Kesan Mahasiswa Malaysia Saat Praktik di Malahayati

ADA yang berbeda di Kabara Foodcourt siang ini, 16 Maret 2016. Biasanya, meja dan kursi penuh diisi oleh mahasiswa asrama, siang ini justru didominasi oleh mahasiswa keperawatan yang nampak asing di mata malahayati.ac.id. Seragam mereka berbeda, bahasa yang digunakanpun berbeda. Benar saja, mereka ternyata mahasiswa Cyberjaya University College Of Medical Science, Malaysia.

JoanneValennie, mahasiswi asal Malaysia yang nampak asing berbincang dengan rekan sejawatnya menyambut kedatangan malahayati.ac.id dengan senyuman. Ia bercerita, ia dan teman-temannya sampai di Malahayati pada 03 Maret 2016. Mereka berjumlah 42 orang, enam pria dan sisanya wanita serta diantar oleh dua dosen pembimbing. Kebetulan mereka sampai di Malahayati pada malam hari, agak seram katanya saat masuk gerbang karena disambut oleh rimbunnya pepohonan.

“Seram sangat, first time sampai disini lihat banyak pohon, hutan-hutan. Tapi seketika hilang karena kami disambut dengan mesra oleh beberapa staf di Malahayati. Pagi melihat Malahayati ternyata seronok. Orangnya pun ramah-ramah,” kata gadis yang akrab disapa Vell ini dengan logat melayu.

Ia mengatakan melihat beberapa perbedaan antara Malaysia dan Indonesia, salah satunya saat praktik seperti sekarang. Kalau di Malaysia, mereka tidak diperbolehkan menangani pasien namun di RSPBA, mereka dibimbing oleh staf disana sambil menangani pasien. Hal itulah yang membuat mereka merasa beruntung bisa belajar di RSPBA. Ia juga mengatakan pembimbing mereka disini sangat ramah dan sabar mengajari mereka.

Selain pengalaman yang menarik ketika praktik, Vell juga bercerita pengalaman uniknya ketika pertama kali belanja di Pasar Bambu Kuning dan Robinson, naik angkutan umum di Lampung (angkot). Ia mengatakan sangat asyik dan berbeda dari Malaysia yang hanya bus biasa. Asyiknya mereka bisa saling bertatapan dengan penumpang lain sambil mengobrol katanya.

“Unik naik angkot, kami boleh tatap muke dengan penumpang lain, boleh cakap-cakap juge. Seronok lah, macam di Malaysia only Bas biase. Kami dah pergi shopping and pusing-pusing kat Robinson and Bambu Kuning,” ujar Vell sambil tertawa kecil.

Persamaan rumpun Malaysia-Indonesia membuat ia dan teman-temannya tidak terlalu sulit beradaptasi di Malahayati, hanya saja seperti kebanyakan seniornya terdahulu yang praktik di Malahayati, mereka tidak terbiasa dengan rasa pedas masakan di Indonesia katanya.[]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + six =