Posts

Potret Pembukaan Jumpa Mahasiswa Banten 2016

MAHASISWA asal Banten gelar Jumpa Mahasiswa Banten (Juminten) 2016. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 12 November 2016 di Hotel Emersia. Acara ini mengusung tema “Tina Salembur Jadi Sadulur”. Sesuai dengan tema, acara ini bertujuan untuk mempersatukan seluruh mahasiswa Banten yang terdapat di Universitas Malahayati dan menjadikannya saudara.

Pembukaan Juminten diawali dengan melantunkan ayat suci Alquran oleh Khasbullah Abunk. Dilanjut dengan sambutan-sambutan oleh ketua Juminten Samsul Bahri, Ketua KMB Muhammad Fauzan dan dokter pembimbing sekaligus membuka acara Juminten 2016. Acara ini dibuka oleh pemukulan gong oleh dokter pembimbing didampingi oleh ketua Juminten dan ketua KMB.

Berikut potret pembukaaan jumpa mahasiswa Banten 2016:

1479222439395 1479222433361 1479222412483 1479222373975 1479222319848 1479222297312 1479222267351 1479222195305 1479222190443 1479222164528 1479222161651 1479222091304

Mahasiswa Unmal Asal Banten Gelar Juminten 2016 di Hotel Emersia

MAHASISWA Universitas Malahayati asal Banten gelar Jumpa Mahasiswa Banten (Juminten) 2016. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 12 November 2016 di Hotel Emersia. Acara ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar mahasiswa Banten, memperkenalkan mahasiswa asal Banten 2016 dan pemilihan ketua Juminten dan ketua Keluarga Mahasiswa Banten (KMB).

Pertemuan ini dihadiri oleh dokter pembimbing, tamu undangan, mahasiswa koas serta seluruh mahasiswa asal Banten angkatan 2013 hingga 2016. Acara ini mengusung tema “Tina Salembur Jadi Sadulur“. Agar acara ini berjalan dengan sukses, panita membutuhkan waktu jauh hari untuk mempersiapkan.

Serangkaian acara Juminten kali ini ialah pembukan, sambutan, makan malam, perkenalan dan penampilan semua angkatan, games, pemilihan ketua Juminten dan ketua KMB. Acara berjalan dengan lancar, terlihat dengan antusias dari semua pihak mengikuti serangkaian acara. Tidak terdapat kendala yang berarti, semua terlihat lancar Dan sukses.

“Terima kasih atas partisipasinya dr Marni serta keluarga dan dr Sri Maria Puji serta keluarga, kakak coas dan seluruh angkatan mahasiswa asal Banten. Semoga Juminten kedepannya dapat membuat lebih erat lagi, lebih kebersamaannya dan lebih baik lagi. Hatur nuhun kepada panitia yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya,” ujar Samsul Bahri, Ketua Juminten 2016.[]

Keluarga Mahasiswa Banten Akan Gelar Jumpa Mahasiswa di Emersia’s Ballroom

Lets join us!

Ada berita bagus untuk seluruh mahasiswa Banten di Universitas Malahayati!

Mahasiswa Banten angkatan 2014 menggelar Jumpa Mahasiswa Banten (Juminten) 2016. Acara ini ditujukan kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi seluruh angkatan, khususnya kepada angkatan 2016. Acara ini akan diselenggarakan pada:

Hari, tanggal: Sabtu, 12 November 2016

Waktu: 16.00 WIB-selesai

Tempat: Emersia’s Ballroom

Diharapkan kepada teman-teman untuk kehadirannyademi menyambut mahasiswa baru asal Banten 2016 yang bergabung di KMB. Acara ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi Keluarga Mahasiswa Banten (KMB).

Contact person:

Samsul Bahri/ 087808133956

img_20161006_110716_504

Pesona Keunikan Pantai Karang Bolong Anyar, Banten

Wisata Pantai Karang Bolong Banten. Anyer adalah nama dari sebuah kecamatan di wilayah kabupaten Serang provinsi Banten. Di wilayah ini terdapat lokasi wisata pantai yang terletak di bagian barat pulau Jawa yang biasa kita kenal dengan nama pantai Anyer. Pesisir pantai Anyer ini menghadap ke barat dan terhubung dengan selat sunda.

Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari perkotaan seperti Cilegon, Serang, Tangerang dan Jakarta membuat kawasan wisata pantai anyer banyak dikunjungi wisatawan yang umumnya mencari tempat berlibur yang tidak terlalu jauh. Selain jarak yang tidak jauh, aksesnya pun mudah. Orang-orang dari kota besar yang ingin menyegarkan pikiran sejenak dapat bersantai di pantai-pantai ini tanpa harus menghabiskan waktu yang lama di perjalanan. Salah satu pantai yang cukup unik di wilayah sekitar pantai Anyer adalah pantai Karang Bolong.

Menurut cerita, tempat ini awalnya dikenal dengan nama Karang Suraga yaitu diambil nama dari seorang yang berilmu tinggi dan bertapa di tempat ini hingga akhir hayatnya. Seiring perkembangan, pantai ini mulai dikenal dengan nama Karang Bolong . Sesuai dengan namanya, di pantai ini memang terdapat sebuah karang besar yang berlubang (bolong, dalam bahasa sunda).

IMG_20160827_155842 IMG_20160827_125109 IMG_20160827_134127 IMG_20160827_134131 IMG_20160827_134134 IMG_20160827_134142 IMG_20160827_134807 IMG_20160827_134812 IMG_20160827_140439 IMG_20160827_142008 IMG_20160827_142027 IMG_20160827_153333

Nezla Mengunjungi Permata Merak, Pengobelan

LIBURAN tak kunjung usai, semua mahasiswa dan mahasiswa masih dapat meluangkan waktunya untuk berlibur di tempat wisata kampung halamannya. Termasuk juga aku, asal Merak, Banten. Liburan kali ini aku mengambil destinasi tak jauh dari rumah, yakni pengobelan.

Pengobelan menyimpan pemandangan yang indah, mulai dari batuan-batuan besar yang memukau hingga air terjun yang bersumber dari bebatuan, semuanya melengkapi keindahan yang dimiliki oleh pengobelan. Keindahan seni batuan di pegunungan pengobelan, terbentuk dari proses alami yang bersumber dari pegunungan krakatau yang meletus ratusan tahun yang lalu.

Aku pergi bersama papah dan adikku beserta keluarga dari pamanku. Tak jauh dari rumah, kami pun menggunakan sepedah motor, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga sampai ke tempat tujuan. Sesampainya disana tanpa pikir panjang, kami pun langsung menyelupkan kaki dan sebagian orang mandi di aliran sungai serta berselfie ria.

Kami tak sampai ke air terjun, hanya sampai pada aliran sungai. Disini teramat banyak batuan besar yang terbentuk, serta beraneka macam pepohonan yang tumbuh disini. Sewaktu kami datang, sayangnya aliran air tak sederas sewaktu musim penghujan. Sekelompok orang pun banyak berdatangan kemari, untuk mandi dan hanya berfoto-foto.

Pengunungan dan air terjun Pengobelan yang indah bagai permata terdapat di depan mata. Banyak orang yang mengetahui keberadaan tempat ini. Karena memang tempat ini sedikit terbaikan dan tak dijaga. Jika saja tempat ini lebih di ekspos dan dilestarikan pasti akan ramai pengunjung yang berdatangan.[]

Potret Suasana Selama Berwisata di Titik Nol Kilometer Anyer

LIBURAN Semester Genap kini sudah menghampiri, berwisata memang sudah suatu pelengkap saat liburan. Jika sudah merasa suntuk dan bosan berada di rumah. Inilah salah satu solusinya, yakni berwisata.  Aku, Nezla Anisa Ningrum seorang mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Malahayati bersama ketujuh teman ingin berbagi pengalaman saat kami berwisata di sekitar kampung halaman yakni Titik Nol Kilometer Anyer, Banten.

Menara mercusuar Anyer yang tepat berada di Titik Nol Kilometer ini diyakini sebagai titik awal dari pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Daendels. Daendels adalah Gubernur Jenderal Hindia belanda ke 36 yang memerintah dari tahun 1808 sampai dengan tahun 1811. Selain membangun rute jalur Batavia – Banten, Pada tahun 1809-1810 Daendels juga membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan yang Jaraknya 1000 km.

Berikut potret selama perjalanan menuju Titik Nol Kilometer Anyer:

146814624224814681460938461468146318505

C360_2016-07-09-02-21-28-3941468146077418 1468146046835 (1)

IMG_20160708_220855 IMG_20160709_002738

Potret Panorama di Sekitar Titik Nol Kilometer Anyer

LIBURAN Semester Genap kini sudah menghampiri, berwisata memang sudah suatu pelengkap saat liburan. Jika sudah merasa suntuk dan bosan berada di rumah. Inilah salah satu solusinya, yakni berwisata.  Aku, Nezla Anisa Ningrum seorang mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Malahayati bersama ketujuh teman ingin berbagi pengalaman saat kami berwisata di sekitar kampung halaman yakni Titik Nol Kilometer Anyer, Banten.

Menara mercusuar Anyer yang tepat berada di Titik Nol Kilometer ini diyakini sebagai titik awal dari pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Daendels. Daendels adalah Gubernur Jenderal Hindia belanda ke 36 yang memerintah dari tahun 1808 sampai dengan tahun 1811. Selain membangun rute jalur Batavia – Banten, Pada tahun 1809-1810 Daendels juga membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan yang Jaraknya 1000 km.

Bila ingin berjalan-jalan ke kawasan ini caranya cukup mudah. Bila dari Jakarta, hanyamenuju ke Cilegon (arah pelabuhan Merak). Bila dari Sumatera, dari Merak menuju ke Cilegon. Dari Cilegon dilanjutkan menuju ke Anyer. Bis-bis pariwisata biasanya menggunakan jalan utama, melewati kawasan Industri Cilegon. Jalan menuju Anyer ini seringkali dikenal orang dengan nama Jalan Karang Bolong. Adapula yang menyebutnya jalan Anyer-Labuan. Jika sudah mencapai pasar Anyer, hanya tinggal menempuh jarak 5 Km, setelah melewati pom bensin dan sebelum hotel Mambruk.

Berikut potret panorama di sekitar Titik Nol Kilometer Anyer:

IMG_20160709_015524 IMG_20160709_011047 IMG_20160709_003128 IMG_20160709_003122 C360_2016-07-09-01-58-52-957 IMG_20160709_015535IMG_20160709_021744IMG_20160709_021720C360_2016-07-09-02-21-52-665IMG_20160709_015444IMG_20160709_021757

Kisah Liburan Nezla Saat Berwisata di Titik Nol Anyer Banten

LIBURAN Semester Genap kini sudah menghampiri, berwisata memang sudah suatu pelengkap saat liburan. Jika sudah merasa suntuk dan bosan berada di rumah. Inilah salah satu solusinya, yakni berwisata.  Aku, Nezla Anisa Ningrum seorang mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Malahayati bersama ketujuh teman ingin berbagi pengalaman saat kami berwisata di sekitar kampung halaman yakni Titik Nol Kilometer Anyer, Banten.

Siang itu perjalanan melewati pesisir Banten begitu melelahkan. Debu-debu jalanan, macet panjang disertai polusi asap kendaraan yang membuat suasana semakin panas. kami melewati kemacetan dari Cilegon hingga Lingkar Selatan, tanpa pikir panjang kami langsung mengambil jalan kearah Mancak dan menembus di Pasar Anyer. Butuh perjalanan panjang untuk di lalui, tetapi selama perjalanan mata kami selalu dimanjakan dengan pemandangan gunung serta persawahan nan cantik. Setelah itu kami meneruskan perlananan hingga ke Titik Nol Kilometer.

Matahari tepat diatas kepala, sengatan sang surya mulai terpancar ditambah dengan penuhnya wisatawan yang berkunjung membuat kami semakin sesak dan membuat kami meneteskan peluh disekujur tubuh. Sesampainya disana, kami mulai kembali mengisi energi dengan menyantap semangkok bakso tepat di pinggir pantai. Desahan angin dan deburan ombak laut bak batrai yang dapat membuat energi kami kembali seutuhnya.

Setelah energi pulih, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Mercusuar Anyer. Katanya, bangunan ini merupakan Monas-nya Anyer. Suasana begitu ramai dipadati wisatawan dikarenakan masih suasana hari raya. Anyer menyimpan sebuah benda, saksi sejarah dari bangsa ini. Bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan Belanda ini berada tepatnya di desa Cikoneng kampung Bojong. Bangunan yang terletak 5 km dari pusat Anyer ini merupakan mercusuar atau menara suar. Mercusuar ini tampak mencolok sebab berada di tepi jalan yang menghubungkan kawasan wisata Anyer-Carita. Gerbang menuju mercusuar pun sangat terlihat dari pinggiran jalan, masih dengan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Disana kami memuaskan diri untuk berfoto dan berkeliling di sekitar mercusuar dan jetty atau dermaga yang menjorok kelaut. Sangat disayangkan, saat kami datang pintu mercusuar ditutup. Alhasil kami tidak bisa memanjakan mata kami untuk melihat keindahan wilayah anyer dari atas mercusuar. Pada hari-hari kerja mercusuar ini tidak dibuka untuk umum atau tidak tentu sebab memang dipergunakan untuk bekerja, bukan untuk pariwisata. Wisatawan baru bisa masuk ke dalam mercusuar pada akhir pekan. Penjaga mercusuar sendiri mengatakan bahwa mercusuar ini sebetulanya tidak untuk komersil karena memang bangunan milik pemerintah. Namun banyak sekali wisatawan yang berkunjung dan penasaran, ingin tahu, dan bisa masuk ke dalam bangunan mercusuar. Tidak ada tiket masuk resmi untuk masuk ke dalam mercusuar. Tetapi setiap pengunjung ditarik biaya sekitar Rp.5000 untuk mendanai biaya perawatan terutama untuk pengecatan bangunan dan kebersihan. []

C360_2016-07-09-03-10-44-892

Sejarah Mercusuar Anyer & Titik Awal Pembangunan Jalan Anyer-Panarukan

ANYER, siapa yang tak kenal dengan tempat ini. Tempat yang tak hanya terkenal dengan pantainya, namun juga disebut-sebut dalam lantunan lagu “Antara Anyer dan Jakarta”. Anyer juga menyimpan sebuah benda, saksi sejarah dari bangsa ini. Bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan Belanda ini berada tepatnya di desa Cikoneng kampung Bojong. Bangunan yang terletak 5 km dari pusat Anyer ini merupakan mercusuar atau menara suar. Mercusuar ini tampak mencolok sebab berada di tepi jalan yang menghubungkan kawasan wisata Anyer-Carita.

Menara suar ini diyakini sebagai titik nol atau titik awal dari pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Daendels. Daendels adalah Gubernur Jenderal Hindia belanda ke 36 yang memerintah dari tahun 1808 sampai dengan tahun 1811. Selain membangun rute jalur Batavia – Banten, Pada tahun 1809-1810 Daendels juga membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan yang Jaraknya 1000 km.

Jika melihat dari tulisan yang tertera di atas pintu masuk, mercusuar ini dibangun tahun 1885. Padahal jalan Anyer-Panarukan dibangun tahun 1825. Jadi, awalnya mercusuar ini dibangun pada tahun 1806, proyek jalan Anyer-Panarukan baru dijalankan tahun 1825. Saat Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Mercusuar ini hancur, hanya menyisakan pondasinya saja. Pada dua tahun kemudian, yakni1885, di bawah pemerintahan Z.M Willem III mercusuar ini kembali dibangun (ada juga yang menyebutkan bahwa mercusuar ini adalah hadiah dari Z.M Willem III). Jadi, bangunan mercusuar yang berdiri saat ini adalah bangunan baru. Bahkan lokasinyapun berbeda dengan bangunan awal. Mercusuar yang saat ini dibangun 500m lebih ke daratan, sementara untuk pondasi mercusuar lama saat ini dijadikan sebagai tugu nol kilometer.

Bangunan setinggi 75,5 meter ini masih kokoh berdiri hingga sekarang. Dinding bangunan terbuat dari baja setebal 2,5-3cm yang masih sangat bagus. Dinding bangunannya secara rutin di cat ulang sedangkan bagian dalam selalu dibersihkan agar tidak licin. Untuk mencapai puncak tertinggi mercusuar, pengunjung harus naik tangga manual 286 anak tangga dari 18 lantai. Dari uncak mercusuar inilah bisa terlihat pemandangan yang sangat indah.

Selain menjadi saksi bisu pembuatan jalan Anyer-Panarukan, mercusuar ini juga merupakan saksi dari masa peperangan saat Jepang berusaha merebut Indonesia. Salah satu bukti nyata terlihat di sisi luar bangunan mercusuar dimana terdapat bekas tembakan meriam Jepang yang sudah di tambal pada bagian dinding mercusuar (menurut beberapa sumber ada di lantai 2 dan 12).

Sesuai dengan namanya yaitu mercusuar, bangunan ini berfungsi membantu navigasi kapal-kapal yang berlayar di Selat Sunda. Hingga sekarang, mercusuar ini masih digunakan sebagaimana fungsinya untuk membantu pelayaran. Pengelolaan dan pemeliharaan mercusuar ini dipegang oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla). Mercusuar Anyer ini terdaftar dalam Daftar Suar Indonesia (DSI) dengan nomor 2260. Cahaya lampu yang digunakan oleh mercusuar ini sebesar 1000watt, dan mulai dinyalakan sejak pukul 18.00 hingga pagi. Selain bohlam, juga terdapat kaca pembesar untuk memperluas jangkauan sinar. Cahaya dari mercusuar ini bisa menjangkau sejauh 20-25mil (1mil= 1609 m).[]

DSCN7735

Kesan Nezla Saat Mudik Mengesankan Ke Banten

TAK terasa kini sudah dipenghujung Bulan Ramadhan sekaligus awal dari liburan panjang semester genap. Hati ini mulai tak sabar untuk memulai liburan bersama keluarga kecil di kediaman rumah. Aku, Nezla Anisa Ningrum. Salah satu mahasiswi Teknik Lingkungan Universitas Malahayati asal Banten, ingin membagikan sedikit pengalaman saat perjalanan pulang.

Terik sang surya mulai menyinari kota Bandar Lampung. Mulai teramat panas dan haus meyengat. Berpuasa pun tak menjadi suatu halangan untuk tetap pergi di siang hari nan terik. Kini aku pulang bersama Wawan, begitu nama akrabnya. Salah satu mahasiswa asal Banten dari Fakultas Kesehatan Masyarakat yang juga berkuliah di kampus yang sama. Dengan mengendarai sepedah motor, berpakaian lengan panjang dan helm menjadi suatu keharusan saat berkendara jauh.

Saat perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni, kita menyempatkan diri untuk beristirahat dan berbuka puasa di salah satu rumah kawan di Kalianda tepatnya di belakang Gunung Rajabasa. Setelah kami berbuka puasa, Terlihat orang rumah tengah sibuk mengeprek cengkeh, begitu bahasanya. Yakni memisahkan cengkeh dari batang dan daunnya. Cengkeh merupakan hasil sumber daya alam khas lampung. Cengkeh dapat diolah untuk bahan membuat rokok dan bumbu dalam suatu masakan.

Tak terasa setelah membantu, kita pun melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bakauheni. Ditemani gelapnya malam sepanjang jalan, taburan bintang dilangit dan angin yang terus menerpa kita. Hingga sesampainya dikapal, kita pun dapat beristirahat dibawah atap langit bertabur bintang, tenang dalam alunan ombak senada. Dan kini lelah pun hilang terbawa oleh hembusan angin laut.

Semua lelah dan keringat akan terbayar ketika kita sudah bertemu sanak keluarga di rumah. Peluk cium keluarga ternyata dapat memulihkan energi dalam tubuh. Bersyukur dapat kembali dengan selamat dan bertatap muka. Senyum melebar dari parasnya terlihat sudah merasa lega karena mengkhawatirkan kepulangan anaknya yang jauh merantau.

Aku berharap, untuk selalu menjaga tubuh tetap fit saat berkendara jauh saat perjalanan mudik. Jika lelah istirahat dan pilih kendaraan yang aman saat mudik. Gunakan pakaian dan peralatan untuk menjaga kesehatan karena cuaca dan terhindar dari bahaya. Yang wajib diingat adalah jangan lupa berdoa sebelum berkendara dan bersyukur jika selamat sampai tujuan.[]

C360_2016-06-25-17-45-17-499 C360_2016-06-25-17-45-08-197 C360_2016-06-25-17-45-34-135