Posts

Destinasi Wisata Air Terjun Tambak Jaya di Kabupaten Lmpaung Barat

KEINDAHAN alam di Indonesia memang tidak ada habisnya, tak terkecuali Lampung. Mulai dari hijaunya pegunungan sampai hamparan laut nan indah. Lampung adalah sebuah negeri dengan dua suku, Sai Bumi Ruwa Jurai. Lampung terletak di bagian paling selatan dari Pulau Sumatera, salah satu dari 5 pulau besar di Indonesia. Salah satu keindahan alam Lampung ini, yaitu Air Terjun Tambak Jaya.

Air terjun Tambak Jaya merupakan tujuan wisata air terjun yang menakjubkan, berlokasi di Pekon Tambak Jaya, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung. Berjarak ± 49 Km ke arah Tanjung Karang dari kota  Liwa. Luas kawasan air terjun Tambak Jaya ini memiliki lua wilayah 1 Ha, dengan suhu udara rata-rata 25-28 derajat celsius.

Keindahannya tiada dua, bagaikan lukisan dari Sang Mahajana  itu sendiri. Airnya deras mengalir membelah bebatuan yang dilaluinya. Jernih dan segarnya siap menghapus dahaga dan penat sehari-hari para pendatang yang berkunjung ke tempat ini. Suasana perbukitan dan lembah yang masih asri dan hening menambah keindahan tempat ini. Suara air yang mengalir jatuh ke sungai membuat perasaan tenang dan makin terhanyut untuk menikmati keindahan air terjun ini.

Selain itu, bagi Anda yang senang dunia fotografi atau hobi berfoto, disinilah salah satu tempat yang cocok bagi Anda. Panorama dan pemandangan ini berkonfigurasi berbukit, lembah dan sungai.

Tips

  1. Pantaulah cuaca saat akan berkunjung ke Air Terjun Tambak
    Jaya, karena akan sangat menganggu liburan anda jika tiba-
    tiba turun hujan.
  2. Anda bisa membawa makanan sendiri untuk menghemat
    pengeluaran selama wisata anda.
  3. Bawalah barang-barang anda seperlunya. Karena jika
    terlalu banyak, akan memberatkan anda sendiri.
  4. Jika hari libur, biasanya pengunjung yang datang ke Air
    Terjun Tambak Jaya sangat ramai. Jadi, ada baiknya datang di
    hari-hari biasa saja agar anda bisa bebas berwisata di air
    terjun ini.

|sumber: epictio.com dan dikutip dari berbagai sumber

Eksotisme Air Terjun Sepapa Kanan dan Sepapa Kiri di TNBBS

TAMAN Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menyimpan potensi parawisata. Satu diantaranya air tejun Sepapa Kanan dan Sepapa Kiri. Air terjun itu terletak di dalam kawasan hutan TNBBS. Tepatnya di wilayah pekon Kubu Perahu, kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat.

TNBBS ini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia karena memiliki keanekaragaman hayati baik dari segi vegetasi hutan, flora dan fauna serta sebagai penghasil oksigen yang dibutuhkan dunia. Tumbuhan yang menjadi ciri khas taman nasional ini adalah bunga bangkai jangkung, bunga bangkai raksasa, dan anggrek raksasa/tebu. Sedangkan habitat fauna langka seperti burung tokhtor Sumatera, rangkong paruh merah, gajah dan sumatera, beruang madu dan lainnya juga mendiami Taman Nasional ini.

Air terjun Sepapa Kiri dan Sepapa Kanan dengan ketinggian 60 meter dan 20 meter terlihat perkasa dengan mencurahkan begitu banyak air. Dengan suhu rata-rata 22 derajat celcius, wisatawan akan menikmati kesejukan suasana dan keindahan telaga. Untuk mencapai kedua air terjun tersebut, wisatawan menyusuri sungai yang jernih sekitar 2-3 jam dengan medan tracking yang menantang bagi yang menyukai kegiatan adventure.

sepapa kiri

Air terjun sepapa kiri

sepapa kanan

Air terjun sepapa kanan

Cara pencapain lokasi: Teluk Betung-Tanjung Karang-Kota Agung menggunakan mobil, Kota Agung-Tampang menggunakan kapal motor sekitar enam jam, Kota Agung-Banjarnegoro-Sukaraja Atas/Suwoh menggunakan mobil sekitar empat jam, dan Kota Agung-Kubu Perahu menggunakan mobil sekitar tujuh jam.

|sumber naskah: lampungbaratkab.go.id |foto: endangguntorocanggu.blogspot.co.id

Pesona Bukit Kabut Bawang Bakung Lampung Barat

SETELAH Pantai Gigi Hiu di Pegadungan, Kelumbayan, Tanggamus berhasil mencuri perhatian para fotografer nasional, kini hadir tempat di Lampung yang juga bakal menjadi spot foto idola para pemotret dan para traveler. Tempat tersebut adalah Bukit Kabut Bawang Bakung atau yang juga dikenal Bukit Geredai yang berada di Kota Besi, Liwa, Lampung Barat.

Bukit yang memiliki pemandangan kota Liwa dari atas ketinggian ini, menghadirkan pesona tak kalah menakjubkan dibanding Pananjakan, Gunung Bromo, Jawa Timur. Karena di sini kita serasa menempati negeri di atas awan dengan pemandangan Gunung Pesagi dan Seminung yang tampak di kejauhan.

Bukit Bawang Bakung ini sendiri letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota Liwa. Hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Akses jalan yang ada pun sudah cukup baik. Kendaraan roda dua dan roda empat bisa masuk. Namun, dianjurkan untuk kendaraan roda empat berukuran besar, agar parkir di bawah atau di dekat perkampungan warga karena jalan tidak begitu lebar.

Selama perjalanan menuju ke sini, kita akan mendapati perkampungan masyarakat Lampung Barat dengan rumah-rumah tradisionalnya serta aktivitas masyarakatnya kala pagi hari. Mulai dari pergi ke sawah, mandi di pancuran dan sungai, hingga anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki atau mengendarai motor. Persawahan yang ada juga sangat menarik untuk jadi obyek foto. |sumber: pariwisatalampung.com

Tari Halibambang Khas Lampung Barat

TARI Tradisional Halibambang merupakan warisan nenek moyang suku Lampung Sekala Brak. Apabila ada perayaan perkawinan biasanya diadakan pesta muli mekhanai yang di sebut Nyambai. Keberadaan Tari Halibambang di daerah Liwa di perkirakan pada abad ke VI pada masa keadatan Lampung Sekala Brak.

Tari Tradisional adalah tari yang telah baku oleh aturan-aturan tertentu. Dalam kurun waktu yang telah disepakati, aturan baku diwariskan secara turun menurun melalui generasi ke generasi.

Tari Halibambang dapat diartikan sebagai Hali: Seperti, Bagaikan sedangkan Bambang: Kupu-kupu. Jadi Tari Halibambang dapat simpulkan sebagai tarian yang menggambarkan kupu-kupu yang sedang beterbangan dengan mengibas-ibas sayapnya di alam yang bebas dan berayun-ayun di bunga

Dahulu Tari Halibambang adalah merupakan tarian keluarga Lampung Sekala Brak yang beradat Sai Batin dan hanya dapat dipentaskan oleh lingkungan keluarga Sekala Brak di tempat yang tertutup,tidak boleh ditarikan oleh sembarangan orang pementasanya pun hanya terbatas pada saat acara Nyambai adat dalam adat Lampung Sekala Brak saja.Personil penarinya puin hanya terbatas pada putri keluarga Lampung Sekala Brak yang funsinya sebagai tari hiburan keluarga.

Namun sekarang fungsi tari halibambang tidak lagi mutlak sebagai tarian keluarga adat Lampung saja,tetapi sudah diperbolehkan tarian ini dipentaskan di tempat terbuka serta tarian ini berfungsi sebagai tarian hiburan lepas atau sebagai tarian penyambut tari Lampung.

Busana tari:

  • Kumbang Gijekh (Kumbang Goyang) sebgai lambang keanggunan dan keindahan.
  • Sanggul (keindahan).
  • Tali Galah(tali leher) yang diberi kumbang tabokh (keindahan).
  • Kipas (properti)lambang sayap kupu-kupu.
  • Gelang Kana (kemakmuran).
  • Gajah Minung atau kalung selembok (kemakmuran)
  • Busung /ikat pinggang (kemakmuran).
  • Kawai/baju beludru (kesucian).
  • Injang bumpek

Musik pengiring Tari Halibambang menggunakan Talo Balak, nada yang dihasilkan dari bunyi tabuhan Talo balak ini dapat disimpulkan pada kunci nada = G ( Sedikit Sumbang ), Gong besar berbunyi nada = 1( do ), Gong Kecil berbunyi nada = 2/ ( ri ), Talo Balak dan Gendang.

Dengan bermodalkan Seni Tari Halibambang sebagai tari tradisional Daerah Lampung merupakan salah satu langkah menuju cita-cita dan jati diri yang utuh bagi pembentukan manusia Indonesia yang akhirnya citra budaya bangsa Indonesia dapat tercermin melalui pelestarian budaya yang di pelihara Bangsa Indonesia yang mewarnai dan menjaga keutuhan leluhurnya. |sumber naskah: yulianasenitari.wordpress.com |foto:

Tarian yang Terinspirasi dari Lingkungan khas Lampung Barat

TARI-tarian yang sesuai dengan kondisi alam yang terdiri dari daerah perhutanan dan lautan, Kabupaten Lampung Barat memiliki aneka ragam tarian dengan inspirasi dari lingkungan. Keberadaan margasatwa banyak mengilhami gerakan tari-tarian di daerah Lampung Barat. Di daerah Balik Bukit terdapat Tari Kenui dan Tari Batin, dua jenis tarian yang gerakannya meniru burung elang.

Tari Kenui biasanya digunakan sebagai hiburan dalam berbagai kesenian yang ditampilkan pada daerah Lampung itu sendiri. Tarian ini dimainkan oleh lima orangyang dinilai sebagai tarian yang bisa membawa kegembiraan.

Sedangkan tari Batin biasanya dilakukan dalam rangka menyambut tamu-tamu penting. Acara ini dilaksanakan secara rutin menyambut HUT Kabupaten Lampung Barat.

Selain itu Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung mempersiapkan sejumlah pertunjukan seperti tari “batin” guna menyambut ratusan turis dari luar negeri yang akan mengunjungi Gedung Dalom/Keraton kerajaan itu.

Tarian itu merupakan pusaka lama milik Kerajaan Sekala Brak kuno yang dilestarikan hingga saat ini, sebuah tarian yang biasa digelar untuk menyambut tamu-tamu kehormatan Saibatin Peniakan Dalom Beliau (SPDB).

Untuk diketahui, Sekala Brak adalah sebuah kerajaan yang terletak di dataran tinggi Sekala Brak di kaki Gunung Pesagi yang merupakan gunung tertinggi di Lampung atau di sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif berada di Kabupaten Lampung Barat.

|sumber: antaranews.com, ujiansma.com, id.wikipedia.org

sumber gambar: antaranews.com

Tari Nyambai; Tarian Khas Lampung Barat

TARI Nyambai diperkirakan lahir bersamaan dengan kebiasaan masyarakat untuk meresmikan gelar adat, pelaksanaanya diselenggarakan bersamaan dengan upacara perkawinan. Nama Nyambai diambil dari kata Cambai dalam bahasa Lampung berarti sirih. Sirih menjadi simbol keakraban bagi masyarakat Lampung pada umumnya. Oleh karena itu, sirih digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat, yang memiliki makna berbeda-beda tergantung penempatanya.

Nyambai adalah acara pertemuan khusus diselenggarakan untuk Meghanai (bujang) dan Muli (gadis) sebagai ajang silaturahmi, berkenalan, dengan menunjukan kemampuannya dalam menari. Di lain pihak, kehadiran tari Nyambai digunakan sebagai salah satu sarana komunikasi dan media untuk mencari jodoh antara Muli dan Meghanai. Selain itu, tari Nyambai juga merupakan sarana untuk mempererat kekerabatan adat Saibatin

Tari Nyambai tergolong sebagai tari klasik, penampilan tari Nyambai diikuti dan dihadiri oleh kalangan bangsawan, yang diselenggarakandi Lamban Gedung. Lamban Gedung merupakan tempat tinggal Ketua Adat sekaligus istana yang digunakan untuk musyawarah adat.

Konon tari Nyambai sudah dipertunjukan sebelum Indonesia merdeka namun tidak diketahui secara pasti awal kemunculannya. Tari Nyambai adalah salah satu bentuk seni pertunjukan dalam konteks upacara perkawinan yang ditarikan oleh putra dan putri dari para para ketua adat. Tari ini dijadikan salah satu sarana untuk tetap mempertahankan daerah kebangsawan adat Saibatin. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwasanya tari Nyambai bagi adat Saibatin menunjukan adanya sebuah pretise dan legitimasi seorang Ketua Adat.

Gerakan tari Nyambai merupakan perpaduan dari dua bentuk pertunjukan yaitu tari Dibingi dan tari Kipas. Gerak dalam tari Nyambai terdiri dari tiga ragam yaitu, kekindai, Ngesesayak, dan Mampang kapas. Tiga ragam gerak ini dilakukan oleh Muli dan Meghanai secara berulang-ulang. Ragam gerak memiliki keunikan pada gerak yang dilakukan pada level rendah (jongkok).

Musik yang untuk mengiringi tari Nyambai, menggunakan dua alat musik yaitu Rebana dan Kulintang, berbeda dengan kulintang yang dikenal umum, yang bila dilihat secara fisik merupakan instrument yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Kulintang Lampung bentuknya hampir sama dengan beberapa instrument yang tersebar di seluruh nusantara, misalnya Totobuang (Maluku), Talempong (Sumatra Barat) atau Bonang dalam karawitan Jawa. Selain kedua alat musik tersebut, tari Nyambai juga diiringi oleh alunan pantun yang disebut nga’ududang.

|sumber: tutorial-lampung.blogspot.co.id, id.wikipedia.org

sumber gambar: polpplampungbarat.com

Rhino Camp Sukaraja Atas, Lampung Barat

RHINO Camp Sukaraja Atas merupakan tempat pengamatan potensi flora fauna yang ada di jalan lintas Barat Sanggi – Bengkunat, tepatnya di Sukaraja Atas, gerbang masuk kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang berjarak sekitar 95 Km atau 2,5 jam perjalanan darat dari pusat Kota Krui.

Aktifitas yang dapat dilakukan antara lain adalah :

  • Trekking Hutan Hujan Tropis
  • Bird Watching
  • Melihat Bunga Raflesia Mekar (Maret-Juli)
  •  Fotografi.

Potensi yang dapat dijumpai di jalur pengamatan seperti:

Flora yang terdiri dari 514 pohon dan tumbuhan bawah, 126 jenis anggrek, 26 jenis rotan, 15 jenis bambu, bunga Rafflesia sp. 2 jenis bunga bangkai yaitu Amorphophallus titanum dan A.deculsivae.

Fauna yang terdiri atas 90 jenis mamalia 7 jenis primata, 322 jenis burung, 9 jenis rangkong, 52 herpetofauna (reptil & amphibi), 51 jenis ikan.

Di antara potensi flora dan fauna yang ada dapat dijumpai langsung, seperti bunga Rafflesia sp, Kantung semar (Nephentes sp), jenis anggrek dan satwa Siamang (Hylobates syndactylus), Rakong (Bucerorhinos undulatus), Kuau (Plectoteron chalcurum), Owa (Hylobates moloch), Kancil (Tragulus napuh), Tarsius (Tarsius bancanus), Cecah (Presbytes melalophos).[]

Pemandangan Memukau Dari Puncak Gunung Pesagi Liwa, Lampung Barat

GUNUNG Pesagi adalah Ketinggiannya mencapai 2.389 Meter diatas permukaan laut, di kaki Gunung Pesagi inilah dipercaya letak kerajaan Sekala Brak, yang merupakan cikal-bakal keturunan suku Lampung. Gunung Pesagi berada di Kabupaten Lampung Barat, keindahan alam Lampung Barat sudah tidak diragukan lagi,dan salah satu potensi wisata Lampung Barat adalah Gunung Pesagi.

Dari puncak Gunung Pesagi ini pengunjung dapat menikmati keindahan wilayah Lampung Barat, Danau Ranau, Pemukiman Masyarakat OKU, Laut Lepas Krui, dan Laut Lepas Belimbing.

Keistimewaan puncak Gunung Pesagi memiliki jalur pendakian yang menantang, sepanjang jalur yang dilalui kita dapat menikmati keindahan bunga anggrek yang beranekaragam serta beberapa satwa liar, namun bagi para pendaki dilarang untuk memetik maupun berburu satwa yang ada di kawasan tersebut.

Menurut keterangan dari warga sekitar, konon puncak pesagi tersebut terdapat tujuh sumur yang satu diantaranya kadang kala mengeluarkan aroma seperti minyak wangi. Akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan air dari tujuh sumur tersebut dan hanya pendaki berhati bersih yang bisa mendapatkanya. Pendaki yang tidak ramah lingkungan atau tidak memiliki niat yang baik tidak akan mendapat air dari sumur tersebut.

Gunung Pesagi memang kental dengan nuansa religiusnya dan bagi yang hobi berpetualangan Gunung Pesagi memang menjadi pilihan yang baik sebagai tujuan wisata.

Untuk menuju lokasi ini bagi anda yang berasal dari luar Lampung tidak perlu khawatir karena ada beberapa alternative yang dapat ditempuh menuju Gunung Pesagi tersebut. Yang pertama bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandar Lampung menuju kampung Bahway, Liwa, perjalanan menempuh sekitar 6 jam perjalanan, setelah itu berjalan kaki menuju puncak Pesagi

Bagi para pengunjung yang ingin memilih perjalanan dengan angkutan umum juga bisa. Jarak tempuh sekitar 6-7 jam dari terminal Raja Basa, Bandar Lampung menuju Liwa , kemudian pengunjung harus bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki , Karena kendaraan tidak bisa masuk menuju lokasi.

Gunung Pesagi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di luar Lampung memang dirasa tidak terlalu tinggi. Tetapi gunung tersebut memiliki keunggulan tersendiri dan termasuk kategori gunung yang memiliki jalur menantang, terutama hutannya yang membentuk penyambungan.

Tetapi perjuangan tersebut tidak akan sia-sia karena view indah tersaji. Disinilah mata akan dimanjakan pemandangan yang memukau.

|sumber: senjakesaktian.com

pict: kaskus.co.id

Liwa, Sebuah Kota Hujan di Pegunungan Bukit Barisan Selatan

LIWA adalah ibu kota Kabupaten Lampung Barat. Sebuah kota hujan yang berada di pegunungan Bukit Barisan Selatan. Wilayah kota ini meliputi seluruh wilayah Kecamatan Balik Bukit.

Pemilihan Liwa sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini. Pertama, tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif. Kedua, Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah: Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung sendiri.

Asal usul nama Liwa, Liwa berasal dari kata Al Liwa (bahas arab : Bendera), menurut sejarah secara turun temurun, setelah kemenangan Paksi Pak melawan penguasa Skala Brak kuno, para maulana dari empat kepaksian (Kepaksian Belunguh, Pernong, Bejalan diway, dan Nyerupa) menancapkan bendera kemenangan di puncak gunung pesagi, bendera kemenangan yang dimaksud bernama Al Liwa. Liwa juga nama salah satu marga dari 84 marga di Lampung

Way Setiwang, Way Robok, dan Way Sindalapai yang mengaliri wilayahnya merupakan sumber kekayaan daerah ini. Ditambah pula, penduduk yang masih jarang membuat masyarakat daerah ini menjadi makmur dan sejahtera.

Di daerah ini dulunya terdapat bendungan-bendungan tempat ikan (bidok, bahasa Lampungnya), sehingga terkenallah daerah ini sebagai penghasil ikan. Hampir setiap orang yang datang dari dan ke tempat itu jika ditanya sewaktu bertemu di jalan: “Mau ke mana?” atau “Dari mana?” selalu menjawab: “Jak/aga mit meli iwa” (Dari/hendak membeli ikan).

Lama-kelamaan jawaban itu berubah menjdi “mit meli iwa”. Kemudian karena diucapkan secara cepat kedengarannya seperti “mit liwa”. Dan, akhirnya daerah ini mereka namakan Liwa.

Kalau kita kontekskan dengan sekarang, Liwa memang menjadi tempat pertemuan ikan laut dari Krui di tepi Samudra Hindia, ikan tawar dari Danau Ranau, dan ikan tawar lain dari sungai dan sawah.

Liwa yang meliputi satu marga (Marga Liwa) dan satu kecamatan (Kecamatan Balik Bukit) terdiri dari 12 (duabelas) pekon (desa/kelurahan):

  • Way Mengaku
  • Pasar Liwa
  • Padang Cahya
  • Kubu Perahu
  • Sebarus
  • Gunung Sugih
  • Way Empulau Ulu
  • Wates
  • Padang Dalom
  • Sukarame
  • Bahway
  • Sedampah Indah

Potensi budaya
Di samping memiliki potensi alamiah seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, pariwisata, dan pertambangan, Liwa juga menyimpan sejarah budaya.

Beberapa kebiasaan (tradisi-budaya) yang masih kita temui di Liwa, antara lain upacara-upacara adat seperti nayuh (pesta pernikahan), nyambai (acara bujang-gadis dalam rangka resepsi pernikahan), bediom (menempati rumah baru), sunatan, sekura (pesta topeng rakyat), tradisi sastra lisan (seperti segata, wayak, hahiwang, dll), buhimpun (bermusyawarah), butetah (upacara pemberian adok atau gelar adat), dan berbagai upacara adat lainnya.

Potensi wisata
Kota Liwa mempunyai tempat wisata yang cukup menarik, di antaranya air terjun Kubuperahu, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang termasuk sebagian kecil wilayahnya, Pulau Dewa (kuburan yang panjangnya mencapai hampir 3 meter) di desa Jejawi, dan Prasasti Hujung Langit (Batu Tulis Hara Kuning) di Bawang, suasana sejuk karena alam yang masih hijau, dan adat-istiadat setempat (seni-budaya lokal).

Namun Kabupaten Lampung Barat mempunyai belasan tempat wisata seperti Danau Ranau, wisata budaya pekon Kenali, (Belalau), dan pantai sepanjar Pesisir Barat Samudera Indonesia yang dapat diandalkan terutama pantai dan tempat bersejarah.

Salah satunya Situs Prasejarah Batu Jaguar yang terletak di Pekon Purawiwitan, Sumberjaya. Di sini, terdapat sebuah batu menhir yang dipercaya masyarakat dapat memberikan tanda-tanda bila akan terjadi bencana alam. Hal ini terbukti saat gempa Liwa 1994. |sumber: id.wikipedia.org

Tercipta Keakraban Mahasiwa Teknik Lingkungan dan Industri di Lampung Barat

RIBUAN kata terucap tak mampu mewakili rasa senang dalam hati. Entah harus bagaimana hati meluapkan rasa bersyukur ini. Memiliki kelas dan teman-teman yang ideal. Fakultas Teknik Jurusan Lingkungan dan sebagian dari Teknik Industri Universitas Malahayati membuat suatu acara untuk menyambut tahun baru dan merayakan hari ulang tahun sahabat kami, Cut Mutiawati.

Berberapa tempat sudah terfikirkan, dan berbagai rencana sudah dirundikan alhasil kita On the way to Krui, Lampung Barat selama empat hari yang semula direncanakan hanya satu hari,. Dikarenakan perjalanan yang cukup jauh sekitar 10 jam dari Bandar Lampung dan sudah terlanjur nyaman dengan suasana alam yang menakjubkan di Lampung Barat.

Semilir angin dan hempasan ombak di pingggiran pantai yang ikut serta melengkapi suasana nyaman ini. Kami menginap di salah satu rumah milik salah satu sahabat kami, Rizki Saputra di Pugung Tampak, Pesisir barat. Penginapan yang memungkinkan serta amat nyaman. Tempat ini memang sangat asri, terlihat dari pegunungan dan pantai membatasi perkampungan ini serta rumah panggung yang masih kokoh berdiri di atas tanah lampung ini.

Terlihat sempurna perjalanan kami, namun dibalik itu semua sangat banyak halangan yang kami lalui. Maupun itu hal kecil dari pecah ban, kedinginan, kepanasan, habis bensin sampai ke hal yang lebih besar. Hal itu tak menjadi halangan kami untuk melanjutkan perjalanan kami.

Kekurangan tersebut dapat kami tutupi dengan kebersamaan kami. Saling menjaga, saling peduli, saling berkorban, bertanggungjawab serta susah senang bersama. Perjalanan kami tak akan sempurna jika tak ada hal tersebut.

“Perjalanan luar biasa yang saya rasakan pada hari itu, teman yang menurut saya memang seorang teman. Hingga sekarang yang berawal dari kelas ideal menjadi kelas yang sempurna. Empat hari yang membuat perubahan besar dalam kelas dan susah tuk dilupakan,” ujar Nezla Anisa, Teknik Lingkungan Angkatan 014.[]

IMG_8534IMG_8698 IMG_8500 IMG_8507