Posts

Puisi “Cawan Tembaga” Pemenang Peksemida Lampung 2016

CAWAN TEMBAGA

Karya Echa Soleha

Adalah aku
Warisan para pencipta mimpi
Aku bukan sempurna yang pasti
Karena menjadi aku adalah bhakti

Lihat ini
Bumimu tanah ibumu
Disini, di ujung selatan Andalas ini
Berbingkai barisan pulaunya samudera ganda
Bukit rimba tanah pasir lautan asa

Cerita mereka aku Indonesia
Bisa jadi sebab ragamnya aku yang beribu
Menjadi penguasa dari jutaan cita-cita
Tidak, aku hanyalah cawan tembaga
Penampung tinta dari mata air air mata
Kau pun tau, air mataku dua rasa
Karena aku miliki dua mata
Mata air ku buah cinta dari pori-pori pekerja
Ya, pekerja pembangun generasiku
Pencitra aku dengan segala tutur, rupa dan peraga

Kau air mataku
Tetaplah berdua tapi sejiwa
Terimalah para peragammu
Bukan masalah menjadi beda
Berbeda untuk selalu bersama
Bertetangga dan bercengkrama selamanya

Itulah cinta kurasa
Cinta yang kau pahat pada aku
Jangan pernah dermakan rasamu
Karena sejauh-jauhnya kau selami dunia
Merumahi aku lah satu-satunya bahagia

Tentang Penulis

Echa Soleha, akrab disapa Echa, Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat ’13. Gadis kelahiran Krui, 18 Juli 1995 menjadikan tinta dan torehan kata dalam puisi sebagai luapan kegundahan, perasaan dan emosi yang sedang dirasakan.[]

 

Ngarak Maju; Budaya Adat Saibatin Tetap Bertahan Tak Termakan Zaman

TAK bosan rasanya jika membahas kenaekaragaman budaya Lampung. Salah satunya budaya yang masih dipertahankan oleh masyrarakat Lampung Pesisir dalam setiap perhelatan pesta adat digelar. Meski mereka tak mampu melawan gerusan era Globalisasi pada budaya timur, mereka tetap mempertahankan budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Contohnya masyarakat Pekon Sukajadi Marga Pertiwi, Cukuh Balak di Marga Pugung, Tanggamus masih berpegang teguh melestarikan budaya daerahnya.

Nayuh merupakan pesta adat Lampung pesisir yang dilaksanakan secara besar-besaran. Banyak rangkaian prosesi yang harus dijalani oleh “Maju” dan “Bunnting”. Maju merupakan sebutan untuk pengantin perempuan sedangkan bunnting merupakan sebutan untuk pengantin pria. Prosesi ngarak maju diawali dengan mengarak kedua pengantin dari gedong dalom menuju rumah sesepuh adat setempat. Gedong dalom sendiri merupakan rumah mempelai pria yang akan melaksanakan nayuh. Kebetulan mempelai pria merupakan keturunan saibatin atau pimpinan tertinggi di kebandaran setempat.

Sesampainya di rumah sesepuh adat setempat, mempelai langsung berganti pakaian adat Lampung Pesisir. Begitu pun para Panakauan akan berganti pakaian juga. Panakauan merupakan muli dan bebai yang masih memiliki garis keturunan saibatin. Merekalah akan ikut dalam prosesi ngarak maju. Selepas berganti pakaian mereka langsung diarak menuju gedung dalom. Ciri yang paling menonjol yakni maju dan panakauan mengenakan sigoh dan bunnting mengenakan iket pujuk. Sigoh merupakan mahkota khas Lampung yang dipakai oleh mempelai wanita sedangkan iket pujuk merupakan kain penutup kepala untuk bunnting dengan bagian yang lancip pada bagian atasnya.

Mempelai wanita diarak menggunakan juli. Juli ini merupakan semacam tandu khas Lampung yang ditutup menggunakan kebung (kelambu) berwarna putih dan transparan. Juli ini tidak sembarangan bisa dipakai oleh mempelai pengantin. Hanya keluarga keturunan saibatin-lah yang bisa menggunakan juli ini. Pemilihan warna putih juga bukan sembarangan. warna putih dalam setiap perhelatan adat menunjukkan bahwa itu milik saibatin. Hanya keturunan saibatin yang bisa menggunakan warna putih saat acara adat berlangsung. Masyarakat Lampung pesisir memang memiliki simbol-simbol yang kuat dengan penggunaan warna-warna tertentu dalam perhelatan adat.

Selama prosesi ngarak, dimana pengantin wanita diarak menggunakan juli, mempelai pria berjalan bersama panakauan di belakang mempelai wanita. Berbagai dendang dan syair-syair khas Lampung pun didendangkan. Persis berada di depan pengantin wanita yang diarak ada rombongan penabuh rebana dan pelantun lagu. Mereka bernyanyi penuh riang gembira mengiring maju dan bunnting.

Baca cerita lanjutannya

Perpustakaan Unik, Perpaduan Budaya Nusantara dan Gaya di Belanda

PERPUSTAKAAN Universitas Malahayati yang terletak di lantai 8 gedung F ini menyuguhkan pengalaman unik dan berbeda dari perpustakaan kebanyakan. Nuansa budaya yang asli Indonesia yang direfleksikan dengan miniatur 34 rumah sebagai ruang baca dan belajar. Dengan kata lain, Anda akan diajak berkeliling Indonesia ditemani buku-buku referensi yang lengkap.

Memasuki pintu perpustakaan, kita akan disambut cahaya lampu yang lembut. Sulur-sulur pohon anggur di sekitar papan yang memuat daftar nama-nama rumah adat dari 34 provinsi di indonesia juga akan menyapa kedatangan kita. Buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak kayu, ditingkahi sungai kecil yang berisi ikan warna-warni yang menyejukkan mata. Suasana sejuk yang dihembuskan oleh AC yang berada disudut-sudut ruangan, gemericik air dan pohon buatan yang menaunginya tentunya akan membuat anda rileks dan fokus dalam membaca.

Tak hanya itu, ruang baca modern yang ada di Erasmus University, Belanda dihadirkan di tempat ini. Sofa nan empuk, meja pendek yang pas untuk membaca sambil lesehan akan membuat anda betah berlama-lama berada di tempat ini. Di bagian perpustakaan ini, anda bisa membaca sambil berbaring nyaman loh. Tak heran, ruang baca ala Erasmus ini sering dipakai untuk belajar kelompok dan diksusi.

Masih belum puas? Anda bisa berpindah ke sisi lainnya, ruang diskusi berkapasitas 12 orang bisa anda gunakan untuk berlatih presentasi atau membahas hal lainnya. Karena di tempat ini, juga disediakan LCD Proyektor yang bisa digunakan untuk presentasi.

Masih ingin berpetualang? Anda bisa bergeser kembali ke sisi utama atau bagian tengah perpustakaan. Bagi anda yang malas membaca buku manual, disini anda bisa membaca buku melalui digital. Yap, benar sekali, Perpustakaan Malahayati juga memiliki perpustakaan digital yang mampu mengakses jutaan buku dan jurnal dari seluruh dunia.

Tunggu apalagi, ayo main ke Perpustakaan Malahayati, biar kekinian lho.[]

Mengenal Nuwou Sesat, Rumah Adat Provinsi Lampung

PERNAHKAH anda mendengar kata “Nuwou Sesat”? Mungkin sebagian dari anda merasa asing dengan dua kata itu, tapi tidak bagi penduduk asli Provinsi Lampung. Nuwo Sesat adalah ikon rumah adat Kebanggan Lampung. Dalam bahasa setempat, Nuwou berarti rumah atau tempat tinggal. Sedangkan Sesat berarti bangunan musyawarah. Jadi bisa dibilang Nuwou sesat adalah Bangunan atau rumah untuk bermusyarawah para tetua adat Lampung.

Sesuai dengan namanya, Nuwou Sesat digunakan sebagai balai pertemuan adat antar penyimbang (tetua masing-masing marga) pada saat mengadakan pepung adat atau musyawarah. Oleh karena itu, Nuwou Sesat juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian-bagian yang terdapat pada bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Sedangkan Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan atau serambi, biasa digunakan untuk pertemuan kecil. Pusiban atau ruang tempat musyawarah resmi. Ruang tetabuhan tempat menyimpan alat musik tradisional, dan ruang gajah merem (tempat istirahat bagi para tetua). Pada sisi depan bangunan ini terdapat ukiran ornamen bermotif perahu. Hal lain yang khas di bangunan ini adalah hiasan payung-payung besar berwarna putih, kuning, dan merah pada bagian atapnya. Payung-payung tersebut merupakan lambang dari tingkat tetua adat bagi masyarakat tradisional Lampung. Secara fisik Nowou Sesat berbentuk rumah panggung bertiang. Sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Dahulu rumah sesat beratap anyaman ilalang, namun sekarang sudah menggunakan genting.

Kini seiring berjalannya waktu, Fungsi Nuwou sesat menjadi tempat tinggal biasa. Untuk masuk ke dalam rumah ini kita harus menaiki anak tangga yang berada di depan dan di sebelah samping. Pada bagian bawahnya terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penyangga bangunan diatasnya. Susunan papan kayu dijadikan sebagai lantai, begitu juga dengan dindingnya. Konstruksi rumah yang cenderung tinggi dapat menghindari serangan hewan liar. Selain itu susunan papan pada rumah adat ini dapat meminimalisir kerusakan dan mampu bertahan apabila terjadi gempa bumi, mengingat letak provinsi Lampung terletak pada pertemuan lempeng Asia dan Australia.

|Sumber:  kebudayaanindonesia.net . Sumber foto: saylampung.com

Potret Keunikan UPT-Perpustakaan Malahayati Yang Bernuansa Budaya

Perpustakaan Universitas Malahayati yang terletak di lantai 8 gedung F ini menyuguhkan pengalaman unik. Disini anda akan diajak berkeliling Indonesia ditemani buku-buku referensi yang lengkap. Perpustakaan ini adalah perpustakaan dengan nuansa budaya asli Indonesia yang direfleksikan dengan miniatur 34 rumah sebagai ruang baca dan belajar.

Memasuki pintu perpustakaan, kita akan disambut cahaya lampu yang lembut. Sulur-sulur pohon anggur di sekitar papan yang memuat daftar nama-nama rumah adat dari 34 provinsi di indonesia juga akan menyapa kedatangan kita. Buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak kayu, ditingkahi sungai kecil yang berisi ikan warna-warni yang menyejukkan mata. Suasana sejuk yang dihembuskan oleh AC yang berada disudut-sudut ruangan, gemericik air dan pohon buatan yang menaunginya tentunya akan membuat anda rileks dan fokus dalam membaca.

Penasaran bagaimana suasana perpustakaan kebanggaan Universitas Malahayati?

Chek this out:

Cagar Budaya Gorontalo Rilis Temuan Lukisan Tangan Purba

Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo merilis tiga temuan lukisan tangan purba (hand stensil) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Temuan ini melengkapi keberadaan sejumlah lukisan batu yang ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia.

Perwakilan Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo Romi Hidayat, mengakatan bahwa mereka menemukan lukisan ini saat timnya melakukan inventarisasi cagar budaya di tiga tempat yang berbeda.

Temuan pertama dari lukisan ini berada di tebing sebuah bukit karst di Pulau Pangia, Desa Tanauge, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara. Lukisan tangan kedua berada di tebing karst batu putih di Desa Giliana. Dan Lukisan ketiga berada di Desa Ganda-Ganda.

“Lukisan tangan yang terdapat di Pulau Pangia ini sudah mulai terhapus, yang tertinggal hanya setengah dan warna merah sekitar lukisan tangan. Lukisan tangan ini dibuat di tempat yang susah dijangkau,” kata Romi.

Lukisan tanggan pertama memang mulai terhapus, tak seperti lukisan tangan kedua yang secara visual lebih jelas dari yang pertama. Lukisan di permukaan batu ini berupa tangan kiri dengan jumlah jari utuh berjumlah lima berwarna kemerahan.

“Kami melakukan inventarisasi ini untuk mencari, menemukan dan menjaring data tinggalan budaya yang termasuk dalam kategori tinggalan cagar budaya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” ujar Romi.

Data ini kemudian dicatat dan didaftarkan dalam database Cagar Budaya Gorontalo dengan target registrasi cagar budaya. |sumber: kompas.com, nationalgeographic.co.id

 

Rotan ini Dijadikan Lalapan Khas Lampung

ROTAN dapat diolah menjadi makanan? Sebagian orang mungkin lebih mengenal rotan sebagai bahan kerajinan seperti furniture, namun tidak untuk sebagian masyarakat Lampung tradisional. Untuk masyarakat lampung rotan ini diolah menjadi sebuah lalapan yang disebut Umbu.

Secara kultural, Lampung memiliki dua masyarakat adat, yakni Lampung Sai Batin dan Lampung Pepadun. Umumnya masyarakat Lampung gemar berkumpul dan bersilaturahmi. Mereka berkumpul di acara pernikahan, acara adat, atau acara keagamaan. Baik antar keluarga maupun antar tetangga. Umbu khas lampung ini juga bisa disajikan sebagai lalapan saat makan bersama.

Berbicara soal lalapan, tak salah bila berfikir lalapan itu adalah makanan yang berasal dari daun segar maupun yang di rebus. Namun tidak untuk yang satu ini, Umbu ialah lalapan yang terbuat dari rotan muda yang di rebus hingga lunak.

Umbu ini cenderung bercita rasa pahit seperti pare, tetapi pahit umbu ini dapat membangkitkan nafsu makan. Nikmat bila disajikan bersama seruit khas Lampung sebagai pelengkap makanan pokok Anda. ||Dari berbagai sumber.[]

Menikmati Warisan Budaya Lampung di Desa Wana, Lampung Timur

DESA Wana, adalah nama desa yang menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang ada di Lampung. Terletak kurang lebih sekitar 80 kilometer dari kota Bandar Lampung. Tepatnya di Kecamatan Melinting, Lampung Timur. Sekitar 7 kilometer dari jalur Bandar Lampung – Way Kambas. Desa ini merupakan salah satu desa utama tempat masyarakat Lampung Melinting tinggal.

Seperti dilansir nusapedia.com, rumah panggung dengan arsitektur tradisional, penggunaan tungku ketika memasak, penggunaan alat alat tradisional, tari melinting yang digunakan untuk menyambut tamu dan wisatawan adalah pemandangan yang akan anda jumpai disana, yang juga merupakan keindahan warisan budaya yang disuguhkan di tempat ini. Hal ini dikarenakan peran Desa Wana sebagai salah satu dari 6 Desa pewaris kebudayaan asli Keratuan Melinting.

Masyarakat Desa Wana masih melakukan beberapa upacara adat khas Lampung Timur. Antara lain, Upacara pernikahan, pertemuan adat dan lain-lain. Dalam upacara ini mereka akan menampilkan Tari Melinting yang dilakukan oleh para penari dari Desa Wana.

Tari melinting sendiri adalah tarian adat khas Daerah Lampung Timur yang sudah terkenal di Mancanegara. Biasanya tarian ini di iringi menggunakan alat musik tradisional seperti gamelan, dan yang lainnya agar semakin mewarnai warisan budaya asli Lampung Timur yang masih terjaga dengan baik di Desa Wana ini.

Desa Wana memiliki luas sekitar 1.021 hektare. Dengan jumlah penduduk sekitar 9.870 jiwa dan 2.435 kepala keluarga. Akses yang tersedia untuk menuju Desa Wana tidaklah sulit. Namun, masih banyak akses jalan yang rusak, maka perjalanan menuju tempat ini terasa agak lama dari yang seharusnya.[]

Ini Jenis Kain Tapis yang Umum di Lampung

KAIN Tapis memang tersebar hampir seluruh Lampung, namun antar daerah itu ada perbedaan motifnya. Berikut ini, jenis kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah :

Tapis Lampung dari Pesisir

•Tapis Inuh

•Tapis Cucuk Andak

•Tapis Semaka

•Tapis Kuning

•Tapis Cukkil

•Tapis Jinggu

•Tapis Paksi Pak

Tapis lampung dari Pubian Telu Suku

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Balak

•Tapis Laut Linau

•Tapis Raja Medal

•Tapis Pucuk Rebung

•Tapis Cucuk Handak

•Tapis Tuho

•Tapis Sasap

•Tapis Lawok Silung

•Tapis Lawok Handak

Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Balak

•Tapis Pucuk Rebung

•Tapis Halom/Gabo

•Tapis Kaca

•Tapis Kuning

•Tapis Lawok Halom

•Tapis Tuha

•Tapis Raja Medal

•Tapis Lawok Silung

Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak

•Tapis Dewosano

•Tapis Limar Sekebar

•Tapis Ratu Tulang Bawang

•Tapis Bintang Perak

•Tapis Limar Tunggal

•Tapis Sasab

•Tapis Kilap Turki

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Kaco Mato di Lem

•Tapis Kibang

•Tapis Cukkil

•Tapis Cucuk Sutero

Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego

•Tapis Rajo Tunggal

•Tapis Lawet Andak

•Tapis Lawet Silung

•Tapis Lawet Linau

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Raja Medal

•Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung

•Tapis Cucuk Andak

•Tapis Balak

•Tapis Pucuk Rebung

•Tapis Cucuk Semako

•Tapis Tuho

•Tapis Cucuk Agheng

•Tapis Gajah Mekhem

•Tapis Sasap

•Tapis Kuning

•Tapis Kaco

•Tapis Serdadu Baris

sumber: wikipedia

Kain Tapis Sudah Ada Sejak Abad ke-2 Sebelum Masehi?

SALAH satu tradisi yang masih hidup sampai sekarang di Lampung adalah mengenakan Kain Tapis. Ini adalah kain tenun khas Lampung yang dikerjakan perempuan di sini. Sudah dilakukan sejak turun temurun suku asli Lampung.

Kain Tapis bukanlah sekadar pelengkap tubuh yang biasa seperti pakaian dan aksesorinya, namun sekaligus menjadi jati diri perempuan Lampung. Ini wujud dari keselasaran kehidupan dengan lingkungannya, juga dengan yang maha kuasa.

Bahkan, laman wikipedia menyebutkan nama Van der Hoop bicara Kain Tapis. Siapa Hoop, ia adalah perintis penyelidikan prasejarah Indonesia. Dituliskan, Hoop menyebutkan orang Lampung telah menenun sejak abad ke-2 sebelum masehi.

Di antaranya adalah tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh. Selain itu ada kain nampan dan kain pelepai yang motifnya berbentuk kait dan kunci (key and rhomboid shape), pohon hayat, dan bangunan berisikan roh manusia. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan, serta bunga melati.

Ada juga catatan yang menjelaskan kain tapis Lampung mulai dikembangkan sejak tahun 800-an. Hal itu bisa dilihat pada Prasasti Raja Belitang yang berangka tahun 898—915 Masehi. Masyarakat yang pertama kali mengembangkan kain tapis adalah masyarakat daerah Menggala (kabupaten Tulangbawang) dan Kenali (Lampung Barat). []  dari berbagai sumber