Belajar Hingga ke Negeri China

WANLI Changcheng. Begitu istilah untuk Tembok Besar Tiongkok (Tembok Raksasa Tiongkok atau Tembok Panjang) disebut di negeri aslinya yang artinya Tembok Sepanjang 10.000 Li.

Menurut catatan sejarah, tembok itu mulai dibangun sejak 722 SM-481 SM. Negeri-negeri yang tercatat berkontribusi dalam konstruksi pertama antara lain negeri Chu, Qi, Yan, Wei dan Zhao. Mengunakan ratusan ribu pekerja paksa, pekerjaan pembangunan berlanjut di era kekuasaan Kaisar Qin Shi Huang pada 220 SM hingga berakhir di masa Dinasti Ming (1368-1644).

Tentu saja rakyat China bangga dengan bangunan bersejarah terpanjang yang pernah dibuat manusia, apalagi sudah masuk dalam Situs Warisan Dunia Unesco. Jadi tak heran jika lukisannya menghiasi ruang pertemuan di Capital Medical University, Beijing, China.

rektor kdv dan prof dong zheDi ruangan itulah, Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, Profesor Dong Zhe menerima kedatangan Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi dan Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi PhD. Dua rektor ini ditemani Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki dan Wakil Rektor Universitas Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd.

Pertemuan hangat menjelang petang pada 16 Oktober 2015 ini menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus untuk Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama. “Kita bisa mengirim mahasiswa ke kampus ini untuk belajar,” kata Agung Efriyo Hadi. “Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.”

Agung menjelaskan, semula mereka hanya minta diberikan kesempatan belajar yang singkat saja. “Namun malah mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University),” katanya. Tentu saja, tawaran itu sangat baik. “Kita akan menjalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya,” katanya.

rektor di beijing 2Kesempatan untuk belajar ke negeri China akan terbuka lebar untuk mahasiswa yang berprestasi. “Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuannya. Itu menjadi kunci bagi mereka. Mereka yang juga menjaga nama baik almamater dan nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya,” kata Kadafi.

Selain prestasi, mahasiswa yang akan dikirim ke negeri Tirai Bambu diwajibkan bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. “Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali,” katanya.

Belajar ke Capital Medical University  (CMU) tentu akan membawa dampak yang sangat bagus untuk dua kampus ini. CMU adalah sebuah universitas ternama di negeri China. Berdiri pada 1960, Capital University of Medical Sciences semula  bernama Beijing Second Medical College yang dipimpin Profesor Wu Jieping, seorang urolog terkenal di dunia, orang kedua di Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Engineering.  Saat ini, kampus ini dipimpin Profesor Lu Zhaofeng.

CMU terdiri dari 10 sekolah, 14 rumah sakit afiliasi dan 1 lembaga pengajaran. Universitas yang berafiliasi dengan rumah sakit ini memiliki 20.000 staf, lebih 1.000 dosen, dan sekitar 2.000 profesor asosiasi.

Universitas yang memiliki 9.000 mahasiswa aktif ini meliputi berbagai bidang. Di antaranya pelatihan general practitioner, clinical medicine, basic kedokteran, ilmu saraf, ophthalmology, geriatrics, urologi, kardiologi, pain medicine, toksikologi, teknik biomedis, pengobatan tradisional Cina, reproduksi, kebijakan kesehatan, dan sejumlah bidang ilmu kesehatan lainnya.

Bahkan, beberapa bidang yang ada di CMU sudah mendapat pengakuan internasional. Misalnya  neurobiologi, cytobiology, imunologi, kedokteran ikonografi, neurologi, neurosurgery, kardiologi, bedah cardio-vaskular, transplantasi ginjal, penyakit pernafasan, pengobatan pencernaan, bedah oral-maksilofasial, mata, THT dan hematologi anak.

Saat ini, CMU menyelenggarakan program pertukaran internasional yang sangat baik. Memiliki kemitraan dan perjanjian dengan banyak universitas dan institusi dengan lebih dari 20 negara dan wilayah. Kerjasama yang terjalin antara lain seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, pendidikan bersama dan proyek-proyek penelitian bersama.

***

PENINGKATAN kualitas kampus memang perioritas Kadafi. Bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi ternama tentu ditempuhnya. Tak hanya dengan perguruan tinggi dari negara-negara lain, namun juga yang ada di dalam negeri.

Tak cuma dengan kampus-kampus di negeri China, sebelumnya Kadafi sudah menggandeng perguruan tinggi dari Malaysia dan Singapura. Bahkan di dua negara tetangga ini ikatan kerjamasa sudah berjalan dengan baik. Salah satu wujudnya adalah pengiriman mahasiswa D-IV kebidanan untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Wakil Rektor II Universitas Malahayati Lampung, Wahyu Dhani Purwanto MPd mengatakan praktik langsung mahasiswa di Singapura itu sebagai bentuk komitmen menghasilkan bidan-bidan yang tak hanya mampu bersaing di lokal atau nasional tetapi juga internasional. “Kami harapkan mereka mendapatkan pembelajaran dari pengalaman baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga dapat mendukung lulusan sebagai bidan yang profesional,” katanya.

Salah satu mahasiswa yang ikut program itu, Linda Agustina, mengatakan studi banding itu menambah pengalamannya.  “Kami mendapat pengarahan yang baik dan langsung dari perawat senior yang ada di sana, banyak pengetahuan dan pengalaman yang diberikan kepada kami,” kata Linda. Salah satu contohnya, ia bisa melihat langsung bagaimana Singapura sudah tidak menggunakan metode persalinan biasa. “Di sana sudah menggunakan metode persalinan di air dan metode kangaroo setelah anak itu dilahirkan langsung diletakkan di ibu nya,” katanya.

Linda juga melihat bagaimana sistem rumah sakit melayani pasiennya. “Setelah kelahiran anak, pihak rumah sakit berkunjung ke rumah pasiennya,” katanya. Mereka mengajarkan bagaimana cara merawat bayi yang benar, bagaimana cara persalinan itu dapat berjalan normal. “Singapore sendiri tidak dianjurkan untuk minum susu formula, jadi benar-benar menggunakan asi eksklusif,” ujarnya. “Rumah sakit sangat mengutamakan kesehatan, jadi wilayah rumah sakit hanya boleh dikunjungi orang-orang yang steril sekali.”

Lalu bagaimana dengan Universitas Malahayati? Kampus ini juga menjadi tempat studi banding para mahasiswa dari berbagai negara lain. Misalnya, mahasiswa  Cyberjaya University College of Medical Science di Malaysia yang pernah magang di Universitas Malahayati yaitu di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin pada Juli-September 2015. Ada 42 Mahasiswa dan 2 dosen pembimbing yang mengikuti kegiatan paramedic science clinical training, salah satunya Ezam.

Bagaimana pendapatnya tentang Universitas Malahayati? “Di sini kami merasa sedang di rumah sendiri, semuanya baik dan ramah, serta semuanya bekerja sama dengan baik. Bahkan, di sini kami dilayani lebih baik, dan diberikan fasilitas yang mendukung dengan sangat memuaskan di banding saat kami di tempat asal kami,” ujar Ezam. “Semoga Cyberjaya University dan Malahayati bisa terus berkolaborasi dan bisa saling berbagi pengalaman.”

Selain itu di bulan yang sama, Universitas Malahayati kedatangan tamu dari Malaysia, mereka adalah students/mahasiswa Keperawatan dari University Putra Malaysia (UPM). Ada tujuh orang yang datang. Tujuannya untuk praktikum. Kegiatan ini, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa Malaysia itu melaksanakan kegiatannya di Kelurahan Sumber Sari Bantul Kota Metro.

Sebelum menuju ke lokasi, mereka ke Universitas Malahayati. Mahasiswa Malaysia ini berkeliling kampus, mulai dari ruangan skill lab sampai perpustakaan Universitas Malahayati.  Mereka sangat terkesan sekali ketika melihat fasilitas kampus yang begitu hebat.

Dari Eropa datang Kaye Jujnovich, seorang dekan di Whitireia University, New Zealand, 13 Juni 2015. Kunjungan Kaye Jujnovich perwakilan dari Whitireia ini untuk meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Malahayati. Sebelum meneken MoU, Rektor Kadafi mengajak Kaye berkeliling kampus dan Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Kaye melihat sejumlah fasilitas dan penunjang akademik yang dimiliki Universitas Malahayati. Usai melihat kelengkapan fasilitas, Rektor Kadafi mengajak Kaye melihat gedung perpustakaan terpadu.

Kemudian, Kadafi membawa Kaye berkunjung ke Rumah Sakit RS Pertamina-Bintang Amin. Dalam kunjungan ini, ia sempat disuguhi beberapa alat kesehatan yang moderen, seperti CT scan 128 slice, chat lab, dan beberapa alat kesehatan terbaru lainnya. Tidak hanya melihat fasilitas rumah sakit, Kaye juga sempat bertemu dengan lima mahasiswa asing dari Malaysia. Keberadaan lima mahasiswa negeri jiran di RS Pertamina Bintang Amin, program pertukaran mahasiswa.

Usai meninjau beberapa fasilitas yang dimiliki oleh kampus, Kaye bersama rombongan sepertinya kepincut. Ia mewakili pimpinan kampus memutuskan untuk langsung melakukan kerjasama dengan Malahayati, padahal dalam agenda sebelumnya ia hanya berkunjung. Dari kerjasama ini, dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati bisa kuliah di Whitireia University, begitu juga sebaliknya. Kedua kampus juga bisa menjalani penelitian, dan pertukaran karya ilmiah.

***

KEMBALI ke China. Kadafi dan Agung tak hanya berada di Capital Medical University di Beijing, mereka juga diundang menjadi pembicara pada acara “The 2nd Silk Road Higher Education Cooperation Forum” yang berlangsung pada 16-18 Oktober 2015 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Provinsi Hubei, China. Di sini mereka langsung disambut Professor Yanxin Wang, President of Chinese University of Geosience.

rektor kadafi dan president cugKegiatan ini disponsori oleh Silk Road Institute, International Education College of CUG, dan National Natural Science Foundation of China. Forum yang diselenggarakan bersamaan dengan The 2nd International Workshop on Tethyan Orogenesis and Metallogeny in Asia (IWTOMA) ini membahas dan bertukar informasi terbaru tentang evolusi tektonik, metallogeny, geologi minyak bumi, sumber daya air dan bahaya geologi di Asia.

Kegiatan ini adalah kelanjutan dari The 1st Silk Road Higher Education Forum yang diadakan  di China University of Geosciences, Wuhan, pada 12-16 Oktober 2014. Hampir 90 akademik peneliti, administrator dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi/universitas dari 15 negara berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para delegasi disuguhi materi menarik yang disampaikan para rektor (presiden) dan dekan dari universitas terkenal di dunia. Di sini bisa disimak berbagai sudut pandang tentang kerjasama pendidikan tinggi, kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk pemimpin masa depan.

Dari kegiatan ini akan melahirkan berbagai kerjasama yang penting untuk pelatihan dan penelitian.  Dari Indonesia yang menghadiri forum  di China University of Geosciences (CUG) ini ada tiga universitas, selain Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama ada Universitas Indonesia, yang datang langsung rektornya Profesor Dr Ir Muhammad Anis MMet.

agung dan para rektorCUG adalah universitas negeri di China yang berada langsung di bawah  administrasi Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Cina. Universitas ini ada dua kampusnya, satu terletak di Kecamatan Haidian di Beijing, yang kedua terletak di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, China. “Universitas ini paling berpengaruh dalam industri pertambangan dan minyak China,” kata Kadafi.

Benar, CUG memang salah satu perguruan tinggi sangat top di China. Salah satu alumni Universitas yang memiliki motto “Being austere and simple, keeping on practice and acting for truth” ini tak lain adalah Wen Jiabao, Perdana Menteri Dewan Negara China, yang terpilih pada 2003. Wen dianggap sebagai tokoh di balik kebijakan ekonomi China. Menjabat selama dua periode, Wen mengakhiri masa jabatannya pada 2013.

Rektor Universitas Abulyatama, Agung Efriyo Hadi menjelaskan di forum itu mereka membahas perkembangan “Jalur Sutra”. Ini adalah jalur yang sangat luas membelah dari utara ke selatan meluas dari pusat perdagangan China Utara dan China Selatan. Bahkan rutenya jika dari utara melintas hingga ke Eropa Timur tembus ke Laut Hitam. Jalur selatan sampai ke Laut Tengah, Mesir, dan Afrika Utara.

rektor di beijing 1Penamaan Jalur Sutra sangat berkaitan arus perdagangan sutra di kawasan ini pada abad 19. Dari perdagangan sutra, kemudian berkembang ke berbagai komoditi lainnya, bahkan sampai pengembangan kebudayaan China, India dan Roma, bahkan disebut-sebut sebagai dasar dari dunia modern.

Nah jalur itulah yang hendak dihidupkan lagi oleh China. “Nanti melalui forum Rektor kita memiliki koneksi ke berbagai program yang ada di China itu. Yaitu jaur sutra perguruan tinggi. Artinya bukan saja perguruan tinggi dari China saja di jalur sutra ini, juga negara-negara lain yang berada di sepanjang jalur itu. Artinya kita punya peluang dan koneksi membuka kerjasama perguruan tunggi yang berbeda di lintas jalur sutra,” kata Agung.

jalur sutraKhusus untuk Aceh, kata Agung, memiliki koneksitas yang cukup kuat dengan Jalur Sutra. “Dalam forum rektor saya mengangkat sejarah Aceh Samudra Pasai dulu juga menjadi transit perdagangan jalur sutra yang sekarang letaknya di Lhokseumawe,” katanya. “Demi kemajuan pemuda Aceh, saya katakan sangat menyambut baik program itu. Jadi saya sampaikan juga, bahwa Indonesia itu sangat luas dan Aceh ada dalam Jalur Sutra sejak dulu,” katanya.

Nah, alasan Agung dan Kadafi sangat antusias hadir dalam forum ini memang pula da anilai historisnya. “Berbasis historis, di masa depan kerjasama akan lebih baik,” katanya.

Itulah sebabnya, Kadafi bilang sangat tepat jika menuntut ilmu meski sampai ke negeri China sekalipun. “Begitu amanah dalam hadis Nabi Muhammad SAW,” katanya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *