Posts

Mengenal Nuwou Sesat, Rumah Adat Provinsi Lampung

PERNAHKAH anda mendengar kata “Nuwou Sesat”? Mungkin sebagian dari anda merasa asing dengan dua kata itu, tapi tidak bagi penduduk asli Provinsi Lampung. Nuwo Sesat adalah ikon rumah adat Kebanggan Lampung. Dalam bahasa setempat, Nuwou berarti rumah atau tempat tinggal. Sedangkan Sesat berarti bangunan musyawarah. Jadi bisa dibilang Nuwou sesat adalah Bangunan atau rumah untuk bermusyarawah para tetua adat Lampung.

Sesuai dengan namanya, Nuwou Sesat digunakan sebagai balai pertemuan adat antar penyimbang (tetua masing-masing marga) pada saat mengadakan pepung adat atau musyawarah. Oleh karena itu, Nuwou Sesat juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian-bagian yang terdapat pada bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Sedangkan Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan atau serambi, biasa digunakan untuk pertemuan kecil. Pusiban atau ruang tempat musyawarah resmi. Ruang tetabuhan tempat menyimpan alat musik tradisional, dan ruang gajah merem (tempat istirahat bagi para tetua). Pada sisi depan bangunan ini terdapat ukiran ornamen bermotif perahu. Hal lain yang khas di bangunan ini adalah hiasan payung-payung besar berwarna putih, kuning, dan merah pada bagian atapnya. Payung-payung tersebut merupakan lambang dari tingkat tetua adat bagi masyarakat tradisional Lampung. Secara fisik Nowou Sesat berbentuk rumah panggung bertiang. Sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Dahulu rumah sesat beratap anyaman ilalang, namun sekarang sudah menggunakan genting.

Kini seiring berjalannya waktu, Fungsi Nuwou sesat menjadi tempat tinggal biasa. Untuk masuk ke dalam rumah ini kita harus menaiki anak tangga yang berada di depan dan di sebelah samping. Pada bagian bawahnya terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penyangga bangunan diatasnya. Susunan papan kayu dijadikan sebagai lantai, begitu juga dengan dindingnya. Konstruksi rumah yang cenderung tinggi dapat menghindari serangan hewan liar. Selain itu susunan papan pada rumah adat ini dapat meminimalisir kerusakan dan mampu bertahan apabila terjadi gempa bumi, mengingat letak provinsi Lampung terletak pada pertemuan lempeng Asia dan Australia.

|Sumber:  kebudayaanindonesia.net . Sumber foto: saylampung.com

Kain Tapis Sudah Ada Sejak Abad ke-2 Sebelum Masehi?

SALAH satu tradisi yang masih hidup sampai sekarang di Lampung adalah mengenakan Kain Tapis. Ini adalah kain tenun khas Lampung yang dikerjakan perempuan di sini. Sudah dilakukan sejak turun temurun suku asli Lampung.

Kain Tapis bukanlah sekadar pelengkap tubuh yang biasa seperti pakaian dan aksesorinya, namun sekaligus menjadi jati diri perempuan Lampung. Ini wujud dari keselasaran kehidupan dengan lingkungannya, juga dengan yang maha kuasa.

Bahkan, laman wikipedia menyebutkan nama Van der Hoop bicara Kain Tapis. Siapa Hoop, ia adalah perintis penyelidikan prasejarah Indonesia. Dituliskan, Hoop menyebutkan orang Lampung telah menenun sejak abad ke-2 sebelum masehi.

Di antaranya adalah tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh. Selain itu ada kain nampan dan kain pelepai yang motifnya berbentuk kait dan kunci (key and rhomboid shape), pohon hayat, dan bangunan berisikan roh manusia. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan, serta bunga melati.

Ada juga catatan yang menjelaskan kain tapis Lampung mulai dikembangkan sejak tahun 800-an. Hal itu bisa dilihat pada Prasasti Raja Belitang yang berangka tahun 898—915 Masehi. Masyarakat yang pertama kali mengembangkan kain tapis adalah masyarakat daerah Menggala (kabupaten Tulangbawang) dan Kenali (Lampung Barat). []  dari berbagai sumber