Rektor Kadafi Memutar Memori Tentang Rusli Bintang

“JIKA diibaratkan manusia, Universitas Malahayati kini melangkah menuju kedewasaan, ia sudah mengarungi dan melalui jiwa kekanak-kanakan dan juga masa remaja yang penuh gejolak dalam mencari jati diri,” kata Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, pada pidato malam puncak Dies Natalis Universitas Malahayati di Graha Bintang, tadi malam.

Pernyataan Kadafi itu disampaikan di hadapan seluruh dosen, mahasiswa, karyawan, dan juga keluarganya yang hadir pada malam itu. Suasana terasa hening tatkala Kadafi mengajak semua untuk sejenak memutar memori ke titik awal berdirinya Universitas Malahayati pada Jumat 27 Agustus 1993.

Itu tentang kelahiran sebuah kampus di Bandar Lampung dari seorang “bidan” bernama H. Rusli Bintang yang juga lahir pada hari Jumat pada 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Rusli yang menjadi bidan, melahirkan, dan kemudian membesarkan Universitas Malahayati.

Berawal dengan merangkak-rangkak dari beberapa ruko di Jalan Kartini, kini kampus ini berdiri megah di Jalan Pramuka Nomor 27, Bandar Lampung. Berada dalam lahan 84 hektare, di sini berdiri sejumlah gedung berlantai delapan.

Beragam fasilitas ada di sini, mulai dari fasilitas akademik seperti lab kesehatan hingga non akademik seperti sarana olah raga. Bahkan, ada rumah sakit yang melengkapinya yaitu Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Hingga kini Rusli masih sangat perhatian pada kampus ini.

Sedikit saja kampus ini meriang, maka Rusli akan merasakan demam, dan menjalar ke berbagai sendi-sendi kehidupannya. Bahkan ia juga pontang-panting mencari obat mujarab agar kita tetap segar.

Ia telah membuat tonggak dalam kehidupannya. Mendirikan sebuah menara kehidupan bagi jutaan orang, yaitu untuk dunia pendidikan dan juga anak-anak yatim. Sebuah menara kehidupan yang diisi dengan cinta kasih antar sesama manusia dan lingkungannya.

Itulah sebabnya, Kadafi mengajak semua untuk merenungi kilas balik jerih payah yang sudah dilakukan oleh semua tokoh-tokoh kampus agar bisa melangkah ke depan dengan mantap.

***

“PAK Rusli Bintang adalah orang tua kita bersama. Beliau membangun kampus ini dan juga beberapa kampus lainnya, bukanlah untuk kepentingan pribadi, tetapi adalah untuk pengabdian beliau dalam menjalani kehidupan. Itulah sebabnya, semua kampus yang didirikannya selalu mengutamakan kepentingan sosial, terutama untuk menyantuni anak-anak yatim.”

Kalimat itu juga dari Kadafi. Hanya saja itu disampaikannya pada Senin 17 Agustus 2015. Saat itu, Universitas Malahayati sedang memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-70, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan HUT Universitas Malahayati.

Suasana pembukaan HUT Malahayati memang terasa lebih merasuk, sebab dilakukan di dekat Danau Yatim Universitas Malahayati, berlangsung sederhana, makan bersama di bawah tenda yang tersusun di jalan tepi danau. Kadafi mengatakan yang paling penting dari dies natalis ini tak lebih adalah sebuah perenungan dari sebuah perjalanan panjang kampus ini.

“Jejak kampus ini tak lepas dari langkah-langkah yang sudah ditempuh Pak Rusli. Jika kita lihat langkah-langkah yang ditempuhnya, tentu tak bisa kita cerna dengan logika sederhana. Bagaimana ia yang anak yatim, hanya sekolah tamatan SMA, namun bisa mendirikan empat kampus di berbagai daerah,” katanya.

Sejenak Kadafi menceritakan riwayat hidup Rusli Bintang. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga sederahana dan bahagia. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Dari ayahnya yang berjiwa sosial, dan sang ibu yang penyayang itulah tertanam rasa kasih sayang pada sesama.

Namun di saat usianya yang masih belia, Allah berkehendak lain. Bintang kembali kepangkuan Ilahi, tinggallah Rusli bersama ibunya dan enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Waktu itu, Rusli masih duduk di kelas satu SMA Muhammadiyah.

Sejak itu, Rusli menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan untuk membantu adik-adiknya bersekolah.

Hingga kemudian, ia menerima cobaan lagi, tatkala seorang adiknya, Darmawan, meninggal dunia lantaran stres tak bisa ikut ujian akhir sekolahnya di SMP Iskandar Muda, pada 1970. “Waktu itu, ia membutuhkan biaya sekolah hanya seribu rupiah. Saya minta waktu untuk mencarinya, saat uang saya dapatkan, adik saya sudah terlanjur sakit lantaran memikirkan sekolahnya,” katanya.

Melihat sang adik tergolek lemah di atas tikar. Anak yatim ini membopongnya membawa ke puskesmas terdekat. Rumah Rusli di Lampoh Keudee adalah kawasan perkampungan, saat itu kendaraan umum tak ada yang masuk kampung.

Jadilah Rusli menggendong adiknya untuk dibawa ke puskemas. Ia berjalan kaki berlari-lari membawa adiknya. Bahkan dalam perjalanan, pungung Rusli sudah dipenuhi kotoran dan muntah sang adik yang sakit parah. Setibanya di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi.

Sejak itu Rusli bertekad untuk mengubah nasib anak-anak yatim. Maka berbagai kerja dilakoninya, Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Hingga kemudian Rusli menjadi pengusaha konstruksi dengan menggunakan CV Desa Jaya pada 1977. Setahun kemudian, ia sudah memiliki perusahaan sendiri bernama CV Kumita Karya. Badan usaha ini, ditingkatkan statusnya menjadi badan hukum PT Kumita Karya pada 1979.

Setahun bersama PT Kumita Karya, Rusli sudah menyantuni 750 anak yatim di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Bisnis Rusli berkembang dengan pesat, bahkan menjadi satu-satunya pengusaha angkutan yang dipercaya menjadi pendistribusi semen hasil produksi PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis.

Sukses berbisnis tak membuat Rusli melupakan janji, lalu ia mendirikan Yayasan Abulyatama pada 1983. Dari sinilah ia kemudian mendirikan sekolah dasar, SMP, SMA, dan Pesantren Babun Najah di Ulee Kareng Banda Aceh. Hingga kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di Lampoh Keudee, Aceh Besar. Kampus ini kini sangat berkembang, dan berbagai fasilitas berada dalam lahan seluas 54 hektare.

Sebagaimana arti dari nama Abulyatama, maka Rusli pun menjadi ayahnya anak-anak yatim. Ia menyantuni anak yatim, menyekolahkan mereka, bahkan menampungnya bekerja di seluruh unit usaha yang didirikannya.

Kemudian, Rusli mendirikan Universitas Malahayati dengan badan hukum Yayasan Alih Teknologi di Bandar Lampung. Selanjutnya ia membangun Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

***

Di atas mimbar yang berada di sudut kiri panggung di Graha Bintang, Kadafi masih melanjutkan pidatonya. Ia mengatakan perjalanan panjang Universitas Malahayati tentu diwarnai berbagai dinamika.

Seperti halnya manusia, dalam sejarah peradabannya sering dipenuhi berbagai pertentangan dan sinergi. Laksana dua buah kutub medan magnet yang menimbulkan daya tolak satu sama lain atau dua muatan listrik yang saling tarik menarik yang menghasilkan energi, lalu dari sini bisa menjadi penerangan atau kerusakan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap menjaga dua muatan listrik ini tetap saling tarik menarik dan menghasilkan penerangan bagi kampus ini?” Kadafi bertanya.

Di kampus Universitas Malahayati ada ribuan orang dengan berbagai pola fikir yang berbeda-beda, dan juga sifat dan karakter yang beragam. Jadi, kata Kadafi, dari sini bisa menghasilkan sebuah energi besar untuk mendorong Universitas Malahayati menjadi lembaga pendidikan yang sangat diperhitungkan. “Intinya, adalah menyatukan pikiran ke arah yang positif,” katanya lagi.

“Saya percaya pada kekuatan berpikir ini. Jika kita sama-sama memadukan kekuatan berpikir, melahirkan ide-ide positif, dan kemudian mewujudkannya, maka Insya Allah akan berwujud pada sebuah makna kehidupan yang bernilai tinggi di Universitas Malahayati ini,” kata Kadafi.

Lalu, Kadafi mengajak seluruh civitas akademika untuk menghadirkan refleksi dari perjalanan kampus ini, atau yang paling singkat adalah perjalanan per individu kita di kampus ini.

Benar, refleksi dalam ilmu eksak adalah perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi asalnya, setelah menumbuk antarmuka dua medium. Refleksi dalam kehidupan adalah proses merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan, tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dalam melangkah ke depan.

Filsuf Yunani, Socrates, menyebutkan “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi.” Mari kita merenungkannya, dan mari kita merasa-rasakannya, dan marilah kita wujudkan cita-cita kita bersama.

“Cita-cita untuk mewujudkan makna keberadaan kita di Universitas Malahayati. Lalu, kita bisa mewujudkan makna keberadaan Universitas Malahayati di negeri ini. Dari sini, bisa menilai seperti apa sebenarnya diri kita ini.”

“Apakah kita sosok yang memancarkan cahaya yang menerangi kehidupan, atau kita adalah penyebab kegelapan. Mari merenungkannya.” []

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − nine =