Memutar Kembali Memori Indah Bersama Yatim di Danau Cinta

DANAU Yatim, terkadang disebut Danau Cinta oleh Masyarakat sekitar, terletak ditengah kampus Malahayati, Bandar Lampung. Danau ini merupakan tempat berbagi rasa, cinta, cerita dan rezeki kepada anak-anak yatim binaan Universitas Malahayati. Secara bergilir 1300 lebih anak yatim hadir ditempat ini setiap Sabtu bersama ibu mereka.Mereka melantunkan Surah Yasin bersama civitas akademika untuk bermunajat kepada tuhan agar Malahayati semakin sukses dan sukses lagi.

Hari ini, Rabu 23 Desember 2015, Aku mengulang memori itu. Kulangkahkan kedua kakiku melewati jalan setapak yang terbuat dari papping yang tertutup tanah. Kulihat pohon sengon menjulang tinggi menaungi langkahku menuju spot terbaik untuk merelaksasi kepenatanku. Meski tak jauh, kontur tanah berbukit membuat peluhku menetes tanpa henti. Aku coba menyeka keringat itu dengan sapu tangan kecil pemberian ibuku, sambil mencoba merasakan hembusan kehidupan disekelilingku.

Tak selang beberapa lama, sampailah aku ditepi danau seluas kira-kira setengah lapangan bola dengan pulau kecil ditengahnya layaknya Samosir di Danau Toba. Kumpulan Mujair dan Nila terlihat berenang tanpa bebas sambil berebut remah roti yang sengaja kulempar tadi. Kapal wisata berbentuk angsa juga berbaris rapih ditepian danau karena sudah tak bisa beroperasi lagi.

Ku mantabkan posisi dudukku sambil bersandar ditiang kayu. Aku mulai memejamkan mata, melepaskan segala penat perkuliahan yang beberapa waktu ini terasa membebaniku. Gemericik air dari saluran pipa pembuangan, gesekan lembut daun yang tertiup hembusan angin membuatku terasa melayang dan begitu enjoy menikmati istirahat siangku di tempat ini. Semakin dalam aku hanyut dalam ketenangan, memoriku tentang danau ini seolah ter-rewind seakan aku berada di dimensi yang berbeda.

Aku mendengar lantunan Surah Yasin yang begitu merdunya dari tempat ini. Suara ini suara yang sama ku dengar Sabtu lalu ditempat ini kurasa. Wajah riang bocah kecil yang disuapi ibunya. Tawa lepas saat mereka bermain papan jungkat-jungkit, terasa begitu nyata melekat di benakku. Beberapa dari mereka terlihat ada yang memancing dan kegirangan saat memperoleh bayi Nila di ujung kail pancing mereka. Ingin rasanya kuusap rambut mereka dan memberi mereka permen yang ada di saku kananku. Ucapan “makasih kak” adalah doa bagiku yang pasti didengar oleh penciptaku. Saat kucoba mendekati mereka dan melakukan niatku…

“Krekkkkkkkkk….Brakkkkkkkkkkkk!!!” Suara ranting pohon jatuh tepat di atap di atas kepalaku. Aku terbangun, pandanganku buyar, segera ku bangkit dari tempat ku duduk tadi. Kulihat sekelilingku, tidak ada siapa-siapa. Hanya seorang satpam berjaga di posnya yang kulihat dikejauhan. “Ah, sial…” pikirku dalam hati. Suara itu merusak indahnya memoriku bersama para yatim Sabtu lalu. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, saatnya aku kembali dan bersiap untuk kembali berjibaku dengan ruang kelas lagi pagi ini.[]

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 10 =