Posts

Potret Senam Sehat Mahasisiwa Kedokteran di Tugu Adipura

Ratusan Mahasisiwa Kedokteran Universitas Malahayati meriahkan kegiatan jalan sehat dan senam bersama Adik Yatim di Tugu Adipura Bandar Lampung Minggu, 27 Maret 2016. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Vertebrae Solidarity. Selain itu kegiatan ini juga bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Bandar Lampung.

Mereka terlihat antusias dan semangat mengikuti kegiatan. Berikut potret senam sehat mahasiswa Kedokteran di Tugu Adipura:

“Gajah Itu Seperti Anak Saya Sendiri”

Pagi yang cerah di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Seblat di Bengkulu dan para mahout (pawang gajah) bersiap melakukan rutinitas paginya bersama hewan besar berbelalai panjang itu.

Suwaji dan Barokah sudah siap menggiring gajah mereka ke sebuah sungai yang dekat dengan pondokan: saatnya mandi pagi!

Di sini, para pawang merawat dan melatih gajah jinak untuk berbagai fungsi seperti patroli hutan, menengahi konflik antara gajah liar dan manusia, hingga untuk urusan perawatan medis.

gajah 1Kehidupan mereka tak selalu menyenangkan. Gajah-gajah yang sering dilepas di hutan ini terancam para pemburu dan habitatnya semakin menyempit akibat perambahan hutan.

“Pusat pelatihan ini dalam wilayah wisata alam Seblat yang terhubung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat, masalahnya kawasan ini sudah terkepung perusahaan sawit skala besar dan ada perambahan yang memutus koridor ke taman nasional,” kata Erni Suyanti, Koordinator PLG Seblat.

“Ini ancaman berat dan tantangan untuk konservasi ke depan baik untuk gajah jinak ataupun gajah liar. Di sini kita menemukan kasus gajah yang dibunuh untuk diambil gadingnya, gajah patroli yang ditembak mati, sampai kasus perburuan harimau,” tambahnya.

gajah 3Di seluruh Sumatera, 70% ruang hidup gajah telah lenyap akibat kebijakan alih fungsi hutan alam dalam 30 tahun terakhir, kata harian Kompas. Jika dibiarkan, gajah Sumatera bisa dipastikan punah dalam 10 tahun ke depan.

Di tengah ancaman tersebut, Wartawan BBC Indonesia Christine Franciska berkunjung ke PLG Seblat dan merekam berbagai kisah indah antara gajah dan manusia:

Suwaji: Tak ingin anak-anak melihat gajah dari gambar saja

Pertama kali ketemu gajah saya takut, mau lari, tapi setelah lama berkawan dengan gajah saya merasakan gajah itu bisa bersabahat. Sebagai pawang Dino, saya merasa senang dia itu bisa diatur, bisa respon sama pawangnya, bisa bercanda dalam air, guling sana-guling sini, keluar kakinya ke atas.

gajah 2Saya sering ajak anak-anak ke sini, sangat gembira naik gajah, beri makan gajah. Maunya saya, anak-anak tidak perlu takut dengan binatang yang kita bina, nanti di alam liar dia bisa bedakan mana yang liar mana yang jinak.

Kami khawatir kalau gajah di sini sampai punah anak-anak kita yang masih belum tahu, cuma lihat gambar. Jadi sudah tidak bisa lihat langsung, sedih sekali.

Deslizal: Gajah itu seperti anak saya sendiri

Saya merawat Bona, gajah kecil yang usianya sekitar lima tahun. Saya bisa mengatakan gajah itu bagi kami seperti anak, mungkin lebih dari itu.

gajah 4Kalau anak ditinggal ada yang ngasuh, bisa tinggal sama ibunya, kita bisa titip pesan. Kalau gajah bisa pesan sama siapa? Apalagi gajah kecil seperti Bona, saya sudah seperti anak sama bapak. Saya elus-elus sambil melatih, “angkat, angkat.”

Saya khawatir, setiap saat setiap waktu khawatir. Tubuhnya masih kecil rentan terhadap musuh seperti harimau. Kedua, kawasan kita ada pemburu dan perambah yang masuk. Di sekitar kita juga ada perkebunan. Kita tidak bisa mengawasi apa yang dia makan, saya takut dia salah makan.

Setiap hari, setiap pagi sebelum ketemu gajah saya khawatir. Apakah ketemu dalam keadaan berdiri, atau mati. Pasti itu, pasti (khawatir).

Barokah: Ketika kami bertemu harimau di hutan

Gajah itu sebetulnya ada yang agresif dan ada yang penurut. Kalau Nelson ini penurut, asal pendekatan kita dengan gajah itu bagus, dia respon dengan kita bagus juga. Tapi kalau gajah yang agresif, kadang (saya bisa) terbawa emosi, baru dia nurut.

gajah 5(Saya pernah) bertemu harimau di hutan. Posisi saya di atas gajah. Jadi sebetulnya sudah ada tanda-tandanya, kita sudah lihat jejak harimau yang lewat itu dan gajah sudah cium bau. Nalurinya sudah tahu itu jejak harimau, musuhnya, istilahnya begitu, perlu dihindar.

Tapi karena saya tahu Nelson itu gajah besar, dan saya mau ngangon dia cari makan, saya paksa saja. Tapi mungkin feeling saya dan gajah berbeda, gajah lebih tajam feeling-nya, ketemu kita akhirnya dengan harimau, mungkin sekitar 10 meter.

Harimau itu minggir, maksudnya mungkin dia mau kasih jalan kita, tapi kita udah ketakutan duluan. Bulu kudung merinding. Pas ketemu mata dengan harimau itu, saya mau bicara susah. Suara enggak keluar karena takut.

Ketika gajah lihat harimau itu, reaksinya mau menyerang, maksudnya mau mengusir mungkin. Tapi karena mahout-nya sudah down duluan, saya kendalikan untuk pulang sekuat tenaga, ya pulang… | sumber: bbc.com

Asyiknya Atraksi Si Belalai Panjang di Pusat Konservasi Gajah Way Kambas

Pusat Konservasi Gajah (PKG) Way Kambas adalah taman nasional perlindungan gajah yang terletak di daerah Lampung tepatnya di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Indonesia. Di taman nasional ini, pengunjung dapat belajar mengenai kehidupan gajah Sumatera dan upaya pelestarian yang perlu dilakukan untuk mencegah kepunahannya. PKG di Taman Nasional Way Kambas juga menjadi wahana ekowisata yang menghibur masyarakat umum. Sambil melihat atraksi lincah dari gajah-gajah ini, masyarakat diajak untuk ikut melestarikan kehidupan alam liar.

Biasanya setiap akhir pekan ditampilkan atraksi menawan dari gajah-gajah yang sudah terlatih. Atraksi yang ditampilkan gajah-gajah tersebut antara lain memberi hormat kepada penonton, melakukan upacara serta menaikkan bendera, berjoget, bermain bola, dan berbagai atraksi menarik lainnya. Pengunjung juga dapat merasakan pengalaman menaiki gajah-gajah untuk berkeliling sejenak atau melakukan tur selama 30 menit hingga 1 jam perjalanan menuju habitat gajah liar di dalam kawasan Taman Nasional Way Kambas.

Selain sebagai objek ekowisata, taman nasional ini juga berfungsi sebagai sarana pengembangbiakan gajah untuk menekan penyusutan populasi mereka. Selain itu, PKG juga mengupayakan pengembalian gajah yang telah terdomestikasi ke habitat liarnya.

Di Taman Nasional Way Kambas ini juga terdapat hewan lainnya di antaranya Badak sumatera, Gajah Sumatera, Harimau sumatera, Mentok Rimba, Buaya sepit. Untuk tanaman banyak diketemukan Api-api, Pidada, Nipah, pandan. Di bagian pesisir Taman Nasional Way Kambas yang berawa juga sering ditemukan berbagai jenis burung antara lain Bangau Tongtong,Sempidan Biru, Kuau raja, Burung Pependang Timur, dan beberapa burung lainnya. |sumber: Indonesiakaya.com

Taman Nasional Way Kambas Lampung

TAMAN Nasional Way Kambas merupakan taman nasional pertama dan tertua di Indonesia. Taman Nasional ini terletak di ujung selatan Sumatera atau 110 km dari Bandar Lampung yang merupakan tempat konservasi gajah yang paling terkenal di Indonesia. Lokasi Way Kambas berada di Jl Way Jepara Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur, Lampung.

Taman Nasional ini menempati 1.300 km persegi dari hutan dataran rendah pantai sekitar Sungai Way Kambas di pantai timur Provinsi Lampung. Taman Nasional Way Kambas dikenal menjadi tempat perlindungan bagi gajah Sumatera, dan sebagai tempat pelatihan gajah.

Way Kambas didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1937 sampai sekarang masih terjaga sebagai Taman Nasional dan diyakini ada sekitar 200 gajah sumatera (Elephas Maximus Sumatranensis) hidup di dalam Taman Nasional. Pembentukan awal taman nasional ini bertujuan untuk melindungi keberadaan gajah dan pada saat yang sama menciptakan saling menguntungkan untuk kedua gajah dan manusia.

Gajah Sumatera sudah sejak lama menjadi bagian penting dari masyarakat Pulau Sumatera. Bahkan pada zaman dahulu, gajah dimanfaatkan untuk memperkuat pasukan perang pada era kesultanan. Seiringnya waktu dan semakin berkurangnya jumlah gajah Sumatera akibat aktivitas manusia dan menurunnya habitat asli gajah, keberadaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) di Taman Nasional Way Kambas menjadi sangat penting dalam upaya mencegah kepunahan gajah Sumatera.

PKG Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu objek wisata edukasi yang terbuka bagi masyarakat luas. Di sini, pengunjung dapat belajar mengenai kehidupan gajah Sumatera dan upaya pelestarian yang perlu dilakukan untuk mencegah kepunahannya. Selain gajah, Taman nasional ini juga merupakan rumah bagi beragam makhluk hidup lainnya.

Jika mendengar nama Lampung pasti masyarakat selalu mengkaitkan dengan gajah. Gajah memang sangat identik dengan Lampung karena adanya Taman Nasional Way Kambas bahkan klub sepak bola Lampung di juluki dengan Gajah Beringas juga monumen-monumen gajah yang dijadikan ikon Provinsi Lampung seperti Tugu Adipura yang dijuluki Bunderan Gajah dan Tugu Jejama Secancanan yang lebih dikenal dengan Tugu Gajah Pringsewu.[]

Padepokan Gajah Lampung; Penyemai Atlet Angkat Besi

Aroma keringat yang mengalir sedikit terkurangi karena terbawa oleh hembusan angin. Ruangan itu memang tidak berdinding. Masing-masing asyik mengangkat barbel. Suara debum dan dencing keras berkali-kali terdengar. Di sela-sela suara bising itu, terdengar suara lantang membentak seorang atlet yang melakukan kesalahan teknik angkatan. “Jangan manja kamu,” kata pria di sudut ruangan itu.

Si empunya suara adalah pria berkacamata dan berambut putih. Dia adalah Imron Rosadi, 70 tahun. Dari caranya memberi instruksi dan mengkritik para atlet itu, bisa diketahui dia begitu menguasainya. Bahkan dia tahu kenapa si atlet gagal mengangkat barbel. “Dengkul kamu terlalu ke depan dan terlalu lebar jarak kedua kakimu. Ditambah kamu lamban,” kata Imron memberi sebuah kritik.

Hampir setiap pagi dan sore hari tempat ini selalu riuh-rendah oleh suara empasan barbel dan teriakan atlet berbaur dengan bentakan penyemangat dari sang pelatih terdengar di tempat itu. Keadaan itu sudah berlangsung hampir setengah abad.

Sejak tahun 1963-an, Imron mengelola padepokan yang diberi nama Gajah Lampung. Menurut catatanya sudah 44 atlet meraih medali dari tempat itu. “Baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata pria yang semasa menjadi atlet dikenal dengan julukan Gajah Lampung itu.

Padahal, untuk menghidupi geliat padepokannya, tidak kurang dari Rp 1,5 miliar dikeluarkan setiap tahun. Uang sebanyak itu untuk memberi makan, suplemen, menyekolahkan dan yang saku sekitar 36 atlet itu. Dari atlet sebanyak itu, 23 orang tinggal di asrama yang menyatu dengan tempat latihan.

Belum lagi untuk berbelanja alat. Setidikitnya Rp 200 juta untuk membeli barbel yang rusak setiap empat bulan. “Bayangkan jika satu set barbel seharga Rp 60 juta dan dalam waktu kurun waktu itu setidaknya 2—4 set barbel rusak,” tuturnya.

Atlet yang menghuni Padepokan Gajah Lampung berusia 10 – 35 tahun. Mereka direkrut dari pelosok Lampun. Imron bersama istrinya terkadang harus keluar-masuk kampung untuk mendapatkan bibit unggul. Ada juga yang sengaja datang diantar orang tuanya untuk digembleng menjadi atlet profesional.

Meski begitu, sebagian besar datang dari sekitar Kabupaten Pringsewu, Lampung dan hampir semuanya berasal dari keluarga tidak mampu. Imron dibantu istri dan anaknya menyatukan para atlet itu dalam sebuah keluarga besar. Mereka tidur dan makan di tempat yang sama.

Komplek padepokan yang menempati lahan seluas seperempat hektare itu terdiiri atas tempat latihan berukuran 8 x 20 meter, 10 kamar tidur, kamar mandi dan dampur untuk para atlet memasak. Kehidupan mereka sangat disiplin dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Mereka berlatih hampir setiap hari, kecuali setiap Selasa dan Kamis. Waktu latihan pagi mulai pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Sedangkan sore dimulai pukul 14.00 dan berakhir pukul 16.30.

Untuk menghidupi padepoka itu, awalnya keluarga Imron Rosadi menolak bantuan dari pihak lain. Baru pada 1996, Pemerintah Propinsi Lampung mengucurkan dana bantuan. “Itu pun dengan syarat mereka tidak boleh campur tangan soal cara saya melatih dan mendidik para atlet. Itu berlaku bagi semua donatur,” dia menegaskan.

Kemandirian Padepokan Gajah Lampung itu membuat Imron leluasa mengatur latihan para atlet. Tida ada satu pun pihak di luar padepokan yang bisa mencapuri urusan latihan. “Untuk mencetak atlet berprestasi, harus diserahkan sepenuhnya kepada pelatih. Jika pelatih sudah tidak independen, jangan harap atlet berprestasi bisa dicetak,” tuturnya.

Ia menolak Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Pengurus Besar Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) memerinta agar atletnya diikutkan dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas). Menurut dia, langkah itu untuk menanamkan kebanggaan para atlet pada daerahnya. “Dari situ kebanggaan dan cinta tanah air bisa tertanam dengan baik,” ucapnya.

Imron percaya kebanggaan terhadap daerah membuat atlet mempunyai karakter dan mental yang baik. Karena itu, dia selalu menentang jual-beli, bajak-membajak atlet daerah. “Itu (jual-beli atlet daerah) korupsi. Untuk menciptakan atlet berprestasi, dibuuhkan dana besa dan sebagian pasti berasal dari uang negara. Bagaimana itu bisa dipertanggungjawabkan? kata lelaki beranak tiga itu.

Dari Sutrisno Sampai Sri Indriyani

Hasil gemblengan yang sangat keras di Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung telah membuahkan hasil. Dalam catatan Yuniarti, istri Imron, sedikitnya 44 atlet sejak padepokan itu berdiri telah meraih medali di berbagai kejuaraan, baik nasional, maupun internasional. Sebut saja Sutrisno bin Darimin, Winarni, Sri Indriyani dan Misdan.

Mereka adalah generasi senior yang telah meraih prestasi di pentas dunia. Sutrisno merupakan juara dunia angkat berat dan memegang rekor dunia untuk total angkatan 742,5 kilogram di Florida, Amerika Serikat pada tahun 2005. Ia memecahkan rekor atas nama Ayrat Zakief dari Rusia.

Atlet lain yang dicetak dari padepokan ini adalah Winarni. Perempuan kelahiran 19 Desember 1973 itu adalah peraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 untuk kelas 53 kilogram untuk total angkatan 202,5 kilogram.

Lalu ada Sri Indriyani, peraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 untuk kelas 48 kilogram untuk total angkatan 182,5 kilogram. Perempuan kelahiran 12 November 1978 itu kini masih sering terlihat di padepokan untuk membantu juniornya. “Kami memang selalu terkenang pada padepokan ini. Saya besar dan digembleng dengan keras di tempat ini,” ucapnya.

Jejak Sutrisno, Winarni dan Sri Indriyani juga menjadi inspirasi bagi anak-anak di sekitar tempat  tinggalnya. Sebut saja, Betty Feryani, 25 tahun. Gadis hitam manis itu bergabung sejak usia 10 tahun. Sejumlah prestasi nasional hingga internasional telah diraih. Diantaranya meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional di Palembang dan perunggu di kejuaraan Asia di Bali 2003. []