Posts

Koleksi Kain Tapis Kuno Tertua

KAIN tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam.

Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.

Salah satu koleksi tapis kuno tertua adalah tapis milik Ibu Negara, Hj. Ani Yudhoyono yang telah berusia 200 tahun yang dipamerkan dalam Adi Wastra Nusantara 2010 di Jakarta. Kain tapis tersebut berwarna hitam, merah, coklat dan biru tua yang memiliki aneka ragam hiasan cucuk andak serat kayu itu adalah salah satu dari enam koleksi milik Ibu Negara.

Dasar tapis tersebut berbahan tenun yang dibordir dengan benang emas bermotif sasab, bergambar manusia menaiki carabao (kerbau) yang dihiasi berbagai payet, serta bermotif tunas bambu, bunga dan pohon hayat yang dibuat dari serat kayu dan dibordir dengan benang sutra.

Motif manusia menunggang kerbau dan tunas bambu bermakna kemakmuran dan kedudukan manusia yang lebih mulia dari hewan. Kain tapis Muara Dua dengan ragam hias cucuk andak serta kayu biasanya hanya boleh dipakai oleh anak atau istri dari pemimpin adat. (baca juga: grosir tapis Lampung)

Selain kain tapis tersebut, Ibu Ani yang selalu meminta rakyat Indonesia untuk bangga menggunakan kain adat atau tradisional Indonesia juga meminjamkan sejumlah kain batik yang menjadi koleksinya.

Salah satu yang cukup istimewa adalah kain panjang batik dengan ragam hias kawung Dwi Warna yang berusia 50 tahun. Kain berwarna dasar coklat muda itu dikenakan pada akad nikah Ibu Negara 34 tahun lalu, tepatnya 30 Juli 1976. Kain tersebut merupakan pemberian ibunda Ibu Ani, khusus untuk acara istimewa tersebut. Secara perlambang motif kawung memberikan kewibawaan pada pemakainya.

||Sumber:
Pic: pariwisatalampung.com
budaya-lampung.blogspot.com

Kain Tapis Sudah Ada Sejak Abad ke-2 Sebelum Masehi?

SALAH satu tradisi yang masih hidup sampai sekarang di Lampung adalah mengenakan Kain Tapis. Ini adalah kain tenun khas Lampung yang dikerjakan perempuan di sini. Sudah dilakukan sejak turun temurun suku asli Lampung.

Kain Tapis bukanlah sekadar pelengkap tubuh yang biasa seperti pakaian dan aksesorinya, namun sekaligus menjadi jati diri perempuan Lampung. Ini wujud dari keselasaran kehidupan dengan lingkungannya, juga dengan yang maha kuasa.

Bahkan, laman wikipedia menyebutkan nama Van der Hoop bicara Kain Tapis. Siapa Hoop, ia adalah perintis penyelidikan prasejarah Indonesia. Dituliskan, Hoop menyebutkan orang Lampung telah menenun sejak abad ke-2 sebelum masehi.

Di antaranya adalah tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh. Selain itu ada kain nampan dan kain pelepai yang motifnya berbentuk kait dan kunci (key and rhomboid shape), pohon hayat, dan bangunan berisikan roh manusia. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan, serta bunga melati.

Ada juga catatan yang menjelaskan kain tapis Lampung mulai dikembangkan sejak tahun 800-an. Hal itu bisa dilihat pada Prasasti Raja Belitang yang berangka tahun 898—915 Masehi. Masyarakat yang pertama kali mengembangkan kain tapis adalah masyarakat daerah Menggala (kabupaten Tulangbawang) dan Kenali (Lampung Barat). []  dari berbagai sumber