Posts

BEM Fakultas Teknik Gelar Pembagian Mukena

Badan Eksekutif Mahasisiwa Fakultas Teknik (BEM FT) gelar pembagian mukena. Kegiatan ini berlangsung pada 27 Juni 2016. Bulan suci Ramadhan ini menjadi kesempatan mereka untuk berbuat baik. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

“Kegiatan ini Bertujuan untuk berbagai kepada sesama yang mebutuhkan,” ujar Malika Al-Farisia, Wakil Gubernur BEM FT.

Adapun Masjid yang mereka kunjungi yaitu; Masjid Al-Hijri pramuka, Masjid Al-amin kemiling, Masjid Jami Nurul Iman langkapura, Masjid Thoriqul Khoir Gedung Aer, dan Masjid Asy Syuhada ratu langi.

Malika berharap agar barang-barang tersebut dapat berguna. “Saya berharap agar barang tersebut berguna dan juga dapat dipergunakan secara baik,” ujar Malika. []

Masjid-masjid Tertua di Indonesia

Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat di Indonesia. Bahkan, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbanyak di dunia berdasarkan populasinya. Sehingga, masjid pun sudah banyak dibangun di Nusantara.

Ada banyak teori mengenai kapan tepatnya Islam masuk ke Nusantara. Ada yang mengatakan sejak abad ke-7 M dan ada pula yang mengatakan sejak abad ke-13 M oleh para pedangang muslim dari Arab, India, maupun Persia.

Melihat lamanya Islam sudah masuk ke Indonesia, maka tak heran jika Indonesia memiliki banyak masjid berusia tua. Dari sekian banyak masjid, berikut empat masjid tertua di Nusantara.

1. Masjid Saka Tunggal (1288)

Masjid yang berdiri sejak tahun 1288 ini terletak di desa Cikakak, Banyumas, Jawa Tengah. Jika Anda ingin mengetahui informasi seputar Masjid ini, lebih jelas tertulis pada kitab-kitab yang ditinggalkan oleh pendiri masjid ini yaitu Kyai Mustolih. Sayangnya, kitab-kitab bersejarah tersebut telah hilang. Berdasarkan namanya, Saka Tunggal, masjid ini memiliki tiang penyangga bangunan masjid yang dulunya hanya ada satu tiang (tunggal).

2. Masjid Wapauwe (1414)

Masjid Wapauwe bisa dikatakan sebagai masjid tertua di Maluku. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak mengubah bentuk inti dari masjid sama sekali. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat salat. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Dilihat dari segi arsitektur, masjid ini memang kecil dan sederhana, namun memiliki beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lain, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

3. Masjid Ampel (1421)

Masjid kuno yang terletak di kelurahan Ampel, Surabaya, Jawa Timur ini didirikan pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel dengan luas 120 x 180 meter persegi. Masjid yang kini menjadi salah satu objek wisata religi di kota Surabaya ini dikelilingi oleh bangunan berarsitektur Tiongkok dan Arab. Lalu, di samping kiri halaman masjid ini terdapat sebuah sumur yang diyakini sebagai sumur yang bertuah dan biasanya digunakan oleh mereka yang meyakininya untuk penguat janji atau sumpah. Dan sebagai bentuk penghargaan, di dekat Masjid Ampel terdapat kompleks pemakaman sang pendiri masjid, Sunan Ampel.

4. Masjid Agung Demak (1474)

Masjid Agung Demak dipercaya pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah – raja pertama dari Kesultanan Demak. Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru . Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut saka Majapahit. | sumber: nationalgeographic.co.id ideaonline.co.id)

Potret Universitas Malahayati Buka Bersama Anak Yatim [part1]

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, Universitas Malahayati rutin mengadakan buka puasa bersama dengan anak yatim. Kegiatan ini Bertempat di Masjid Universitas Malahayati yang berdekatan dengan Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin, pada Jum’at 10 Juni 2016. Diawali dengan tausiah kegiatan ini dimulai pukul 16.00 WIB.

Setelah mendengarkan tausiah anak yatim dan ibu diarahkan menuju ruangan yang telah disediakan utuk membuka puasa. Didalam ruangan tersebut sudah tersedia minuman manis dan makan ringan. Beberapa anak yatim yang telah berbuka puasa secara inisiatif mengambil wudhu dan diikuti oleh yang lainnya untuk persiapan sholat maghribh berjamaah. Berikut Potret Universitas Malahayati Buka Bersama Anak Yatim:

Al-Anwar, Masjid Tertua di Lampung

MASJID Al-Anwar merupakan salah satu masjid tertua di Lampung dan usianya telah mencapai 165 tahun. Selain memiliki nilai sejarah tinggi, masjid ini juga memiliki berbagai peninggalan keramat.

Saat didirikan pada 1839, masjid berukuran 30 x 35 meter yang berada di kawasan pusat perdagangan Jalan Malahayati, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung, ini bernama Masjid Jami Persegi. Masjid didirikan di atas tanah wakaf seluas 1.511 meter persegi oleh warga muslim pendatang dari suku Bugis, Sulawesi Selatan dan Palembang, Sumatra Selatan.

Namun, setelah direnovasi akibat bencana letusan Gunung Krakatau pada 1983 masjid ini berubah nama menjadi Masjid Al-Anwar. Bangunan utama masjid yang mampu menampung 2.500 jemaah memiliki enam tiang beton penyangga yang melambangkan jumlah rukun iman. Di kompleks masjid terdapat pula dua meriam peninggalan Portugis. Konon, dulunya meriam ini selalu dibunyikan sebagai tanda waktu berbuka puasa.

Di perpustakaan masjid tersimpan sebuah Alquran dan tafsir tua yang telah berumur 173 tahun beserta 200 kitab ajaran Islam peninggalan para ulama. Selain itu juga terdapat sebuah gentong air yang dikeramatkan yang dulunya digunakan untuk berkumur para ulama saat berbuka puasa.

Di bagian belakang masjid terdapat sebuah sumur keramat bernama Sumur Seribu Doa yang airnya belum pernah mengering sejak digali ratusan tahun lampau. Bahkan air sumur ini diyakini dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. |sumber: bandarlampungkota.go.id, melayuonline.com

Akibat Iklim, Tampilan Masjid Raya Mali Terus Berubah

Keberadaan masjid tak terhitung jumlahnya di Afrika Barat. Beberapa dicat kotak-kotak biru dan putih seperti permen, yang lainnya dibentuk dari unsur bumi seperti pot keramik.

Dari seluruh masjid yang ada, terdapat satu Masjid Raya yang sangat mudah untuk dikenali yaitu di Djenne, Mali.

Masjid Raya ini sangat megah jika dilihat dari kejauhan menghadap cakrawala dan menjadi salah satu monumen keagamaan yang paling dihormati di Afrika.

Dibangun hampir seluruhnya dari lumpur bata yang dijemur serta dilapisi tanah liat, masjid ini adalah contoh monumen yang terbesar dari gaya khas arsitektur benua hitam.

Dalam penghargaan untuk statusnya, Unesco telah menetapkan masjid ini sebagai Situs Warisan Dunia.

Sang arsitek, Ismaila Traore, kepala pekerja dan seorang Muslim, menggunakan bahan-bahan tradisional, termasuk sisipan batang sawit berbulu untuk fasadnya.

Namun, sebagian sejarawan telah mencatat, desain keseluruhan masjid ini menganut gaya neo-Sudan yang dipromosikan oleh Perancis, saat memberikan tampilan yang seragam untuk semua properti Afrika Barat.

Meski diklaim masih asli, tidak bisa dipungkiri, masjid ini terus berubah. Iklim panas yang cukup lama kemudian disusul iklim hujan deras terus menerus, merusak arsitektur yang terbuat dari lumpur dan bata ini.

Celah dan kebocoran cepat tumbuh dan berkembang. Jadi setiap tahun sejak Masjid Raya dibangun, diperlukan lumpur tambalan baru. Penambalan ini menjadi kegiatan tahunan yang disebut warga Djenné “Crepissage de La Grand Mosquée”.

Penambalan atau renovasi tersebut telah berhasil mengawetkan struktur. Meski demikian, dari waktu ke waktu, secara halus juga mengubah struktur.

Karena pekerjaan renovasinya mencakup pembulatan dan pelembutkan kontur yang memberikan tampilan cair dan biomorphic. Kuat tanpa pengerasan. | sumber: nationalgeographic.co.id

Al Furqon, Simbol Religi Kota Tapis Berseri

MELINTAS di Kota Bandar Lampung belum lengkap rasanya bagi wisatawan lokal maupun luar Bandar Lampung sebelumnya mengunjungi salah satu ikon Bandar Lampung yakni Masjid Al Furqon. Berdiri megah dan anggun di salah satu pusat keramaian Bandar Lampung, tepatnya di Lungsir, masjid yang dibangun pada tahun 1958 ini turut menjadi saksi sejarah perkembangan pembangunan di Kota Tapis Berseri.

Seperti dikisahkan oleh pengurus masjid, Drs Adnan Nawawi mengatakan, Masjid tersebut di gerakan oleh pejabat muslim residen Lampung beserta tokoh, Ulama dan Cendikiawan tingkat provinsi sejak 1958 sampai dengan 1996. Bahkan pada saat itu Gubernur Lampung bersama tokoh masyarakat membangun dan mengelola bangunan baru Masjid Raya Nurul Ulum tepatnya di Rajabasa sejak 2 Mei 1991.

“Kala itu, bangunan Masjid Al-Furqon di desain memiliki dua lantai, namun ketika pembangunan berlangsung Masjid Al-Furqon belum memiliki Kubah. Pembangunan pertama masjid Al-Furqon dengan luasan aera gedung 20 x 25 meter atap cor tanpa kubah,” kata Adnan.

Seiring berjalannya waktu pembangunan dan pengelolaan masjid Al-Furqon pada 15 April 1996 dengan Surat Nomor 456/957/06/1996. Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto menyerahkan pembinaan dan pengelolaan Masjid Al-Furqon kepada walikota Bandar Lampung Drs H Suharto, dengan Surat Berita acara serah terima pada 17 April 1996.

Monumen pembangunan ikon muslim di Kota Bandar Lampung tersebut serta menindaklanjuti tanggung jawab pengelolaan bangunan oleh gubernur selaku kepala daerah tingkat I Lampung kepada kepala daerah tingkat II kota Bandar Lampung. Tertanggal 17 Juli 2006 dengan surat keputusan nomor: 232/02.2/HK/2006 tentang penetapan Masjid Al-Furqon menjadi Masjid Agung kota Bandar Lampung.

“Pembangunan Masjid Al-Furqon pertama tahun 1958 kala itu pembangunan di gawangi oleh Raden Haji Muhammad Mangondiprojo. Demi terwujudnya pembangunan Gedung masjid Al-Furqon, Residen Lampung melakukan pengadaan/pembelian tanah seluas 60.850 meter persegi atau istilah sekarang pembebasan lahan,” kata Adnan.

“Awal pembangunan masjid Al-Furqon 1958 dengan bangunan fisik gedung luas 20 x 25 meter atap cor tanpa kubah. Sementara bangunan tahap kedua 1970 di ketuai oleh H. Zainal Abidin Pagar Alam selaku Gubernur Lampung, dilangsungkan pembangunan dua lantai dengan design atap bentuk kubah, ” kata Adnan.

Pada tahun 1998 pemerintah setempat kembali melakukan renovasi gedung yang di lakukan oleh Poedjono Pranyoto selaku Gubernur Lampung saat itu, bahkan pembangunan masjid Al-Furqon tahap ke tiga menggunakan dana pribadi Poedjono Pranyoto dengan nilai Rp. 4 miliar dan pembangunan tahap ke tiga di komandoi oleh Drs. H. Suwardi Ramli dengan membuat lantai tiga, atap tiga trap, bangunan pokok di perbesar menjadi 45 x 65 (dua lantai) dan di tambah sayap kiri dan kanan sebagai tempat mengambil Air Wudhu, Rumah Imam Masjid dan Marbut 4 pintu, serta pembangunan menara setinggi 50 meter tepat di depan sisi kiri gedung. ||Sumber: Infolampung.com.[]

Potret Ujian Tertulis yang Digelar Qur’an Learning Center

QUR’AN Learning Center (QLC) Malahayati gelar ujian tertulis di Masjid Universitas Malahayati pada 27 Desember 2015. Kegiatan ini berlangsung selama 120 menit sejak pukul 08.00 WIB. Ini merupakan gelombang kedua untuk angkatan 2013 dan 2014.

Berikut potret yang tertangkap kamera malahayati.ac.id:

 

Pemandangan Tak Biasa dari Masjid Universitas Malahayati

KICAU burung menyambut pagi di area Universitas Malahayati. Dedaunan yang berjatuhan seakan mengiringi langkah kaki menyusuri kampus ini. Terlihat suasana yang berbeda ketika melewati masjid Universitas Malahayati. Masjid yang biasanya ramai pada waktu shalat kali ini tampak ramai di pagi buta.

Bukan ada shalat berjamaah atau pengajian rutin, ternyata sedang ada ujian tertulis bagi peserta Bimbingan Baca Qur’an (BBQ). Ujian ini digelar QUR’AN Learning Center (QLC) Malahayati pada 27 Desember 2015 sejak pukul 08.00 WIB.

Suasana seketika sunyi saat ujian dilangsungkan karena kekhusyukan peserta menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang tertera pada lembar soal. Ujian yang diikuti 80 mahasiswa Universitas Malahayati berbagai jurusan ini terdiri dari 42 ikhwan dan 38 akhwat di ruang ujian yang berbeda.

Berbataskan tirai pemisah ujian ini berlangsung selama 120 menit. Ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan persemester dengan syarat peserta Bimbingan Baca Qur’an (BBQ) sudah memenuhin delapan kali pertemuan.

Adapun beberapa mahasiswa yang tak bisa menguikuti ujian ini karenma berbagai alasan. Namun tak perlu khawatir, ujian ini masih dibuka pada 3 Juanuari 2016 mendatang. Bersamaan dengan ujian baca Qur’an.[]

Begini Potret Ruqyah di Masjid Universitas Malahayati

Suasana Ruang Masjid Universitas Malahayati, Sabtu 15 Agustus kemarin nampak ada sedikit perbedaan, biasanya setelah salat dzuhur, masjid ini hanya diisi beberapa orang yang biasa mengurus masjid. Namun kali ini pemandangan berbeda terlihat di ruang masjid hari ini, puluhan orang nampak duduk berbaris sambil berdoa dengan khusuk dipandu oleh Ustad Aryza.

Ustad Aryza adalah ketua dari tim Ruqyah yang menyempatkan diri hadir untuk membantu meruqyah para jamaah Masjid Universitas Malahayati. Dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran para jamaah diterapi agar terbebas dari gangguan jin dan penyakit non medis lainnya. Tak hanya itu Ruqyah juga dengan Izin Allah ternyata mampu mengobati berbagai jenis penyakit medis misalnya gangguan pencernaan bahkan stroke, dengan bantuan terapi, obat herbal dan izin Allah tentunya.

Beberapa jamaah bereaksi setelah mendengar lantunan ayat Alquran yang dibacakan Ustad Aryza, tim ruqyah pun menterapi para jamaah dengan menepuk-nepuk pundak, pinggang, punggung dan mengurut leher. Alhasil beberapa jamaah terlihat muntah-muntah.

Muntah itu tanda terapi berhasil dengan baik, karena muntah sebagai bukti pengeluaran racun dalam tubuh atau detoksifikasi tubuh.

Penasaran bagaimana potret ruqyah kemarin?

Let’s chek this out:

1 3 4 2

Hati Tenang Setelah Salat Berjamaah di Masjid Universitas Malahayati

SUARA kumandang adzan membuat langkah kakiku kupercepat untuk melangkah menuju Masjid Universitas Malahayati, langkah demi langkah kupercepat agar segera sampai. Masjid ini berada di lingkungan Universitas Malahayati tepatnya berada di atas gedung serba guna Universitas Malahayati di depan Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin.

Sesampai disana, terlihat deretan keran untuk mengambil air wudhu para jemaah yang ingin melakukan solat berjamaah di Masjid Universitas Malahayati. Setelah mengambil wudhu, kulangkahkan kakiku kembali menuju pintu masuk masjid. Di depan pintu masuk masuk, hawa sejuk langsung menerpa kulit dan membuat rasa nyaman dan tenang saat berada di tempat ini. Hawa sejuk ini bukan hanya karena 16 buah AC yang beroprasi, namun karena Masjid ini memang dikelilingi pepohonan besar yang meneduhi Masjid Universitas Malahayati.

Menoleh kearah kanan pintu masuk masjid, anda bisa melihat perpustakaan mini yang berisi buku bacaan islami dan jurnal-jurnal islam tersusun rapi di rak-rak kayu yang tersandar di dinding ruangan. Beberapa potong sarung dan mukena juga tersimpan di lemari masjid, sarung dan mukena sengaja disediakan bagi mereka yang ingin menggunakan.
Melihat ke langit-langit masjid, lampu dan 8 buah kipas angin ukuran besar terpasang kokoh di plafon masjid. Masjid ini memiliki 4 pintu masuk yang terbuat dari kaca, namun hanya dua yang biasa digunakan, sedang 2 lainnya yang berada di dekat mimbar khatib, jarang sekali digunakan.

Kebetulan hari ini adalah hari jumat, maka setelah adzan, ceramah dan doa pun disampaikan oleh Ustad Hafis. Lalu solat jumat di imami oleh Ustad Fadli. Salat jumat kali ini cukup ramai di datangi jamaah, Masjid berkapasitas sekitar 700 orang ini hampir terisi separuhnya. Terlihat beberapa orang yang nampak tak asing lagi di mata team malahayati.ac.id, seperti Rektor Universitas malahayati, Wakil rektor 1, wakil rektor 2 dan 3 pun hadir siang ini. Beberapa dosen Universitas Malahayati juga ikut serta dalam solat berjamaah di Masjid Universitas Malahayati. Bahkan Rusli Bintang sebagai pemilik yayasan terlihat khusuk mendengarkan ceramah dari Ustad hafis. Benar adanya jika hati terasa lebih tenang dan sejuk setelah salat berjamaah di tempat ini.

Masjid ini sudah digunakan sejak 2006, dan sudah beberpa kali berganti kepengurusan. Saat ini Masjid Universitas Malahayati diketuai ustad fadli, dengan dibantu oleh Abu sebagi bendahara, Nizar dan Iin sebagai pengurus harian Masjid Universitas Malahayati.

Ustad Fadli mengatakan memang belum ada acara rutin yang diadakan di masjid ini, namun memang sudah di rencakan untuk mengadakan pengajian rutin sebulan sekali untuk civitas Malahayati dan Umum.
Sementara ini Masjid ini biasa digunakan untuk aktifitas rutin seperti solat berjamaah, tilawah Quran, dan musyawarah saja seperti masjid pada kebanyakan.

Begini potret Masjid Universitas Malahayati:

tempat wudhu

tempat wudhu

pintu masuk

pintu masuk

perpustakaan mini

perpustakaan mini

potret ruangan masjid

potret ruangan masjid

jamaah mendengarkan ceramah

jamaah mendengarkan ceramah