Menyambangi Hutan Kera di Tengah Kota Bandar Lampung

MENYAKSIKAN hutan yang dihuni ratusan kera liar di tengah  padatnya permukiman kota barangkali merupakan pemandangan yang langka. Di Bandar Lampung, kita bisa menyaksikan berbagai polah binatang berekor panjang tersebut secara gratis. Mudah dijangkau dan murah. Hewan bernama latin macaca fascicularis itu berkembang baik di Kawasan Hutan Kera Kota di Umbul Tirtosari, Telukbetung Utara Bandar Lampung.

Jangan membayangkan Kawasan Hutan Kera Tirtosari itu seperti hutan pada umumnya. Hutan dengan luas tak lebih dari tiga hektar itu adalah lahan berupa lereng bukit milik Pemerintah Kota Bandar Lampung. Aneka pohon seperti akasia, rambutan, mentru, sengon berdiri menjulang diselingi pohon-pohon perdu. Meski begitu, kondisi alam yang masih asri bisa membuat kita merasakan “dunia lain” di hiruk pikuk bising kota. Kita masih bisa menikmati kesejukan dan rindang pohon yang melepaskan oksigen di siang hari. Ada keheningan di tengah bising angkuh kota.

Tepat di bawah kawasan  hutan yang berbentuk lereng curam itu, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering di musim kemarau. Warga di sekitar kawasan itu sangat bergantung pada sumber mata air itu. Mereka mandi, mengambil air untuk memasak dan mencuci di tempat itu.

Untuk menikmati suasana hutan di tengah kota ini, hanya butuh lima menit dari pusat kota jika ditempuh dengan kendaraan pribadi. Kawasan wisata ini juga bisa ditempuh dengan angkutan umum jurusan Tanjungkarang—Telukbetung. Cukup membayar Rp 3000. Turun di pertigaan Sarijo, Jalan Diponegoro kita harus melanjutkan perjalanan dengan naik ojek dengan ongkos Rp 5 ribu. Jika kita hobi berjalan kaki, rasanya tidak terlalu jauh dari pertigaan itu, sekitar 1,5 kilometer saja.

Sebelum disambut ratusan kera, di tempat ini ada kolam pemancingan yang selalu ramai dikunjungi penghobi mancing. Mungkin karena tempatnya yang dikelilingi pohon bambu yang tertata asri membuat para pemancing itu betah. Terlebih di akhir pekan. Mereka bisa sehariang di tempat itu menanti sambaran ikan nila, gurame, lele hingga patin.

Kawasan Huta Kera Tirtosari sebelumnya tidak terlalu dikenal. Nama Hutan Kera sendiri baru populer akhir tahun 1990-an seiring berkembangnya habitat kera ekor panjang di kawasan ini. Sekarang sedikitnya 300-an ekor kera ekor panjang menghujni kawasan seluas sekitar 3 hektar. Kera-kera itu mencari makan seperti buah-buahan, daun, jamur dan umbi-umbian yang memang sengaja ditanam warga sekitar. Mereka hidup berkelompok dengan anggota 3 hingga 20 ekor.

Asal usul kera ini bermula pada tahun 1986 lalu. Adalah  Bagio, 50 tahun, warga di sekitar kawasan yang tidak sengaja melepas kera piaraannya ke tengah hutan itu. Dua ekor betina itu dilepasliarkan setelah berulangkali menyerang dan melukai tetangganya. Tidak lama berselang, seorang warga juga melepasliarkan seekor kera jantan. “Mereka ternyata berkembang biak di hutan. Kami sempat kaget karena ternyata hutan yang dulunya hanya tempat warga untuk mengambil air dihuni puluhan kera,” kata Bagio saat ditemua malahayati. ac.id akhir pekan lalu.

Perkembangan pesat kera ekor panjang itu membuat persoalan sendiri. Hutan tidak menyediakan cukup makanan. Jadilah kera-kera itu keluar kawasan dan mencari makan ke rumah penduduk. Warga yang resah kemudian memutuskan untuk membasmi kera itu. “Saya menentang. Kera-kera itu ngacak ke rumah penduduk karena kelaparan. Di hutan tidak  cukup makanan. Saya kemudian menanami hutan itu dengan aneka tanaman yang bisa menjadi sumber makanan untuk kera itu,” katanya.

Sudah hampir 20 tahun Bagio memberi makan kera itu. Setiap pagi dan sore bagio menyediakan pisang, singkong dan makanan apa saja untuk kera-kera itu. Kedekatan itu membuat Bagio mempunyai cara unik memanggil ratusan kera untuk turun dari hutan. “Eneeeeeeeeennn,..eneeeeennnnn, eneeeennn! Bagio berteriak nyaring memanggil. Ajaib, tidak berselang lama, ratusan kera turun mengerubutinya.

Kalau sudah begini, Bagio harus menyediakain makanan. Jangan sekali-kali memanggil dengan tangan hampa. Kera-kera itu akan ngamuk dan mendatangi rumah Bagio yang hanya berjarak lima ratus meter dari kawasan hutan itu. Rumahnya bisa diacak-acak. “Enen” merupakan panggilan kesayangan Bagio untuk salah seekor kera yang pada tahun 1986 lalu dilepasliarkan. “Ternyata keturunan kera itu tetap melestarikan, hahaha,” kata dia sambil tertawa lepas.

Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat Bagio keteteran memberi makan ratusan hewan yang biasa dieksploitasi menjadi “topeng monyet”. Lelaki itu hanya mengandalkan warung kelontong dan dua petak kolam pemancingan. Kondisi itu membuat Bagio akan memasang “tarif” jika ada pengunjung meminta dipanggilkan monyet dari hutan. “Cukup dua sisir pisang atau dua kilo kacang,” katanya.

Sebenarnya kera-kera itu mendapat bantuan Rp 20 juta dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. Uang itu diberikan setiap tahun sekali. Dengan anggaran sebesar itu Bagio dan kelompok Sadar Wisata Tirtosari, hutan dan kera harus tetap lestari. []

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *