22 Tahun Malahayati; Sebuah Renungan Rusli Bintang

UNIVERSITAS Malahayati boleh dikata adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang  mentereng di negeri ini. Berada di Jalan Pramuka, Kemiling, Bandar Lampung, kampus berwarna hijau ini berada di atas lahan 84 hektare yang dikelilingi rerimbunan pohon. Di dalam enam blok gedung berlantai delapan bertabur fasilitas akademik yang sangat memadai, bahkan melebihi dari yang dibutuhkan.

malahayatiTak hanya fasilitas akademik, juga ada sarana pendukungnya. Misalnya asrama, sarana olahraga seperti golf, badminton, futsal, hingga kolam renang, pencucian pakaian, hingga kuliner.

Bahkan disediakan fasilitas rumah sakit yang terletak beberapa meter di sebelah kiri gerbang kampus yang diberi nama Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Sangat panjang jika meguraikan satu per satu fasilitasnya. (Agar Lebih Jelas, Silahkan Klik; Fasilitas Universitas Malahayati).

Didirikan pada 27 Agustus 1993, berjalanlah universitas ini dimulai dari deretan ruko Jalan Kartini, Bandar Lampung, kini kampus ini sudah menempati lahan puluhan hektare dengan berbagai fasilitas. Pada Agustus ini, Universitas Malahayati kembali merayakan ulang tahunnya. (Klik di sini untuk membaca Profil Universitas Malahayati)

Membandingkan antara fasilitas dan riwayat pendirinya, kenyataan ini hampir-hampir mustahil terjadi, namun begitulah fakta yang kita lihat sekarang ini.

Pendirinya, Rusli Bintang, adalah seorang anak yatim yang mengawali kehidupannya dengan sangat berat.

rusli-bintangRusli kecil lahir pada Jumat 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Sedangkan ibunya, ya ibu rumah tangga biasa.

Walau masa kecilnya bukanlah dari kalangan berada, ia mengawali kehidupan yang bahagia. Iya ingat, ayahnya yang mantri kesehatan itu hampir setiap hari keluar masuk kampung mengayuh sepeda untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongannya.

Maklum, mantri kesehatan di perkampungan tentu sangat jarang. Bahkan di masa itu dokter pun belum ada. Jadilah Bintang harapan masyarakat. Tanpa perduli waktu, kadang tengah malam, pun ia tetap akan keluar rumah jika warga membutuhkannya.

Kerab kali, Bintang membonceng Rusli untuk menemaninya membantu orang-orang kampung. “Saya pernah bingung melihat ayah saya sering tak mendapat bayaran apa-apa setelah mengobati orang sakit. Saya pernah menanyakan itu, tapi ia malah menasehati saya agar mengisi hidup dengan rasa sosial. Sebab di situlah letak makna kehidupan yang sesungguhnya. Keberadaan kita berguna bagi sesama manusia,” kata Rusli.

Namun Rusli tak bisa mendengar nasehatnya sampai ia dewasa. Allah berkehendak lain. Bintang kembali ke pangkuan Ilahi di masa usia Rusli masih terlalu dini, ia belum sempat menginjakkan kakinya ke sekolah menengah.

Di tengah-tengah kehilangan seorang ayah, Rusli tiada pilihan lain. Ia sebagai anak sulung harus merawat enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Maka, ia meminta izin dari ibundanya untuk membantu mencari rezeki buat sekolah adik-adiknya.

Maka jadilah Rusli bekerja serabutan.  Ia membagi waktu, siang mengambil upah memanjat kelapa, malam sampai dini hari memanggul pasir di kali. “Kadang-kadang kuli lain heran mengapa punya saya sudah banyak pas mereka datang. Padahal saya mengangkutnya malam hari, mereka mengangkutnya pagi,” kata Rusli tersenyum mengenang masa pahit hidupnya itu.

Namun senyum Rusli mendadak hilang ketika bercerita tentang kisah selanjutnya. Kendati bekerja keras seperti itu, ia ternyata masih kesulitan dalam memenuhi biaya sekolah salah satu adiknya yang saat itu sedang mau menghadapi ujian akhir sekolah SMP. Padahal yang dibutuhkan adalah uang seribu rupiah.

Rusli meminta pada adiknya bersabar. “Ia adik saya yang pintar di sekolah,” kata Rusli. Bercerita soal ini, Rusli mulai meneteskan air matanya. Sang adik tak bisa ikut ujian jika belum membayar uang sekolah. Maka Rusli pun berusaha mencari uang ke sana ke mari, hingga uang sekolah adiknya didapat.

Namun sang adik sudah terlanjur depresi, ketakutan, dan kesedihan. Si adik ketakutan tidak bisa mengikuti ujian gara-gara belum bayar uang sekolah, kondisi tersebut semakin menyiksanya dan membuatnya sakit. Rusli pun datang ke sekolah membayar uang sekolah itu.

Ketika Rusli pulang ke rumah, ia melihat adiknya sudah tergeletak di atas tikar. Melihat adiknya yang terlanjur sakit parah, Rusli sedih bukan main. Apalagi ketika ia melihat adiknya muntah-muntah.

Sambil menangis, anak yatim ini menggendong adiknya. Ia membawanya ke puskesmas dengan berjalan kaki pada malam hari. Bahkan adiknya yang dalam gendongannya mulai mengeluarkan cairan kotoran sampai berlepotan di punggung Rusli.

Rusli terus berlari agar cepat tiba, namun sesampai di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi. “Dokter mengatakan jika stres, sedih, dan ketakutan tidak bisa mengikuti ujian yang dialami adiknya membuat dia sakit dan meninggal,” kata Rusli. Cerita itu memang membuat hancur hati Rusli. Ia tak mampu melanjutkan kisah hidupnya.

Sejumlah teman-teman dekat Rusli bercerita, sejak itu ia bertekat untuk mendirikan sekolah dan membantu anak-anak yatim. Maka berbagai kerja pun dilakoni. Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Kerja keras Rusli mengantarnya ke sebuah perusahaan konstruksi. Dari sini ia belajar menjadi kontraktor. Belakangan ia menjadi pengusaha konstruksi. Bahkan, sebuah perusahaan semen PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis, mempercayai Rusli sebagai satu-satunya pengusaha yang mendistribusikan semen.

Belakangan Rusli menjual semua truknya dan asset perusahaan, lalu mendirikan pesantren. Di sini ia mulai menampung anak-anak yatim. Kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di dekat rumahnya di Lampoh Keudee, Ulee Kareng Aceh Besar. Ini menjadi perguruan tinggi swasta tertua di Aceh.

Setelah itu barulah ia mendirikan Universittas Malahayati di Bandar Lampung pada 27 Agustus 1993, menyusul kemudian Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Kini puluhan ribu mahasiswa belajar di berbagai kampus yang di dirikannya. Di antara para mahasiswa itu sungguh ramai anak-anak yatim yang mendapat beasiswa. Biaya kuliah digratiskan, biaya hidup pun ditanggung. Setelah selesai kuliah pun mereka ditawarkan pekerjaan di tempatnya.

Anak-anak yatim yang belum masuk bangku kuliah disantuninya. Bahkan, ibu-ibu anak yatim pun dibantu, mereka bekerja dan mendapat gaji bulanan—apapun yang bisa dikerjakan tak masalah— di kampus-kampus yang didirikannya itu.

rusli-bintang2Di setiap bulan ramadhan, tim dari kampus-kampus di terjun ke berbagai daerah untuk menyalurkan santunan. Mereka datang ke berbagai rumah anak yatim. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH pada ramadhan tahun ini yang berkeliling dari Aceh, Sumut, Padang, dan Lampung, untuk menyalurkan santunan anak yatim.

Miliaran rupiah per bulan untuk anak-anak yatim di berbagai tempat di negeri ini kini menikmati hasil dari kerja keras Rusli Bintang.

Selamat ulang tahun Universitas Malahayati. Renungkanlah jejak-jejak yang pernah dilalui pendirinya; Rusli Bintang. Sebuah jejak panjang mengurai cerita yang sarat makna kehidupan. []

2 replies
  1. najamuddin nst.s.sos.m.hum
    najamuddin nst.s.sos.m.hum says:

    tiada kata yg bisa kuucapkan. setiap kali membaca kisahnya pak rusli bintang. hatiku tersayat.air mata keluar semoga alm adek pak rusli bintang ditempatkan disisinya. andaikata ada 1 org saja mau menolong kuyakin nasib adek pak rusli bintang pasti lain. dia akan gembira dan semangat mengikuti ujian. oh tuhan. marilah kita menolong anak yatim kedepan semampu kita

    Reply
  2. nuarr
    nuarr says:

    Subhanallah,bapak Rusli bintang ini, beliau sadar betul bahwa harta yg ia miliki itu milik Allah, maka beliau membelanjakan hartanya menurut Allah, sangat luar biasa sekali

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *