Posts

Kegiatan Rutin yang Sakral Kembali Menghiasi Tepi Danau Universitas Malahayati

KEGIATAN rutin yang sakral kembali menghiasi tepi Danau Universitas Malahayati, Sabtu 05 Desember 2015. Terlihat anak-anak berkumpul di bawah tenda di dekat dapur umum tempat pembakaran ikan. Mereka adalah anak-anak yatim binaan Yayasan Alih Teknologi Universitas Malahayati.

Diawali dengan ceramah, membaca alquran, dan dilanjutkan shalat dzuhur, kemudian berdoa bersama. Di tepi danau, anak-anak yatim itu memanjatkan doa kepada Allah agar Universitas Malahayati terus berkembang dan maju. Keceriaan yang terlihat jelas seusai berdo’a bersama. Bermain, memancing, saling bergurau dengan mereka yang bernasip sama. Senyuman yang timbul dari raut wajah mereka seakan menambah haru.

Adapun yang sudah remaja di antara anak-anak yatim itu. Mereka semuanya kini sedang menimba ilmu di Universitas Malahayati. Mereka mendapat beasiswa dari kampus. Selain dibebaskan dari beban biaya, mereka tetap mendapat santunan.

Kegiatan santunan ini memang menjadi kewajiban untuk dosen dan karyawan di Malahayati, mengikuti jejak si pemilik yayasan, Rusli Bintang yang sangat peduli terhadap anak-anak yatim.[]

Kesan Ibu Yatim Tentang Danau dan Qurban

UNIVERSITAS Malahayati kembali melakukan penyembelihan hewan qurban pada Kamis, 24 September 2015. Ini merupakan agenda rutin setiap Idul Adha. Hasil pemotongan ini akan dibagikan kepada anak yatim binaan Malahayati.

Elis Mawati merupakan salah satu ibu dari anak yatim yang Universitas Malahayati bina. Bergabung dengan yayasan anak yatim sejak 2012. “Universitas Malahayati sangat membantu saya dalam perekonomian, apalgi anak saya juga dapat meneruskan kuliah di sini,” ujar Elis kepada malahayati.ac.id

Wanita 44 tahun ini mengatakan, danau Universitas Malahayati merupakan tempat yang istimewa. Sebab ia merasakan kebersamaan yang hangat. Setiap Idul Adha mendapatkan pembagian qurban di sini. “Ini adalah tempat berkumpul bersama dengan ibu-ibu yang bernasib sama seperti saya,” ujarnya.

Ia berharap, kedepannya Universitas Malahayati terus maju dan lancar dalam segala hal. Mengingat kampus ini sudah sangat membantu perekonomian ibu dari anak yatim.[]

Potret Malahayati Rayakan Idul Adha Dengan Berbagi

Berikut potret kegiatan qurban di Universitas Malahayati yang tertangkap kamera malahayati.ac.id

Malahayati Rayakan Idul Adha Dengan Berbagi

HARI raya Idul Adha 1436 Hijriah, Universitas Malahayati kembali melakukan penyembelihan hewan qurban. Kegiatan ini berlangsung pada 24 September 2015. Ini merupakan agenda rutin setiap tahunnya.

Hewan qurban ini adalah sumbangan dari Yayasan Alih Teknologi, Dosen, Karyawan Universitas Malahayati dan Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. “Jumlah dari hewan qurban ini berupa 10 ekor sapi dan 7 ekor kambing,” ujar Rayendra Hermansyah, ketua pelaksana.

Pria yang akrab disapa Ray ini mengatakan, pembagian hasil pemotongan hewan qurban akan dibagikan ke berbagai daerah seperti Metro, Kota Agung, Bandar Lampung dan daerah lainnya. Akan ada sekitar 1500 paket daging yang dibagikan kepada Mustahiq. Dan sebagian dibagikan oleh dosen dan karyawan yang terlibat dalam kepanitian ini.

Kegiatan ini berlangsung tertib, dari penyembelihan yang dilakukan sejak pukul 09.00 WIB hingga pembagian daging yang dimulai pada pukul 14.00-16.00 WIB. “Tujuan dari kegiatan ini yaitu berbagi kepada sesama khususnya anak yatim binaan Universitas Malahayati, semoga berkah” ujar Ray menambahkan.[]

Rektor: Teruslah Menjunjung Tinggi Kebanggaan, Kebersamaan, dan Tetap Berkarya

PEMBUKAAN Dies Natalis Universitas Unversitas Malahayati ke-22 di Danau Yatim pagi ini berlangsung sangat meriah. Dihadiri oleh Rektor Universitas Malahayati, Dr.Muhammad Khadafi, SH,.MH. yang memberikan sambutan berupa ucapan rasa terima kasih kepada semua civitas dan masyarakat Universitas Malahayati yang selalu berjuang untuk memajukan Kampus ini.

Rektor juga berpesan kepada seluruh masyarakat Malahayati untuk terus menjunjung tinggi kebanggaan, kebersamaan dan terus berkarya,  seperti tema yang di usung Dies kali ini yaitu “Bangga dengan karya dan kebersamaan”.

Tak lupa pula Rektor berterimakasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras bahu-membahu, sehingga acara peringatan hari jadi Malahayati ke-22 ini bisa terlaksana dengan baik dan lancar.

Pembukaan secara resmi Acara Dies Natalis oleh Rektor Universitas Malahayati dengan menerbangkan rangkaian balon yang membawa Slayer bertuliskan “22 Tahun Universitas Malahayati”.

Penasaran bagaimana momen saat pembukaan acara Dies Natalis pagi tadi?

Chek this out:

 

sambutan rektor

sambutan rektor

civitas malahayati

civitas malahayati

civitas malahayati

civitas malahayati

civitas malahayati

civitas malahayati

doa

doa

makan bersama

makan bersama

Janda dan Anak Laki-lakinya

(Sebuah cerita karya Kahlil Gibran tentang Anak Yatim)

Malam mulai menyelimuti Lebanon Utara dan salju meliputi desa-desa yang terkepung di Lembah Kadisha, menjadikan ladang dan gurun ibarat halaman luas tempat alam yang mengamuk meninggalkan  jejak-jejak kelakuannya. Dari jalan, kaum lelaki tiba di rumah saat kesunyian menelan malam.

Di sebuah rumah terpencil dekat desa itu tinggal seorang perempuan yang duduk dekat tungku pemanas sambil memintal wol. Di sisinya, anak tunggalnya sebentar-sebentar melihat api dan sebentar-sebentar menatap ibunya.

Gemuruh guntur yang dahsyat mengguncang rumah itu dan si anak diterkam rasa ketakutan. Dipeluknya ibunya untuk mencari lindungan kasih-sayang menghadapi alam. Ibunya memeluk dan menciumnya; ia kemudian memangkunya anaknya dan berkatalah dia, “Jangan kuatir, Anakku, karena alam hanya menunjukkan bandingan antara kekuatannya yang hebat dengan kelebihan manusia. Ada Yang Agung di balik salju yang turun dan awan yang menggumpal serta angin yang menderu, dan Dia pula yang tahu apa yang dibutuhkan bumi, karena Dialah yang menciptakannya; dan dipandangNya mereka yang lemah dengan mata penuh kasih-sayang.”

“Beranilah, Anakku. Alam tersenyum di musim semi dan tertawa di musim panas lalu menguap di musim gugur, tapi saat ini dia sedang menangis; dan dengan air matanya dibasahinya kehidupan yang tersembunyi di bawah tanah.”

“Tidurlah, Anakku sayang; ayahmu sedang memandang kita dari alam Keabadian. Salju dan guntur itu mendekatkan kita kepadanya saat ini.”

“Tidurlah, Sayangku, karena selimut putih yang membuat kita kedinginan ini menghangatkan bibit-bibit (dalam tanah), dan apa yang mirip peperangan ini (gemuruh) nantinya akan menghasilkan bunga-bunga manakala tiba musim semi.”

“Begitulah, Anakku, manusia tidak bisa menuai cinta kecuali setelah perpisahan yang menyedihkan dan menyadarkan, dan kesabaran yang pahit, dan kekerasan yang menggelisahkan. Tidurlah, Anakku si kecil, mimpi indah akan menyertai jiwamu yang tidak lagi takut pada malam yang mengerikan dan salju dingin yang menggigit.”

Anak kecil itu memandang ibunya dengan mata mengantuk dan berkata, “Ibu, mataku berat rasanya, tapi aku tidak bisa tidur sebelum mengucapkan doa.”

Ibu itu melihat wajah anaknya yang mirip malaikat itu, pandangannya kabur oleh mata yang berkaca-kaca, lalu berkata, “Ulangi kata-kataku, Anakku – ‘ Tuhan, kasihilah mereka yang miskin dan lindungilah mereka dari musim dingin ini; hangatkan tubuh mereka yang terbungkus tipis dengan tangan-Mu yang penuh kasih-sayang; awasilah para yatim yang tidur di rumah-rumah kumuh, menderita karena lapar dan kedinginan. Dengarlah, wahai Tuhan, suara para janda yang tak berdaya dan gemetar karena khawatir akan (keselamatan) anak-anak mereka. Bukalah, wahai Tuhan, hati semua manusia, agar mereka tahu akan kesengsaraan mereka yang lemah. Kasihanilah para penderita yang mengetuk pintu, dan antarkanlah mereka yang dalam perjalanan ke tempat-tempat yang hangat. Jagalah, wahai Tuhan, burung-burung yang kecil dan lindungilah pepohonan dan ladang-ladang dari amarah badai; sebab Engkau penuh kasih-sayang dan penuh cinta!’. ”

Ketika tidur menaklukkan jiwa anak itu, ibunya meletakkannya di atas ranjang dan diciumnya mata anaknya dengan bibir yang gemetar. Lantas kembali lagi dia duduk dengan tungku api, memintal wol untuk membuatkan pakaian untuk anaknya.

Kahlil Gibran in TL(42-43)