Rayuan Rindu Danau Ranau Lampung Barat

Waktu mendekati shubuh ketika kendaraan kami masuk ke perbatasan Kecamatan Sumberjaya, Lampung Barat. Hari masih gelap. Seorang kawan menyarankan untuk mematikan air conditioner. Dia meminta kami untuk membuka kaca mobil lebar-lebar. “Mari kita nikmati kesegaran udara perbatasan ini,” kata Firman, kawan kami yang sudah kerap melintasi kawasan itu. Udara sejuk dan menusuk tulang langsung menyeruak masuk ke ruang kabin mobil yang kami tumpangi. Lagi-lagi dia meminta kami untuk menhirup napas dalam-dalam. “Apa yang kalian rasakan?

Ugh, aroma bunga kopi. Harum semerbak menyeruak. Bunga kopi yang bermekaran menebarkan aroma relaksasi luar biasa. Memasuki bulan Maret hingga April, saatnya kopi di kawasan itu mulai berbunga. Massa-massa itu, petani di Sumberjaya berharap hujan dan angin kencang tak datang. Air hujan dan angin akan merontokkan bunga kopi. Tanaman kopi tak bisa berbuah optimal.

Petani Sumberjaya, kebanyakan menanam kopi robusta. Kopi yang telah menjadi andalan secara turun-temurun di kawasan itu. Kualitasnya sudah kondang hingga manca negara. Jika memasuki musim panen, sekitar bulan Juli dan Agustus, jalanan kampung akan dipenuhi biji kopi yang dijemur warga. Halaman rumah tidak lagi cukup menampung biji kopi yang telah dipetik. Kopi masih menjadi primadona warga Lampung Barat. Eksportir kopi bahkan sampai menempatkan “tangan-tangan” pengepul hingga ke pelosok kampung penghasil kopi. Mereka bersaing harga.

Malam hingga pagi menjelang, udara di kawasan itu terasa dingin menusuk. Suhu udara diperkirakan mencapai 15 derajat selsius di malam hari. Itu karena daerah itu berada di kaki Gunung Pesagi dan Bukit Barisan Selatan. Udara disini seperti di Puncak Bogor. Jalanan sempit, berkelok dan penuh turunan serta tanjakan itu berada tepat di tepi hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Pengendara harus waspada. Kawanan babi hutan dan gajah kerap  melintasi jalan itu.

Sektar pukul 07.45 WIB, kami memasuki kota Liwa. Pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Barat.Udara dingin menusuk tulang belum juga beranjak. Sesekali kabut tebal turun dari lereng bukit yang berselimutkan hutan lebat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Tapi, udara dingin menusuk tulang tidak menghalangi warga di kota itu memulai beraktivitas. Ekonomi sudah mengeliat. Mereka berkerumun di sejumlah titik untuk bertransaksi hasil bumi seperti kubis, tomat, petai, cabai hingga buah kelapa. Hasil bumi itu, akan dibawa ke kota-kota kecamatan sekitar seperti Bukit Kemuning dan Kotabumi di Lampung Utara, Baradatu dan Blambangan Umpu di Way Kanan. Bahkan hingga kota Bandar Lampung.

Dulu, sekitar tahun 1960-an, warga di Liwa dan sejumlah kecamatan di Lampung Barat harus berjalan kaki memanggul hasil bumi hingga ke Bukit Kemuning, Lampung Utara yang berjarak hampir 100 kilomter itu. Butuh dua hinga tiga hari mereka untuk menyusuri jalanan setapak penuh tanjakan itu. Akses ke Liwa mulai lancar setelah Zainal Abidin Pagaralam, Gubernur Lampung pertama membangun jalan. Menembus keterisoliran warga di Liwa dan Krui. “Dia tahu, potensi ekonomi dua kawasan itu luar biasa terutama dari hasil bumi,” kata Anshori Djausal, pakar kebudayaan Lampung.

Kami singgah di kota itu sebentar. Melepas lelah sambil menikmati kopi panas. Menurut sejarahnya, kota ini, pernah luluh lantak oleh gempa dahsyat pada tahun 1990. Ratusan nyawa melayang. Nyaris seluruh bangunan di kota ini rata dengan tanah. Kota ini menurut data di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Kotabumi berada di jalur gempa. Tepat di atas sesar Suoh. Goyangan lindu menjadi pernik kehidupan warga Liwa. Tak ada bangunan bertingkat.

Puas menyeruput kopi, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Ranau, yang berada di Pekon Lumbok, Kecamatan Sukau. Sepanjang perjalanan kami disuguhi hamparan ladang brokoli, tomat, kentang, wortel hingga kubis. Sekitar satu jam kemudian, kami sampai Pekon Lumbok, Kecamatan Sukau. Sebuah ngarai dengan latar Gunung Seminung dan Bukit Barisan Selatan menjadi lukisan sempurna. Di tengah ngarai itu, Danau Ranau berada. Sungguh elok.

Keelokan Danau Ranau membuat daya tarik bagi wisatawan untuk menyambangi tempat itu. Mereka biasanya berenang di sisi utara danau yang airnya sangat jernih berbalut deretan pohon kelapa di tebing pantai. Sisi utara yang kini dibangun sebuah resort mewah itu memang menawarkan pemandangan luar biasa.

Resort Lumbok Seminung dibangun oleh bekas Bupati Lampung Barat Erwin Nizar pada tahun 2007 lalu. Kabarnya, butuh Rp 20 milyar untuk membangun kawasan wisata yang kini menjadi andalan Lampung Barat itu. Di tengah halaman resort berdiri tegak batu Menhir. Sebuah batu jaman megalitikum.  Tidak banyak catatan sejarah yang menginformasikan keberadaan batu itu. Gelap. Biasanya di musim liburan pengunjung akan membludak atau bertepatan dengan festival pariwisata tertentu seperti Festival Lumbok, Festival Teluk Stabas hingga Festival Tanjung Setia.

Menatap keindahan danau, ada perasaan kangen bercampur trauma luar biasa bagi saya. Kunjungan saya yang terakhir, nyaris merenggut nyawa. Ketika itu, saya tengah asyik mengabadikan seorang penombak ikan di dalam danau dengan sebuah kamera genggam. Tak dinyana jung  atau perahu kathir yang kami tumpangi terbalik. Saya nyaris tenggelam ditelan air danau yang dipenuhi ganggang. Entahlah, kemampuan berenang seperti lenyap. Irsan, 24 tahun, seorang penyelam tradisional setempat cepat menyelamatkanku yang sudah mulai tenggelam ke dasar danau.

Rasanya saat itu saya sudah berada di alam lain. Hanya cahaya putih dan sayup-sayup suara aneh berdengung di telinga. Irsan dengan cekatan membawaku ke tepi danau. Entah berapa liter air danau telah tereguk. “Selamat, Bapak suatu saat akan kembali lagi ke danau ini. Bapak sudah merasakan air danau Ranau,” kata Irsan sambil cengengesan. Sialan.

Banyak cerita tentang tenggelamnya saya di danau itu. Semua dengan analisis berbeda-beda. Maklum masyarakat tradisional. Misalnya, saya mengeluarkan kata kotor saat berada di tengah danau, perahu yang saya tumpani tidak memiliki keseimbangan bagus, keseimbangan badan saya yang tidak bagus hingga penguasa danau marah karena membandingkan dengan tempat lain. Dia cemburu. Entahlah mana yang benar.

Tapi, alasan terakhir agaknya yang paling saya renungkan. Saat berada di tengah danau saya sempat berucap membandingkan keganasan danau Ranau dengan Sungai Mentaya di Kalimantan Tengah. “Ah saya pernah menyusuri sungai Mentaya yang memiliki arus lebih deras. Biasa saja tuh,” kata saya enteng. Anehnya, setelah kalimat itu meluncur, air danau yang tadinya tenang tiba-tiba bergelombang. Gelombang air langsung membalikan jung yang saya tumpangi. Agaknya saya sudah mulai percaya terhadap cerita mistis.

Danau Ranau dengan luas sekitar 154 kilometer persegi dimiliki oleh dua daerah. Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan dan Lampung Barat, Lampung. Meski begitu, pemerintah OKU Selatan lebih dulu mengembangkan Danau Ranau sebagai kawasan wisata andalan. Mungkin itu yang membuat Danau Ranau selaku disebut berada di Sumatera Selatan. Sebenarnya, dua kawasan itu adalah dua perspektif untuk menikmati keelokan Danau Ranau. Dari dua tempat itu Danau Ranau sama indahnya.

Menurut legenda, Danau Ranau terbentuk oleh gempa dahsyat dan letusan Gunung Seminung. Peristiwa itu membentuk cekungan besar. Aliran sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki Buki Barisan Selatan terus memenuhi cekungan itu dan membentuk sebuah danau. Di sekeliling danau yang tercipta secara alami itu, ditumbuhi banyak tanaman perdu. Salah satunya adalah tanaman Ranau yang menutupi sekeliling danau itu. “Maka dinamailah danau ini dengan Ranau,” kata Irsan yang hanya tamatan sekolah dasar itu.

Irsan adalah pemuda yang besar dari kekayaan danau. Sejak kecil dia sudah menggantungkan hidupnya dari mencari ikan di danau. Di siang hari dia menyelam dan memanah ikan mujair, harongan, kepiat dan kepor. Dua ikan disebut pertama merupakan primadona di danau Ranau. Pemuda dengan tubuh ceking itu bisa menyelam hingga lima belas menit di dasar danau untuk berburu ikan. “Saya selalu berburu ikan mujair. Harus bisa membaca persembunyian ikan,” katanya. Malamnya, dia biasa menombak ikan bersembunyi dibalik rimbunnya ganggang air tawar. Hanya berpenerangan lampu petromak.

Konon, kemampuan Irsan berburu ikan di dasar danau paling hebat. Belum pernah ada yang mengalahkan kemampuannya membidik ikan dengan panah sederhana di dalam air. Semua peralatan sangat sederhana. Kacamata, misalnya, bingkai atau frame-nya terbuat dari bambu. Sementara kaca terbuat dari plastik. “Anak panah dari jeruji roda sepeda motor,” katanya.

Menurut Irsan membidik ikan di dalam air sangat sulit. Penyelam harus berhati-hati karena ikan mujair yang berukuran hingga 5 hingga 15 kilogram atau seukuran batal tidur bisa menyerang dengan ganas. Seorang penyelam, kata dia, harus pandai membaca kapan ikan bidikan akan meyerang. “Jika sudah begitu, kami harus tenang. Tidak boleh melakukan tindakan yang mengejutkan ikan,” celoteh dia.

Belasan tahun menjalani profesi sebagai pemanah ikan, Irsan selalu menjadi kampiun perlombaan  berburu ikan di dalam air. Bahkan, para pemburu ikan dari OKU Selatan yang sengaja datang ketika ada hajatan lomba tak pernah berhasil megalahkannya.

Ikan mujair Danau Ranau terkenal memiliki rasa yang khas. Dagingnya sangat kenyal dan gurih. Berbeda dengan ikan mujair kebanyakan. Biasanya, para wisatawan belum sah ke danau ini kalau belum mencicipi ikan mujair bakar khas Pekon Lumbok. Mak Nyus dinikmati bersama nyeruit di pinggir danau.  Apalagi saat perut lapar usai berenang di air danau yang jernih. Nyeruit adalah cara menikmati sambal terasi yang dicampur dengan tempoyak atau buah durian dengan berbagai lalapan seperti pucuk daun jambu mete, kemangi, jinakh, terong bakar dan mentimun.

Uniknya, ikan bisa dipesan melaui para nelayan danau macam Irsan. Ukuran ikan tinggal dipilih. Warga setempat siap membakarkan ikan dan menyiapkan menu makan. Soal harga bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Apalagi kalau kita bisa menginap di salah satu rumah milik warga. Tinggal di rumah panggung di kampung adat Lumbok.

Danau Ranau pun menawarkan sejumlah keeksotikan lain. Pulau Marisa yang berada di tengah danau sering disamakan dengan Pulau Samosir di Danau Toba. Meski berukuran lebih kecil, di pulau itu terdapat sumber mata air panas dan air terjun. Cukup lima belas menit untuk menuju pulau itu dengan perahu. Harga sewa tergantung kita pandai menawar pada pemilik perahu.

Sehari saja tak cukup mencumbui kemolekan Ranau. Kerinduan akan selalu datang. Memanggil untuk mereguk air danau yang jernih.

 

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Pemanah ikan di Danau Ranau Lampung Barat terkenal dengan daya tahan di dalam air saat menyelam.

Danau Ranau di Lampung Barat terkenal keindahannya.

Danau Ranau di Lampung Barat terkenal keindahannya.

Suasana pagi di salah satu pantai Danau Ranau dengan nelayan yang baru menangkap ikan.

Suasana pagi di salah satu pantai Danau Ranau dengan nelayan yang baru menangkap ikan.

Rute ke Danau Ranau Lumbok

Danau Ranau yang berjarak sekitar 370 kilometer dari Bandar Lampung bisa ditempuh dengan perjalanan darat selama sekitar delapan jam. Kita bisa naik bus dari terminal Rajabasa Bandar Lampung jurusan Ranau. Tiket untuk kelas ekonomi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Turun di pertigaan Way Tanding, kita harus melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum yang akan mengantar langsung ke desa Lumbok. Lokasi Danau Ranau berada.

Atau jika tidak ingin ribet, sewa saja sebuah mobil. Banyak jasa penyewaan mobil di Bandar Lampung dengan berbagai tipe dengan tarif mulai Rp 350 ribu per hari. Rutenya dari Bandar Lampung ke arah Bukit Kemuning—Kota Liwa—Lumbok.

 

5 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *