Posts

Gunung Tanggamus, Destinasi Pendakian Yang Menantang

Gunung Tanggamus adalah sebuah gunung yang terletak di Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Gunung ini berada di sebelah timur laut dari Kota Agung dengan jarak sekitar 10 km. Gunung ini adalah gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung setelah Gunung Pesagi.

Gunung ini memiliki panorama yang sangat menarik. salah satu panorama yang menjadi favorit yaitu panorama teluk semangka secara keseluruhan melalui puncaknya. Selain itu gunung ini juga unik dan memiliki tantangan tersendiri. Menuju lokasi itu saja sudah punya cerita khusus, apalagi jalur pendakian ke tempat peristirahatan pertama hingga puncak.

Memiliki ketinggian 2.100 MDPL gunung ini merupakan salah satu gunung yang menjadi destinasi para pendaki. Biasanya jalur paling umum adalah dari Gisting. Dari Gisting pendaki harus berjalan sejauh 5 KM untuk sampai di ujung aspal. 5 KM lagi pendaki akan menemukan base camp snorkeling. 15 menit dari sana, pendaki menemukan pintu masuk (rimba). Lalu, 3 jam dari sana, pendaki akan menemukan shelter ke-2.

Namun Pendaki harus hati-hati dengan tebing terjal. Pendaki harus menggunakan alat bantu. Dan Jangan lupa untuk membawa air karena tidak adanya air di puncak atau base camp snorkeling. Puncak dari pendakian ini kita akan menemukan hutan lumut yang sangat sejuk dan eksotik di puncak Gunung Tanggamus.

Pesona dan Sejarah Taman Dipangga Bandar Lampung

SEJARAH adalah sesuatu yang tidak bisa kita lepaskan begitu saja dari setiap kehidupan yang kita jalani. Karena sejarah memberikan pembelajaran yang sangat berharga untuk kita sendiri dan generasi di masa depan.
Kota Bandar Lampung tercinta juga punya sejarahnya sendiri. Sejarah itut bisa kita jumpai di salah satu sudut Kota, Tepatnya berada di Teluk Betung, yakni Taman Dipangga.

Sekilas, tak ada hal istimewa yang bisa kita temukan disini hanya ada halaman luas, dengan pepohonan yang ada serta adanya pedagang asongan yang menjual makanan dan minuman kepada semua orang yang menimati keindahan taman di pangga. Tetapi, banyak yang tidak tahu bahwa disinilah salah satu saksi bisu perjalanan Sai Bumi Ruwa Jurai sejak musibah melutusnya gunung krakatau yang diikuti gelombang pasang tsunami dari Selat Sunda.

Taman Dipangga didirikan pada 1981 dengan luas areal 800 meter persegi. Di sini terdapat monumen dengan mercusuar atau lampu kapal di atasnya yang dibangun untuk mengenang dahsyatnya letusan Gunung Krakatau 1883. Lampu kapal ini terdampar saat terbawa arus tsunami letusan Krakatau.

Di tengah taman yang di kelilingi patung gajah, beruang, badak, dan juga rumput dan pepohonan nan hijau itu berdiri monumen sederhana yang terbuat dari marmer. Di atas monumen terdapat sebuah pelampung lampu rambu kapal terbuat dari besi yang konon terpental ratusan mil jauhnya dari Selat Sunda hingga Telukbetung

Pada dinding monumen terdapat relief yang menggambarkan aktivitas masyarakat sebelum kejadian dan kepanikan yang tiba-tiba menimpa masyarakat seketika Gunung Krakatau mengeluarkan erupsi berupa debu vulkanik dan membawa gelombang tsunami besertanya. Terdapat juga relief yang menggambarkan masyarakat yang berbondong-bondong mengungsi dengan membawa barang-barang di atas kepala. Ada juga gambar relief Krakatau yang meletus, hingga kehidupan masyarakat di pesisir.

Taman Dipanggaa Monumen Patung GajahMonumen Taman Dipangga

 

||Dari berbagai sumber.[]

Puisi Tentang Gunung Karya Mahasiswa Fakultas Ekonomi di Peringatan Hari Gunung Internasional

Gunungku Habis Ditelan Ketamakan

Karya R Bara Pratama

Disana…
Tempatku bermain bercengkrama dengan alam
Tempatku berbagi kisah kepada sang pencipta atas masalahku
Tempatku bergumul bersama bebatuan dan sungai yang mengalirinya

Dulu gunungku begitu indah
Kicauan Kutilang dipagi hari
Derik Jangkrik di malam hari
Adalah Alunan melodi merdu teman tidurku

Sungai yang mengalir deras dari hulu
Adalah pelepas dahagaku setiap waktu
Ia adalah sumber kehidupan tanaman dan ternak ayahku
Dan pembasuh cantiknya wajah ibuku

Tapi itu hanyalah kenangan
Gunungku kini mati digerogoti ketamakan
Rambutnya kini habis terbakar
Darahnya kering dihisap rakusnya nafsu manusia

Tak heran jika kini gunungku marah
Kicauan burung kini berganti jerit tangis ketakutan
Derik jangkrik berubah gemuruh longsor bebatuan
Air yang dulu memberi kehidupan kini berubah asap pekat kematian

Gunungku…
Ampuni kami yang lalai menjagamu
Ampuni kami yang tak pernah kenyang dan terbuai ketamakan
Cukupkan penderitaan atas ulah kami ini
Kami berjanji akan segera memperbaiki

Tentang Penulis

R. Bara Pratama, Mahasiswa Tingkat 3 Fakultas Ekonomi Universitas Malahayati. Membaca dan menulis adalah cara saya menikmati hidup. Mencoba hidup melalui tulisan, merasa mati ketika tak mampu mengungkapkan.

Email: barachan4@gmail.com

FB: bara.c.ii

IG dan Line: bara_jr

Aplikasikan Kecintaan Alam Mu di Hari Gunung Internasional

PADA 11 Desember 2014 hari ini diperingati sebagai International Mountain Day atau Hari Gunung Internasional. Hari Gunung Internasional adalah kesempatan untuk menciptakan kesadaran tentang pentingnya pegunungan bagi kehidupan, untuk melihat peluang dan hambatan dalam pengembangan gunung dan membangun kemitraan yang akan membawa perubahan positif kepada dunia pegunungan dan dataran tinggi juga hutan didalamnya.

Majelis Umum Persrikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 11 Desember yang bermula dari tahun 2003 dan seterusnya, sebagai Hari Gunung Internasional. Hal ini diamati setiap tahun dengan tema yang berbeda relevan dengan pembangunan berkelanjutan gunung. Food and Agriculture Organization (FAO) adalah Organisasi PBB yang dimandatkan untuk memimpin memperingati Hari Gunung Internasional.

Hari Gunung diperingati untuk mengingatkan kita, bahwa gunung sangat banyak dan bermanfaat untuk kita semua.

Dalam suasananya yang dingin, gunung memiliki kesejukan. Air gunung sangatlah segar, banyak yang memanfaatkan air gunung sebagai sumber air minum karena fungsinya sebagai penyimpan air. Air yang dialirkan dari gunung sangatlah indah, gemerciknya mampu membelai kalbu yang sedang gundah. Gunung sebagai tempat rekreasi karena terdapat nilai estetika alam dan dapat memberikan kita ketenangan dan kesenangan ketika kita berada di gunung. Gunung juga sebagai salah satu tempat mata pencaharian masyarakat dengan bercocok tanam atau berkebun.

Di tanggal 11 Desember ini Mari sekarang kita bersama-sama berjanji pada diri kita masing-masing untuk memulai dari hal –hal kecil seperti membawa bibit pohon jika kita akan melakukan expedisi ke gunung yang akan kita jelajahi di tanah Indonesia dan juga dengan tidak membuang sampah plastik sembaragan di Gunung.

Yuk kita jaga dan lestarikan gunung kita agar generasi ke depan dapat merasakan berbagai manfaat gunung![]