Ulun Lappung?

MENGAMATI tentang sejarah Lampung memang terkadang menggelitik rasa keingintahuan kita. Membayangkan tentang kehidupan ketika zaman kerajaan, tentang bagaimana seorang raja memerintah dan yang paling mendasar adalah asal usul orang lampung itu sendiri.

Berbagai versi sering kita dengar tentang asal usul orang lampung, baik itu yang dapat diterima oleh logika maupun yang tak masuk diakal. Mengenai asal-usul Ulun Lappung (orang Lampung), ada beberapa teori yang berkembang. Dikutip dari Buku “Sejarah Kesultanan Paksi Pak Sekala Brak” yang ditulis oleh Safari Daud, S.Ag.,M.Sos dan kawan-kawan.

Teori pertama dikemukakan Broesma dari legenda yang dimuat dalam buku Sejarah Majapahit bahwa Tuhan menurunkan orang pertama di bumi bernama Sang Dewa Senembahan dan Widodari Sinuhun. Mereka inilah yang menurunkan Si Jawa Ratu Majapahit, Si Pasundang Ratu Pajajaran, dan Si Lampung Ratu Balau.

Lampung menurutnya berarti “terapung di air”. Sampai sekarang suku Lampung Pubian masih mempercayai mitos bahwa nenek moyang mereka adalah Si Lampung. (Bunga Rampai Adat Budaya Jilid I, 1973, hlm. 3)

Teori Kedua berasal dari legenda Tapanuli (Batak), bahwa saat gunung berapi di Tapanuli meletus dan mengakibatkan terbentuknya Danau Toba, ada empat orang bersaudara yang meninggalkan Tapanuli dan berlayar dengan rakit. Salah seorang empat bersaudara tersebut yang bernama Ompung-Silamponga terdampar di Krui, kemudian naik ke dataran tinggi yang disebut Dataran Tinggi Belalau atau Sekala Brak atau Gunung Pesagi.

Dari atas gunung ini, dilihatnya daerah yang terhampar luas dan menawan hati, lalu dengan perasaan kagum ia meneriakkan kata Lappung yang dalam bahasa Tapanuli berarti luas. Hingga kini, suku Lampung asli. Teori ini diperkuat dengan adanya kesamaan antara aksara Lampung dan aksara Batak.

Teori ketiga dikemukakan oleh Hilman Hadikusuma dalam risalah triwulan Bunga Rampai Adat Budaya No. 2 Tahun II terbitan Fakultas Hukum UNILA, dengan mengutip Kuntara Raja Niti (Abung) bahwa orang Lampung baik yang beradat Paminggir maupun Pepadun semuanya berasal dari Pagarruyung.

Versi ini menyebutkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang puteri dari kahyangan yang menikah dengan Kun Tunggal dari Pagaruyung (Sumatera Barat), lalu mereka menurunkan Ruh Tunggal, kemudian menurunkan lagi Umpu Serunting yang selanjutnya berdiam di Sekala Brak dan mendirikan Keratuan Pemanggilan.

Umpu Serunting menurunkan lima anak yaitu (1) Indar-Indor-Gajah gelar Umpu Bejalan di Way (menurunkan orang Abung) (2) Belunguh gelar Umpu Belunguh (menurunkan orang-orang Paminggir) (3) Pak Lang gelar Umpu Pernong (menurunkan orang-orang Pubian) (4)Sikin gelar Umpu Nyerupa menurunkan orang Jelma Daya, dan (5) Indarwati gelar Puteri Bulan (menurunkan orang Tulangbawang). Teori ini sesuai juga dengan cerita rakyat Cinder Mato yang diteliti siswa-siswi Madrasah Thawalib Padangpanjang (1983).

Teori keempat, seluruh suku Lampung, termasuk Minangkabau, Batak, dan Bugis berasal dari Asia bagian Selatan (Pegunungan Himalaya), tepatnya dari dataran tinggi Yunan dan Tibet, di sekitar hulu Sungai Mekong yang mengembara mengikuti aliran sungai tersebut menuju selatan, melalui daerah-daerah Kamboja dan Vietnam, hingga sampai di Indonesia setelah terlebih dahulu menyeberangi Laut China Selatan. Sebagian lagi melayari Sungai Saluen di Burma, lalu mengarungi Laut Andaman dan akhirnya mendarat di Pulau Sumatera (Lihat Assa’ih Akip, Kerajaan Tulang Bawang Sebelum dan Sesudah Islam, 1977, hlm. 71-72). Teori ini dikuatkan oleh fakta antropologis bahwa ciri-ciri bentuk tubuh, warna kulit, profil wajah, maupun sifat-sifat pembawaan suku asli Lampung yang banyak persamaannya dengan suku Tibet.

William Marsden, seorang pegawai pemerintahan Inggris di Bengkulu mengatakan: “If you ask the Lampoon people of these part, where originally comme from they answere, from the hills, and point out an island place near the great lake whence, the oey, their forefather emigrated…”. “Apabila tuan-tuan menanyakan kepada Masyarakat Lampung tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung yang tinggi dan sebuah Danau yang luas..”

Asal usul orang Lampung memanglah sebuah misteri, sama seperti sejarah yang tidak akan pernah terbukti kepastiannya. Namun sebagai ulun Lappung hendaknya kita tidak menjadikan ketidakpastian itu menjadi sebuah perbedaan pendapat.[]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *