Posts

Tausiah Ustad Sutikno Dalam Acara Santunan Anak Yatim

KEGIATAN yang rutin di lakukan setiap Sabtu di tepi Danau Universitas Malahayati. Anak-anak dan Ibu yatim binaan Yayasan Alih Teknologi Universitas Malahayati berkumpul di bawah tenda di Danau Universitas Malahayati Sabtu, 19 Desember 2015.

Kegiatan yang diawali dengan shalat Dzuhur berjamaah lalu sambutan Drs Rayendra Hermansyah MM dan tausiah dari Ustad Sutikno dan pembacaan Surah Yasin serta makan bersama. Dalam tausiah yang diberikan Ustad Sutikno pada kegiatan rutin ini bertemakan “Hidup adalah ibadah”.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Adz Dzariyaat: 56) jadi tujuan kita hidup adalah untuk beribdah bukan untuk mencari harta atau kekayaan,” ujar Ustad Sutikno dalam tausiahnya di Danau Universitas Malahayati.

Ia juga menyampaikan harta bukanlah segalanya karena harta merupakan hal untuk menunjang ibadah dan dengan cara bekerja. “Karena betapa bergantungnya kita kepada Allah SWT dan sepantasnyalah kita tiada pernah sombong walau sedetikpun,” kata Ustad Sutikno.

Ia juga berpesan untuk jangan pernah mengesampingkan agama dan sebagai orang tua sepatutnya dapat menuntun dan memberi contoh teladan kepada anaknya.[]

Danau Yatim di Universitas Malahayati

KICAUAN burung menyambut pagi di Danau Yatim Universitas Malahayati. Danau itu terletak tepat di penurunan bukit Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin, Kompleks Kampus Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Diapit dua jalan, kiri menuju gedung rektorat, dan tepat sebelah kanan kompleks perumahan dosen.

Semilir angin yang mengakibatkan dedaunan berjatuhan seakan mengiringi langkah kaki ke danau ini. Nuansa yang sangat berbeda terjadi pada setiap hari Sabtu. Dari tepian danau yang dikelilingi pohon sengon ini terdengar lantunan ayat al-Qur’an, surah Yasin yang begitu khidmat. Kegiatan rutin yang sakral ini dihadiri oleh puluhan undangan yang hadir mengikuti kegiatan dengan khidmat.

Kegiatan religi yang diawali dengan shalat dzuhur berjamaah, membaca al-qur’an, surah Yasin kemudian berdoa bersama memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Universitas Malahayati terus berkembang dan dilanjutkan dengan santap siang.

Anak-anak yang terlihat lugu serta riang gembira dengan didampingi ibunya. Mereka juga diperbolehkan untuk memancing dan membawa ikan hasil pancingannya. Saling bergurau dengan sesamanya yang bernasip sama.

Di antara anak-anak yatim itu, ada juga yang sudah remaja. Mereka semuanya kini sedang menimba ilmu di Universitas Malahayati. Anak-anak itu mendapat beasiswa selain itu dibebaskan dari beban biaya. Itulah sebabnya, mereka berdoa agar Universitas Malahayati terus berkembang dan berperan aktif di negeri ini.

Kegiatan rutin ini belum berhenti sampai disini. Selanjutnya, mereka berjalan kaki beramai-ramai menuju sebuah rumah didekat gerbang masuk kampus Universitas Malahayati. Tepat di depan Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin.

Santunan dan pembinaan anak-anak yatim ini memang menjadi kewajiban yang langsung diperintahkan oleh Rusli Bintang. Rusli Bintang adalah pendiri Universitas Malahayati yang saat ini sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi yang menjadi badan hukum Universitas Malahayati. Kewajiban menyantuni anak-anak yatim berlaku untuk seluruh pimpinan,dosen dan staf di Universitas Malahayati bahkan untuk mahasiswa juga diwajibkan.[]

Janda dan Anak Laki-lakinya

(Sebuah cerita karya Kahlil Gibran tentang Anak Yatim)

Malam mulai menyelimuti Lebanon Utara dan salju meliputi desa-desa yang terkepung di Lembah Kadisha, menjadikan ladang dan gurun ibarat halaman luas tempat alam yang mengamuk meninggalkan  jejak-jejak kelakuannya. Dari jalan, kaum lelaki tiba di rumah saat kesunyian menelan malam.

Di sebuah rumah terpencil dekat desa itu tinggal seorang perempuan yang duduk dekat tungku pemanas sambil memintal wol. Di sisinya, anak tunggalnya sebentar-sebentar melihat api dan sebentar-sebentar menatap ibunya.

Gemuruh guntur yang dahsyat mengguncang rumah itu dan si anak diterkam rasa ketakutan. Dipeluknya ibunya untuk mencari lindungan kasih-sayang menghadapi alam. Ibunya memeluk dan menciumnya; ia kemudian memangkunya anaknya dan berkatalah dia, “Jangan kuatir, Anakku, karena alam hanya menunjukkan bandingan antara kekuatannya yang hebat dengan kelebihan manusia. Ada Yang Agung di balik salju yang turun dan awan yang menggumpal serta angin yang menderu, dan Dia pula yang tahu apa yang dibutuhkan bumi, karena Dialah yang menciptakannya; dan dipandangNya mereka yang lemah dengan mata penuh kasih-sayang.”

“Beranilah, Anakku. Alam tersenyum di musim semi dan tertawa di musim panas lalu menguap di musim gugur, tapi saat ini dia sedang menangis; dan dengan air matanya dibasahinya kehidupan yang tersembunyi di bawah tanah.”

“Tidurlah, Anakku sayang; ayahmu sedang memandang kita dari alam Keabadian. Salju dan guntur itu mendekatkan kita kepadanya saat ini.”

“Tidurlah, Sayangku, karena selimut putih yang membuat kita kedinginan ini menghangatkan bibit-bibit (dalam tanah), dan apa yang mirip peperangan ini (gemuruh) nantinya akan menghasilkan bunga-bunga manakala tiba musim semi.”

“Begitulah, Anakku, manusia tidak bisa menuai cinta kecuali setelah perpisahan yang menyedihkan dan menyadarkan, dan kesabaran yang pahit, dan kekerasan yang menggelisahkan. Tidurlah, Anakku si kecil, mimpi indah akan menyertai jiwamu yang tidak lagi takut pada malam yang mengerikan dan salju dingin yang menggigit.”

Anak kecil itu memandang ibunya dengan mata mengantuk dan berkata, “Ibu, mataku berat rasanya, tapi aku tidak bisa tidur sebelum mengucapkan doa.”

Ibu itu melihat wajah anaknya yang mirip malaikat itu, pandangannya kabur oleh mata yang berkaca-kaca, lalu berkata, “Ulangi kata-kataku, Anakku – ‘ Tuhan, kasihilah mereka yang miskin dan lindungilah mereka dari musim dingin ini; hangatkan tubuh mereka yang terbungkus tipis dengan tangan-Mu yang penuh kasih-sayang; awasilah para yatim yang tidur di rumah-rumah kumuh, menderita karena lapar dan kedinginan. Dengarlah, wahai Tuhan, suara para janda yang tak berdaya dan gemetar karena khawatir akan (keselamatan) anak-anak mereka. Bukalah, wahai Tuhan, hati semua manusia, agar mereka tahu akan kesengsaraan mereka yang lemah. Kasihanilah para penderita yang mengetuk pintu, dan antarkanlah mereka yang dalam perjalanan ke tempat-tempat yang hangat. Jagalah, wahai Tuhan, burung-burung yang kecil dan lindungilah pepohonan dan ladang-ladang dari amarah badai; sebab Engkau penuh kasih-sayang dan penuh cinta!’. ”

Ketika tidur menaklukkan jiwa anak itu, ibunya meletakkannya di atas ranjang dan diciumnya mata anaknya dengan bibir yang gemetar. Lantas kembali lagi dia duduk dengan tungku api, memintal wol untuk membuatkan pakaian untuk anaknya.

Kahlil Gibran in TL(42-43)

Dari Tepi Danau Malahayati Surah Yasin Berkumandang

DANAU itu terletak tepat di penurunan bukit Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Kompleks Kampus Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Diapit dua jalan, kiri menuju gedung rektorat, kanan kompleks perumahan dosen.

Penghuni kompleks kampus sering memancing ikan di danau ini. Biasanya mereka terlihat melempar tali pancing dari tengah-tengah danau yang ada pulaunya.

Selain itu, danau ini juga yang sering dilakukan menjadi tempat latihan Tim SAR Universitas Malahayati.

Nuansa berbeda terjadi di setiap pekan. Seperti ketika penulis dari malahayati.ac.id mengunjungi tempat ini pada Sabtu 23 Mei 2015. Di sini diselenggarakan ritual pembacaan doa dari anak-anak yatim, sekaligus santunan dari kampus untuk mereka.

Di tepi danau yang dikelilingi pepohonan ini terdengar lantunan ayat al-Qur’an, surah Yasin. Puluhan undangan yang hadir mengikuti kegiatan dengan hikmat. Pepohonan yang rindang juga menambah kesejukan di acara yang mendamaikan hati ini.

Kegiatan religi ini diawali dengan shalat zuhur berjamaah, pembacaan surat yasin dan doa serta makan bersama. Acara anak yatim dan ibunya dipersilahkan memancing dan ikan yang didapat diperbolehkan dibawa pulang.

Jika disimak dengan seksama, sungguh jelas anak-anak yatim itu memanjatkan doa kepada Allah agar Universitas Malahayati terus berkembang dan maju.

Di antara anak-anak yatim yang berdoa itu, ada juga yang sudah remaja. Mereka semuanya kini sedang menimba ilmu di Universitas Malahayati. Mereka mendapat bea siswa dari kampus. Selain dibebaskan dari beban biaya, mereka tetap mendapat santunan.

“Acara danau cukup bagus bagi kepribadian anak-anak yang sudah tidak memiliki ayah, karena dengan adanya acara tersebut membentuk kepribadian yang religius, dengan diadakan pengajian dan membaca surat yasin sekaligus anak-anak merasa diperhatikan” ujar Elismawati, salah seorang undangan yang tinggal di daerah Gadingrejo Timur, Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

Santunan dan pembinaan anak-anak yatim ini memang menjadi kewajiban yang langsung diperintahkan oleh Rusli Bintang. Rusli Bintang adalah pendiri Universitas Malahayati yang saat ini adalah Ketua Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi yang menjadi badan hukum Universitas Malahayati.

Kewajiban menyantuni anak-anak yatim berlaku untuk seluruh pimpinan, dosen, dan staf di Universitas Malahayati. Bahkan untuk mahasiswa juga dikenakan kewajiban yang serupa. []