“Gajah Itu Seperti Anak Saya Sendiri”

Pagi yang cerah di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Seblat di Bengkulu dan para mahout (pawang gajah) bersiap melakukan rutinitas paginya bersama hewan besar berbelalai panjang itu.

Suwaji dan Barokah sudah siap menggiring gajah mereka ke sebuah sungai yang dekat dengan pondokan: saatnya mandi pagi!

Di sini, para pawang merawat dan melatih gajah jinak untuk berbagai fungsi seperti patroli hutan, menengahi konflik antara gajah liar dan manusia, hingga untuk urusan perawatan medis.

gajah 1Kehidupan mereka tak selalu menyenangkan. Gajah-gajah yang sering dilepas di hutan ini terancam para pemburu dan habitatnya semakin menyempit akibat perambahan hutan.

“Pusat pelatihan ini dalam wilayah wisata alam Seblat yang terhubung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat, masalahnya kawasan ini sudah terkepung perusahaan sawit skala besar dan ada perambahan yang memutus koridor ke taman nasional,” kata Erni Suyanti, Koordinator PLG Seblat.

“Ini ancaman berat dan tantangan untuk konservasi ke depan baik untuk gajah jinak ataupun gajah liar. Di sini kita menemukan kasus gajah yang dibunuh untuk diambil gadingnya, gajah patroli yang ditembak mati, sampai kasus perburuan harimau,” tambahnya.

gajah 3Di seluruh Sumatera, 70% ruang hidup gajah telah lenyap akibat kebijakan alih fungsi hutan alam dalam 30 tahun terakhir, kata harian Kompas. Jika dibiarkan, gajah Sumatera bisa dipastikan punah dalam 10 tahun ke depan.

Di tengah ancaman tersebut, Wartawan BBC Indonesia Christine Franciska berkunjung ke PLG Seblat dan merekam berbagai kisah indah antara gajah dan manusia:

Suwaji: Tak ingin anak-anak melihat gajah dari gambar saja

Pertama kali ketemu gajah saya takut, mau lari, tapi setelah lama berkawan dengan gajah saya merasakan gajah itu bisa bersabahat. Sebagai pawang Dino, saya merasa senang dia itu bisa diatur, bisa respon sama pawangnya, bisa bercanda dalam air, guling sana-guling sini, keluar kakinya ke atas.

gajah 2Saya sering ajak anak-anak ke sini, sangat gembira naik gajah, beri makan gajah. Maunya saya, anak-anak tidak perlu takut dengan binatang yang kita bina, nanti di alam liar dia bisa bedakan mana yang liar mana yang jinak.

Kami khawatir kalau gajah di sini sampai punah anak-anak kita yang masih belum tahu, cuma lihat gambar. Jadi sudah tidak bisa lihat langsung, sedih sekali.

Deslizal: Gajah itu seperti anak saya sendiri

Saya merawat Bona, gajah kecil yang usianya sekitar lima tahun. Saya bisa mengatakan gajah itu bagi kami seperti anak, mungkin lebih dari itu.

gajah 4Kalau anak ditinggal ada yang ngasuh, bisa tinggal sama ibunya, kita bisa titip pesan. Kalau gajah bisa pesan sama siapa? Apalagi gajah kecil seperti Bona, saya sudah seperti anak sama bapak. Saya elus-elus sambil melatih, “angkat, angkat.”

Saya khawatir, setiap saat setiap waktu khawatir. Tubuhnya masih kecil rentan terhadap musuh seperti harimau. Kedua, kawasan kita ada pemburu dan perambah yang masuk. Di sekitar kita juga ada perkebunan. Kita tidak bisa mengawasi apa yang dia makan, saya takut dia salah makan.

Setiap hari, setiap pagi sebelum ketemu gajah saya khawatir. Apakah ketemu dalam keadaan berdiri, atau mati. Pasti itu, pasti (khawatir).

Barokah: Ketika kami bertemu harimau di hutan

Gajah itu sebetulnya ada yang agresif dan ada yang penurut. Kalau Nelson ini penurut, asal pendekatan kita dengan gajah itu bagus, dia respon dengan kita bagus juga. Tapi kalau gajah yang agresif, kadang (saya bisa) terbawa emosi, baru dia nurut.

gajah 5(Saya pernah) bertemu harimau di hutan. Posisi saya di atas gajah. Jadi sebetulnya sudah ada tanda-tandanya, kita sudah lihat jejak harimau yang lewat itu dan gajah sudah cium bau. Nalurinya sudah tahu itu jejak harimau, musuhnya, istilahnya begitu, perlu dihindar.

Tapi karena saya tahu Nelson itu gajah besar, dan saya mau ngangon dia cari makan, saya paksa saja. Tapi mungkin feeling saya dan gajah berbeda, gajah lebih tajam feeling-nya, ketemu kita akhirnya dengan harimau, mungkin sekitar 10 meter.

Harimau itu minggir, maksudnya mungkin dia mau kasih jalan kita, tapi kita udah ketakutan duluan. Bulu kudung merinding. Pas ketemu mata dengan harimau itu, saya mau bicara susah. Suara enggak keluar karena takut.

Ketika gajah lihat harimau itu, reaksinya mau menyerang, maksudnya mau mengusir mungkin. Tapi karena mahout-nya sudah down duluan, saya kendalikan untuk pulang sekuat tenaga, ya pulang… | sumber: bbc.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 10 =