Refita Fernando: Fragmen Sebuah Koran

Fragmen Sebuah Koran

Karya: Refitra Fernando

Disisi lampu merah
Disimpang jalan yang tak ramah
Bapak tua penjaja koran itu mencoba memerah resah hingga badannya basah

Kuhampiri dan kubeli sebuah koran
Memecah wajah kesunyian
Yang ternyata membuatnya riang
Membuat ia terang benderang

Kuberikan selembar uang tak kuterima kembalian
Kemudian aku pulang dengan sebuah koran, bukan dengan sebungkus makanan

Kulahap koran itu tak bersisa, sampai kepalaku kekenyangan dan akhirnya ketiduran
Terbangun diakhir siang dengan perut keroncongan ditemani musik pesakitan juga rengekan kucing kelaparan

Lalu dari sebuah jendela aku melihat suatu ketentraman
: menganga dimata burung gereja; sungai mengalir ke samudera, juga rawa-rawa paya

Tetapi jiwa lara mengangkasa, semesta merah marun, nyeri merasuki sumsum hingga ubun-ubun dan aku hanya bisa termanyun

Gelegar cakrawala jatuh di pelupuk mata, menceritakan petaka tentang jiwa yang di cabik-cabik prahara, keringat yang tersayat, bau mayat yang menyengat, bunga runtuh, daun merangas sampai akhirnya jamur mencoba hidup berjemur

Di altar petang lahir kebenaran tentang kehidupan jalanan yang suram dan kemakmuran hanya untuk tuan yang matanya tak pernah kelilipan

Bandarlampung, November 2015

 

Profil Penulis: Refitra Fernando, Fakultas Teknik Lingkungan angkatan 2011 asal Kotabumi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + 10 =