Posts

Potret Suasana Liburan Nezla Ke Kota Tua

SEORANG Mahasiswi Teknik Lingkungan asal Banten, Nezla Anisa Ningrum ingin menceritakan pengalaman liburan panjang semester genapnya ke Kota Tua, Jakarta. Kali ini aku berangkat bersama teman ku, destinasi yang kita ambil adalah Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Namun yang akan dibahas kali ini adalah destinasi Kota Tua. Sebuah Peninggalan Belanda yakni Kota tua atau Oud Batavia adalah kawasan kecil yang memiliki luas 1300 m2, melintasi utara dan barat Jakarta, yang sarat dengan peninggalan penjajahan Belanda. Gedung-gedung tua dimanfaatkan sebagai museum dan resto.

Kita berangkat dimulai dari Merak, Banten pukul 10.30. Kita melewati jalan tol menuju Jakarta memerlukan sekitar dua setengah jam untuk sampai ke tujuan. Tidak ada hambatan macet saat perjalanan.  Memasuki wilayah kota tua, pemandangan eksotis mulai terasa dari bangunan-bangunan tua nan kokoh peninggalan Belanda yang dibangun sekitar abad ke-19 dan 20. Kita memasuki Museum Sejarah Jakarta. Bangunan besar bergaya Barok ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Banyak koleksi pameran yang tidak boleh disentuh, apalagi diduduki atau ditiduri. Di dalamnya terdapat perabotan tua, lukisan, patung, batu-batu. Setelah lelah berkeliling lalu kita ke taman belakang. Tak lupa juga kita pun berkeliling di halaman Museum Sejarah Jakarta menggunakan sepedah.

Berikut Potret saat berlibur ke destinasi Kota Tua Jakarta:

IMG_20160714_133440 IMG_20160714_140347 IMG_20160714_144127IMG_20160714_134529 (1)IMG_20160714_145542IMG_20160714_143307IMG_20160714_143127

Sejarah Singkat Bangunan Tua, Kota Tua Jakarta Sebagai Cagar Budaya Zaman Belanda

KOTA Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta, tentunya menyimpan banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) cagar budaya peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda.

Kota Tua Jakarta, daerahnya berbatasan sebelah utara dengan Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kalapa dan Laut Jawa, sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Jembatan Batu dan jalan Asemka, sebelah Barat berbatasan dengan Kali Krukut dan sebelah Timur berbatasan dengan Kali Ciliwung.

Kota Tua Jakarta di masa lalu merupakan kota rebutan yang menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tak heran jika mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda –Pajajaran, Kesultanan Banten –Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu di negara ini.

Pada 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernamaBatavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Penduduk Batavia disebut “Batavianen”, kemudian dikenal sebagai suku Betawi, terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia. Pada 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia hingga sekarang.

Pada 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana.[]

Potret Saat Berkunjung Ke Kota Tua Jakarta

SEORANG Mahasiswi Teknik Lingkungan asal Banten, Nezla Anisa Ningrum ingin menceritakan pengalaman liburan panjang semester genapnya ke Kota Tua, Jakarta. Kali ini aku berangkat bersama teman ku, destinasi yang kita ambil adalah Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Namun yang akan dibahas kali ini adalah destinasi Kota Tua. Sebuah Peninggalan Belanda yakni Kota tua atau Oud Batavia adalah kawasan kecil yang memiliki luas 1300 m2, melintasi utara dan barat Jakarta, yang sarat dengan peninggalan penjajahan Belanda. Gedung-gedung tua dimanfaatkan sebagai museum dan resto.

057895600_1458186808-20160317-Bersepeda-di-Kota-Tua-Fatahillah-Jakarta-FRS1IMG_20160714_133307IMG_20160714_133313

Kita memasuki Museum Sejarah Jakarta. Bangunan besar bergaya Barok ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Banyak koleksi pameran yang tidak boleh disentuh, apalagi diduduki atau ditiduri. Di dalamnya terdapat perabotan tua, lukisan, patung, batu-batu.

sejarah-makassar-di-gedung-bergaya-eropa-005-yacob-billioctaOLYMPUS DIGITAL CAMERAIMG_20160714_135927IMG_20160714_135948IMG_20160714_140025IMG_20160714_135031IMG_20160714_134702IMG_20160714_134442musuem-fatahillah-01_large

Setelah lelah berkeliling lalu kita ke taman belakang. Di sana kita dapat melihat penjara tua bawah tanah tempat di mana Pangeran Diponegoro pernah ditahan. Kita pun dapat duduk santai di bawah pohon rimbun, menikmati patung dewa Hermes yang merupakan lambang keberuntungan bagi kaum pedagang, sekaligus Dewa Pengirim Berita. Patung ini adalah tanda terima kasih atas kesempatan untuk berdagang di Hindia Belanda masa dahulu.

IMG_20160714_140214IMG_20160714_140216100_4442

 

Pengalaman Berlibur Nezla Sekaligus Mengenal Sejarah

JUMPA lagi di pengalaman Nezla selanjutnya, Nezla Anisa Ningrum Mahasiswa Teknik Lingkungan asal Banten akan menceritakan pengalaman liburan panjang semester genapnya ke Kota Tua, Jakarta. Kali ini aku berangkat bersama teman ku, destinasi yang kita ambil adalah Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Namun yang akan dibahas kali ini adalah destinasi Kota Tua. Sebuah Peninggalan Belanda yakni Kota tua atau Oud Batavia adalah kawasan kecil yang memiliki luas 1300 m2, melintasi utara dan barat Jakarta, yang sarat dengan peninggalan penjajahan Belanda. Gedung-gedung tua dimanfaatkan sebagai museum dan resto.

Kita berangkat dimulai dari Merak, Banten pukul 10.30. Kita melewati jalan tol menuju Jakarta memerlukan sekitar dua setengah jam untuk sampai ke tujuan. Tidak ada hambatan macet saat perjalanan.  Memasuki wilayah kota tua, pemandangan eksotis mulai terasa dari bangunan-bangunan tua nan kokoh peninggalan Belanda yang dibangun sekitar abad ke-19 dan 20. Taman Fatahillah, taman ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua yang sekarang digunakan sebagai Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, juga Kantor Pos Indonesia. Berdiri juga sebuah restoran, Café Batavia, yang menjadi favorit untuk melepas penat setelah menjelajah kota tua.

Kita memasuki Museum Sejarah Jakarta. Bangunan besar bergaya Barok ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Banyak koleksi pameran yang tidak boleh disentuh, apalagi diduduki atau ditiduri. Di dalamnya terdapat perabotan tua, lukisan, patung, batu-batu. Setelah lelah berkeliling lalu kita ke taman belakang. Di sana kita dapat melihat penjara tua bawah tanah tempat di mana Pangeran Diponegoro pernah ditahan. Kita pun dapat duduk santai di bawah pohon rimbun, menikmati patung dewa Hermes yang merupakan lambang keberuntungan bagi kaum pedagang, sekaligus Dewa Pengirim Berita. Patung ini adalah tanda terima kasih atas kesempatan untuk berdagang di Hindia Belanda masa dahulu.

Disepanjang liburan hari raya sekaligus liburan semester genap, Taman Fatahillah tidak hanya dipadati pengunjung, tetapi juga penjaja makanan dan minuman ringan, tempat penyewaan sepeda ontel, serta para seniman yang mempertunjukkan atraksi. Kalian dapat menyewa sepeda untuk dapat berkeliling disekitaran kota tua.[]