Uniknya Harimau Sumatera, Hewan Endemik Asli Indonesia

PANTHERA Tigris Sumatrae, endemik pulau Sumatera yang pandai menyesuaikan diri di habitat. Akrab dikenal dengan sebutan Harimau Sumatera, hewan yang satu ini memiliki karakter yang cukup unik. Harimau Sumatera merupakan harimau terkecil dalam jenisnya, meski begitu ia memiliki kemampuan berenang yang hebat. Bahkan, ia dijuluki “kucing air” karena kemampuannya. Hal itu didukung oleh selaput yang terdapat di sela-sela jari kakinya. Selain berenang, Harimau Sumatera sangat pandai memanjat pohon dan menyesuaikan diri di segala kondisi baik itu di dataran rendah ataupun dataran tinggi. Hewan ini juga termasuk hewan soliter, yang mengejar mangsanya di malam hari. Mangsa favoritnya seperti babi, kijang, rusa, unggas, ikan, dan orang utan adalah sederet jenis hewan yang menjadi target buruan Harimau Sumatera. Uniknya Harimau jenis ini juga gemar makan buah durian.

Harimau Sumatera secara fisik dapat dikenali dari warna dan bentuk tubuhnya yang khas. Selain berwarna lebih gelap dengan pola hitam yang dominan dibandingkan harimau lainnya, Harimau Sumatera memiliki tekstur belang yang tipis. Janggutnya ditumbuhi banyak rambut. Harimau Sumatera betina berbobot sekitar 200 pound atau setara dengan 91 kg dengan panjang 78 inci atau 198 cm, sementara Jantan lebih berat dengan bobot 300 pound atau 140kg dengan ukuran rata-rata 92 inci atau 250 cm dari kepala ke bagian kaki. Uniknya, bulu kawanan betina akan berubah menjadi hijau gelap kala melahirkan. Keunikan lainnya, fauna buas ini mempunyai mata dan telinga yang sangat tajam. Ini sangat berperan dalam membantu kehidupan mereka yang berkembang di alam hutan liar.

Anak Anak Harimau Sumatera tidak membutuhkan waktu khusus untuk masa reproduksi. Untuk melahirkan generasi baru, Harimau Sumatera betina memerlukan waktu selama 103 hari dan biasanya melahirkan 2 atau 3 ekor anak. Setelah anak harimau lahir Indera penglihatan anak harimau baru berfungsi pada hari ke sepuluh setelah hari kelahirannya. Selama 8 minggu pertama harimau kecil itu hanya meminum air susu induknya dan baru akan mengkonsumsi makanan padat. Menginjak usia 18 bulan, mereka sudah berani berburu tanpa didampingi induknya. Usia Harimau Sumatera dapat mencapai 15 hingga 20 tahun.

Senasib dengan kondisi hewan endemik pada umumnya, populasi Harimau Sumatera kian memprihatinkan. Perburuan, pembebasan lahan hutan, dan aktivitas ekonomi lainnya semakin mengganggu keseimbangan habitat mereka. Penangkapan babi dan rusa yang kerap dilakukan masyarakat juga merusak sistem rantai makanan para hewan di dalam hutan. Apalagi, dalam satu tahun setidaknya Harimau Sumatera membutuhkan 50 ekor babi sebagai makanannya. Berkurangnya jumlah hewan yang menjadi target mangsanya, tentu sangat mempengaruhi kelangsungan hidup mereka. Banyaknya peminat barang-barang yang terbuat dari kulit Harimau asli pun menjadi salah satu ancaman paling mengerikan bagi mereka. Semoga saja masyarakat semakin sadar akan pentingnya melestarikan ekosistem agar hewan-hewan endemik Indonesia tak hanya tinggal nama dan cerita.[]