Dua Sahabat Menyusuri Memori di Kampus Malahayati

BERNAMA lengkap Kriscandra Satria, ia biasa disapa Candra. Bagi Universitas Malahayati, pria periang ini tentu saja membanggakan, maklum ia adalah salah satu anggota Tim Dokter Kepresidenan yang bertugas pada Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Tentu saja dokter-dokter pilihan yang bisa berada di lingkaran utama negeri ini. Candra juga bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, dan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Pusat.

Hari itu, Senin 5 Oktober 2015, setelah berdiskusi singkat dengan tim redaksi malahayati.ac.id melalui sambungan selular, ia menyatakan kerinduannya pada kampus tempat ia menimba ilmu kedokteran. “Bagaimanapun jaket saja berwarna hijau,” kata Candra menyebut warna jaket ciri khas Universitas Malahayati.

Sebelumnya, Candra sudah berdiskusi dengan Dahlan Gunawan yang juga dokter alumni Universitas Malahayati. Dahlan adalah Ketua Lembaga Penjamin Mutu Internal Universitas Batam. Kandidat doktor (S3) Universitas Negeri Jakarta ini pernah menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Batam. Ia kini pengurus IDI Wilayah Kepulauan Riau.

Candra dan Dahlan satu angkatan, mereka lulus dari Universitas Malahayati pada 2001.

Akhirnya, Candra dan Dahlan sepakat bersama-sama berkunjung ke kampus. Tentu dari tempat yang berbeda. Candra terbang dari Jakarta, Dahlan dari Batam. Pagi-pagi, Selasa 6 Oktober 2015, keduanya tiba di Bandar Lampung, mereka langsung ke kampus. Bahkan keduanya tidur di asrama Green Dormitory, Universitas Malahayati.

Mereka berdua memiliki waktu dua hari dua malam untuk menyusuri memori di Kampus Universitas Malahayati.

***

1aCANDRA dan Dahlan bertemu di kantin Kabara yang berada di kompleks kampus. Duduk semeja mereka bercerita tentang kegiatan masing-masing selama berpisah. “Saya sudah lima tahun tak berkunjung ke sini, sangat banyak perubahan kampus kita ya,” kata Candra yang dijawab dengan anggukan dan senyum lebar Dahlan.

Belum lagi menurunkan tasnya dari mobil jemputan, Candra sudah tak sabar mengajak Dahlan berkeliling kampus yang luasnya 84 hektar ini.  “Kita juga lihat asrama tempat kita tinggal dulu ya,” kata Candra. Dahlan menyarankan untuk melihat fasilitas kampus dulu. “Nanti dari sana kita ke asrama putra”. Candra mengangguk.

Lalu, mereka berdua beranjak dari kursi kantin menapaki tangga menuju lantai tujuh Gedung Terpadu Universitas Malahayati. Di sini mereka menyusuri berbagai fasilitas kampus. Di antaranya adalah Laboratorium Kedokteran.

“Wah sudah seperti ini sekarang, luar biasa. Masih ingat kan kita dulu meminta fasilitas untuk kedokteran, nah sekarang sudah tersedia. Mudah-mudahan adik-adik kita bisa memanfaatkan fasilitas ini dengan baik,” kata Candra.

Dahlan yang mimang sudah beberapa kali berkunjung ke Universitas Malahayati bertindak menjadi penunjuk jalan. Selain itu, ia menjelaskan tentang berbagai fungsi laboratorium itu.  Puas melihat-lihat fasilitas ini, Dahlan mengajak rekan akrabnya ini ke lantai delapan, tempat perpustakaan berada.

Memasuki ruang perpustakaan, Candra terkesima melihat pemandangan di depan matanya. “Bisa seperti ini ya perpustakaan kita,” Candra menyeletuk. Matanya menyapu seluruh ruang perpustakaan yang luasnya hampir satu hektar ini. Di sini berjejer rak buku yang diapit rumah-rumah adat dari berbagai suku di Indonesia. “Baru kali ini saya melihat perpustakaan seperti ini,” katanya.

Lalu, ia memgajak Dahlan untuk selfie di ruang perpustakaan. “Saya sungguh bangga, dan ingin memamerkan seperti apa sebetulnya kampus kita ini kepada siapapun yang saya jumpa,” kata Candra. Mereka berfoto-foto di dalam perpustakaan.  Setelah itu, Candra menelusuri lorong-lorong rak buku. Ia melihat-lihat koleksi buku di dalam perpustakaan ini.

***

POHON-pohon sawo tumbuh rindang di asrama putra kampus Universitas Malahayati. Telah berhias buah yang terselib di sela-sela rimbunnya dedaunan. Candra dan Dahlan memandang gedung berwarna hijau bertingkat tiga ini. Tak jauh dari gedung ada kolam renang, beberapa pemuda sedang bercebur dan berenang.

Tanpa istirahat, walau sudah dua jam menyelusuri fasilitas di gedung terpadu Universitas Malahayati, Candra dan Dahlan sudah berada menuju asrama putra. Di lapangan basket, Candra minta difoto. “Ini tempat kita beraktivitas dulunya, olah raga juga ngeband di sini,” katanya.

Selanjutnya mereka berdua menuju ke asrama putra. Candra dan Dahlan masuk dan menuju lantai satu. Dahlan menunjuk kamarnya dulu yang nomor delapan, dan Candra berada di kamar nomor 10. Dua kamar yang berada dalam satu lorong. “Jika malam malah seringnya kami tidur di ruang luar kamar dan menonton televisi bersama-sama teman yang lain di asrama,” ujar Dahlan.

Tentu ada romantika cerita bagi mereka berdua di asrama ini. Mulai dari cerita air yang meluap di masa itu, hingga ke cerita asmara yang tertinggal. Tak lupa Candra minta difoto di depan pintu kamar tidurnya ketika masih mahasiswa dulu.

***

1dCANDRA dan Dahlan sedang duduk di Kabara saat pesan singkat dari Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, mengucapkan selamat datang kepada keduanya. Lalu, keduanya menuju ke ruang rektor.

Kadafi menerima kedatangan dua alumni ini dengan wajah yang sumringah. “Terimakasih sudah datang ke sini,” kata Kadafi sembari mengulurkan tangan menyalami Candra dan Dahlan.

Di sinilah Kadafi mengutarakan pentingnya para alumni untuk menghiraukan kampusnya. “Sebab bagaimana pun para alumni yang tersebar ke seluruh pelosok negeri adalah cerminan wajah kampus kita juga,” kata Kadafi. “Alumni juga yang menjadi perekat antar sesama kita, dan juga menjadi jejaring kampus dalam membina adik-adiknya di sini.”

Sebagai alumni, Candra dan Dahlan menyatakan kesediaannya untuk terus membantu kampusnya. Selain itu, Candra dan Dahlan juga berterimakasih kepada rektor yang telah membangun kampus begini lengkapnya. “Ini sangat membantu adik-adik kami dalam menimba ilmu di sini,” kata Candra.

Selanjutnya, mereka tentu saja bercerita tentang perjalanan hidupnya masing-masing. Suasana percakapan berlangsung dengan akrab. Kepada alumni, Kadafi memesan untuk sering-sering berkunjung ke kampus. “Kita juga berharap lahirnya ide-ide kreatif yang bermanfaat bagi semuanya dari para alumni,” kata Kadafi.

Mereka bertiga terlibat diskusi yang serius hingga memakan waktu dua jam.

***

KEGIATAN Candra dan Dahlan yang tak terencana ini ternyata kemudian bertambah. Semula hanya bernostalgia berlanjut ke pertemuan dengan para mahasiswa di malam harinya. Lalu kuliah umum pada Rabu 7 Oktober 2015. []

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *