Al Furqon, Simbol Religi Kota Tapis Berseri

MELINTAS di Kota Bandar Lampung belum lengkap rasanya bagi wisatawan lokal maupun luar Bandar Lampung sebelumnya mengunjungi salah satu ikon Bandar Lampung yakni Masjid Al Furqon. Berdiri megah dan anggun di salah satu pusat keramaian Bandar Lampung, tepatnya di Lungsir, masjid yang dibangun pada tahun 1958 ini turut menjadi saksi sejarah perkembangan pembangunan di Kota Tapis Berseri.

Seperti dikisahkan oleh pengurus masjid, Drs Adnan Nawawi mengatakan, Masjid tersebut di gerakan oleh pejabat muslim residen Lampung beserta tokoh, Ulama dan Cendikiawan tingkat provinsi sejak 1958 sampai dengan 1996. Bahkan pada saat itu Gubernur Lampung bersama tokoh masyarakat membangun dan mengelola bangunan baru Masjid Raya Nurul Ulum tepatnya di Rajabasa sejak 2 Mei 1991.

“Kala itu, bangunan Masjid Al-Furqon di desain memiliki dua lantai, namun ketika pembangunan berlangsung Masjid Al-Furqon belum memiliki Kubah. Pembangunan pertama masjid Al-Furqon dengan luasan aera gedung 20 x 25 meter atap cor tanpa kubah,” kata Adnan.

Seiring berjalannya waktu pembangunan dan pengelolaan masjid Al-Furqon pada 15 April 1996 dengan Surat Nomor 456/957/06/1996. Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto menyerahkan pembinaan dan pengelolaan Masjid Al-Furqon kepada walikota Bandar Lampung Drs H Suharto, dengan Surat Berita acara serah terima pada 17 April 1996.

Monumen pembangunan ikon muslim di Kota Bandar Lampung tersebut serta menindaklanjuti tanggung jawab pengelolaan bangunan oleh gubernur selaku kepala daerah tingkat I Lampung kepada kepala daerah tingkat II kota Bandar Lampung. Tertanggal 17 Juli 2006 dengan surat keputusan nomor: 232/02.2/HK/2006 tentang penetapan Masjid Al-Furqon menjadi Masjid Agung kota Bandar Lampung.

“Pembangunan Masjid Al-Furqon pertama tahun 1958 kala itu pembangunan di gawangi oleh Raden Haji Muhammad Mangondiprojo. Demi terwujudnya pembangunan Gedung masjid Al-Furqon, Residen Lampung melakukan pengadaan/pembelian tanah seluas 60.850 meter persegi atau istilah sekarang pembebasan lahan,” kata Adnan.

“Awal pembangunan masjid Al-Furqon 1958 dengan bangunan fisik gedung luas 20 x 25 meter atap cor tanpa kubah. Sementara bangunan tahap kedua 1970 di ketuai oleh H. Zainal Abidin Pagar Alam selaku Gubernur Lampung, dilangsungkan pembangunan dua lantai dengan design atap bentuk kubah, ” kata Adnan.

Pada tahun 1998 pemerintah setempat kembali melakukan renovasi gedung yang di lakukan oleh Poedjono Pranyoto selaku Gubernur Lampung saat itu, bahkan pembangunan masjid Al-Furqon tahap ke tiga menggunakan dana pribadi Poedjono Pranyoto dengan nilai Rp. 4 miliar dan pembangunan tahap ke tiga di komandoi oleh Drs. H. Suwardi Ramli dengan membuat lantai tiga, atap tiga trap, bangunan pokok di perbesar menjadi 45 x 65 (dua lantai) dan di tambah sayap kiri dan kanan sebagai tempat mengambil Air Wudhu, Rumah Imam Masjid dan Marbut 4 pintu, serta pembangunan menara setinggi 50 meter tepat di depan sisi kiri gedung. ||Sumber: Infolampung.com.[]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − one =