Posts

Cerita Linda yang Studi Banding ke Singapura

PENGALAMAN studi banding ke luar negeri tentu sangat berharga dan sekaligus menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan. Soal ini dirasakan betul oleh Linda Agustina, mahasiswi Prodi DIV Kebidanan Universitas Malahayati, Bandarlampung.

Dara kelahiran Bandarlampung, 7 Agustus 1993, ini adalah salah satu mahasiswi yang mendapat kesempatan berharga itu. Universitas Malahayati mengirimnya untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Mahasiswi Prodi DIV Kebidanan angkatan 2011 Ini bercerita tentang pengalamannya study banding kepada malahayati.ac.id. “Kami mendapat pengarahan yang baik dan langsung dari perawat senior yang ada di sana, banyak pengetahuan dan pengalaman yang diberikan kepada kami,” kata Linda, Senin

Linda mengatakan, rumah sakit yang dikunjungi di Singapura pun sudah tidak menggunakan metode persalinan biasa. “Di sana sudah menggunakan metode persalinan di air dan metode kangaroo setelah anak itu dilahirkan langsung diletakkan di Ibu nya,” ujaranya.

Selain itu, Linda juga melihat rumah sakit juga melayani dengan baik pasiennya. “Seperti setelah kelahiran anak lalu pihak rumah sakit mengadakan kunjungan ke rumah pasiennya,” katanya.

Menurut Linda, pihak rumah sakit Singapura juga mengajarkan bagaimana cara merawat bayi yang benar, bagaimana cara persalinan itu dapat berjalan normal, kemudian bagaimana cara merawat bayi setelah melahirkan dengan benar. “Singapore sendiri tidak dianjurkan untuk minum susu formula, jadi benar-benar menggunakan asi eksklusif,” ujarnya.

“Rumah sakit juga sangat mengutamakan kesehatan, jadi wilayah rumah sakit hanya boleh dikunjungi orang-orang yang steril sekali yang bisa masuk.”

Ratna, Wakaprodi Penyejuk Kebidanan

KACAMATA mungil yang dikenakannya itu bercerita banyak tentang dosen ini. Selain menjadi penambah manis raut wajahnya, juga seolah menggambarkan kecerdasan yang tersimpan di balik kerudungnya.

Dialah Ratna Dewi Putri, SST. Wakaprodi DIII dan DIV Kebidanan Universitas Malahayati ini disenangi mahasiswa. Kehadiran dosen yang lahir di Metro, Lampung, 7 Juli 1987, dianggap menjadi penyejuk.

Ratna, begitu biasa disapa. Ia memang asli Lampung. Sedari kecil sudah merasakan kehidupan Lampung. Mulai dari sekolah dasar dan SMP di Lampung Timur, sedangkan SMA di Metro.

Ratna, mulai memasuki dunia kesehatan sejak ia mengambil DIII Kebidanan Poltekes Menkes, Kemudian melanjutkan ke DIV Kebidanan Universitas Padjadjaran Bandung. Pendidikan terakhirnya adalah Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas Malahayati.

Wakil Rektor II : Persiapkan Bidan Mampu Bersaing di MEA

Wakil Rektor II Universitas Malahayati Lampung, Wahyu Dani Purwanto yang juga pembina sekaligus pendamping mahasiswa D-4 kebidanan saat Praktik Klinik Kebidanan (PKK) di RS National University Hospital (NUH) Singapura menyebut program tersebut menjadi salah satu upaya Unimal mempersiapkan lulusannya agar dapat bersaing secara internasional. Apalagi, menurutnya, gerbang ASEAN (MEA) sudah didepan mata.

Praktik langsung mahasiswa di RS di Singapura yang berstandar internasional tersebut, menurut wahyu, sebagai bentuk komitmen Unimal menghasilkan bidan-bidan yang tak hanya mampu bersaing di lokal atau nasional tetapi juga internasional.

“Kami harapkan mereka mendapatkan pembelajaran dari pengalaman baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga dapat mendukung lulusan sebagai bidan yang profesional,”katanya.

Sebab, menurut Wahyu, dengan kompetensi tersebut, lulusan Unimal yang sejak kuliah telah dipersiapkan bersaing akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam MEA nanti dengan berbagai jaringan yang telah dimiliki Unimal, baik dengan RS nasional maupun internasional.

“Ini juga menjadi awal penjajakan sekaligus bekerja sama dengan rumah sakit tersebut. Sebelumnya, mahasiswa Fakultas Kedokteran juga sudah melakukan hal yang sama dan sudah berjalan lama, ini juga merupakan salah satu upaya mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing di MEA” katanya.

Sementara PKK yang diikuti mahasiswa D-4 Kebidanan Unimal ke beberapa rumah sakit, termasuk National University Hospital (NUH) Singapura beberapa waktu lalu, membuat para calon bidan perguruan tinggi ini semakin percaya diri menghadapi persaingan di masyarakat. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tak lagi menjadi khawatir karena mereka yakin dengan kemampuan yang dimiliki. Berniat mengabdikan keilmuannya kepada masyarakat, khususnya kaum hawa yang membutuhkan pertolongan.

Dua mahasiswa D-4 Kebidanan Unimal, Suci Chaeratun Nisya dan Linda Agustina, membagikan pengalaman seputar kegiatan PKK kebidanan di singapura tersebut kepada Lampung Post di kampusnya, Rabu (29/4).

(Lampung Post, 2 Mei 2015)

Artikel Lampung Post tentang Mahasiswa Kebidanan Unimal

Mahasiswa D-4 Kebidanan Unimal diharapkan mampu menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan kebidanan terkini berdasar bukti ilmiah, serta mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam praktik klinik kebidanan. [Rudiyansyah]

Universitas Malahayati (Unimal) Lampung membekali mahasiswa diploma empat (D-4) kebidanan dengan kemampuan tenaga bidan berstandar internasional. Para mahasiswa melakukan Praktik Klinik Kebidanan (PKK) di Rumah Sakit Nasional University Hospital (NUH), Singapura, pada 9-10 April lalu.

RS Internasional unggul dalam penanganan ibu hamil dan melahirkan (women care) yang menjadi rujukan beberapa negara. Selain itu, mereka juga melakukan studi langsung ke RS Budi Kemuliaan, Batam, pusat rujukan HIV/AIDS di Indonesia, pada 23-25 April lalu.

Melalui kegiatan tersebut, 42 mahasiswa D-4 kebidanan Unimal diharapkan mampu menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan kebidanan terkini berdasar bukti ilmiah (Evidence based), serta mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam praktik klinik kebidanan dengan memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan terkini seputar kebidanan.

“Ini merupakan salah satu upaya kami untuk menerapkan evidence based kepada para mahasiswa kebidanan sehingga mereka akan memiliki kemampuan memformulasikan masalah secara prosedural melalui identifikasi dan penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal sesuai dengan kewenangannya,” kata ketua Program Studi Kebidanan Unimal, Dainty Maternity, Rabu (29/4).

RS di Batam hingga Singapura, menurut dainty, dipilih sesuai dengan keunggulan masing-masing. Dainty mengatakan mahasiswanya akan kembali melakukan PKK ke Hospital University Kebangsaan Malaysia (HUKM) di Malaysia.

Didampingi Ketua Prodi D-3 Kebidanan Unimal Ratna Dewi Putri dan Dosen Kebidanan Yuli Yantina, Dainty menyebut selama studi di Singapura, 42 mahasiswanya secara langsung belajar bagaimana menangani kasus-kasus persalinan ibu hamil hingga perawatan sesudah melahirkan.

“Di sana hampir 0% sectio caesar, dan 100% ibu melahirkan dibantu oleh bidan dengan normal melalui berbagai penanganan dan kami mencoba mempelajarinya. Serta banyak riset yang dikembangkan untuk mengurangi rasa nyeri setiap ibu yang melahirkan sehingga kami bisa merujuk pada penanganan tersebut nantinya,” kata dia.

(Lampung Post, 2 Mei 2015)