Kisah Liburan Nezla Saat Berwisata di Titik Nol Anyer Banten

LIBURAN Semester Genap kini sudah menghampiri, berwisata memang sudah suatu pelengkap saat liburan. Jika sudah merasa suntuk dan bosan berada di rumah. Inilah salah satu solusinya, yakni berwisata.  Aku, Nezla Anisa Ningrum seorang mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Malahayati bersama ketujuh teman ingin berbagi pengalaman saat kami berwisata di sekitar kampung halaman yakni Titik Nol Kilometer Anyer, Banten.

Siang itu perjalanan melewati pesisir Banten begitu melelahkan. Debu-debu jalanan, macet panjang disertai polusi asap kendaraan yang membuat suasana semakin panas. kami melewati kemacetan dari Cilegon hingga Lingkar Selatan, tanpa pikir panjang kami langsung mengambil jalan kearah Mancak dan menembus di Pasar Anyer. Butuh perjalanan panjang untuk di lalui, tetapi selama perjalanan mata kami selalu dimanjakan dengan pemandangan gunung serta persawahan nan cantik. Setelah itu kami meneruskan perlananan hingga ke Titik Nol Kilometer.

Matahari tepat diatas kepala, sengatan sang surya mulai terpancar ditambah dengan penuhnya wisatawan yang berkunjung membuat kami semakin sesak dan membuat kami meneteskan peluh disekujur tubuh. Sesampainya disana, kami mulai kembali mengisi energi dengan menyantap semangkok bakso tepat di pinggir pantai. Desahan angin dan deburan ombak laut bak batrai yang dapat membuat energi kami kembali seutuhnya.

Setelah energi pulih, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Mercusuar Anyer. Katanya, bangunan ini merupakan Monas-nya Anyer. Suasana begitu ramai dipadati wisatawan dikarenakan masih suasana hari raya. Anyer menyimpan sebuah benda, saksi sejarah dari bangsa ini. Bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan Belanda ini berada tepatnya di desa Cikoneng kampung Bojong. Bangunan yang terletak 5 km dari pusat Anyer ini merupakan mercusuar atau menara suar. Mercusuar ini tampak mencolok sebab berada di tepi jalan yang menghubungkan kawasan wisata Anyer-Carita. Gerbang menuju mercusuar pun sangat terlihat dari pinggiran jalan, masih dengan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Disana kami memuaskan diri untuk berfoto dan berkeliling di sekitar mercusuar dan jetty atau dermaga yang menjorok kelaut. Sangat disayangkan, saat kami datang pintu mercusuar ditutup. Alhasil kami tidak bisa memanjakan mata kami untuk melihat keindahan wilayah anyer dari atas mercusuar. Pada hari-hari kerja mercusuar ini tidak dibuka untuk umum atau tidak tentu sebab memang dipergunakan untuk bekerja, bukan untuk pariwisata. Wisatawan baru bisa masuk ke dalam mercusuar pada akhir pekan. Penjaga mercusuar sendiri mengatakan bahwa mercusuar ini sebetulanya tidak untuk komersil karena memang bangunan milik pemerintah. Namun banyak sekali wisatawan yang berkunjung dan penasaran, ingin tahu, dan bisa masuk ke dalam bangunan mercusuar. Tidak ada tiket masuk resmi untuk masuk ke dalam mercusuar. Tetapi setiap pengunjung ditarik biaya sekitar Rp.5000 untuk mendanai biaya perawatan terutama untuk pengecatan bangunan dan kebersihan. []

C360_2016-07-09-03-10-44-892

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 5 =