang terbagi menjadi 10 jenis, yaitu koleksi geologika, biologika, etnografika, historika, numismatika/heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknografika.

Diantara 10 jenis koleksi itu, koleksi etnografika mencapai 2.079 dan merupakan koleksi terbanyak yang dimiliki oleh Museum Lampung. Koleksi etnografika adalah benda buatan manusia yang proses pembuatan dan pemakaiannya menjadi ciri khas dari kebudayaan masyarakat Lampung.

Di antara koleksi-koleksi yang ditampilkan, antara lain pernak-pernik aksesori dari dua kelompok adat yang dominan di Lampung, yaitu Saibatin (Peminggir) dan Pepadun. Kedua kelompok adat ini masing-masing memiliki kekhasan dalam hal ritual adat dan aksesori yang dikenakan.

Ritual-ritual adat dari Saibatin dan Pepadun masing-masing ditampilkan secara beralur dari ritual kelahiran, ritual asah gigi menjelang dewasa, ritual pernikahan, hingga ritual kematiannya. Selain itu, berbagai benda peninggalan zaman prasejarah, zaman Hindu-Budha, zaman kedatangan Islam, masa penjajahan, dan pasca-kemerdekaan juga ditampilkan pada bagian tersendiri.

(sumber: indonesiakaya.com)

Menara Siger, Simbol Kebanggaan Lampung

SAAT Kapal Feri bersandar di Pelabuhan Bakauheni, akan terlihat sebuah siger di atas tanah yang berbukit. Berada di titik 0 kilometer pulau Sumatra, berdiri menjulang pada ketinggian 110 meter di atas permukaan laut. Menara Siger, simbol kebanggaan masyarakat Lampung.

Perhatikan bentuknya, berwarna kuning keemasan itu memiliki 9 lekuk, mengadaptasi bentuk mahkota pengantin wanita dalam adat lampung. Di beberapa pilar menara siger terdapat corak tapis, yang merupakan kain khas masyarakat lampung. Dan 3 buah payung berwarna putih, kuning dan merah disebelah atasnya, sebagai tempat berlindung masyarakat lampung.

Bangunan yang merupakan karya arsitek asli Lampung, Ir Hi Anshori Djausal MT ini menggunakan Teknik Ferrocement. Yaitu dengan menggunakan jaring kawat yang menyerupai jaring laba-laba. Pengerjaan lambang siger dan beberapa ornamen tidak menggunakan cor-coran, namun bagian per bagian dengan menggunakan tangan. Sehingga setiap inci bangunan ini tahan guncangan dan terpaan angin laut.

Landmark Provinsi Lampung ini diresmikan oleh Gubernur Sjahroedin Z.P. pada 30 April 2008. Bersama para duta besar dari negara-negara lain, Sjahroedin menandatangani prasasti, penekanan sirine dan pelepasan merpati untuk meresmikan menara itu.

Jika masuk kedalam menara, akan terlihat data asta gatra, yang mencakup letak geografis, demografis dan kekayaan sumber daya alam sebagai trigatra. Sedangkan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam sebagai panca gatra. Menara Siger juga dilengkapi rungan tempat wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni serta keindahan panorama laut dan alam sekitar.

Menikmati pemandangan indah pantai ujung sumatra, menikmati keindahan matahari terbit dan tenggelam, dan mengetahui segala sesuatu tentang lampung menjadi daya tarik menara siger ini. Jika orang luar lampung pun ingin kesini, mengapa kita sebagai orang lampung tidak ingin singgah?.

Lampung, Sai Bumi Ruwa Jurai

SAI BUMI RUWA JURAI, semboyan itu tertulis di logo Provinsi Lampung. Apa arti dari semboyan tersebut? Dua golongan masyarakat yang berada dalam satu bumi.

Adalah Saibatin dan Pepadun. Saibatin dengan nilai Aristokrasi (Kedudukan adat hanya dapat diwariskan melalui garis keturunan) sedangkan Pepadun yang kental dengan nilai demokrasinya.

Saibatin, bermakna satu batin atau memiliki satu raja. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial dalam masyarakat adat Saibatin, hanya ada satu raja adat dalam setiap generasi kepemimpinan. Ciri lain masyarakat adat saibatin dapat dilihat dari perangkat yang digunakan dalam ritual adat. Salah satunya adalah bentuk siger (sigekh) atau mahkota pengantin Saibatin yang memiliki tujuh lekuk (sigokh lekuk pitu). Tujuh pucuk ini melambangkan tujuh adoq (Panggilan), yaitu sultan, raja, batin, radin, minak, kimas, dan mas.

Masyarakat adat Saibatin seringkali juga disebut Lampung Pesisir karena sebagian besar berada di sepanjang pantai timur, selatan dan barat. berdasarkan sumber yang didapatkan tim infolampung.com bahwa masyarakat adat Saibatin berada diwilayah: Labuhan Maringgai, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui.

Selain di Provinsi Lampung, Masyarakat adat Saibatin juga ada di empat kota di Provinsi Sumatra Selatan yaitu: Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung. Cikoneng di Pantai Banten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu.

Nama “Pepadun” berasal dari perangkat adat yang digunakan dalam prosesi Cakak Pepadun. Pepadun adalah bangku atau singgasana kayu yang merupakan simbol status sosial tertentu dalam keluarga. Prosesi pemberian gelar adat (Juluk Adok) dilakukan di atas singgasana ini.

Masyarakat adat yang lebih banyak berada di pedalaman Lampung ini berbeda dengan saibatin, mereka cenderung berkembang lebih demokratis. Status sosial dalam masyarakat pepadun tidak semata-mata ditentukan oleh garis keturunan. Selama orang tersebut dapat menyelenggarakan upacara adat Cakak Pepadun, gelar atau status sosial dapat diperoleh.

Daerah yang ditempati oleh masyarakat pepadun ini antar lain: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, Terbanggi, Menggala, Mesuji, Panaragan, Wiralaga, Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, Pugung, Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

Perbedaan masyarakat adat yang ada dilampung menambah keunikan dari lampung itu sendiri. Keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang memperkaya Lampung. Perbedaan bahasa yang membuat Lampung menjadi indah. Tidak akan terpecah, karena Lampung Sai, Sang Bumi Ruwa Jurai.

(dikutip dari beberapa sumber)

Rayuan Rindu Danau Ranau Lampung Barat

Waktu mendekati shubuh ketika kendaraan kami masuk ke perbatasan Kecamatan Sumberjaya, Lampung Barat. Hari masih gelap. Seorang kawan menyarankan untuk mematikan air conditioner. Dia meminta kami untuk membuka kaca mobil lebar-lebar. “Mari kita nikmati kesegaran udara perbatasan ini,” kata Firman, kawan kami yang sudah kerap melintasi kawasan itu. Udara sejuk dan menusuk tulang langsung menyeruak masuk ke ruang kabin mobil yang kami tumpangi. Lagi-lagi dia meminta kami untuk menhirup napas dalam-dalam. “Apa yang kalian rasakan?

Ugh, aroma bunga kopi. Harum semerbak menyeruak. Bunga kopi yang bermekaran menebarkan aroma relaksasi luar biasa. Memasuki bulan Maret hingga April, saatnya kopi di kawasan itu mulai berbunga. Massa-massa itu, petani di Sumberjaya berharap hujan dan angin kencang tak datang. Air hujan dan angin akan merontokkan bunga kopi. Tanaman kopi tak bisa berbuah optimal.

Petani Sumberjaya, kebanyakan menanam kopi robusta. Kopi yang telah menjadi andalan secara turun-temurun di kawasan itu. Kualitasnya sudah kondang hingga manca negara. Jika memasuki musim panen, sekitar bulan Juli dan Agustus, jalanan kampung akan dipenuhi biji kopi yang dijemur warga. Halaman rumah tidak lagi cukup menampung biji kopi yang telah dipetik. Kopi masih menjadi primadona warga Lampung Barat. Eksportir kopi bahkan sampai menempatkan “tangan-tangan” pengepul hingga ke pelosok kampung penghasil kopi. Mereka bersaing harga.

Malam hingga pagi menjelang, udara di kawasan itu terasa dingin menusuk. Suhu udara diperkirakan mencapai 15 derajat selsius di malam hari. Itu karena daerah itu berada di kaki Gunung Pesagi dan Bukit Barisan Selatan. Udara disini seperti di Puncak Bogor. Jalanan sempit, berkelok dan penuh turunan serta tanjakan itu berada tepat di tepi hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Pengendara harus waspada. Kawanan babi hutan dan gajah kerap  melintasi jalan itu.

Sektar pukul 07.45 WIB, kami memasuki kota Liwa. Pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Barat.Udara dingin menusuk tulang belum juga beranjak. Sesekali kabut tebal turun dari lereng bukit yang berselimutkan hutan lebat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Tapi, udara dingin menusuk tulang tidak menghalangi warga di kota itu memulai beraktivitas. Ekonomi sudah mengeliat. Mereka berkerumun di sejumlah titik untuk bertransaksi hasil bumi seperti kubis, tomat, petai, cabai hingga buah kelapa. Hasil bumi itu, akan dibawa ke kota-kota kecamatan sekitar seperti Bukit Kemuning dan Kotabumi di Lampung Utara, Baradatu dan Blambangan Umpu di Way Kanan. Bahkan hingga kota Bandar Lampung.

Dulu, sekitar tahun 1960-an, warga di Liwa dan sejumlah kecamatan di Lampung Barat harus berjalan kaki memanggul hasil bumi hingga ke Bukit Kemuning, Lampung Utara yang berjarak hampir 100 kilomter itu. Butuh dua hinga tiga hari mereka untuk menyusuri jalanan setapak penuh tanjakan itu. Akses ke Liwa mulai lancar setelah Zainal Abidin Pagaralam, Gubernur Lampung pertama membangun jalan. Menembus keterisoliran warga di Liwa dan Krui. “Dia tahu, potensi ekonomi dua kawasan itu luar biasa terutama dari hasil bumi,” kata Anshori Djausal, pakar kebudayaan Lampung.

Kami singgah di kota itu sebentar. Melepas lelah sambil menikmati kopi panas. Menurut sejarahnya, kota ini, pernah luluh lantak oleh gempa dahsyat pada tahun 1990. Ratusan nyawa melayang. Nyaris seluruh bangunan di kota ini rata dengan tanah. Kota ini menurut data di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Kotabumi berada di jalur gempa. Tepat di atas sesar Suoh. Goyangan lindu menjadi pernik kehidupan warga Liwa. Tak ada bangunan bertingkat.

Puas menyeruput kopi, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Ranau, yang berada di Pekon Lumbok, Kecamatan Sukau. Sepanjang perjalanan kami disuguhi hamparan ladang brokoli, tomat, kentang, wortel hingga kubis. Sekitar satu jam kemudian, kami sampai Pekon Lumbok, Kecamatan Sukau. Sebuah ngarai dengan latar Gunung Seminung dan Bukit Barisan Selatan menjadi lukisan sempurna. Di tengah ngarai itu, Danau Ranau berada. Sungguh elok.

Keelokan Danau Ranau membuat daya tarik bagi wisatawan untuk menyambangi tempat itu. Mereka biasanya berenang di sisi utara danau yang airnya sangat jernih berbalut deretan pohon kelapa di tebing pantai. Sisi utara yang kini dibangun sebuah resort mewah itu memang menawarkan pemandangan luar biasa.

Resort Lumbok Seminung dibangun oleh bekas Bupati Lampung Barat Erwin Nizar pada tahun 2007 lalu. Kabarnya, butuh Rp 20 milyar untuk membangun kawasan wisata yang kini menjadi andalan Lampung Barat itu. Di tengah halaman resort berdiri tegak batu Menhir. Sebuah batu jaman megalitikum.  Tidak banyak catatan sejarah yang menginformasikan keberadaan batu itu. Gelap. Biasanya di musim liburan pengunjung akan membludak atau bertepatan dengan festival pariwisata tertentu seperti Festival Lumbok, Festival Teluk Stabas hingga Festival Tanjung Setia.

Menatap keindahan danau, ada perasaan kangen bercampur trauma luar biasa bagi saya. Kunjungan saya yang terakhir, nyaris merenggut nyawa. Ketika itu, saya tengah asyik mengabadikan seorang penombak ikan di dalam danau dengan sebuah kamera genggam. Tak dinyana jung  atau perahu kathir yang kami tumpangi terbalik. Saya nyaris tenggelam ditelan air danau yang dipenuhi ganggang. Entahlah, kemampuan berenang seperti lenyap. Irsan, 24 tahun, seorang penyelam tradisional setempat cepat menyelamatkanku yang sudah mulai tenggelam ke dasar danau.

Rasanya saat itu saya sudah berada di alam lain. Hanya cahaya putih dan sayup-sayup suara aneh berdengung di telinga. Irsan dengan cekatan membawaku ke tepi danau. Entah berapa liter air danau telah tereguk. “Selamat, Bapak suatu saat akan kembali lagi ke danau ini. Bapak sudah merasakan air danau Ranau,” kata Irsan sambil cengengesan. Sialan.

Banyak cerita tentang tenggelamnya saya di danau itu. Semua dengan analisis berbeda-beda. Maklum masyarakat tradisional. Misalnya, saya mengeluarkan kata kotor saat berada di tengah danau, perahu yang saya tumpani tidak memiliki keseimbangan bagus, keseimbangan badan saya yang tidak bagus hingga penguasa danau marah karena membandingkan dengan tempat lain. Dia cemburu. Entahlah mana yang benar.

Tapi, alasan terakhir agaknya yang paling saya renungkan. Saat berada di tengah danau saya sempat berucap membandingkan keganasan danau Ranau dengan Sungai Mentaya di Kalimantan Tengah. “Ah saya pernah menyusuri sungai Mentaya yang memiliki arus lebih deras. Biasa saja tuh,” kata saya enteng. Anehnya, setelah kalimat itu meluncur, air danau yang tadinya tenang tiba-tiba bergelombang. Gelombang air langsung membalikan jung yang saya tumpangi. Agaknya saya sudah mulai percaya terhadap cerita mistis.

Danau Ranau dengan luas sekitar 154 kilometer persegi dimiliki oleh dua daerah. Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan dan Lampung Barat, Lampung. Meski begitu, pemerintah OKU Selatan lebih dulu mengembangkan Danau Ranau sebagai kawasan wisata andalan. Mungkin itu yang membuat Danau Ranau selaku disebut berada di Sumatera Selatan. Sebenarnya, dua kawasan itu adalah dua perspektif untuk menikmati keelokan Danau Ranau. Dari dua tempat itu Danau Ranau sama indahnya.

Menurut legenda, Danau Ranau terbentuk oleh gempa dahsyat dan letusan Gunung Seminung. Peristiwa itu membentuk cekungan besar. Aliran sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki Buki Barisan Selatan terus memenuhi cekungan itu dan membentuk sebuah danau. Di sekeliling danau yang tercipta secara alami itu, ditumbuhi banyak tanaman perdu. Salah satunya adalah tanaman Ranau yang menutupi sekeliling danau itu. “Maka dinamailah danau ini dengan Ranau,” kata Irsan yang hanya tamatan sekolah dasar itu.

Irsan adalah pemuda yang besar dari kekayaan danau. Sejak kecil dia sudah menggantungkan hidupnya dari mencari ikan di danau. Di siang hari dia menyelam dan memanah ikan mujair, harongan, kepiat dan kepor. Dua ikan disebut pertama merupakan primadona di danau Ranau. Pemuda dengan tubuh ceking itu bisa menyelam hingga lima belas menit di dasar danau untuk berburu ikan. “Saya selalu berburu ikan mujair. Harus bisa membaca persembunyian ikan,” katanya. Malamnya, dia biasa menombak ikan bersembunyi dibalik rimbunnya ganggang air tawar. Hanya berpenerangan lampu petromak.

Konon, kemampuan Irsan berburu ikan di dasar danau paling hebat. Belum pernah ada yang mengalahkan kemampuannya membidik ikan dengan panah sederhana di dalam air. Semua peralatan sangat sederhana. Kacamata, misalnya, bingkai atau frame-nya terbuat dari bambu. Sementara kaca terbuat dari plastik. “Anak panah dari jeruji roda sepeda motor,” katanya.

Menurut Irsan membidik ikan di dalam air sangat sulit. Penyelam harus berhati-hati karena ikan mujair yang berukuran hingga 5 hingga 15 kilogram atau seukuran batal tidur bisa menyerang dengan ganas. Seorang penyelam, kata dia, harus pandai membaca kapan ikan bidikan akan meyerang. “Jika sudah begitu, kami harus tenang. Tidak boleh melakukan tindakan yang mengejutkan ikan,” celoteh dia.

Belasan tahun menjalani profesi sebagai pemanah ikan, Irsan selalu menjadi kampiun perlombaan  berburu ikan di dalam air. Bahkan, para pemburu ikan dari OKU Selatan yang sengaja datang ketika ada hajatan lomba tak pernah berhasil megalahkannya.

Ikan mujair Danau Ranau terkenal memiliki rasa yang khas. Dagingnya sangat kenyal dan gurih. Berbeda dengan ikan mujair kebanyakan. Biasanya, para wisatawan belum sah ke danau ini kalau belum mencicipi ikan mujair bakar khas Pekon Lumbok. Mak Nyus dinikmati bersama nyeruit di pinggir danau.  Apalagi saat perut lapar usai berenang di air danau yang jernih. Nyeruit adalah cara menikmati sambal terasi yang dicampur dengan tempoyak atau buah durian dengan berbagai lalapan seperti pucuk daun jambu mete, kemangi, jinakh, terong bakar dan mentimun.

Uniknya, ikan bisa dipesan melaui para nelayan danau macam Irsan. Ukuran ikan tinggal dipilih. Warga setempat siap membakarkan ikan dan menyiapkan menu makan. Soal harga bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Apalagi kalau kita bisa menginap di salah satu rumah milik warga. Tinggal di rumah panggung di kampung adat Lumbok.

Danau Ranau pun menawarkan sejumlah keeksotikan lain. Pulau Marisa yang berada di tengah danau sering disamakan dengan Pulau Samosir di Danau Toba. Meski berukuran lebih kecil, di pulau itu terdapat sumber mata air panas dan air terjun. Cukup lima belas menit untuk menuju pulau itu dengan perahu. Harga sewa tergantung kita pandai menawar pada pemilik perahu.

Sehari saja tak cukup mencumbui kemolekan Ranau. Kerinduan akan selalu datang. Memanggil untuk mereguk air danau yang jernih.

 

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Danau Ranau di Lampung Barat terkenal keindahannya.

Danau Ranau di Lampung Barat terkenal keindahannya.

Suasana pagi di salah satu pantai Danau Ranau dengan nelayan yang baru menangkap ikan.

Suasana pagi di salah satu pantai Danau Ranau dengan nelayan yang baru menangkap ikan.

Rute ke Danau Ranau Lumbok

Danau Ranau yang berjarak sekitar 370 kilometer dari Bandar Lampung bisa ditempuh dengan perjalanan darat selama sekitar delapan jam. Kita bisa naik bus dari terminal Rajabasa Bandar Lampung jurusan Ranau. Tiket untuk kelas ekonomi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Turun di pertigaan Way Tanding, kita harus melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum yang akan mengantar langsung ke desa Lumbok. Lokasi Danau Ranau berada.

Atau jika tidak ingin ribet, sewa saja sebuah mobil. Banyak jasa penyewaan mobil di Bandar Lampung dengan berbagai tipe dengan tarif mulai Rp 350 ribu per hari. Rutenya dari Bandar Lampung ke arah Bukit Kemuning—Kota Liwa—Lumbok.

 

eMBe; Pantai Nan Indah dari Lampung Selatan

PANTAI eMBe terletak di Desa Merak Belantung, Kalianda, Jalan Trans Sumatera KM 45. Cukup mudah ditempuh dengan kendaraan bermotor, karena hanya tinggal mengikuti jalan trans sumatera dari Pelabuhan Bakaheuni dengan waktu tempuh hanya sekitar 35 menit dan butuh waktu sekitar 60 menit jika dari kota Bandar Lampung.

Setelah menjumpai papan reklame besar di tengah jalan dengan tulisan Grand Elty,  +500m Anda akan disambut oleh beberapa petugas yang akan menanyakan jumlah orang yang akan masuk, harga tiket masuk per orang sebesar Rp 20.000,-  sudah termasuk biaya toilet, parking dan asuransi jasa raharja.

“Cukup rindang dan sejuk karena pepohonan memenuhi kawasan pantai ini. Pasir putih pun menambah asri pemandangan laut biru yang lepas khas teluk. Tempat ini sangat cocok untuk menghabiskan waktu berkumpul dengan keluarga,” ujar Singgih, salah satu pengunjung yang berasal dari Bandar Lampung.

Tempat wisata ini dilengkapi oleh beberapa fasilitas seperti tempat parkir yang luas, mushola atau tempat ibadah, kedai dan pujasera, kamar kecil (WC). Bahkan kini tersedia fasilitas menarik, seperti:

Reguler Activity,

  • ATV 125 cc = Rp.40.000/10 menit
  • ATV 100 cc = Rp.35.000/10 menit
  • ATV 50 cc = Rp.25.000/10 menit
  • Biking = Rp.100.000/hari dan 25.000/jam
  • Voli dan futsal Pantai = Rp.30.000/jam
  • Banana boat = Rp.150.000-Rp.180.000/10 menit
  • Donat boat = Rp.150.000/10 menit
  • Flying fox = Rp.40.000/pax
  • High Rope = Rp.40.000/pax
  • Rent Amben/Bale-bale = Rp.25.000/hari
  • Fishing Bawian (tradisional) = Rp.25.000/hari
  • Cano = Rp.20.000/30 menit
  • Tenda Ranger (untuk menginap) = Rp.200.000-Rp.250.000

Package Activity,

  • PaintBall for 25shot (min. 20pax) = Rp.125.000/pax
  • Atv Adventure Junior = Rp.175.000/hari (Termasuk 1xSnack box, instruktur)
  • Atv Adventure Profesional = Rp.275.000/2 hari (Termasuk 1xMakan, 1xSnack box, Instruktur)
  • Trip Krakatau (min.10pax) = Rp.1.000.000/pax (Termasuk 1xMakan,1xsnack box, Kapal, Peralatan keselamatan, Instruktur, Asuransi)
  • Diving (min.10pax) = Rp.1.350.000/pax (Termasuk 1xMakan,1xsnack box, Kapal, Peralatan
    keselamatan, Instruktur, Asuransi)

“Pantai eMBe ini di ambil alih oleh Krakatoa Land Development pada 2009 sebelum akhirnya di Manajemen oleh Elty Krakatoa pada 2 Januari 2014,” ujar Baron, Coordinator Operations Pantai eMBe.

Agar Industri Tapis Lampung Tetap Berseri

Di kawasan Pasar Bambu Kuning, sedikitnya ada 30-an toko yang menjual berbagai jenis tapis dan produk turunnya seperti kopiah, tas, dompet, hiasan dinding hingga gantungan kunci. Harga yang ditawarkan pun relatif lebih murah dibanding harus ke butik atau gallery khusus tapis yang bisa dua hingga tiga kali lipat lebih mahal. Para penjual aneka jenis tapis, tapi lebih banyak jenis Pucuk Rebung, Mata Kibau dan Tenggelam di Laok Muncul di Gunung, itu menjajakan dengan harga bervariasi.

Harga selembar kain tapis di daerah itu bervariasi antara Rp 750 ribu hingga Rp 15 juta. Harga tergantung tingkat kerumitan dan jenis benang emas yang digunakan. Semakin rumit penyulaman dan banyak menggunakan benang emas, harga akan semakin tinggi. Sementara harga souvenir seperti dompet dijual bervariasi antara Rp 40 ribu – Rp 60 ribu, kopiah tapis Rp 35 ribu – Rp 175 ribu, dan gantungan kunci Rp 35 ribu – Rp 50 ribu.

Geliat bisnis aneka kerajinan Tapis itu dimulai pada awal tahun 1980-an. Di era itu, baru satu toko yang dimiliki Yuzbir, 75 tahun, menjual dan membeli tapis. Yuzbir hanya menjual tapis koleksi milik warga. Semakin tua dan terawat, pemilik Toko Ruwa Jurai itu bisa menghargai selembar tapis sangat mahal. “Tidak ada patokan harga. Dia minta berapa, saya menawar. Saat itu belum ada yang memproduksi kain tapis yang kemudian dijual bebas. Tapis masih dibuat untuk dipakai sendiri saat pernikahan,” kata Zulkifli Yuzbir, anak Yuzbir yang kini meneruskan usaha orang tuanya itu.

Pria kelahiran Padang itu mengaku kain tapis masih menjadi pemain utama bisnis kerajinan di Lampung. Kontribusi terhadap toko kerajinan dan batik khas Lampung bisa mencapai 30 persen dari item yang dijual. “Jumlah itu luar biasa mengingat kain tapis berbeda dengan kain songket yang bisa dipakai siapa saja. Kain tapis itu dipakai oleh kalangan dan event terbatas di masyarakat Lampung. Kuncinya pada perkembangan inovasi kain tapis itu sendiri,” ujarnya.

Peluang bisnis itu agaknya ditangkap oleh Aisyah Yakub, warga Natar Induk, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Dia membangun pusat kerajinan tapis dengan mempekerjakan puluhan orang. Bisnisnya sempat melambung seiring masyarakat Lampung yang mulai kehilangan koleksi kain tapis karena telah dijual ke kolektor. “Usahanya lalu redup karena tidak mendapat promosi dan bantuan pemerintah. Para pengrajin beralih profesi yang lebih cepat mendatangkan uang,” kata Nasrudin, salah seorang pengrajin di Desa Natar Induk, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Sejak awal 2000-an, bengkel tapis yang berada di tepi Jalan Lintas Sumatera itu berhenti beroperasi. Para pengrajin dirumahkan. Suara 40-an alat tenun tradisional yang menghentak-hentak kini tak terdengar lagi. Bisnis Tapis benar-benar suram. “Penyebabnya, cara pandang para pengrajin. Kebutuhan hidup dan harga bahan baku tapis seperti benang emas dan  bahan dasar kain tenun melonjak seiring melejitnya kurs Dolar Amerika. Semua bahan baku diimpor dari India,” kata Nasrudin.

Harga benang emas berada pada kisaran Rp 125 ribu – Rp 150 ribu per gulungnya. Sementara harga selembar kain tenun untuk bahan dasar tapis melambung hingga Rp 90 ribu dari Rp 50 ribu sebelumnya. Padahal untuk membuat selembar kain tapis dibutuhkan dua hingga tiga gulung benang emas. “Di sisi lain, para pengrajin mematok upah cukup tinggi. Mereka minta per lembarnya Rp 800 ribu. Itu wajar karena selembar bisa dikerjakan selama dua hingga tiga bulan,” kata Raswan, salah seorang desainer kain tapis terkemuka di Lampung.

Raswan, 48 tahun, merupakan peneliti dan desainer tapis yang mendobrak kebekuan bisnis tapis. Dia menciptakan banyak motif yang lama mati dan sulit untuk diproduksi kembali. Misalnya, dia kembali mereproduksi kain Tapis Inuh dan Cucuk Andak, yang merupakan jenis kain tapis tertua di Lamung. Kedua jenis tapis itu nyaris punah karena tingkat kesulitan penyulaman yang begitu tinggi.

Untuk membuat tapis yang dikenal di masyarakat Lampung Pesisir, pengrajin harus menyulam kain dengan tanpa bantuan benang lain. Benang emas ditusuk langsung ke kain sehingga resiko benang putus dan keluar dari pola menjadi tantangan tersendiri. “Jarang sekali kedua jenis Tapis itu dikerjakan sangat rapih karena membutuhkan ketelitian cukup tinggi. Masyarakat kita dulu mampu melakukannya. Itu luar biasa,” kata pria bergelar adat Pangiran Setia.

Tapis, kata Raswan, bagi masyarakat Lampung sangat kental dengan filosofi hidup dan keyakinan. Diperkirakan Tapis sudah diproduksi masyarakat Lampung sejak Abad ke-2 Sebelum Masehi. Para gadis atau Muli Lampung, dulu menyulam selembar kain tapis bisa membutuhkan waktu empat tahun. “Biasanya dimulai saat berusia 12 tahun. Selembar kain yang diciptakannya itulah yang akan ia kenakan saat menikah kelak,” katanya.

Meski melewati berbagai jaman mulai dari Animisme dan Dinamisme, era Hindu dan Budha hingga budaya Islam, motif tapis tidak banyak berubah. Di massa pra sejarah dan era Hindu dan Budha, Tapis lebih banyak digunakan untuk upacara persembahan. “Sementara pada era Islam, fungsinya berubah menjadi pelengkap upacara adat. Sehingga jenis tapis yang dikenakan oleh kaum perempuan saat pesta adat menentukan tingkat sosial seseorang di tengah komunitasnya,” ujarnya.

Motif Tapis mempunyai dua kutub utama dengan perbedaan yang mencolok seperti dua kelompok masyarakat di Lampung, Saibatin (Lampung Pesisir, Peminggir) dan Pepadun (pedalaman). Kedua klan itu kemudian lebih dikenal dengan sebutan Khua Jurai (dua keturunan). Orang Lampung Saibatin lebih menyukai motive yang berhubungan dengan laut seperti kapal Nabi Nuh (Tapis Inuh), jung, kepiting, cumi dan ikan karena hidup dan bersahabat dengan laut. Sementara masyarakat Pepadun yang berada di pedalaman lebih menyukai kehidupan  naga (Tapis Gala Naga), gajah (Tapis Gajah Mekhem) dan sebaginya.

Diperkirakan ada sekitar 300-an motif tapis yang berkembang di tengah masyarakat Lampung di massa lalu. Saat ini, para pengrajin baru mampu mereproduksi tidak lebih dari 50 motif dan jenis tapis. “Ketelatenan, kesabaran dan jiwa berkesenian yang tingga membuat nenek moyang kami mampu menciptakan karya seni yang tinggi.  Mereka rela menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk selembar kain tapis,” katanya.

Meredupnya bisnis tapis, kata Raswan, lebih disebabkan oleh sumber daya manusia dan pandangan soal bisnis. Banyak pengrajin yang beralih ke profesi lain karena sangat sulit menggantungkan hidup dengan hanya menjadi penyulam tapis. “Di massa lalu perempuan menyulam karena mempunyai harapan dan keyakinan yang sangat tinggi sementara saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup atau ekonomis,” katanya.

Perkembangan bisnis tapis yang kemudian diaplikasikan ke berbagai bentuk kerajinan tangan membuat gairah “menapis” kembali membuncah. Selembar kain berukuran 1,6 meter kali 1,2 meter bisa menghasilkan berbagai kerajinan dengan tingkat perputran uang yang cepat. “Itu sangat positif di samping mengancam nilai keluhuran filosofi kain tapis itu sendiri. Bisnis boleh tapi tidak lantas menjadi murahan. Karya seni harus tetap dijaga,” katanya.

Upaya membangkitkan kembali industri tapis agar dikenal ke masyarakat luas seperti manca negara juga dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Lampung. Setiap perhelatan Festival Krakatau yang sudah berlangsung ke dua puluh tiga kali, aneka karya seni kain tapis kerap dipamerkan. Di agenda mengenang letusan Gunung Krakatau itu, tapis selalu menjadi bagian penting dengan digelarnya Tapis Carnival.