Catatan dan Renungan Yang Perlu Digarisbawahi Pada Peringatan Hari Bahari

Setiap merayakan Hari Bahari pada 23 September, dada mesti bergetar terlebih apabila mengingat lagu lama yang bersyair sebagai “nenek moyangku orang pelaut,”. Betapa tidak, semenjak nenek moyang kita, jauh sebelum generasi ini terlahirkan, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah menyadari akan karunia lautan yang sungguh luas ini. Hampir tiga per-empat luas Indonesia, didominasi oleh lautan.

Oleh sebab itu, negeri ini sebenarnya bukan merupakan negeri kepulauan, namun negeri lautan (bahari). Dengan penyebutan yang demikian, hampir bisa dipastikan akan mempengaruhi setiap keputusan pembangunan. Setidaknya, dengan pemahaman yang demikian, aspek kelautan akan senantiasa mewarnai setiap gerak langkah kebijakan pembangunan yang ada, sehingga aspek yang selama ini hampir terlupakan akan bisa digarap lebih optimal.

Kenyataannya tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini pemerintah Indonesia seolah tertutup matanya akan persoalan ini. Indonesia misalnya, justru belajar dari negara-negara yang tidak banyak memiliki lautan. Jelas, kebijakan pembangunan yang kurang tepat ini perlu dikoreksi sedemikian, sehingga nantinya benar-benar memiliki pijakan yang kuat sebagai negara maritim.

Padahal dari lautan inilah, negara Indonesia dapat memulai dan membenahi krisis yang tengah dihadapi ini. Nampanya sudah disadari akan pentingnya persoalan ini, yaitu dengan dibentuknya Departemen Eksplorasi Kelautan dan Perikanan dalam kabinet persatuan nasional dan juga Kabinet Gotong Royong. Melalui pembentukan departemen teknis tersebut, terlihat visi dan arah pembangunan Indonesia, dimana pemerintah ingin benar-benar back to basic, yakni benar-benar memperhatikan persoalan yang satu ini.

Indonesia bukan hanya pulau Jawa, namun beribu-ribu pulau, yang dipisahkan oleh lautan yang demikian luasnya. Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma pembangunan, dari yang sangat Jawa sentris, menjadi kebijakan yang benar-benar mampu untuk mengeksploitasi kekayaan lautan yang demikian hebatnya. Lautan memang menjanjikan sesuatu yang luar biasa, namun hal itu tidak akan ada artinya kalau hanya sekadar tahu namun tidak bertindak.

Mau tidak mau, kita perlu memalingkan perhatian pada sektor kelautan (kebaharian). Pada sektor inilah, tumpuan harapan bangsa bisa diletakkan. Percepatan pemulihan ekonomi Indonesia, akan dapat terjadi apabila kita dapat menggarap sektor kebaharian ini dengan maksimal. Selama ini, kita belum optimal memanfaatkan kekayaan sumber daya laut kita. Oleh sebab itu, langkah ke depan yang perlu segera dilakukan adalah memalingkan perhatian secara lebih serius pada sektor ini, jangan hanya sekadar dilirik saja. Segenap perhatian bangsa ini harus mulai difokuskan untuk memanfaatkan sumber daya laut secara optimal.

Itulah beberapa catatan dan renungan yang perlu digarisbawahi pada peringatan hari bahari. Potensi raksasa yang setengah tertidur ini perlu dibangun, bahkan penyadaran (awareness) yang terus menerus terhadap pentingnya kawasan bahari ini, perlu terus dilakukan. Dengan demikian, kawasan wisata pantai ini akan dapat terus dilestarikan sembari mengeruk devisa. Inilah bentuk ideal yang bisa diupayakan kita bersama di hari-hari mendatang. Lewat laut ini pula, warisan nenek moyang akan tetap bisa lestari sampai kapanpun, asal kita semua bisa menjaga dan melestarikannya.[]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + five =