Posts

Hobi Olahraga Bela Diri? Kini UKM Pencak Silat PSHT Membuka Pendaftaran Keanggotaan

HOBI olahraga bela diri, tapi bingung dengan tempat latihannya? Kini Unit Kegiatan Mahasiswa Persaudaraan Setia Hati Terate (UKM PSHT) Universitas Malahayati membuka pendaftaran keanggotaan. Pendaftaran ini diperuntukkan untuk seluruh Mahasiswa/i Universitas Malahayati.

UKM ini memiliki slogan “Semangat menjaga diri, menjaga budaya Indonesia”. Penasaran dengan UKM PSHT, Anda dapat sesekali menengok kegiatan latihan mereka yang dilakukan setiap Selasa dan Jumat pada pukul 15.30 (Jadwal dapat disesuaikan).

Bagi anda yang berminat untuk bergabung dalam UKM PSHT dapat mendaftar di stand pendaftaran atau menghubungi contact person yang tertera. Jangan ragu untuk bergabung ajak kawan-kawanmu untuk gabung mendaftar di UKM PSHT.

Contact Person:

Leni Oktaviani (0857 8944 8438)/ 5AC29BA3

IMG_20160317_205310

Potret Fasilitas Penunjang Yang Disiapkan Greendormitory Untuk Penghuninya

BERBICARA Mengenai Kampus Hijau Malahayati, Greendormitory adalah bagian tak bisa dipisahkan dari denyut nadi kampus ini. Greendormitory atau biasa disebut Greendorm oleh para mahasiswa, merupakan asrama dan tempat tinggal para dosen, dekan, wakil rektor dan sebagian besar mahasiswa Malahayati. Tempat ini adalah gerbang awal pembentukan karakter beretika religius mahasiswa Malahayati.
Mahasiswa yang belajar sambil bersantai di bangku kayu buatan, pengajian rutin di Mushala Kabara merupakan pemandangan yang lazim terlihat ditempat ini.

Namun, tahukah kalian selain nuansa religius,lingkungan yang sejuk, dan asri Greendorm juga menyiapkan segala fasilitas penunjang yang dibutuhkan para mahasiswa seperti sarana ibadah, CCTV, sarana olahraga, laundri, cafe, bahkan minimarketpun tersedia disini.

Berikut potret fasilitas yang disediakan Greendormitory bagi penghuninya:

Spending Weekend Time in Malahayati University, Why not?

SUNDAY Morning is Perfect Time For Relaxing our mind and soul, after did our duty six days before. Especially for student that always spend their energy and mind to learn about their scholarly. Do exercise is the perfect choice to spend our free time on weekend. With do exercise we can get a lot of benefits such relaxing our mind, more healthy and get so much fun if we do that with our friends.

That idea as same as with Founder of Malahayati University mind. So, he made facilities for support Malahayati’s students not only on academic but also their life in Greendormitory. Lucky for them, in their free time they can do exercise without spend money and go far away. In Greend Dormitory their can go jogging, swimming, playing basket ball, tennis, volley ball, futsal, etc.

With 84 hectares wide, student can do everything their want to get their satisfaction on weekend. Not only sports facilities, Malahayati also have a lake for fishing. Usually people called “Love Lake” for that lake. In that lake we can do a little picnic, fishing, or just enjoy the Malahayati scenery with sound of wild bird and water gurgling. It’s so beautifull, isn’t it?. If you want to enjoy your food with your someone special, Malahayati has Foodcourt and cafe you know?.

Not satisfied enough with the whole things i said before? Don’t worry, Malahayati Also has a wide park. You can play inline skating, skate boarding, go cycling too here. So rather than you enjoy “Car free Day” in the town, i think Malahayati is better place for enjoying our free time. And the best thing is every facilities is integrated in on one location. Let’s come and visit Malahayati, and feel the unique expericence.[]

Potret Kegiatan Olahraga Mahasiswa dan Civitas Universitas Malahayati

Kebersamaan yang terlihat jelas saat para mahasiswa dan civitas Universitas Malahayati saat berolahraga di lapangan Green Dormitory, Rabu 21 Oktober 2015. Olahraga volly, basket dan futsal ini  selain akan membuat mereka sehat, melepas penat dari Kejenuhan, tentu saja akan menambahkan kedekatan dan keakraban di Universitas Malahayati.

Berikut Potret yang tertangkap tim malahayati.ac.id:

DSC_04988 DSC_04955 DSC_04899 DSC_04877 DSC_05011 DSC_05044

 

Padepokan Gajah Lampung; Penyemai Atlet Angkat Besi

Aroma keringat yang mengalir sedikit terkurangi karena terbawa oleh hembusan angin. Ruangan itu memang tidak berdinding. Masing-masing asyik mengangkat barbel. Suara debum dan dencing keras berkali-kali terdengar. Di sela-sela suara bising itu, terdengar suara lantang membentak seorang atlet yang melakukan kesalahan teknik angkatan. “Jangan manja kamu,” kata pria di sudut ruangan itu.

Si empunya suara adalah pria berkacamata dan berambut putih. Dia adalah Imron Rosadi, 70 tahun. Dari caranya memberi instruksi dan mengkritik para atlet itu, bisa diketahui dia begitu menguasainya. Bahkan dia tahu kenapa si atlet gagal mengangkat barbel. “Dengkul kamu terlalu ke depan dan terlalu lebar jarak kedua kakimu. Ditambah kamu lamban,” kata Imron memberi sebuah kritik.

Hampir setiap pagi dan sore hari tempat ini selalu riuh-rendah oleh suara empasan barbel dan teriakan atlet berbaur dengan bentakan penyemangat dari sang pelatih terdengar di tempat itu. Keadaan itu sudah berlangsung hampir setengah abad.

Sejak tahun 1963-an, Imron mengelola padepokan yang diberi nama Gajah Lampung. Menurut catatanya sudah 44 atlet meraih medali dari tempat itu. “Baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata pria yang semasa menjadi atlet dikenal dengan julukan Gajah Lampung itu.

Padahal, untuk menghidupi geliat padepokannya, tidak kurang dari Rp 1,5 miliar dikeluarkan setiap tahun. Uang sebanyak itu untuk memberi makan, suplemen, menyekolahkan dan yang saku sekitar 36 atlet itu. Dari atlet sebanyak itu, 23 orang tinggal di asrama yang menyatu dengan tempat latihan.

Belum lagi untuk berbelanja alat. Setidikitnya Rp 200 juta untuk membeli barbel yang rusak setiap empat bulan. “Bayangkan jika satu set barbel seharga Rp 60 juta dan dalam waktu kurun waktu itu setidaknya 2—4 set barbel rusak,” tuturnya.

Atlet yang menghuni Padepokan Gajah Lampung berusia 10 – 35 tahun. Mereka direkrut dari pelosok Lampun. Imron bersama istrinya terkadang harus keluar-masuk kampung untuk mendapatkan bibit unggul. Ada juga yang sengaja datang diantar orang tuanya untuk digembleng menjadi atlet profesional.

Meski begitu, sebagian besar datang dari sekitar Kabupaten Pringsewu, Lampung dan hampir semuanya berasal dari keluarga tidak mampu. Imron dibantu istri dan anaknya menyatukan para atlet itu dalam sebuah keluarga besar. Mereka tidur dan makan di tempat yang sama.

Komplek padepokan yang menempati lahan seluas seperempat hektare itu terdiiri atas tempat latihan berukuran 8 x 20 meter, 10 kamar tidur, kamar mandi dan dampur untuk para atlet memasak. Kehidupan mereka sangat disiplin dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Mereka berlatih hampir setiap hari, kecuali setiap Selasa dan Kamis. Waktu latihan pagi mulai pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Sedangkan sore dimulai pukul 14.00 dan berakhir pukul 16.30.

Untuk menghidupi padepoka itu, awalnya keluarga Imron Rosadi menolak bantuan dari pihak lain. Baru pada 1996, Pemerintah Propinsi Lampung mengucurkan dana bantuan. “Itu pun dengan syarat mereka tidak boleh campur tangan soal cara saya melatih dan mendidik para atlet. Itu berlaku bagi semua donatur,” dia menegaskan.

Kemandirian Padepokan Gajah Lampung itu membuat Imron leluasa mengatur latihan para atlet. Tida ada satu pun pihak di luar padepokan yang bisa mencapuri urusan latihan. “Untuk mencetak atlet berprestasi, harus diserahkan sepenuhnya kepada pelatih. Jika pelatih sudah tidak independen, jangan harap atlet berprestasi bisa dicetak,” tuturnya.

Ia menolak Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Pengurus Besar Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) memerinta agar atletnya diikutkan dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas). Menurut dia, langkah itu untuk menanamkan kebanggaan para atlet pada daerahnya. “Dari situ kebanggaan dan cinta tanah air bisa tertanam dengan baik,” ucapnya.

Imron percaya kebanggaan terhadap daerah membuat atlet mempunyai karakter dan mental yang baik. Karena itu, dia selalu menentang jual-beli, bajak-membajak atlet daerah. “Itu (jual-beli atlet daerah) korupsi. Untuk menciptakan atlet berprestasi, dibuuhkan dana besa dan sebagian pasti berasal dari uang negara. Bagaimana itu bisa dipertanggungjawabkan? kata lelaki beranak tiga itu.

Dari Sutrisno Sampai Sri Indriyani

Hasil gemblengan yang sangat keras di Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung telah membuahkan hasil. Dalam catatan Yuniarti, istri Imron, sedikitnya 44 atlet sejak padepokan itu berdiri telah meraih medali di berbagai kejuaraan, baik nasional, maupun internasional. Sebut saja Sutrisno bin Darimin, Winarni, Sri Indriyani dan Misdan.

Mereka adalah generasi senior yang telah meraih prestasi di pentas dunia. Sutrisno merupakan juara dunia angkat berat dan memegang rekor dunia untuk total angkatan 742,5 kilogram di Florida, Amerika Serikat pada tahun 2005. Ia memecahkan rekor atas nama Ayrat Zakief dari Rusia.

Atlet lain yang dicetak dari padepokan ini adalah Winarni. Perempuan kelahiran 19 Desember 1973 itu adalah peraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 untuk kelas 53 kilogram untuk total angkatan 202,5 kilogram.

Lalu ada Sri Indriyani, peraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 untuk kelas 48 kilogram untuk total angkatan 182,5 kilogram. Perempuan kelahiran 12 November 1978 itu kini masih sering terlihat di padepokan untuk membantu juniornya. “Kami memang selalu terkenang pada padepokan ini. Saya besar dan digembleng dengan keras di tempat ini,” ucapnya.

Jejak Sutrisno, Winarni dan Sri Indriyani juga menjadi inspirasi bagi anak-anak di sekitar tempat  tinggalnya. Sebut saja, Betty Feryani, 25 tahun. Gadis hitam manis itu bergabung sejak usia 10 tahun. Sejumlah prestasi nasional hingga internasional telah diraih. Diantaranya meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional di Palembang dan perunggu di kejuaraan Asia di Bali 2003. []