Posts

Eksotisme Air Terjun Sepapa Kanan dan Sepapa Kiri di TNBBS

TAMAN Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menyimpan potensi parawisata. Satu diantaranya air tejun Sepapa Kanan dan Sepapa Kiri. Air terjun itu terletak di dalam kawasan hutan TNBBS. Tepatnya di wilayah pekon Kubu Perahu, kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat.

TNBBS ini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia karena memiliki keanekaragaman hayati baik dari segi vegetasi hutan, flora dan fauna serta sebagai penghasil oksigen yang dibutuhkan dunia. Tumbuhan yang menjadi ciri khas taman nasional ini adalah bunga bangkai jangkung, bunga bangkai raksasa, dan anggrek raksasa/tebu. Sedangkan habitat fauna langka seperti burung tokhtor Sumatera, rangkong paruh merah, gajah dan sumatera, beruang madu dan lainnya juga mendiami Taman Nasional ini.

Air terjun Sepapa Kiri dan Sepapa Kanan dengan ketinggian 60 meter dan 20 meter terlihat perkasa dengan mencurahkan begitu banyak air. Dengan suhu rata-rata 22 derajat celcius, wisatawan akan menikmati kesejukan suasana dan keindahan telaga. Untuk mencapai kedua air terjun tersebut, wisatawan menyusuri sungai yang jernih sekitar 2-3 jam dengan medan tracking yang menantang bagi yang menyukai kegiatan adventure.

sepapa kiri

Air terjun sepapa kiri

sepapa kanan

Air terjun sepapa kanan

Cara pencapain lokasi: Teluk Betung-Tanjung Karang-Kota Agung menggunakan mobil, Kota Agung-Tampang menggunakan kapal motor sekitar enam jam, Kota Agung-Banjarnegoro-Sukaraja Atas/Suwoh menggunakan mobil sekitar empat jam, dan Kota Agung-Kubu Perahu menggunakan mobil sekitar tujuh jam.

|sumber naskah: lampungbaratkab.go.id |foto: endangguntorocanggu.blogspot.co.id

Pesona Bukit Kabut Bawang Bakung Lampung Barat

SETELAH Pantai Gigi Hiu di Pegadungan, Kelumbayan, Tanggamus berhasil mencuri perhatian para fotografer nasional, kini hadir tempat di Lampung yang juga bakal menjadi spot foto idola para pemotret dan para traveler. Tempat tersebut adalah Bukit Kabut Bawang Bakung atau yang juga dikenal Bukit Geredai yang berada di Kota Besi, Liwa, Lampung Barat.

Bukit yang memiliki pemandangan kota Liwa dari atas ketinggian ini, menghadirkan pesona tak kalah menakjubkan dibanding Pananjakan, Gunung Bromo, Jawa Timur. Karena di sini kita serasa menempati negeri di atas awan dengan pemandangan Gunung Pesagi dan Seminung yang tampak di kejauhan.

Bukit Bawang Bakung ini sendiri letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota Liwa. Hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Akses jalan yang ada pun sudah cukup baik. Kendaraan roda dua dan roda empat bisa masuk. Namun, dianjurkan untuk kendaraan roda empat berukuran besar, agar parkir di bawah atau di dekat perkampungan warga karena jalan tidak begitu lebar.

Selama perjalanan menuju ke sini, kita akan mendapati perkampungan masyarakat Lampung Barat dengan rumah-rumah tradisionalnya serta aktivitas masyarakatnya kala pagi hari. Mulai dari pergi ke sawah, mandi di pancuran dan sungai, hingga anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki atau mengendarai motor. Persawahan yang ada juga sangat menarik untuk jadi obyek foto. |sumber: pariwisatalampung.com

Pemandangan Memukau Dari Puncak Gunung Pesagi Liwa, Lampung Barat

GUNUNG Pesagi adalah Ketinggiannya mencapai 2.389 Meter diatas permukaan laut, di kaki Gunung Pesagi inilah dipercaya letak kerajaan Sekala Brak, yang merupakan cikal-bakal keturunan suku Lampung. Gunung Pesagi berada di Kabupaten Lampung Barat, keindahan alam Lampung Barat sudah tidak diragukan lagi,dan salah satu potensi wisata Lampung Barat adalah Gunung Pesagi.

Dari puncak Gunung Pesagi ini pengunjung dapat menikmati keindahan wilayah Lampung Barat, Danau Ranau, Pemukiman Masyarakat OKU, Laut Lepas Krui, dan Laut Lepas Belimbing.

Keistimewaan puncak Gunung Pesagi memiliki jalur pendakian yang menantang, sepanjang jalur yang dilalui kita dapat menikmati keindahan bunga anggrek yang beranekaragam serta beberapa satwa liar, namun bagi para pendaki dilarang untuk memetik maupun berburu satwa yang ada di kawasan tersebut.

Menurut keterangan dari warga sekitar, konon puncak pesagi tersebut terdapat tujuh sumur yang satu diantaranya kadang kala mengeluarkan aroma seperti minyak wangi. Akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan air dari tujuh sumur tersebut dan hanya pendaki berhati bersih yang bisa mendapatkanya. Pendaki yang tidak ramah lingkungan atau tidak memiliki niat yang baik tidak akan mendapat air dari sumur tersebut.

Gunung Pesagi memang kental dengan nuansa religiusnya dan bagi yang hobi berpetualangan Gunung Pesagi memang menjadi pilihan yang baik sebagai tujuan wisata.

Untuk menuju lokasi ini bagi anda yang berasal dari luar Lampung tidak perlu khawatir karena ada beberapa alternative yang dapat ditempuh menuju Gunung Pesagi tersebut. Yang pertama bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandar Lampung menuju kampung Bahway, Liwa, perjalanan menempuh sekitar 6 jam perjalanan, setelah itu berjalan kaki menuju puncak Pesagi

Bagi para pengunjung yang ingin memilih perjalanan dengan angkutan umum juga bisa. Jarak tempuh sekitar 6-7 jam dari terminal Raja Basa, Bandar Lampung menuju Liwa , kemudian pengunjung harus bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki , Karena kendaraan tidak bisa masuk menuju lokasi.

Gunung Pesagi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di luar Lampung memang dirasa tidak terlalu tinggi. Tetapi gunung tersebut memiliki keunggulan tersendiri dan termasuk kategori gunung yang memiliki jalur menantang, terutama hutannya yang membentuk penyambungan.

Tetapi perjuangan tersebut tidak akan sia-sia karena view indah tersaji. Disinilah mata akan dimanjakan pemandangan yang memukau.

|sumber: senjakesaktian.com

pict: kaskus.co.id

Liwa, Sebuah Kota Hujan di Pegunungan Bukit Barisan Selatan

LIWA adalah ibu kota Kabupaten Lampung Barat. Sebuah kota hujan yang berada di pegunungan Bukit Barisan Selatan. Wilayah kota ini meliputi seluruh wilayah Kecamatan Balik Bukit.

Pemilihan Liwa sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini. Pertama, tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif. Kedua, Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah: Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung sendiri.

Asal usul nama Liwa, Liwa berasal dari kata Al Liwa (bahas arab : Bendera), menurut sejarah secara turun temurun, setelah kemenangan Paksi Pak melawan penguasa Skala Brak kuno, para maulana dari empat kepaksian (Kepaksian Belunguh, Pernong, Bejalan diway, dan Nyerupa) menancapkan bendera kemenangan di puncak gunung pesagi, bendera kemenangan yang dimaksud bernama Al Liwa. Liwa juga nama salah satu marga dari 84 marga di Lampung

Way Setiwang, Way Robok, dan Way Sindalapai yang mengaliri wilayahnya merupakan sumber kekayaan daerah ini. Ditambah pula, penduduk yang masih jarang membuat masyarakat daerah ini menjadi makmur dan sejahtera.

Di daerah ini dulunya terdapat bendungan-bendungan tempat ikan (bidok, bahasa Lampungnya), sehingga terkenallah daerah ini sebagai penghasil ikan. Hampir setiap orang yang datang dari dan ke tempat itu jika ditanya sewaktu bertemu di jalan: “Mau ke mana?” atau “Dari mana?” selalu menjawab: “Jak/aga mit meli iwa” (Dari/hendak membeli ikan).

Lama-kelamaan jawaban itu berubah menjdi “mit meli iwa”. Kemudian karena diucapkan secara cepat kedengarannya seperti “mit liwa”. Dan, akhirnya daerah ini mereka namakan Liwa.

Kalau kita kontekskan dengan sekarang, Liwa memang menjadi tempat pertemuan ikan laut dari Krui di tepi Samudra Hindia, ikan tawar dari Danau Ranau, dan ikan tawar lain dari sungai dan sawah.

Liwa yang meliputi satu marga (Marga Liwa) dan satu kecamatan (Kecamatan Balik Bukit) terdiri dari 12 (duabelas) pekon (desa/kelurahan):

  • Way Mengaku
  • Pasar Liwa
  • Padang Cahya
  • Kubu Perahu
  • Sebarus
  • Gunung Sugih
  • Way Empulau Ulu
  • Wates
  • Padang Dalom
  • Sukarame
  • Bahway
  • Sedampah Indah

Potensi budaya
Di samping memiliki potensi alamiah seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, pariwisata, dan pertambangan, Liwa juga menyimpan sejarah budaya.

Beberapa kebiasaan (tradisi-budaya) yang masih kita temui di Liwa, antara lain upacara-upacara adat seperti nayuh (pesta pernikahan), nyambai (acara bujang-gadis dalam rangka resepsi pernikahan), bediom (menempati rumah baru), sunatan, sekura (pesta topeng rakyat), tradisi sastra lisan (seperti segata, wayak, hahiwang, dll), buhimpun (bermusyawarah), butetah (upacara pemberian adok atau gelar adat), dan berbagai upacara adat lainnya.

Potensi wisata
Kota Liwa mempunyai tempat wisata yang cukup menarik, di antaranya air terjun Kubuperahu, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang termasuk sebagian kecil wilayahnya, Pulau Dewa (kuburan yang panjangnya mencapai hampir 3 meter) di desa Jejawi, dan Prasasti Hujung Langit (Batu Tulis Hara Kuning) di Bawang, suasana sejuk karena alam yang masih hijau, dan adat-istiadat setempat (seni-budaya lokal).

Namun Kabupaten Lampung Barat mempunyai belasan tempat wisata seperti Danau Ranau, wisata budaya pekon Kenali, (Belalau), dan pantai sepanjar Pesisir Barat Samudera Indonesia yang dapat diandalkan terutama pantai dan tempat bersejarah.

Salah satunya Situs Prasejarah Batu Jaguar yang terletak di Pekon Purawiwitan, Sumberjaya. Di sini, terdapat sebuah batu menhir yang dipercaya masyarakat dapat memberikan tanda-tanda bila akan terjadi bencana alam. Hal ini terbukti saat gempa Liwa 1994. |sumber: id.wikipedia.org