Posts

Materi Pengenalan Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara Oleh Rektor Universitas Malahayati

KEGIATAN Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) hari pertama berlangsung lancar di gedung Graha Bintang Unniversitas Malahayati pada Rabu, 21 September 2016. Kegiatan yang bertemakan “Melalui PKKMB Kita Bentuk Generasi Cerdas, Beretika dan Religius“ ini dihadiri oleh Rektor Universitas Malahayati, Wakil Rektor beserta jajarannya, dosen, tamu undangan, panitia dan seluruh mahasiswa/i baru tahun ajaran 2016/2017.

Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi, SH MH, mengisi kegiatan PKKMB ini dengan materi yang berjudul “Pengenalan Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara”. Sebelum ia membahas mengenai materinya ia bercerita tentang biografi dan memotivasi seluruh mahasiswa/i menjadi semangat dalam menempuh pendidikan.

“Hidup ini semakin luas jaringan komunikasi maka akan semakin mudah berkembang. Jaringan yang luas akan meningkatkan level kehidupan seseorang,” kata Kadafi,

Ia menambahkan, untuk mengembangkan potensi yang kita miliki maka dibutuhkan jiwa Entrepreneurship/jiwa kewirausahaan yang dibangun bertujuan untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Rejeki kadang-kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan jadi, jangan pernah berhenti berkopetensi dan terus manfaatkan semua peluang yang ada. Ketika kita sudah sibuk dan berjaya dalam kesuksesan maka jangan pernah lupa menjaga kesehatan. “Orang sukses lupa dengan kesehatan,” kata Kadafi. Maka tidak heran jika banyak pengusaha sukses yang meninggal di usia muda.

Materi Pengenalan Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara 

Pengertian Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang memiliki identitas bersama, dan mempunyai kesamaan asal keturunan, bahasa, ideologi, budaya, dan sejarah serta berpemerintahan sendiri. Sedangkan berbangsa adalah manusia yang mempunyai landasan etika, bermoral, dan ber-akhlak mulia dalam bersikap mewujudkan makna sosial dan adil.

Negara adalah suatu wilayah yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh suatu pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Sedangkan bernegara adalah manusia yang memiliki kepentingan sama dan menyatakan dirinya sebagai satu bangsa serta berproses di dalam satu wilayah dan mempunyai cita-cita yang berlandaskan niat untuk bersatu dalam membangun rasa nasionalisme .

Yang dimaksud dengan “kesadaran berbangsa dan bernegara”, adalah sadar bahwasanya kita berada di tempat yang memiliki bahasa, ideologi, budaya, dan/atau sejarah yang sama dan mempunyai aturan-aturan baik dalam bidang politik, militer, ekonomi, sosial maupun budaya yang diatur oleh Negara. Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsa itu sendiri. 

Setelah ia menyampaikan materi mengenai pengenalan kehidupan berbangsa dan bernegara, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa/i agar terus semangat belajar dan berusa serta dibantu dengan iringan doa yang tiada hentii kepada Allah SWT. “Allah SWT semakin kita meminta pertolongan maka akan semakin senang,” ujar Kadafi.[]

Kini Universitas Malahayati Bekerjasama dengan USU Medan

Universitas Malahayati – Bandar Lampung dan Universitas Sumatera Utara -Medan mulai hari ini menjalin kerjasama. Tadi pagi, Rektor Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH dan Rektor USU Prof Runtung Sitepu telah meneken naskah kerjasama itu disaksikan H Rusli Bintang, pendiri kampus.

Dua universitas ini sepakart  melaksanakan segala bentuk kegiatan penelitian di semua bidang plmu pengetahuan, termasuk kegiatan publikasi karya ilmiah hasil penelitian; dan melaksanakan segala bentuk kegiatan pengabdian masyarakat, serta segala bentuk kegiatan lainnya berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Progam yang sama juga dilakukan Universitas Abulyatama, Universitas Batam, Institut Kesehatan Indonesia – Jakarta, dan Universitas Median Internasional (UMI) Medan. Semua universitas ini didirikan oleh Rusli Bintang.

Mewakili lima universitas. Dr Kadafi mengatakan sangat berbangga hati bisa bekerjasama dengan salah satu universitas yang terbaik di Indonesia ini. “Banyak tokoh-tokoh dari sumatera yang lahir dari USU dan kemudian menjadi tokoh nasional,” kata Kadafi.

Kadafi menyatakan sangat berterimakasih kepada rektor USU. “Walau kami tahu bahwa Prof Runtung Sitepu laksana keluarga sendiri dengan kampus kami terutama Universitas Batam, namun ini tentu sebuah apresiasi yang sangat membuat kami bangga,” kata Kadafi. []

Ini Tanggapan Rektor Kadafi Soal Pajak Bisnis Online Mahasiswa

Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH menanggapi positif sikap pemerintah yang mengeluarkan kebijakan penarikan pajak sektor online. “Penetapan pajak untuk sektor e-commerce sudah tepat,” kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Lampung, kemarin.

Kadafi yang juga adalah Wakil Ketua KADIN Lampung ini mengatakan kebijakan pemerintah dibuat untuk menyeragamkan dan mengontrol kegiatan usaha online yang saat ini berkembang pesat.

Pada laman harianfajarsumatera.com, disebutkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengisyaratkan penarikan pajak online juga bakal diberlakukan bisnis online yang dijalankan mahasiswa. Bahkan DJP melakukan pendekatan dengan memasukkan perpajakan sebagai salah satu mata kuliah dan mengimbau mahasiswa untuk memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP).

Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro dan Menristek Dikti Muhammad Nasir sudah meneken nota kesepahaman antara terkait Peningkatan Kerjasama Perpajakan melalui Ristek Dikti sudah dilakukan.

Kesepakatan lainnya dibuat antara DJP dengan Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan soal Peningkatan Kesadaran Pajak melalui Pembelajaran dan Kewahasiswaan di Pendidikan Tinggi.

Menurut Kadafi, dalam kebijakan ini nantinya ada kajian-kajian untuk melihat sebarapa besar lingkup usaha online dapat dikenakan pajak dan yang masih diberikan kelonggaran.

“Kan nanti ada dalam kebijakannya pasti ada keringanan. Jadi pengusaha yang nilai investasi maupun pendapatannya cukup rendah pastinya tidak terkena pajak,” ujarnya usai menghadiri Musyawarah cabang HIPMI Kota Bandarlampung di Hotel Sheraton Bandarlampung, Rabu (30/3).

Terkait rencana pengenalan pajak untuk bisnis online mahasiswa, menurutnya pemerintah sudah melakukan kajian terlebih dahulu.

“Kita tahu ada mahasiwa yang sudah mapan usahanya, sudah berkembang. Kan gak mungkin dia tidak memberikan pajak ke negara. Pada prinsipnya pajak itu kembali pada kita, apalagi pajak itu tidak serta merta hilang, nanti akan kembali lagi kepada kita, akan kita nikmati kembali. Masak usaha kita sudah besar tapi gak bayar pajak, ini bagian dari nasionalisme kita,” ungkapnya.

Namun kata Rektor Universitas Malahayati itu, pemerintah dalam hal ini DJP juga harus mempunyai tingkatan pajak tertentu yang disesuaikan dengan tingkat penghasilan usaha.

”Jadi ada tingkatan, tidak serta merta semua usaha online kena pajak. Bagaimana kita mau investasi dan meningkatkan kualitas usaha kita kalau baru mulai sudah dikenakan pajak,” katanya.

Dia  mengingatkan, mahasiswa yang mempunyai usaha online juga tidak perlu khawatir dengan rencana kebijakan pemerintah tersebut. Justru hal tersebut bisa dijadikan tantangan untuk memacu diri menjadi seorang pengusaha mapan.

“Soal pajak ini tidak membedakan mahasiswa atau bukan, karena jika bicara bisnis tidak melihat dari usia, kita melihat bisnis itu dari ukuran pendapatannya. Yang pasti untuk mahasiswa yang mempunyai usaha harus mengoptimalkan bidang usaha yang dimiliki, misalnya yang dulunya memakan biaya produksi cukup tinggi, kita harus mulai putar otak bagaimana supaya bisa lebih murah,” jelasnya.

Sebagai informasi, pemerintah pusat tahun ini menargetkan penerimaan pajak secara nasional mencapai Rp1.500 triliun. Berbagai upaya dilakukan dengan penambahan wajib pajak baru hingga menyasar sektor usaha e-commerce.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, para mahasiswa ketika sudah lulus akan menjadi bagian dari profesi, terjun ke dunia kerja sehingga sudah harus mempunyai bekal kesadaran untuk membayar pajak.

Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Ken Dwijugiasteadi mengatakan, pihaknya belum dapat menaksir potensi penerimaan pajak dari kalangan mahasiswa. Terpenting buat DJP, mahasiswa semakin meningkatkan kesadaran dan pengetahuannya soal pajak.

“Anak-anak tuh keinginannya sangat besar, orang bisnis semua. Bisnis online mahasiswa sudah mulai, banyak banget lagi dan mereka belum tahu harus bayar pajak,” katanya. | sumber: harianfajarsumatera.com

Bertemunya Dua Sahabat Karib; Rektor Kadafi dan Bupati Dendi

DUA-duanya masih sangat muda. Dua-duanya juga sukses di bidangnya masing-masing. Satunya sukses di bidang pendidikan dan kesehatan, dialah Dr Muhammad Kadafi SH MH, yang saat ini adalah Rektor Universitas Malahayati, Bandar Lampung, ia juga adalah  Direktur RS Pertamina-Bintang Amin.

Satunya lagi, H Dendi Ramadhona ST, sukses dalam bisnis konstruksi dan juga moncer berkarier politik. Dendi telah dua periode menjadi anggota DPR Provinsi Lampung, dan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Psawaran terpilih menjadi Bupati di sana.

Mereka berdua ini sudah bersahabat karib sejak masa-masa remaja di SMA. Sama-sama menyukai sepeda motor, dan setiap hari jalan-jalan bersama berkeliling Lampung. Dendi, pada Rabu 16 Maret 2016, mengunjungi temannya Kadafi ke kampus Universitas Malahayati. “Kami bersilaturahmi,” katanya.

Kini setelah sukses di dunianya masing-masing, mereka tetap saling memberi masukan dan pendapat untuk saling mendukung. Tetap saling bertelepon untuk sekedar berdiskusi.

Lalu apa kata Kadafi tentang sahabatnya itu? “Dendi adalah orang yang sangat dekat dengan masyarakat. Dia unsur pemerintah yang benar peduli pada masyarakat. Terbukti dia terpilih dua periode di DPR Provinsi, dan kemudian terpilih sebagai bupati, sangat berpengalaman melihat kebutuhan masyarakat,” kata Kadafi.

Kadafi berkeyakinan, Dendi akan membawa pembahuran untuk masyarakat Pesawaran. “Kalau bicara pelayanan publik dia akan totalitas, dia sangat konsen ke pendidikan dan kesehatan, sebab itu unsur mendasar yang menjadi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Menurut Kadafi, kemungkinan akan ada jalinan kerjasama antara Universitas Malahayati, RS Pertamina-Bintang Amin, dan Pemerintah Kabupaten Pesawaran. “Kita akan membuat desa pembinaan di sana, akan meningkatkan pelayanan rumah sakit di Pesawaran. Apalagi secara geografis, RS Pertamina-Bintang Amin sangat berdekatan dengan Pesawaran,” katanya. []

Rektor Kadafi Memutar Memori Tentang Rusli Bintang

“JIKA diibaratkan manusia, Universitas Malahayati kini melangkah menuju kedewasaan, ia sudah mengarungi dan melalui jiwa kekanak-kanakan dan juga masa remaja yang penuh gejolak dalam mencari jati diri,” kata Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, pada pidato malam puncak Dies Natalis Universitas Malahayati di Graha Bintang, tadi malam.

Pernyataan Kadafi itu disampaikan di hadapan seluruh dosen, mahasiswa, karyawan, dan juga keluarganya yang hadir pada malam itu. Suasana terasa hening tatkala Kadafi mengajak semua untuk sejenak memutar memori ke titik awal berdirinya Universitas Malahayati pada Jumat 27 Agustus 1993.

Itu tentang kelahiran sebuah kampus di Bandar Lampung dari seorang “bidan” bernama H. Rusli Bintang yang juga lahir pada hari Jumat pada 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Rusli yang menjadi bidan, melahirkan, dan kemudian membesarkan Universitas Malahayati.

Berawal dengan merangkak-rangkak dari beberapa ruko di Jalan Kartini, kini kampus ini berdiri megah di Jalan Pramuka Nomor 27, Bandar Lampung. Berada dalam lahan 84 hektare, di sini berdiri sejumlah gedung berlantai delapan.

Beragam fasilitas ada di sini, mulai dari fasilitas akademik seperti lab kesehatan hingga non akademik seperti sarana olah raga. Bahkan, ada rumah sakit yang melengkapinya yaitu Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Hingga kini Rusli masih sangat perhatian pada kampus ini.

Sedikit saja kampus ini meriang, maka Rusli akan merasakan demam, dan menjalar ke berbagai sendi-sendi kehidupannya. Bahkan ia juga pontang-panting mencari obat mujarab agar kita tetap segar.

Ia telah membuat tonggak dalam kehidupannya. Mendirikan sebuah menara kehidupan bagi jutaan orang, yaitu untuk dunia pendidikan dan juga anak-anak yatim. Sebuah menara kehidupan yang diisi dengan cinta kasih antar sesama manusia dan lingkungannya.

Itulah sebabnya, Kadafi mengajak semua untuk merenungi kilas balik jerih payah yang sudah dilakukan oleh semua tokoh-tokoh kampus agar bisa melangkah ke depan dengan mantap.

***

“PAK Rusli Bintang adalah orang tua kita bersama. Beliau membangun kampus ini dan juga beberapa kampus lainnya, bukanlah untuk kepentingan pribadi, tetapi adalah untuk pengabdian beliau dalam menjalani kehidupan. Itulah sebabnya, semua kampus yang didirikannya selalu mengutamakan kepentingan sosial, terutama untuk menyantuni anak-anak yatim.”

Kalimat itu juga dari Kadafi. Hanya saja itu disampaikannya pada Senin 17 Agustus 2015. Saat itu, Universitas Malahayati sedang memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-70, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan HUT Universitas Malahayati.

Suasana pembukaan HUT Malahayati memang terasa lebih merasuk, sebab dilakukan di dekat Danau Yatim Universitas Malahayati, berlangsung sederhana, makan bersama di bawah tenda yang tersusun di jalan tepi danau. Kadafi mengatakan yang paling penting dari dies natalis ini tak lebih adalah sebuah perenungan dari sebuah perjalanan panjang kampus ini.

“Jejak kampus ini tak lepas dari langkah-langkah yang sudah ditempuh Pak Rusli. Jika kita lihat langkah-langkah yang ditempuhnya, tentu tak bisa kita cerna dengan logika sederhana. Bagaimana ia yang anak yatim, hanya sekolah tamatan SMA, namun bisa mendirikan empat kampus di berbagai daerah,” katanya.

Sejenak Kadafi menceritakan riwayat hidup Rusli Bintang. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga sederahana dan bahagia. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Dari ayahnya yang berjiwa sosial, dan sang ibu yang penyayang itulah tertanam rasa kasih sayang pada sesama.

Namun di saat usianya yang masih belia, Allah berkehendak lain. Bintang kembali kepangkuan Ilahi, tinggallah Rusli bersama ibunya dan enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Waktu itu, Rusli masih duduk di kelas satu SMA Muhammadiyah.

Sejak itu, Rusli menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan untuk membantu adik-adiknya bersekolah.

Hingga kemudian, ia menerima cobaan lagi, tatkala seorang adiknya, Darmawan, meninggal dunia lantaran stres tak bisa ikut ujian akhir sekolahnya di SMP Iskandar Muda, pada 1970. “Waktu itu, ia membutuhkan biaya sekolah hanya seribu rupiah. Saya minta waktu untuk mencarinya, saat uang saya dapatkan, adik saya sudah terlanjur sakit lantaran memikirkan sekolahnya,” katanya.

Melihat sang adik tergolek lemah di atas tikar. Anak yatim ini membopongnya membawa ke puskesmas terdekat. Rumah Rusli di Lampoh Keudee adalah kawasan perkampungan, saat itu kendaraan umum tak ada yang masuk kampung.

Jadilah Rusli menggendong adiknya untuk dibawa ke puskemas. Ia berjalan kaki berlari-lari membawa adiknya. Bahkan dalam perjalanan, pungung Rusli sudah dipenuhi kotoran dan muntah sang adik yang sakit parah. Setibanya di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi.

Sejak itu Rusli bertekad untuk mengubah nasib anak-anak yatim. Maka berbagai kerja dilakoninya, Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Hingga kemudian Rusli menjadi pengusaha konstruksi dengan menggunakan CV Desa Jaya pada 1977. Setahun kemudian, ia sudah memiliki perusahaan sendiri bernama CV Kumita Karya. Badan usaha ini, ditingkatkan statusnya menjadi badan hukum PT Kumita Karya pada 1979.

Setahun bersama PT Kumita Karya, Rusli sudah menyantuni 750 anak yatim di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Bisnis Rusli berkembang dengan pesat, bahkan menjadi satu-satunya pengusaha angkutan yang dipercaya menjadi pendistribusi semen hasil produksi PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis.

Sukses berbisnis tak membuat Rusli melupakan janji, lalu ia mendirikan Yayasan Abulyatama pada 1983. Dari sinilah ia kemudian mendirikan sekolah dasar, SMP, SMA, dan Pesantren Babun Najah di Ulee Kareng Banda Aceh. Hingga kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di Lampoh Keudee, Aceh Besar. Kampus ini kini sangat berkembang, dan berbagai fasilitas berada dalam lahan seluas 54 hektare.

Sebagaimana arti dari nama Abulyatama, maka Rusli pun menjadi ayahnya anak-anak yatim. Ia menyantuni anak yatim, menyekolahkan mereka, bahkan menampungnya bekerja di seluruh unit usaha yang didirikannya.

Kemudian, Rusli mendirikan Universitas Malahayati dengan badan hukum Yayasan Alih Teknologi di Bandar Lampung. Selanjutnya ia membangun Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

***

Di atas mimbar yang berada di sudut kiri panggung di Graha Bintang, Kadafi masih melanjutkan pidatonya. Ia mengatakan perjalanan panjang Universitas Malahayati tentu diwarnai berbagai dinamika.

Seperti halnya manusia, dalam sejarah peradabannya sering dipenuhi berbagai pertentangan dan sinergi. Laksana dua buah kutub medan magnet yang menimbulkan daya tolak satu sama lain atau dua muatan listrik yang saling tarik menarik yang menghasilkan energi, lalu dari sini bisa menjadi penerangan atau kerusakan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap menjaga dua muatan listrik ini tetap saling tarik menarik dan menghasilkan penerangan bagi kampus ini?” Kadafi bertanya.

Di kampus Universitas Malahayati ada ribuan orang dengan berbagai pola fikir yang berbeda-beda, dan juga sifat dan karakter yang beragam. Jadi, kata Kadafi, dari sini bisa menghasilkan sebuah energi besar untuk mendorong Universitas Malahayati menjadi lembaga pendidikan yang sangat diperhitungkan. “Intinya, adalah menyatukan pikiran ke arah yang positif,” katanya lagi.

“Saya percaya pada kekuatan berpikir ini. Jika kita sama-sama memadukan kekuatan berpikir, melahirkan ide-ide positif, dan kemudian mewujudkannya, maka Insya Allah akan berwujud pada sebuah makna kehidupan yang bernilai tinggi di Universitas Malahayati ini,” kata Kadafi.

Lalu, Kadafi mengajak seluruh civitas akademika untuk menghadirkan refleksi dari perjalanan kampus ini, atau yang paling singkat adalah perjalanan per individu kita di kampus ini.

Benar, refleksi dalam ilmu eksak adalah perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi asalnya, setelah menumbuk antarmuka dua medium. Refleksi dalam kehidupan adalah proses merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan, tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dalam melangkah ke depan.

Filsuf Yunani, Socrates, menyebutkan “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi.” Mari kita merenungkannya, dan mari kita merasa-rasakannya, dan marilah kita wujudkan cita-cita kita bersama.

“Cita-cita untuk mewujudkan makna keberadaan kita di Universitas Malahayati. Lalu, kita bisa mewujudkan makna keberadaan Universitas Malahayati di negeri ini. Dari sini, bisa menilai seperti apa sebenarnya diri kita ini.”

“Apakah kita sosok yang memancarkan cahaya yang menerangi kehidupan, atau kita adalah penyebab kegelapan. Mari merenungkannya.” []

Dr Kadafi: Kini Malahayati Memperkuat Bidang Riset

BERBAJU batik biru muda cerah, Dr Muhammad Kadafi SH MH, menyambut datangnya Senin 17 Agustus 2015 dengan sumringah. Pagi-pagi, sekitar pukul 08.00 ia sudah berada di gedung rektorat Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Hari itu, rektor muda ini menjadi inspektur upacara HUT RI ke-70 di kampusnya.

Usai memimpin upacara, ia menuju ke Danau Yatim Universitas Malahayati. Sudah terpasang tenda dan teratak untuk tempat makan. Serangkaian balon terbang berwarna-warni terikat di pemberat batu. Di situ berjuntai-juntai spanduk kecil bertuliskan 22 Tahun Universitas Malahayati.

Benar, ada dua agenda berbeda di hari yang sama. Perayaan 17 Agustus, dan juga pembukaan Dies Natalis Universitas Malahayati yang berlangsung sampai 27 Agustus nanti. Di dua acara ini, Kadafi menyampaikan pesan yang senada, yaitu tentang pentingnya pendidikan dalam mengisi kemerdekaan.

Bagi Universitas Malahayati, Kadafi mengingatkan tentang makna kebanggaan berkarya dan kebersamaan. Pesannya ini memang sesuai dengan thema Dies Natalis Universitas Malahayati. Kepada malahayati.ac.id, ia menjelaskan tentang makna keberadaan kampus ini di dunia pendidikan, dan juga apa yang diharapkan di masa depan.

Berikut hasil wawancara Rektor Kadafi yang berlangsung di tepi Danau Yatim Universitas Malahayati pada Senin 17 Agustus 2015.

Malahayati berumur 22 tahun, apa yang bisa dilihat untuk melangkah kedepannya?

Yang pasti kan sekarang usianya sudah usia mapan, di mana Univeritas Malahayati harus siap menjawab tantangan daripada  kebutuhan masyarakat. Karena itu salah satu yang harus terjawab adalah bagaimana kita melahirkan lulusan-lulusan yang lebih baik dan lebih potensial. Lulusan-lulusan yang bisa diserap di masyarakat dan membawa perubahan, perubahan ke arah yang lebih baik.

Berarti akan ada sejumlah penguatan-penguatan yang akan di lakukan?

Di Universitas sendiri, tentunya setiap prodi kita merencanakan peningkatan akreditasi, karena akreditasi sendiri tidak terlepas dari proses pelayanan dan proses pengajaran. Tahapan pertama adalah peningkatan akreditasi, Alhamdulilah kan  sekarang hampir semua  akreditasi kita mengarah ke perbaikan baik semua. Sudah ke B. Tinggal beberapa prodi lagi tinggal menunggu proses akreditasi. Itu yang harus kita tingkatkan.

Kita juga mulai mempersiapkan lulusan-lulusan yang siap berkompetisi di tingkat internasional, oleh karena itu kita mulai membuka wawasan antara mahasiswa bagaimana mulai mempersiapkan diri baik di kompetisi asia maupun internasional. Misalnya dengan pertukaran pelajar, jadi Malahayati bisa berbagi ilmu dan pengalaman dan pertemanan jadi punya scopenya yang lebih luas.

Universitas Malahayati juga sudah menerima calon mahasiswa dari luarnegeri, nah inikan otomatis menjadi suatu modal untuk mereka menambah pengalaman, menambah ilmu dan pastinya menambah saudara.

Apakah itu bagian dari yang dimaksudkan dalam thema ulang tahun Universitas Malahayati ini?

Yang pastinya malahayati bisa sukses bisa berkembang seperti ini tidak terlepas dari kebersamaan. baik itu dari jajaran rektorat maupun mahasiswanya. Itu menjadi modal utama bahwa Malahayati itu bisa berkembang dan bisa lebih kuat kan begitu.

Jadi  setiap kebijakan bisa diimplementasikan secara integral, tidak beda-beda, jadi arah kebijakan itu menyatu semua, integral, jadi kita juga lebih mudah mengembangkan universitas dan menjalankan program-progarn dan visi misi universitas. Aktivitas kampus, seperti pengabdian, pembelajaran, penelitian, itu semua akan ditingkatkan. Universitas Malahayati terus meningkatkan aktivitasnya yang bukan bersifat pribadi tapi kebersamaan.

Bagaimana dengan keterlibatan alumni, apakah akan ada peran mereka juga untuk Universitas Malahayati?

Karena kita tahu semua kampus yang berkenaan dengan kegiatan alumni, dimana pun itu, mau negeri ataupu swasra, itu tidak mudah. Sebab, rekan-rekan alumni tentu memiliki berbagai aktivitasnya juga. Namun, kita tetap berusaha untuk menguatkan kerukunan alumni, kebersamaan alumni.

Kebersamaan alumni ini sangat penting, sebab dari merekalah mengalir informasi-informasi mengenai lapangan usaha, kesempatan membuka usaha baru, lapangan. Informasi itu yang harus kita kuatkan dari jaringan alumni.

Makanya kita harapkan nantinya alumni juga berperan aktif dalam mensukseskan kegiatan-kegiatan universitas, baik kegiatan seminar dan juga bagaiman arah masukan-masukan kebijakan ke depannya, buat adik-adiknya dan juga buat kebanggan almamaternya.

Bagaimana respon dari para alumni?

Sangat positif, karena kita tahu bahwa para alumni Universitas Malahayati itu tersebar di seluruh Indonesia. Dan juga banyak sekali alumni-alumni mendapatkan posisi-posisi strategis , tinggal bagaimana mereka bisa membukakan peluang dan juga memberikan motivasi kepada adik-adiknya di kampus, itu yang sangat dibutuhkan. Biar adikadiknya mulai mempersiapkan diri.

Misalnya, adik-adiknya yang masih kuliah melihat kesuksesan kakaknya sebagai pejabat  atau pengusaha akan menumbuhkan semangatnya.

Di luar negeri, sering kita lihat bagaimana mereka memperkuat jaringan alumninya. Sebab, pada alumni itulah yang langsung berhubungan dengan masyarakat, sebab membangun kampus itu berbeda dengan jualan obat, sebuah universitas akan mendapat citra yang baik dan berada di hati masyarakat jika alumninya berguna bagi rakyat, dari situlah nama universitas itu menjadi harum.

Jadi, dengan adanya campur tangan alumni tentunya kesempatan-kesempatan itu terbuka untuk adik-adiknya, kemudian juga mereka bisa memberi masukan kepada kampus.

Dari sisi Malahayati, bisa disebutkan sektor mana yang akan diperkuat lagi?

Kita akan memperkuat di sektor-sektor  perekonomian, dan pemerintahan, kita tahu bahwa negara kita ini lagi tumbuh dan mencari warna, itu yang kita harapkan. Karena itu kegiatan organisasi kampus mulai kita tumbuhkan biar mereka lebih kritis, lebih mempersiapkan diri, dari segi riset juga terus kita tekankan biar mahasiswa kita terbiasa dalam melakukan inovasi-inovasi.

Riset itu kan nggak hanya di bidang keilmuan yang ibarat kata kedokteran saja, tetapikan di bidang sosial juga amat sangat penting. Di mana mereka bisa membaca peluang, mengindetifikasi permasalahan, dan menganalisa.

Berarti, Malahayati akan mengembangkan semacam sebuah lembaga riset?

Itu yang kita utamakan, sekarang ini kan fasilitas kita sudah memadai, nah sekarang berikutnya adalah penguatan kita di bidang riset. Sekarang kita mulai mengembangkan ke bidang riset, dari riset itukan nantinya  menghasilkan suatu produk-produk, membawa citra, membawa harum universitas ini.

Apakah itu setelah itu pengembangan kampus sudah cukupkah?

Pengembangan kampus sebenarnya tidak boleh berhenti dengan mengatakan sudah cukup, karena tantangan di depan terus berkembang, dan pengembangan nggak harus disikapi dengan pembangunan, pembangunan gedung. Pengembangan itu bisa di sektor keilmuannya, prasarana pendidikannya, atau pengembangan dari sektor bagimana mengimplementasikan kebijakan dan tantangan-tantangan masyarakat.

Jadi pengembangan harus tetap dilakukan, jika kampus berhenti mempunyai tantangan, wah itu berarti kampusnya nggak siap untuk itu, kita harus siap untuk mengembangkan kampus ini. Karena itu butuh inovasi inovasi terus menerus.Misalnya, kita merancang tahapan-tahapan, punya visi-misi itu yang harus kita kejar terus. Tidak harus nunggu visi misi itu tercapai dengan batas waktu yang di tentukan, tetapi misalnya lebih dulu tercapai, kita akan mengembangkannya lagi. Keilmuan kan terus berkembang. []