Posts

Indahnya Air Terjun Gunung Betung

GUNUNG Betung merupakan salah satu gunung yang sangat dekat dengan kota Bandar Lampung. Gunung ini menjadi salah satu destinasi wisata selain wisata bahari yang ada di kota Bandar Lampung.

Memiliki tinggi 1.240mdpl, tidak terlalu sulit untuk menempuh perjalanan menuju Gunung Betung. Cukup 15 menit saja perjalanan dari pusat kota bandar lampung menggunakan kendaraan roda dua untuk menempuh gunung yang terletak di Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.

Hari Minggu lalu, kami tim malahayati.ac.id melakukan perjalanan wisata ke Gunung Betung. Tujuan kami adalah lokasi air terjun Gunung Betung bawah, 30 menit perjalanan dari pos pengamanan gunung yang di kelola oleh warga dan perum perhutani, perjalanan kami di sambut oleh rimbunya pepohonan kakao dan kopi karena sebagian besar kaki gunung di gunakan para warga untuk bercocok tanam kakao dan kopi.

Medan yang kami lalui tidak terlalu berat, indahnya pemandangan gunung ditambah udara yang sangat sejuk membuat pikiran ini menjadi tenang dan damai. Tidak seperti udara di kota yang sudah tercemar  polusi dan tidak enak untuk dihirup.

Sesampainya di tujuan, kami harus membelah sungai untuk sampai ke tujuan. Hanya 15 meter kami langsung disambut dengan indahnya ciptaan Tuhan, air yang berjatuhan dari puncak gunung betung membasahi tanah kaki gunung betung.

Kurang lebih dari 30M tinggi air terjun itu, percikan air yang berbenturan dengan batu membuat hati ini semakin tenang. Sesampainya di bawah air terjun, kami langsung mengabadikan gambar. Sungguh indahnya pemandangan ini.

Setelah mengabadikan gambar, kami langsung mandi di air terjun yang sangat dingin menusuk tulang. Sangat segar! Keringat perjalanan dan lelahnya otot hilang seketika. Untuk menghilangkan dingin agar tidak hipotermi kami langsung membuat api unggun dan memasak mie rebus dengan kompor lapangan yang kami bawa.

Senja pun datang, kami bergegas untuk pulang. Tidak lupa sampah kami kumpulkan dan membuang pada tempatnya, agar alam tetap terjaga.[]

Tenik Sipil Mendaki Gunung Betung

Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil (HMJTS) menghilangkan rasa bosan dengan begitu banyak tugas perkuliahan dengan cara Mendaki Gunung Betung Sabtu, 17 Oktober 2015.

Gunung Betung yang berada di kecamatan Hutan, Pesawaran ini merupakan salah satu gunung yang ada di Lampung dan lokasinya paling dekat dengan pusat kota dan termasuk kedalam kawasan hutan konversasi yang dilindungi oleh Negara. Ketinggian gunung ini memang tidak terlalu sekitar 1.240-1640 M dari permukaan laut.

Mahasiswa yang tergabung dalam HMJTS dan seluruh mahasiswa Teknik Sipil ini melakukan pendakian pada malam minggu. Acara yang bertujuan meningkatkan solodaritas dan kebersamaan antar angkatan ini juga diselingi dengan kegiatan yang menarik seperti, mendirikan tenda untuk melatih kekompakkan, sharing dengan senior dan ke air terjun yang ada di Gunung Betung.

“Meskipun malam itu terjadi badai, tapi semuanya terkalahkan oleh kebersamaan dan salah satu cara terampuh untuk melepas rasa jenuh dan bosan dengan aktivitas kampus,” kata Cleopatra Nurra mahasiswi Teknik Sipil yang mengikuti acara pendakian ini.

 

Perjalanan TBM Coronarius Menempa Mental (3)

Kegiatan pengambilan slayer dan mounteneering TBM Coronarius Universitas Malahayati pada Sabtu-Minggu, 13-14 Juni 2015 mengisahkan cerita yang seru. Beratnya medan yang dilalui, indahnya alam yang dilihat, jernihnya udara yang terhirup membuat semakin seru perjalanan ini. Kegiatan yang mencapai 14 Jam pendakian tersebut dilaksanakan di Gunung Betung.

 

Perjalanan TBM Coronarius Menempa Mental (2)

Kegiatan pengambilan slayer dan mounteneering TBM Coronarius Universitas Malahayati pada Sabtu-Minggu, 13-14 Juni 2015 mengisahkan cerita yang seru. Beratnya medan yang dilalui, indahnya alam yang dilihat, jernihnya udara yang terhirup membuat semakin seru perjalanan ini. Kegiatan yang mencapai 14 Jam pendakian tersebut dilaksanakan di Gunung Betung.

 

Perjalanan TBM Coronarius Menempa Mental (1)

KEGIATAN pengambilan slayer dan mounteneering TBM Coronarius Universitas Malahayati pada Sabtu-Minggu, 13-14 Juni 2015 mengisahkan cerita yang seru. Beratnya medan yang dilalui, indahnya alam yang dilihat, jernihnya udara yang terhirup membuat semakin seru perjalanan ini. Kegiatan yang mencapai 14 Jam pendakian tersebut dilaksanakan di Gunung Betung.

 

Catatan Perjalanan Pengambilan Slayer TBM Coronarius

PADA kegiatan pengambilan slayer dan mounteneering tim dari malahayati.ac.id berkesempatan mengikuti rangkain seluruh kegiatan TBM Coronarius Universitas Malahayati pada Sabtu hingga Minggu lalu. Trek yang akan dilalui bukanlah trek biasa para wisatawan atau masyarakat yang sering dilalui, melainkan trek yang dirancang Basarda Provinsi Lampung. Sehingga menjadi salahsatu tantangan bagi peserta dan tim malahayati.ac.id.

Pemberangkatan dari kampus Universitas Malahayati dimulai dari jam 13.00 WIB menuju Desa Umbul Baru menjadi start pendakian gunung Betung. Sebelum berangkat pukul 14.00, peserta menjalani brefing yang diarahkan oleh Taryono SE,  Instruktur dari Basarda Lampung, Alhamdulillah cuaca sangat bagus untuk melakukan pendakian.

Pendakian pertama kami langsung disambut perkebunan kakao, salak, dan nanas. Tumbuhan kakao menemani sepanjang perjalan yang belum melalui medan yang sulit. Perjalanan megarah ke Cimeri menuju Umbul Lapang.

Memasuki Umbul Lapang, medan perjalanan mulai meningkat kesulitannya. Melewati lembah yang di tengah-tengahnya ada dua makam. Di sini, Taryono mengajak kami berdoa.

Setelah melewati lembah, langsung menyeberangi Sungai Cibetung di bawah lembah Umbul Lapang. Perjalanan sampai ke sini memakan waktu lima jam. Di samping sungai inilah didirikan tenda.

Tampak peserta mulai didera kelelahan. Kami istirahat, shalat, dan makan. Kemudian beberapa kegiatan terlalui hingga malam pun tiba.

Pukul 23.30, dilaksanakan jurit malam untuk membentuk mental para anggota TBM, acara berakhir pukul 03.00 WIB dan istirahat. kemudian, kegiatan dimulai lagi pada pukul 07.00, Triyono memberikan materi kepada para peserta hingga pukul 08.00. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi.

Di hari kedua ini, para peserta ditantang oleh medan perjalanan yang sangat berat karena harus menaiki lembah dengan kemiringan hampir 70 derajat, lalu dilanjutkan menuju Talang Sedana, pematang Gunung Betung, dan Gunung Galang.

Ketika di Gunung Malang ini, peserta disuguhi pemandangan gunung dan Teluk Tanjung Karang yang terlihat di sepanjang jalan. Sebagian peserta mengabadikan foto selfie untuk kenang kenangan perjalanan.

Lalu perjalanan berlanjut ke Pancur, kawasan ini seperti desa mati. Hanya dua kepala keluarga yang menghuninya. Pada 1993 para penduduk dipindahkan oleh pemerintah karena kawasan ini milik Perhutani.

Tepat pukul 12.15 para peserta beristirahat di Pancur. Kami mengisi perut dan minum. Lalu langkah berlanjut lagi hingga ke hutan rakyat Wan Abud yang menjadi titik akhir pendakian. Perjalanan selesai pada jam 16.54.

Estimasi keseluruhan pendakian mencapai 14 jam perjalanan di potong kegiatan camp di Cibetung.[]

Serunya Pengambilan Slayer TBM Coronarius

BERTEMPAT di hutan rakyat, Bandarlampung, 14 Juni 2015, pelatihan pengambilan slayer dan mounteneering pun usai tepat pada pukul 14.30. Tidak ada kendala dalam perjalanan.

“Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan dari sehari sebelumnya adalah materi navigasi darat, survival, pembuatan bivak, teknik penjelajahan,” ujar Taryono S.E, Ketua Satgas SAR Provinsi Lampung dan kebetulan menjadi instruktur lapangan pada kegiatan ini.

Kegiatan yang disebut Taryono berlangsung di siang hari, sedangkan malamnya dilaksanakan jurit malam atau penjelajahan malam. Kegiatan penjelajahan malam baru laksanakan dan ini menjadi salahsatu kegiatan untuk menguji mental para anggota TBM agar terbentuk jiwa pemberani dan jiwa korsa yang tinggi,” kata Zihan, selaku ketua kegiatan.

Menurut Zihan, kegiatan penjelajahan malam sangat lelah. Memang menguji ketahanan fisik mengingat perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan karena medan yang di lalui adalah trek buatan tim BSARDA Lampung, tidak seperti pendakian pada umumnya.

“Semoga TBM semakin jaya dan semakin kompak terutama ketika kegiatan,” ujar Eka Mura, anggota tim malahayati pencinta alam (Mahapala). Eka bertugas mendampingi instruktur lapangan.

Selain Mahapala, ada juga Resimen Mahasiswa (Menwa) yang menjadi pengamanan ketika kegiatan dilaksanakan.

Ketua Umum TBM, Adi,  berharap kegiatan ini tidak membuat para anggota TBM menjadi takut akan hutan/gunung. “Kegiatan ini sangat penting dikala TBM diturunkan untuk membantu sebuah musibah,” katanya. “Kali ini kegiatan sangat gokil, sangat panjang dan melelahkan.”

Indahnya Air Terjun Gunung Betung

Gunung Betung merupakan salah satu gunung yang sangat dekat dengan kota Bandar Lampung. Gunung ini menjadi salah satu destinasi wisata selain wisata bahari yang ada di kota Bandar Lampung.

Memiliki tinggi 1.240mdpl, tidak terlalu sulit untuk menempuh perjalanan menuju Gunung Betung. Cukup 15 menit saja perjalanan dari pusat kota bandar lampung menggunakan kendaraan roda dua untuk menempuh gunung yang terletak di Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.

Hari Minggu lalu, kami tim malahayati.ac.id melakukan perjalanan wisata ke Gunung Betung. Tujuan kami adalah lokasi air terjun Gunung Betung bawah, 30 menit perjalanan dari pos pengamanan gunung yang di kelola oleh warga dan perum perhutani, perjalanan kami di sambut oleh rimbunya pepohonan kakao dan kopi karena sebagian besar kaki gunung di gunakan para warga untuk bercocok tanam kakao dan kopi.

Medan yang kami lalui tidak terlalu berat, indahnya pemandangan gunung ditambah udara yang sangat sejuk membuat pikiran ini menjadi tenang dan damai. Tidak seperti udara di kota yang sudah tercemar  polusi dan tidak enak untuk dihirup.

Sesampainya di tujuan, kami harus membelah sungai untuk sampai ke tujuan. Hanya 15 meter kami langsung disambut dengan indahnya ciptaan Tuhan, air yang berjatuhan dari puncak gunung betung membasahi tanah kaki gunung betung.

Kurang lebih dari 30M tinggi air terjun itu, percikan air yang berbenturan dengan batu membuat hati ini semakin tenang. Sesampainya di bawah air terjun, kami langsung mengabadikan gambar. Sungguh indahnya pemandangan ini.

Setelah mengabadikan gambar, kami langsung mandi di air terjun yang sangat dingin menusuk tulang. Sangat segar! Keringat perjalanan dan lelahnya otot hilang seketika. Untuk menghilangkan dingin agar tidak hipotermi kami langsung membuat api unggun dan memasak mie rebus dengan kompor lapangan yang kami bawa.

Senja pun datang, kami bergegas untuk pulang. Tidak lupa sampah kami kumpulkan dan membuang pada tempatnya, agar alam tetap terjaga.[]