Museum Nasional Ketransmigrasian Terdapat di Provinsi Lampung

LAMPUNG merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang dianugerahi wilayah luas dan kekayaan budaya. Tak hanya itu, Lampung juga memiliki alam yang mempesona

Sejarahnya, provinsi paling selatan di Pulau Sumatera ini pernah menjadi daerah penempatan transmigrasi pertama di Indonesia. Kala itu, tahun 1905, pemerintah Hindia Belanda melakukan perpindahan warga dari Desa Bagelen, Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, ke Gedong Tataan, Lampung.

Museum Nasional Ketransmigrasian yang berada di Jalan Ahmad Yani, Desa Bagelen, Gedong Tataan, Pesawaran, merupakan salah satu tempat untuk mengabadikan sejarah transmigrasi di Indonesia. Museum ini merupakan museum transmigrasi pertama dan yang satu-satunya yang ada di dunia. Desa Bagelen dipilih karena alasan historis. Sebab, di sinilah terdapat 23 kepala keluarga (KK) yang hijrah ke Lampung kali pertama.

Saat tiba di pintu gerbang museum, pengunjung dihadapkan dengan bangunan megah berlantai dua dengan simbol Siger mengkilap di bagian atas beranda. Bagian luar gedung bercat putih kekuningan ini dihiasi ornamen gajah Lampung yang dipadu ukiran khas Jawa di bagian pintu masuknya.

Suasana klasik terasa saat kita melangkahkan kaki ke dalam museum. Tepat di tengah ruangan, ada patung dua lembu menarik ‘luku’ (alat pembajak sawah tradisional) dan gerobak kayu di sampingnya. Ini merupakan simbol profesi transmigran yang mayoritas adalah petani.

MNK dibangun karena ide dari Bapak Prof. Dr Ir Muhajir Utomo. Museum ini kemudian mulai dibagun pada tanggal 12 Desember 2004 bertepatan pada Hari Bhakti Transmigrasi ke-54. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh gubernur Lampung ke-9, Drs Sjachroedin ZP. Museum ini dibangun karena kawasan lokasi di Desa Bagelen.

MNK merupakan sebuah bukti bahwa Lampung merupakan daerah kolonialisasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905. Kolonialisasi merupakan istilah pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda untuk transmigrasi. Kolonialisasi yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda ini bertujuan untuk perluasan daerah perkebunan di luar pulau Jawa. Sebanyak 155 keluarga yang berasal dari Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, dipindahkan ke Lampung.

MNK sekarang memiliki lebih dari 254 koleksi. Koleksi di dalam museum ini diantaranya adalah alat pertukangan, alat rumah tangga, alat pertanian, peralatan dapur, alat kesenian, alat penangkap ikan, foto-foto dokumentasi, pakaian adat dan musik Bali, dan masih banyak lagi.

11 anjungan yang tersedia adalah anjungan dari Bali, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Suriname. Kesemua anjungan kecuali Suriname dan Lampung merupakan daerah asal warga transmigran.

Museum buka pukul 08.00-14.00 (Senin-Kamis), 08.30-14.30 (Jumat). Khusus Sabtu dan Minggu, pengunjung harus menghubungi pihak pengelola ke nomor 0721-94662 jika ingin berkunjung. Tiketnya Rp 500 untuk pelajar dan Rp. 1000 untuk umum.

Tersedia paket Rp 5.000/siswa (tiket masuk + nonton film dokumenter), Rp 3.500 (tiket masuk+bimbingan edukasi sejarah), dan Rp 7.500 (tiket masuk + nonton film dokumenter + bimbingan edukasi).

Pembangunan MNK bertujuan untuk menyediakan sarana dan prasarana bagi pengkajian program transmigrasi di Indonesia. Museum ini juga bertujuan untuk menyediakan wahana pembelajaran tentang sejarah ketrasnmigrasian di Indonesia bagi generasi muda.

Potret anjungan yang terdapat di museum ini:

Lapangan_AnjunganAnjungan_Jawa_Tengah Anjungan_NTBAnjungan_Jawa_Timur Anjungan_Lampung Anjungan_NTT Anjungan_Suriname Anjungan_Yogyakarta Anjungan_Bali Anjungan_Banten Anjungan_Jawa_Barat

|sumber: id.wikipedia.org

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − six =