Padepokan Gajah Lampung; Penyemai Atlet Angkat Besi

Aroma keringat yang mengalir sedikit terkurangi karena terbawa oleh hembusan angin. Ruangan itu memang tidak berdinding. Masing-masing asyik mengangkat barbel. Suara debum dan dencing keras berkali-kali terdengar. Di sela-sela suara bising itu, terdengar suara lantang membentak seorang atlet yang melakukan kesalahan teknik angkatan. “Jangan manja kamu,” kata pria di sudut ruangan itu.

Si empunya suara adalah pria berkacamata dan berambut putih. Dia adalah Imron Rosadi, 70 tahun. Dari caranya memberi instruksi dan mengkritik para atlet itu, bisa diketahui dia begitu menguasainya. Bahkan dia tahu kenapa si atlet gagal mengangkat barbel. “Dengkul kamu terlalu ke depan dan terlalu lebar jarak kedua kakimu. Ditambah kamu lamban,” kata Imron memberi sebuah kritik.

Hampir setiap pagi dan sore hari tempat ini selalu riuh-rendah oleh suara empasan barbel dan teriakan atlet berbaur dengan bentakan penyemangat dari sang pelatih terdengar di tempat itu. Keadaan itu sudah berlangsung hampir setengah abad.

Sejak tahun 1963-an, Imron mengelola padepokan yang diberi nama Gajah Lampung. Menurut catatanya sudah 44 atlet meraih medali dari tempat itu. “Baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata pria yang semasa menjadi atlet dikenal dengan julukan Gajah Lampung itu.

Padahal, untuk menghidupi geliat padepokannya, tidak kurang dari Rp 1,5 miliar dikeluarkan setiap tahun. Uang sebanyak itu untuk memberi makan, suplemen, menyekolahkan dan yang saku sekitar 36 atlet itu. Dari atlet sebanyak itu, 23 orang tinggal di asrama yang menyatu dengan tempat latihan.

Belum lagi untuk berbelanja alat. Setidikitnya Rp 200 juta untuk membeli barbel yang rusak setiap empat bulan. “Bayangkan jika satu set barbel seharga Rp 60 juta dan dalam waktu kurun waktu itu setidaknya 2—4 set barbel rusak,” tuturnya.

Atlet yang menghuni Padepokan Gajah Lampung berusia 10 – 35 tahun. Mereka direkrut dari pelosok Lampun. Imron bersama istrinya terkadang harus keluar-masuk kampung untuk mendapatkan bibit unggul. Ada juga yang sengaja datang diantar orang tuanya untuk digembleng menjadi atlet profesional.

Meski begitu, sebagian besar datang dari sekitar Kabupaten Pringsewu, Lampung dan hampir semuanya berasal dari keluarga tidak mampu. Imron dibantu istri dan anaknya menyatukan para atlet itu dalam sebuah keluarga besar. Mereka tidur dan makan di tempat yang sama.

Komplek padepokan yang menempati lahan seluas seperempat hektare itu terdiiri atas tempat latihan berukuran 8 x 20 meter, 10 kamar tidur, kamar mandi dan dampur untuk para atlet memasak. Kehidupan mereka sangat disiplin dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Mereka berlatih hampir setiap hari, kecuali setiap Selasa dan Kamis. Waktu latihan pagi mulai pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Sedangkan sore dimulai pukul 14.00 dan berakhir pukul 16.30.

Untuk menghidupi padepoka itu, awalnya keluarga Imron Rosadi menolak bantuan dari pihak lain. Baru pada 1996, Pemerintah Propinsi Lampung mengucurkan dana bantuan. “Itu pun dengan syarat mereka tidak boleh campur tangan soal cara saya melatih dan mendidik para atlet. Itu berlaku bagi semua donatur,” dia menegaskan.

Kemandirian Padepokan Gajah Lampung itu membuat Imron leluasa mengatur latihan para atlet. Tida ada satu pun pihak di luar padepokan yang bisa mencapuri urusan latihan. “Untuk mencetak atlet berprestasi, harus diserahkan sepenuhnya kepada pelatih. Jika pelatih sudah tidak independen, jangan harap atlet berprestasi bisa dicetak,” tuturnya.

Ia menolak Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Pengurus Besar Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) memerinta agar atletnya diikutkan dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas). Menurut dia, langkah itu untuk menanamkan kebanggaan para atlet pada daerahnya. “Dari situ kebanggaan dan cinta tanah air bisa tertanam dengan baik,” ucapnya.

Imron percaya kebanggaan terhadap daerah membuat atlet mempunyai karakter dan mental yang baik. Karena itu, dia selalu menentang jual-beli, bajak-membajak atlet daerah. “Itu (jual-beli atlet daerah) korupsi. Untuk menciptakan atlet berprestasi, dibuuhkan dana besa dan sebagian pasti berasal dari uang negara. Bagaimana itu bisa dipertanggungjawabkan? kata lelaki beranak tiga itu.

Dari Sutrisno Sampai Sri Indriyani

Hasil gemblengan yang sangat keras di Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung telah membuahkan hasil. Dalam catatan Yuniarti, istri Imron, sedikitnya 44 atlet sejak padepokan itu berdiri telah meraih medali di berbagai kejuaraan, baik nasional, maupun internasional. Sebut saja Sutrisno bin Darimin, Winarni, Sri Indriyani dan Misdan.

Mereka adalah generasi senior yang telah meraih prestasi di pentas dunia. Sutrisno merupakan juara dunia angkat berat dan memegang rekor dunia untuk total angkatan 742,5 kilogram di Florida, Amerika Serikat pada tahun 2005. Ia memecahkan rekor atas nama Ayrat Zakief dari Rusia.

Atlet lain yang dicetak dari padepokan ini adalah Winarni. Perempuan kelahiran 19 Desember 1973 itu adalah peraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 untuk kelas 53 kilogram untuk total angkatan 202,5 kilogram.

Lalu ada Sri Indriyani, peraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 untuk kelas 48 kilogram untuk total angkatan 182,5 kilogram. Perempuan kelahiran 12 November 1978 itu kini masih sering terlihat di padepokan untuk membantu juniornya. “Kami memang selalu terkenang pada padepokan ini. Saya besar dan digembleng dengan keras di tempat ini,” ucapnya.

Jejak Sutrisno, Winarni dan Sri Indriyani juga menjadi inspirasi bagi anak-anak di sekitar tempat  tinggalnya. Sebut saja, Betty Feryani, 25 tahun. Gadis hitam manis itu bergabung sejak usia 10 tahun. Sejumlah prestasi nasional hingga internasional telah diraih. Diantaranya meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional di Palembang dan perunggu di kejuaraan Asia di Bali 2003. []

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *