Meski Berat, Kita Tidak Boleh Menyerah Teman Sejawat!

Lihatlah adik-adik kecil yang memegang gitar di perempatan lampu merah…

Lihatlah kakek tua itu di pinggir jalan dengan kaki bersila dan tangan menengadah ke udara..

Lihatlah pemuda-pemuda yang sedang mangambil sampah plastik di depan rumahmu..

Masih belum cukup? Dengar lah rintihan suara mereka yang berkata: saya belum makan hari ini.. Dengarlah tangisan anak mereka yang hitam legam terkena terik matahari karena tak memiliki rumah..

Dengarlah keluhan mereka yang ingin memakai seragam sekolah namun harapan itu tidak pernah terwujud.

Sungguh, hidup kita lebih beruntung beribu kali lipat dari mereka semua. Lalu, masihkah kita pantas menyerah?

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran tentu tidak mudah untuk melewati kuliah demi kuliah hingga ujian demi ujian. Terkadang kita terlalu lelah untuk mengikuti jadwal perkuliahan dari pagi hingga sore hari. Hari-hari penuh dengan skillab, tutorial, dan praktikum. Hingga tak jarang kita merasa malas dan jenuh.

Belum lagi ketika kita melihat papan pengumuman yang menuliskan nama kita di daftar nama-nama mahasiswa yang tidak lulus ujian. Semua terasa sangat pahit dan menyedihkan, bahkan tak jarang ada beberapa mahasiswi yang meneteskan air mata di depan papan pengumuman.

Semua menjadi bertambah buruk seiring dengan harapan yang begitu besar dari orang tua dan keluarga agar kita bisa lulus tepat waktu dan mendapat IPK diatas 3.

Benar bahwa, dibalik setiap pilihan yang kita pilih pasti mengandung resiko dibaliknya. Namun, hari ini ada bukan untuk kita mengeluh, meratapi atau bahkan meyesali pilihan kita untuk menjadi bagian dari mahasiswa kedokteran. Kita harus belajar bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Mungkin beberapa di antara  kita ada yang terpaksa mengikuti paksaan orang tua untuk kuliah di kedokteran. Jika memang kalian tidak inggin dan tidak sanggup, saya lebih menyarankan kalian untuk berani jujur dengan diri sendiri dan orang tua.

Bicarakan semuanya dengan baik-baik jika kalian benar-benar tidak inggin  mejadi dokter. Karena, kita tidak akan pernah berhasil jika kita tidak mencintai apa yang kita kerjakan.

Menjadi dokter itu harapan dari banyak orang, kalau kalian tidak percaya lihat saja di internet atau media massa, berapa jumlah pelajar SMA yang ketika test masuk perguruan tinggi memilih jurusan Fakultas Kedokteran di pilihan pertamanya.

Dan perhatikan, jurusan Fakultas Kedokteran selalu menduduki rangking-rangking atas disetiap perguruan tingginya. Itu menjadi buktinya nyata bahwa kita sangat beruntung bisa duduk dikursi yang kita duduki sekarang, kursi ini akan mengantarkan kita menjadi seseorang yang mengenakan snell jas putih dan stetoskop yang kita kalungkan di leher di kemudian hari.

Saya jadi teringat kata-kata guru saya, beliau adalah salah satu konsulen bedah urologi di bagian bedah tepat saya koaas. Saat itu beliau berbicara didepan  dua puluh satu orang dokter muda yang akan memulai koass di bagian bedah.

Ketika itu beliau prihatin melihat koass yang mudah sekali mengeluh saat menjalani dunia perkoassan, hingga beliau berkata, “yang ingin menggantikan posisi kalian itu banyak, mereka bahkan rela untuk antri. Tapi, mereka tidak ditakdirkan seperti kalian.”

Sesaat saya terdiam dan mencerna kata demi kata secara perlahan-lahan. Ternyata ungkapanya itu mampu menyentuh alam bawah sadar yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah saya dapatkan saat ini.

Saya berharap kata-kata dari guru saya itu juga bisa menjalar ke teman-teman yang sedang berusaha di perkulihan dan juga teman-teman yang sedang berjuang bersama saya di dunia koass.

Tidak ada kesuksesan yang dapat diraih dengan mudahnya. Semuanya butuh keringat dan kerja keras. Dan ingat “Orang yang berhasil itu bukan orang yang hanya tidur, tapi mereka tidur ketika mereka telah berhasil”.

Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Mungkin kita akan menghadapi kegagalan yang datang secara bertubi-tubi dan memporak-porandakan semangat  hingga tak tersisa.

Maka, disaat itu. Ingat lah “Tak ada nahkoda yang handal lahir dari ombak yang tenang” jadi jika kita inggin berhasil lihat lah ujian atau cobaan itu sebagai sebuah batu loncatan untuk kita bisa melangkah lebih jauh dan lebih tinggi.

Masyarakat indonesia sedang menantikan kita teman. Sudah terlalu lama mereka akrab dengan TBC dan malaria, sudah jenuh rasanya diabetes dan hipertensi ada dalam tubuh mereka dan sudah ribuan anak-anak yang meninggal karena diare dan gizi buruk. Itu sepenggal kisah dari tangisan mereka di pelosok-pelosok negri ini.

Ingat lah rakyat yang sedang sakit, saat rasa malas ini menyelimuti. Bayangkanlah keringat orang tua kita yang menetes deras saat jenuh ini menghantui. Renungkanlah apa yang terjadi jika kita memilih untuk diam dan menyerah!

Pilihan ini ada padamu, teman sejawat!

Penulis : dr. Sigit Prama Iustitia N

Dosen Fakultas Kedokteran

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *