Posts

Ngarak Maju; Budaya Adat Saibatin Tetap Bertahan Tak Termakan Zaman

TAK bosan rasanya jika membahas kenaekaragaman budaya Lampung. Salah satunya budaya yang masih dipertahankan oleh masyrarakat Lampung Pesisir dalam setiap perhelatan pesta adat digelar. Meski mereka tak mampu melawan gerusan era Globalisasi pada budaya timur, mereka tetap mempertahankan budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Contohnya masyarakat Pekon Sukajadi Marga Pertiwi, Cukuh Balak di Marga Pugung, Tanggamus masih berpegang teguh melestarikan budaya daerahnya.

Nayuh merupakan pesta adat Lampung pesisir yang dilaksanakan secara besar-besaran. Banyak rangkaian prosesi yang harus dijalani oleh “Maju” dan “Bunnting”. Maju merupakan sebutan untuk pengantin perempuan sedangkan bunnting merupakan sebutan untuk pengantin pria. Prosesi ngarak maju diawali dengan mengarak kedua pengantin dari gedong dalom menuju rumah sesepuh adat setempat. Gedong dalom sendiri merupakan rumah mempelai pria yang akan melaksanakan nayuh. Kebetulan mempelai pria merupakan keturunan saibatin atau pimpinan tertinggi di kebandaran setempat.

Sesampainya di rumah sesepuh adat setempat, mempelai langsung berganti pakaian adat Lampung Pesisir. Begitu pun para Panakauan akan berganti pakaian juga. Panakauan merupakan muli dan bebai yang masih memiliki garis keturunan saibatin. Merekalah akan ikut dalam prosesi ngarak maju. Selepas berganti pakaian mereka langsung diarak menuju gedung dalom. Ciri yang paling menonjol yakni maju dan panakauan mengenakan sigoh dan bunnting mengenakan iket pujuk. Sigoh merupakan mahkota khas Lampung yang dipakai oleh mempelai wanita sedangkan iket pujuk merupakan kain penutup kepala untuk bunnting dengan bagian yang lancip pada bagian atasnya.

Mempelai wanita diarak menggunakan juli. Juli ini merupakan semacam tandu khas Lampung yang ditutup menggunakan kebung (kelambu) berwarna putih dan transparan. Juli ini tidak sembarangan bisa dipakai oleh mempelai pengantin. Hanya keluarga keturunan saibatin-lah yang bisa menggunakan juli ini. Pemilihan warna putih juga bukan sembarangan. warna putih dalam setiap perhelatan adat menunjukkan bahwa itu milik saibatin. Hanya keturunan saibatin yang bisa menggunakan warna putih saat acara adat berlangsung. Masyarakat Lampung pesisir memang memiliki simbol-simbol yang kuat dengan penggunaan warna-warna tertentu dalam perhelatan adat.

Selama prosesi ngarak, dimana pengantin wanita diarak menggunakan juli, mempelai pria berjalan bersama panakauan di belakang mempelai wanita. Berbagai dendang dan syair-syair khas Lampung pun didendangkan. Persis berada di depan pengantin wanita yang diarak ada rombongan penabuh rebana dan pelantun lagu. Mereka bernyanyi penuh riang gembira mengiring maju dan bunnting.

Baca cerita lanjutannya

Upacara Pernikahan Adat Lampung Pepadun

LAMPUNG dikenal dengan sebutan “Sai Bumi Khua Jukhai”, secara Bahasa artinya Satu Bumi Dua Cabang. Sedangkan berdasarkan Makna yaitu “Sai Bumi (satu Bumi)” bermakna suku bangsa yang mendiami satu wilayah yang berasal dari keturunan yang sama, dan “Khua Jukhai (Dua Cabang)” bermakna dua jenis adat istiadat yang dikenal di masyarakat.

Dari semboyan diatas kita mengenal dua adat istiadat yang ada di masyarakat Lampung yaitu Sai Batin dan Pepadun. “Sai Batin” berarti Satu Penguasa (Raja) sedangkan “Pepadun” berarti Tempat Duduk Penobatan Penguasa.

Dalam tata cara masyarakat Lampung Pepadun, pernikahan bisa di lakukan dalam dua cara yaitu cara pernikahan biasa (yang berlaku secara umum) atau pernikahan semanda yaitu pihak laki-laki tidak membayar uang jujur tetapi suami & anak-anaknya kelak akan menjadi anggota keluarga garis istri. Dengan demikian ketika ayah si istri meninggal, sang menantu dapat menggantikan kedudukan mertuanya sebagai kepala keluarga. Hal ini bisa terjadi disebabkan karena sang istri adalah anak tunggal dalam keluarganya atau alasan lainnya. Secara prinsip, masyarakat Lampung mengikuti garis keturunan patrilinier.

Untuk lebih mengenal kebudayaan masyarakat lampung pepadun, terutama mengenai tata cara adat perkawinannya, berikut akan dijelaskan rangkaian prosesi adat pernikahannya yang memiliki keunikan tersendiri dibanding daerah lain.

  1. Nindai/ Nyubuk
    Ini merupakan proses dimana pihak keluarga calon pengantin pria akan meneliti atau menilai apakah calon istri anaknya. Yang dinilai adalah dari segi fisik & perilaku sang gadis. Pada Zaman dulu saat upacara begawei (cacak pepadun) akan dilakuakn acara cangget pilangan yaitu sang gadis diwajibkan mengenakan pakaian adat & keluarga calon pengantin pria akan melakuakn nyubuk / nindai yang diadakan dibalai adat.
  2. Be Ulih – ulihan (bertanya)
    Apabila proses nindai telah selesai dan keluarga calon pengantin pria berkenan terhadap sang gadis maka calon pengantin pria akan mengajukan pertanyaan apakah gadis tersebut sudah ada yang punya atau belum, termasuk bagaimana dengan bebet, bobot, bibitnya. Jika dirasakan sudah cocok maka keduanya akan melakukan proses pendekatan lebih lanjut.
  3. Bekado
    Yaitu proses dimana keluarga calon pengantin pria pada hari yang telah disepakati mendatangi kediaman calon pengantin wanita sambil membawa berbagai jenis makanan & minuman untuk mengutarakan isi hati & keinginan pihak keluarga.
  4. Nunang (melamar)
    Pada hari yang disepakati kedua belah pihak, calon pengantin pria datang melamar dengan membawa berbagai barang bawaan secara adat berupa makanan, aneka macam kue, dodol, alat untuk merokok, peralatan nyireh ugay cambia (sirih pinang). Jumlah dalam satu macam barang bawaan akan disesuaikan dengan status calon pengantin pria berdasarkan tingkatan marga(bernilai 24), tiyuh (bernilai 12), dan suku (berniali 6). Dalam kunjungan ini akan disampaikan maksud keluarga untuk meminang anak gadis tersebut.
  5. Nyirok (ngikat)
    Acara ini biasa juga dilakukan bersaman waktunya dengan acara lamaran. Biasanya calon pengantin pria akan memberikan tanda pengikat atau hadiah istimewa kepada gadis yang ditujunya berupa barang perhiasan, kain jung sarat atau barang lainnya. Hal ini sebagai symbol ikatan batin yang nantinya akan terjalin diantara dua insan tersebut.
    Acara nyirok ini dilakukan dengan cara orang tua calon pengantin pria mengikat pinggang sang gadis dengan benang lutan (benang yang terbuat dari kapas warna putih, merah, hitam atau tridatu) sepanjang satu meter. Hal ini dimaksudkan agar perjodohan kedua insane ini dijauhkan dari segala penghalang.
  6. Menjeu ( Berunding)
    Utusan keluarga pengantin pria datang kerumah orang tua calon pengantin wanita untuk berunding mencapai kesepakatan bersama mengenai hal yang berhubungan denagn besarnya uang jujur, mas kawin, adat yang nantinya akan digunakan, sekaligus menentukan tempat acara akad nikah dilangsungkan. Menurut adat tradisi Lampung, akad nikah biasa dilaksanakan di kediaman pengantin pria.
  7. Sesimburan (dimandikan)
    Acara ini dilakukan di kali atau sumur dengan arak-arakan dimana calon pengantin wanita akan di payungi dengan paying gober & diiringi dengan tabuh-tabuhan dan talo lunik. Calon pengantin wanita bersama gadis-gadis lainnya termasuk para ibu mandi bersam sambil saling menyimbur air yang disebut sesimburan sebagai tanda permainan terakhirnya sekaligus menolak bala karena besok dia akan melaksanakan akad nikah.
  8. Betanges (mandi uap)
    Yaitu merebus rempah-rempah wangi yang disebut pepun sampai mendidih lalu diletakkan dibawah kursi yang diduduki calon pengantin wanita. Dia akan dilingkari atau ditutupi dengan tikar pandan selama 15-25 menit lalu atasnya ditutup dengan tampah atau kain. Dengan demikian uap dari aroma tersebut akan menyebar keseluruh tubuh sang gadis agar pada saat menjadi pengantin akan berbau harum dan tidak mengeluarkan banyak keringat.
  9. Berparas (cukuran)
    Setelah bertanges selesai selanjutnya dilakukan acra berparas yaitu menghilangkan bulu-bulu halus & membentuk alis agar sang gadis terlihat cantik menarik. Hal ini juga akan mempermudah sang juru rias untuk membentuk cintok pada dahi dan pelipis calon pengantin wanita. Pada malam harinya dilakukan acara pasang pacar (inai) pada kuku-kuku agar penampilan calon pengantin semakin menarik pada keesokan harinya.
  10. Upacara Akad Nikah
    Walau menurut adat, akad nikah dilakukan di kediaman pengantin pria tetapi sesuai perkembangan Zaman dan kesepakatan keluarga, akad nikah banyak dilakukan di rumah pengantin wanita. Rombongan pengantin pria dan pengantin wanita akan diwakili oleh utusan yang disebut Pembareb. Kedua rombongan ini akan disekat atau di halangi oleh appeng (selembar kain sebagai rintangan yang harus di lalui).
    Jika sudah terjadi Tanya jawab antar pembareb, pembareb pihak pria akan memotong appeng dengan alat terapang dan kemudian masuk kedalam rumah dengan membawa barang seserahan berupa dodol, urai cambai (sirih pinang), juadah balak (lapis legit), aneka kue dan Uang adat. Lalu akad nikah pun dilakukan dan kedua pengantin menyembah sujud pada orang tua.
  11. Upacara Ngurukken Majeu / Ngekuruk
    Hal yang tak kalah menarik dalam rangkaian upacara adat perkawinan masyarakat lampung Pepadun adalah upacara adat ngurukken majeu yaitu saat pengantin wanita secara resmi akan dibawa ke rumah pengantin laki-laki dengan naik rato yaitu kereta beroda empat atau ditandu. Pengantin laki-laki berada di belakang dibagian depan sambil memegang tombak. Sampai di rumah pengantin pria, mereka akan disambut dengan tabuh-tabuhan dan seorang ibu akan menaburkan beras kunyit dan uang logam. Di depan rumah juga tersedia pasu yaitu wadah dari tanah liat berisi air dan tujuh jenis kembang sebagai lambing agar dalam rumah tangga keduanya dapat berdingin hati.

Selanjutnya kedua kaki pengantin wanita akan di celupkan dalam wadah tersebut lalu kedua mempelai didudukan dengan kaki suami menindih kaki istrinya sebagai lambang agar istri berlaku patuh pada suaminya. Lalu ibu pengantin laki-laki menyuapi keduanya dengan nasi campur dan memberi minum lalu kedua mempelai saling memeakan sirih.

Setelah itu dilakukan upacara pemberian gelar denga menekan telunjuk tangan secara bergantian. Sesudahnya kedua pengantin akan menaburkan kacang goreng dan aneka permen kepada gadis-gadis lajang agar mereka segera mendapatkan jodoh. Mereka juga akan saling berebut lauk-pauk, terutama dengan anak-anak kecil. Maknanya agar keduanya segera memiliki keturunan.

Mengenal Budaya Lampung, Begawi Cakak Pepadun

Pepadun diambil dari kata “Cakak Pepadun” yang berarti kursi kebesaran tempat kedudukan kepala adat waktu upacara adat. Sedangkan Cakak pepadun sendiri merupakan upacara pengangkatan derajat seseorang ke derajat yang lebih tinggi. Berbeda dengan Saibatin, adat pepadun lebih terbuka terhadap masyarakat di luar suku Lampung. Karena mereka menilai derajat seseorang dinilai dari kemampuan secara ekonomi dan intelektual, serta diakui oleh umum. Jadi tidak berdasarkan keturunan seperti adat Saibatin.

Dalam hal ini, masyarakat yang ingin mengambil gelar “Suttan”, wajib melakukan upacara Begawi Cakak Pepadun agar diakui oleh masyarakat sebagai pembuktian kemampuannya. Namun tetap harus melalui persetujuan Punyimbang, Pembuat keputusan adat. Berikut adalah tahapan Begawi Cakak Pepadun
Tahapan-tahapan Begawi Cakak Pepadun diantaranya adalah:
1. Mempersiapkan perlengkapan Cakak Pepadun seperti:

  • Sesat
  • Lunjuk/patcah aji
  • Rato
  • Kuto maro
  • Jempana
  • Pepadun
  • Burung garuda
  • Talo balak
  • Payung agung
  • Lawang kughi
  • Kandang rarang
  • Kayu agha
    Kepala kerbau

2. Tahapan musyawarah adat (melakukan Upacara Meghwatin)

Upacara meghwatin adalah acara musyawarah para punyimbang adat untuk menetapkan layak apa tidaknya seseorang untuk melaksanakan Cakak Pepadun. Dalam hal ini biaya yang harus dikeluarkan meliputi uang sidang yang disebut dengan galang silo yang besarnya telah ditetapkan oleh adat. Juga memotong hewan kerbau untuk menjamu para punyimbang beserta undangan.

3.Tahapan menyebar undangan
Mengundang (Uleman) memiliki tata cara khusus yakni saat menyampaikan undangan harus membawa dodol, kue dan uang yang dibungkus dengan tumpak tangan atau kain seribu kepada setiap marga melalui ketua adat masing-masing.

4. Tahapan pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan Begawi Cakak Pepadun adalah sebagai berikut:
a. Pada malam hari diadakan acara menari Cangget Pepadun.
b. Calon Punyimbang naik jempana menuju sesat diiringi oleh pada punyimbang.
c. Menari tari Cangget Igel secara bersamaan.
d. Calon punyimbang didudukan di atas pepadun.
e. Salah satu dari punyimbang yang telah ditunjuk mengumumkan gelar tertinggi kepunyimbangan dari yang cakak pepadun serta kedudukannya dalam adat.

Seseorang yang telah cakak pepadun maka dia telah menjadi punyimbang dan memiliki hak untuk memakai gelar suttan serta berhak mengatur anggota kerabat di bawah kepunyimbangannya.

|Dikutip dari berbagai sumber

Suku Sungkai; Salah Satu Komunitas Masyarakat Adat yang Berada di Bawah Tradisi Hukum Adat Pepadun Lampung

SUKU Lampung yang biasa disebut Ulun Lampung secara tradisional geografis adalah suku yang menempati seluruh provinsi Lampung dan sebagian provinsi Sumatera Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura, Muaradua di Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komering Ilir, Merpas di sebelah selatan Bengkulu serta Cikoneng di pantai barat Banten. Yang salah satunya yakni Suku Sungkai.

Suku Sungkai adalah salah satu komunitas masyarakat adat yang berada di bawah tradisi hukum adat Pepadun Lampung. Suku Sungkai bermukim di wilayah Lampung

Suku Sungkai terdiri dari 7 Kebuwayan Besar, yaitu:

  • Buway Indor gajah (Segajah)
  • Buway Selembasi
  • Buway Perja (serja) yang ketiganya anak Putri Silimayang
  • Buway Harayap
  • Buway Liwa
  • Buway Semenguk
  • Buway Dibintang

Asal usul suku Sungkai, menurut cerita rakyat Sungkai, bahwa dahulu berasal dari daerah Komering. Dahulu banyak orang komering yang bermigrasi keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering, untuk mencari kehidupan baru pindah ke wilayah lain. Pada perjalanan migrasi, mereka membuka pemukiman baru (umbul) maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama oleh orang Komering marga Bunga Mayang yang kemudian menjadi suku Sungkai atau disebut juga sebagai suku Lampung Bunga Mayang.

Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997), mengatakan “Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering pada tahun 1800 Masehi, pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s/d. 1834 Masehi. Kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung”.

Dengan keberhasilan masyarakat itu, maka oleh suku Abung, suku Sungkai dinyatakan berada di bawah adat Lampung Pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah Sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang, membawa nama kampung/ marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari sini kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya dan sebagainya.

Di daerah Sungkai Utara, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara, mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.

|sumber: wikipedia.org dan kutipan dari berbagai sumber

Mengenal Nuwou Sesat, Rumah Adat Provinsi Lampung

PERNAHKAH anda mendengar kata “Nuwou Sesat”? Mungkin sebagian dari anda merasa asing dengan dua kata itu, tapi tidak bagi penduduk asli Provinsi Lampung. Nuwo Sesat adalah ikon rumah adat Kebanggan Lampung. Dalam bahasa setempat, Nuwou berarti rumah atau tempat tinggal. Sedangkan Sesat berarti bangunan musyawarah. Jadi bisa dibilang Nuwou sesat adalah Bangunan atau rumah untuk bermusyarawah para tetua adat Lampung.

Sesuai dengan namanya, Nuwou Sesat digunakan sebagai balai pertemuan adat antar penyimbang (tetua masing-masing marga) pada saat mengadakan pepung adat atau musyawarah. Oleh karena itu, Nuwou Sesat juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian-bagian yang terdapat pada bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Sedangkan Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan atau serambi, biasa digunakan untuk pertemuan kecil. Pusiban atau ruang tempat musyawarah resmi. Ruang tetabuhan tempat menyimpan alat musik tradisional, dan ruang gajah merem (tempat istirahat bagi para tetua). Pada sisi depan bangunan ini terdapat ukiran ornamen bermotif perahu. Hal lain yang khas di bangunan ini adalah hiasan payung-payung besar berwarna putih, kuning, dan merah pada bagian atapnya. Payung-payung tersebut merupakan lambang dari tingkat tetua adat bagi masyarakat tradisional Lampung. Secara fisik Nowou Sesat berbentuk rumah panggung bertiang. Sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Dahulu rumah sesat beratap anyaman ilalang, namun sekarang sudah menggunakan genting.

Kini seiring berjalannya waktu, Fungsi Nuwou sesat menjadi tempat tinggal biasa. Untuk masuk ke dalam rumah ini kita harus menaiki anak tangga yang berada di depan dan di sebelah samping. Pada bagian bawahnya terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penyangga bangunan diatasnya. Susunan papan kayu dijadikan sebagai lantai, begitu juga dengan dindingnya. Konstruksi rumah yang cenderung tinggi dapat menghindari serangan hewan liar. Selain itu susunan papan pada rumah adat ini dapat meminimalisir kerusakan dan mampu bertahan apabila terjadi gempa bumi, mengingat letak provinsi Lampung terletak pada pertemuan lempeng Asia dan Australia.

|Sumber:  kebudayaanindonesia.net . Sumber foto: saylampung.com

Adat di Masyarakat Lampung Saibatin

Suku Saibatin mendiami daerah pesisir Lampung yang membentang dari timur, selatan, hingga barat. Wilayah persebaran Suku Saibatin mencakup Lampung Timur, Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Barat.

Seperti juga Suku Pepadun, Suku Saibatin atau Peminggir menganut sistem kekerabatan patrilineal atau mengikuti garis keturunan ayah. Meski demikian, Suku Saibatin memiliki kekhasan dalam hal tatanan masyarakat dan tradisi.

“Saibatin” bermakna satu batin atau memiliki satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial dalam Suku Saibatin, hanya ada satu raja adat dalam setiap generasi kepemimpinan. Budaya Suku Saibatin cenderung bersifat aristokratis karena kedudukan adat hanya dapat diwariskan melalui garis keturunan. Tidak seperti Suku Pepadun, tidak ada upacara tertentu yang dapat mengubah status sosial seseorang dalam masyarakat.

Ciri lain dari Suku Saibatin dapat dilihat dari perangkat yang digunakan dalam ritual adat. Salah satunya adalah bentuk siger (sigekh) atau mahkota pengantin Suku Saibatin yang memiliki tujuh lekuk/pucuk (sigokh lekuk pitu). Tujuh pucuk ini melambangkan tujuh adoq, yaitu suttan, raja jukuan/depati, batin, radin, minak, kimas, dan mas. Selain itu, ada pula yang disebut awan gemisir (awan gemisikh) yang diduga digunakan sebagai bagian dari arak-arakan adat, diantaranya dalam prosesi pernikahan.

siger saibatin busana pengantin khas suku saibatin busana suku saibatin masyarakat saibatin Saibatin