Posts

Pesona Pantai Batu Alif Perpaduan Antara Ombak dan Pasir

Pantai memang menjadi pilihan masyarakat dalam menghabiskan waktu liburan.  Suasana dan pemandangan memang menjadi nilai utama wisata ini. Tempat wisata di Provinsi Lampung pun dipenuhi dengan berbagai pantai menari. Seperti pantai tanjung setia yang berada di Kabupaten Lampung Barat.

Sama halnya dengan Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Lampung selatan juga kaya akan wisata pantainya. Salah satunya, Pantai Batu Alif berada di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan. Pantai yang berada di selat sunda ini dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua, melalui  jalan masuk sebelah SPBU Garuda Hitam di Bakauheni Lampung Selatan.

Selain menikmati pantai dengan berenang atau bermain ombak, di sini kita juga dapat memancing ikan. Namun apabila anda lupa membawa alat pancing, anda dapat membeli ikan pada nelayan disekitar.

Tiket masuk wisata ini pun terjangkau, hanya dengan membayar tiket sebesar Rp5.000- Rp10.000, kita dapat menikmati pantai dengan pesonanya ini.

Bakauheni sendiri merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan yang terletak di ujung selatan dari Jalan Raya Lintas Sumatera. Bakauheni memang memiliki ikon pariwisata cukup bagus di Kabupaten Lampung Selatan. Sebab, kawasan pintu gerbang pulau Sumatera ini banyak di jumpai potensi pariwisata pantai.

Pantai Batu Alif sudah tak asing lagi bagi para Masyarakat Lampung. Pantai ini padat pengunjung di akhir pekan. Bagaimana tidak, Ombak dan Pasir berpadu menjadi satuan yang menarik. pepohonan yang rindang juga menyejukkan wisata ini. Bebatuan dipinggir pantai juga menambah eksotisme pantai ini. |Dari berbagai sumber

Peralatan Batu Manusia Purba ditemukan di Sulawesi

Peralatan batu yang ditemukan di Pulau Sulawesi, Indonesia dibuat setidaknya 60.000 tahun lebih awal daripada kedatangan manusia modern ke daerah tersebut. Kemungkinan besar, peralatan batu tersebut berusia antara 118.000 dan 194.000 tahun, beberapa di antaranya bahkan lebih tua. Seperti yang diumumkan Rabu lalu pada jurnal Nature.

Beberapa alat batu tersebut bahkan menunjukkan tanda-tanda telah dipalu hingga menjadi bentuk. Serpihan batu tajam digali dari lembah sungai kuno di barat daya Sulawesi, dekat daerah yang kini merupakan Desa Talepu.  Penemuan selanjutnya mengindikasikan bahwa beberapa pendahulu manusia modern lebih berhasil melintasi jaringan Pulau Pasifik selatan dari yang diyakini sebelumnya.

“Penemuan ini menetapkan secara pasti bahwa manusia purba tinggal di Sulawesi. Benar-benar penemuan yang menarik,” ujar ahli paleoantrologi, Russell Ciochon dari University of Iowa, yang tidak terlibat dengan penelitian ini.

Gerrit van den Bergh dari University of Wollongong Australia, penulis utama penelitian ini mengatakan bahwa peralatan batu tersebut mungkin dibuat oleh Homo erectus, hominin kuno yang hidup di kepulauan terdekat mulai 1,5 juta tahun lalu. Mungkin juga pembuat alat batu ini merupakan kerabat manusia “hobbit” Homo floresiensis, hominin yang ditemukan di Flores, di selatan Sulawesi, antara 18.000 dan 95.000 tahun lalu.

Homo erectus dan Homo floresiensis menggunakan peralatan dengan berbagai ukuran, sehingga mustahil untuk menggunakan dimensi peralatan untuk menentukan pemilik peralatan tersebut.

“Hominin kecil dengan tangan kecil mungkin masih menggunakan peralatan yang lebih besar, dan sebaliknya,” kata Adam Brumm dari Griffith University di Australia, penulis kedua penelitian dan ahli alat Homo floresiensis.|| sumber: nationalgeographic.co.id

Eksotika Pantai Guci Batu Kapal dan Legenda yang Menyelimutinya

PANTAI Guci Batu Kapal terletak di Kalianda, Lampung Selatan. Pantai ini menyuguhkan pemandangan bibir pantai yang cantik ditambah dengan eksotika panorama sunset yang memukau. Namun, di balik keindahan yang disuguhkan oleh pantai ini, ada cerita legenda dibalik nama Pantai Guci Batu Kapal.

Dilansir dari detik.travel, sebuah cerita legenda kuno menjadi latar belakang nama dari tempat ini. Bila dilihat, pantai ini memiliki batuan karang yang berbentuk menyerupai kapal. Batuan karang itu ada di sisi kanan pantai. Konon tempat ini adalah sebuah pelabuhan.

Menurut pengakuan, Yasir Hadibroto selaku anak pemilik pantai Guci Batu Kapal. Yasir membenarkan hal itu.

“Dulunya di sini adalah bandar atau pelabuhan. Legendanya, pelabuhan yang menjadi tempat bersandar kapal-kapal bangsa asing ini dikutuk oleh si Pahit Lidah menjadi batu,” kata Yasir.

Si pahit Lidah sendiri adalah sosok legenda di Sumatera. Dia memiliki kesaktian ‘kutukan’ dapat mengubah apapun menjadi batu. Si Pahit Lidah merupakan seorang pemuda asal jazirah Arab yang berkelana ke Sumatera dan bernama asli Bernama asli Serunting.

Menurut Yasir, Si Pahit Lidah tidak menyukai orang-orang di pelabuhan. Orang-orang di pelabuhan terlalu sibuk dan mengacuhkan si Pahit Lidah saat mencoba menyapa mereka. Karena kemarahan tersebut, legenda mengatakan, mereka dikutuk si Pahit Lidah menjadi Batu.

“Orang-orang sibuk di pelabuhan tersebut tidak mau menyapa dia, lalu dikutuklah mereka menjadi batu bersama kapal-kapalnya,” ujar Yasir bercerita.

Untuk Nama Guci sendiri juga diambil dari sebuah cerita kuno, di mana konon ditemukan sebuah guci besar peninggalan pedagang asing. Guci itu dipercaya mampu membuat seseorang menghilang saat memasukkan dirinya ke dalam guci.

“Dulu ditemukan sebuah guci besar peninggalan soerang pedagang. Guci itu dapat membuat orang menghilang dan nama guci untuk pantai ini diambil dari cerita itu,” kata Yasir.

Penyebutan nama Guci Batu Kapal juga diambil berdasarkan cerita-cerita legenda tersebut. Legenda ‘Kutukan si Pahit Lidah’ dan guci sakti ini menambah menarik Pantai Guci Batu Kapal.

Bagi kalian yang penasaran ingin melihat langsung pantai penuh legenda ini, silahkan datang langsung untuk mencari tahu sendiri, atau sekedar melepas penat hiruk pikuk kota. Selain legenda yang masih terjaga hingga saat ini, panorama pantai ini juga sayang sekali untuk dilewatkan.[]