Rusli Bintang, Sang Peduli Anak Yatim

Tulisan Kabul Budiono, Pimpinan di Direktorat Program dan Produksi RRI, tentang Rusli Bintang.

Kami tidak merencanakan pertemuan itu. Berangan angan pun tidak. Namun, kami memang bertemu. Dari pertemuan itu saya belajar banyak tentang kebaikan hati dan keikhlasan luar biasa. Di mana? Di dalam pesawat terbang yang membawa kami ke Banda Aceh. Karenanya, saya percaya Allah lah yang mempertemukan kami. Allah yang berkehendak agar saya mendengar dan melihat apa yang dilakukan laki laki yang bernama Rusli Bintang.

“ Bapak, tinggal di Aceh?” Demikian tanya laki-laki di sebelah saya. Itulah awal perbincangan kami. Sayapun akhirnya tahu bahwa laki-laki berusia 65 tahun itu bernama Rusli Bintang. Saya sesungguhnya sudah melihatnya di depan pintu masuk pesawat Garuda Indonesia. Dari cara dia memalingkan muka, saya berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan  lehernya. Pun saya tidak menduga bahwa laki-laki berkaos sederhana itu akan duduk di samping saya di kelas bisnis.

“ Ya Bapak lihat, saya tidak bisa memalingkan muka dengan benar. Ini karena dulu saya sering memanggul beras“. Ya, Rusli Bintang, yang sekarang naik pesawat bersama saya, telah melewatkan hidupnya dengan kerja keras. Ia adalah anak sulung dari 9 bersaudara. Ia dan saudara saudara menjadi anak yatim karena Allah memanggil pulang bapaknya ketika ia masih remaja. Ia pernah menjadi tukang bersih-bersih salah satu kantor.  Ia juga pernah menjadi tukang angkat barang di pasar Ulee Kareeng tidak jauh dari rumahnya.

Namun, kini, apa yang terjadi ? Rusli Bintang yang tidak pernah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah yang setingkat SD itu kini pulang ke tanah kelahirannya untuk membagi bagi uang untuk ratusan anak yatim dan ibunya.

“Selama bulan Ramadhan ini, kami jalan terus. Saya langsung datangi anak anak yatim ke rumahnya. Saya bagikan uang untuk beli baju lebaran. Habis dari Aceh kami ke Padang, kemudian ke Ujung Pandang (Makassar). Setiap bulan kami keluarkan uang 2 milyar untuk sedekah anak anak yatim“.

Mengapa demikian? Ia meminta saya mengingat ayat 261 Surat Al Baqarah. “Bapak baca ayat itu,“ demikian pintanya. Ayat 261 Surat Al Baqarah adalah permintaan Allah agar seorang Muslim menyedekahkan hartanya untuk anak yatim. “Coba Bapak hitung. Sekali memberi, akan berlipat tujuh ratus kali. Tetapi Bapak harus yakin, harus ikhlas. Bahagia sekali memberi anak yatim itu… “

Saya menanyakan mengapa ia peduli betul sama anak yatim? Ia bercerita bagaimana derita hidupnya ketika menjadi anak anak yatim ketika ditinggal mati ayahnya saat ia masih remaja. Ia adalah sulung dari adik-adiknya.

“ Saya sedih sekali pak. Adik saya meninggal gara gara uang 1000 rupiah dan saya tidak dapat memberinya. Adik saya itu, mau ujian SMP harus membayar uang untuk ujian. Ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Tetapi ia tidak bisa ikut karena tidak bayar. Sayapun mencari uang. Tetapi susah sekali. Akhirnya saya dapat uang itu dan saya berikan uang itu untuk bayar uang ujian. Tetapi….”

Tiba tiba suaranya tersendat. Air matanya menetes. “Malam itu adik saya sakit. Ia mencret-mencret. Saya gendong dia ke rumah sakit. Punggung saya belepotan  kotorannya itu. Sampai di rumah sakit. Ia sudah lemah sekali. Akhirnya dia meninggal…… Saya sedih sekali pak. Karena kata dokter ia sakit karena stress. Sedih dan panik karena tidak bisa ikut ujian.“

Rusli pun menyeka air matanya. Saya terhenyak mendengar ceritanya. Karena itulah ia sangat berempati pada anak anak yatim dan berusaha membantunya.

Rusli Bintang sejak muda, sudah membiasakan diri bersedekah untuk anak-anak yatim.  Ketika Allah telah memberi rizki dengan mengubah kehidupannya dari seorang buruh menjadi pengusaha, terus menggelontorkan sebagian hartanya untuk para yatim piatu.

Dari hasil usahanya, di Banda Aceh dia mempunyai perguruan tinggi yang diberinama Abuyatama, yang berarti ayah anak yatim. Di Bandar Lampung berdiri megah Universitas Malahayati, dan di Jakarta perguruan tingginya ada di kawasan Kelapa Gading, yaitu Insititut Kesehatan, dan di Batam ada Universitas Batam.

Selain terhenyak mendengar kisah hidupnya pertemuan saya dengan Rusli menyebabkan kekagetan lain. Ketika saya bercerita bahwa saya ke Banda Aceh untuk membuka Pekan Tilawatil Qur’an tingkat Nasional dan bercerita bahwa tahun lalu ada dermawan yang memberi hadiah umrah untuk juara 1, di atas pesawat itu Pak Rusli bilang, “Kali ini saya yang akan membiayai umrah untuk para pemenang itu.”

Sungguh, saya tidak meyakini apa yang dikatakannya itu. Tetapi begitu sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda, di pintu keluar ia bertemu Mirza Musa Kepala RRI Banda Aceh, pak Rusli Bintangpun bilang, “untuk juara yang lima itu, umrahnya dari saya“. Mirza kelihatan bingung. Ia baru percaya ketika saya menceritakan pembicaraan kami di pesawat.

Dalam mobil yang membawa saya dari bandara Mirza berkata, “Pak Rusli itu dulu bekerja, sama bapak saya. Ia yang membuka pintu pagi pagi dan bersih bersih kantor bapak saya.“

Subhanallah, Allahu Akbar…

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *