Posts

Potret Stand Bazar Fakultas Kesehatan Masyarakat

FAKULTAS Kesehatan Masyarakat membuka stand bazar di halaman parkir gedung rektorat Universitas Malahayati. Stan yang dibuka sejak 31 Mei 2015 ini dibuka dalam rangka menyambut Dies Natalis Universitas Malahayati ke-23, tanggal 27 Agustus mendatang.

Nampak ramai dari pengunjung, menandakan produk yang ditawarkan FKM begitu menarik. Mereka menjual berbagai makanan khas Lampung, diantaranya sambal asli Lampung, kerupuk kemplang, aneka kripik khas Lampung.

Berikut potret stand bazar Fakultas Kesehatan Masyarakat:

IMG_8230 IMG_8229 IMG_8228 IMG_8226 IMG_8225

 

Mengenal Sejarah Masyarakat Lampung Pepadun

LAMPUNG dikenal dengan sebutan “Sai Bumi Khua Jukhai”, secara Bahasa artinya Satu Bumi Dua Cabang. Sedangkan berdasarkan Makna yaitu “Sai Bumi (satu Bumi)” bermakna suku bangsa yang mendiami satu wilayah yang berasal dari keturunan yang sama, dan “Khua Jukhai (Dua Cabang)” bermakna dua jenis adat istiadat yang dikenal di masyarakat.

Dari semboyan diatas kita mengenal dua adat istiadat yang ada di masyarakat Lampung yaitu Sai Batin dan Pepadun. “Sai Batin” berarti Satu Penguasa (Raja) sedangkan “Pepadun” berarti Tempat Duduk Penobatan Penguasa.

Adat pepadun didirikan sekitar abad ke-16 pada zaman kesultanan Banten. Pada mulanya terdiri dari 12 kebuaian (Abung Siwo Mego dan Pubian Telu Suku), kemudian ditambah 12 kebuaian lain yaitu Mego Pak Tulang Bawang, Buay Lima Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang (3 Buay) sehingga menjadi 24 kebuaian.
Adat Pepadun dipakai oleh masyarakat adat Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulang Bawang, Pubian Telu Suku, Buay Lima Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang.

Nama pepadun diambil dari kata “Pepadun” tempat penobatan Penyimbang di Paksi Pak Skala Brak yang beradat Sai Batin. Sedangkan “Pepadun” masih juga digunakan pada pengakatan kepala adat di marga-marga keturunan Paksi Pak Skala Brak yang beradat Sai Batin di Pesisir Krui dan Pesisir Teluk Semaka.

Berbeda dengan adat Sai Batin/Peminggir, pada adat Pepadun siapa pun bisa jadi penyimbang atau mengambil gelar, asalkan mempunyai kekayaan yang cukup. Tetapi pada masyarakat adat pepadun tidak begitu mengenal tingkatan adok (gelar) seperti halnya masyarakat adat Sai Batin, sehingga tidak ada yang bernama Raden, Minak, Kimas atau Mas. Sehingga tidak mempunyai struktur aristokrat (kerajaan) – dimana seorang kepala membawahi anak buah – tetapi semua yang mendapat gelar, kedudukan atau hejongan-nya sama/setara.

Dua kekayaan adat yang dimiliki masyarakat lampung tersebut yaitu Adat Sai Batin dan Adat Pepadun perlu dijaga kelestariannya. Karena walaupun berbeda tetapi tetapi berasal dari akar rumput yang sama yaitu Hulun Lampung. Perbedaan itu indah dan menjadikan kita kaya tradisi dan budaya.

Tetapi yang perlu kita waspada adalah mulai lunturnya kepedulian generasi muda kita akan mengenal dan melestarikan Adat Budaya Lampung itu sendiri. Seharusnya kita mengenalkan kepada mereka seni adat budaya lampung dengan setiap ada kesempatan mengajak mereka ikut serta dalam perhelatan upacara adat lampung, sehingga untuk masa yang akan datang Adat Budaya Lampung tidak akan punah. |Dikutip dari berbagai sumber

Adat di Masyarakat Lampung Saibatin

Suku Saibatin mendiami daerah pesisir Lampung yang membentang dari timur, selatan, hingga barat. Wilayah persebaran Suku Saibatin mencakup Lampung Timur, Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Barat.

Seperti juga Suku Pepadun, Suku Saibatin atau Peminggir menganut sistem kekerabatan patrilineal atau mengikuti garis keturunan ayah. Meski demikian, Suku Saibatin memiliki kekhasan dalam hal tatanan masyarakat dan tradisi.

“Saibatin” bermakna satu batin atau memiliki satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial dalam Suku Saibatin, hanya ada satu raja adat dalam setiap generasi kepemimpinan. Budaya Suku Saibatin cenderung bersifat aristokratis karena kedudukan adat hanya dapat diwariskan melalui garis keturunan. Tidak seperti Suku Pepadun, tidak ada upacara tertentu yang dapat mengubah status sosial seseorang dalam masyarakat.

Ciri lain dari Suku Saibatin dapat dilihat dari perangkat yang digunakan dalam ritual adat. Salah satunya adalah bentuk siger (sigekh) atau mahkota pengantin Suku Saibatin yang memiliki tujuh lekuk/pucuk (sigokh lekuk pitu). Tujuh pucuk ini melambangkan tujuh adoq, yaitu suttan, raja jukuan/depati, batin, radin, minak, kimas, dan mas. Selain itu, ada pula yang disebut awan gemisir (awan gemisikh) yang diduga digunakan sebagai bagian dari arak-arakan adat, diantaranya dalam prosesi pernikahan.

siger saibatin busana pengantin khas suku saibatin busana suku saibatin masyarakat saibatin Saibatin

Tradisi Sekura Masyarakat Lampung Barat

TOPENG merupakan salah satu ragam kesenian yang tidak dapat dipisahkan dari khazanah budaya tradisional Lampung. Seni topeng asli Lampung telah berkembang sejak provinsi paling timur di Pulau Sumatera ini berada di bawah Kesultanan Banten. Secara garis besar, ada beberapa jenis seni topeng yang berkembang di Lampung. Salah satunya adalah tradisi sekurayang berasal dari daerah pesisir barat Lampung.

Sekura merupakan jenis topeng yang digunakan dalam perhelatan pesta sekura. Seseorang dapat disebut ber-sekura ketika sebagian atau seluruh wajahnya tertutup. Penutup wajah dapat berupa topeng dari kayu, kacamata, kain, atau hanya polesan warna. Untuk menambah kemeriahan acara, sekura bisa dipadukan dengan berbagai busana dengan warna-warna meriah atau mencolok.

Pesta sekura merupakan perhelatan rutin yang diadakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Pesta rakyat ini selalu diadakan ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dalam acara ini, peserta acara diwajibkan mengenakan topeng dengan berbagai karakter dan ekspresi. Pestasekura merupakan wujud ungkapan rasa syukur dan suka cita menyambut hari yang suci.

Dalam pesta sekura, berbagai kalangan ikut terlibat aktif dan berbaur menjalin kebersamaan. Setiap peserta dapat membawa berbagai makanan yang didapat dari hasil silaturahmi berkeliling dari rumah ke rumah. Makanan ini kemudian disantap secara bersama-sama dengan para peserta lainnya dalam suasana yang hangat. Pesta sekura menjadi ajang silaturahim dan menjalin keakraban antar tetangga.

Berikut foto tradisi sekura masyarakat Lampung Barat:

Zaenal Abidin; Dosen Ramah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat

BERNAMA lengkap Zaenal Abidin, SKM M Kes (Epid). Zaenal sapaan akrabnya, adalah dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat bidang epidemiologi. Ia bergabung dengan Universitas Malahayati sejak 2005. Mengenakan kemeja batik saat ditemui dicruang pascasarjana Universitas Malahayati, Rabu 2 Oktober 2015. Zaenal terlihat gagah dan ramah apalagi ditambah pancaran senyum dari wajahnya.

Dosen yang mengampu matakuliah metodologi penelitian, biostatistik, surveilans kesehatan masyarakat dan epidemiologi ini asli orang Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap dan sekarang tinggal di Bandar Lampung kemiling jl. Pramuka no 27.

Ia yang lulusan SD Wanareja XI Cilacap 1983-1989, SMPN 1 Wanareja Cilacap 1989-1992, SMA Muhammadiyah Majenang Cilacap 1992-1995, D3 Kesehatan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta 1995-1998, lalu melanjutkan S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang dan menyelasaikan S2 Magister Epidemiologi Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang 2009-2011 dengan penghargaan wisudawan terbaik.

Bapak tiga orang anak ini ternyata seorang aktivis semasa kuliah. Ia didaulat sebagai ketua komisariat kampus, Ketua DPMU dan sebagai tim peneliti. Selain menjadi dosen, ia juga sebagai konsultan kesehatan dan seorang peneliti.

Ia mengatakan, bergabung dengan Universitas malahayati merupakan suatu kebanggan karena Universitas Malahayati sangat kekeluargaan disinilah hidupnya menjadi lebih berwarna karena terjadi jalinan sosialisasi yang terbuka baik dengan rekan kerja lama maupun dengan rekan kerja yang baru.

“Universitas Malahayati merupakan Universitas yang bagus dan mempunyai visi misi yang mengarah untuk kemajuan. Mahasiswa Universitas Malahayati sepatutnya harus memberi perubahan pada pola pikir untuk lebih menekankan dalam mendapatkan prestasi agar bisa membawa nama baik almamater dan harus bisa berguna bagi masyarakat,” ujarnya menutup pembicaraan.[]

Kesan Masyarakat Luar Saat Bergabung di Bazar Ekonomi

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi menggelar bazar. Bazar ini merupakan satu dari rangkaian kegiatan Gebyar Ekonomi. Bazar yang dibuka dari jam 08.00-16.00 WIB di lapangan parkir Kampus Universitas Malahayati Senin, 26 Oktober 2015.

Bazar ini diisi oleh stan-stan mahasiswa dan beberapa diisi oleh stan makanan dari luar seperti Indo Pink, Sosis Bakar, Bubble ice dan Dian Shop.

Seperti Indo Pink yang baru pertama kalinya membuka stan di Universitas Malahayati.”Ini kali pertama bergabung dengan kampus Universitas Malahayati dan mahasiswa sangat welcome, ramah dan sangat kreatif karena dari pertama kali membuka stan dan sampai sekarang pun tetap selalu dibantu oleh para mahasiswa Fakultas Ekonomi,” kata Fany pemilik Indo Pink.

“Acaranya juga sangat menarik dan cukup bagus sistem pembayaran yang digunakan dan mahasiswa pun sangat kreatif,” katanya.

Ia juga menambahkan untuk dapat kembali bekerjasama lagi dilain waktu karena kehadiran Universitas Malahayati sangat membantu perekonomiannya, sebab pemasukan/omzet lebih maksimal.

Dan ia mengaku masyarakat Universitas Malahayati terkesan baik dan bersahabat.[]

Hendra: Universitas Malahayati Membantu Perekonomian

Hendra, membuka usahanya sejak tahun 2011. Usaha fotokopi yang ia beri nama Fotokopi Hendra ini didirikan tepat di depan Universitas Malahayati Bandar Lampung, bukan tanpa alasan.

“Ini usaha saya yang pertama, dan alasan saya mendirikannya disini karena dekat dengan kampus. Sebab target utama saya adalah kalangan mahasiswa,” Ujar Hendra saat ditemui team malahayati.ac.id Jum’at 13 Agustus 2015.

Hendra menambahkan bahwa kehadiran Universitas Malahayati sangat membantu perekonomiannya, sebab pemasukan/omzet lebih maksimal.

Dan ia mengaku masyarakat Universitas Malahayati terkesan baik dan bersahabat.[]

Malahayati Membawa Rezeki Tersendiri bagi Diah Agustin

DIAH Agustini, sudah dua tahun membangun rumah makan di sekitar Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Berada tepatnya di depan kampus ini, Ia sangat senang karena cukup ramai pelanggannya hampir semuanya adalah mahasiswa/i Universitas Malahayati.

“Pekerjaan sampingannya ini cukup menguntungkan,”ujarnya.

Ia membuka rumah makan, dengan bertujuan untuk mengisi waktu luang nya agar tidak terbuang sia-sia. “Sudah banyak mencari tempat-tempat namun, hanya ada tempat kosong di sini dan juga tempatnya menyewa,” katanya.

“Kehadiran Universitas Malahayati sangat berperan penting bagi kehidupan ekonomi masyarakat sekitar kampus, karena sebagian besar pembeli adalah mahasiswa/i dari Universitas Malahayati,” katanya.

Bahkan, Ibu Diah memiliki anak yang juga kuliah di Fakultas Kedokteraan di Universitas Malahayati. “Ia sedang Koas nya di salah satu rumah sakit di Medan,” katanya bangga.