Posts

Pengalaman Mutia Berziarah Ke Makam Iskandar Muda Dan Menggali Informasi Sejarah

PAHLAWAN Nasional adalah orang yang berjasa dalam berjuang memperoleh kemerdekaan Indonesia. Bahkan di Indonesia makam para pahlawan dijadikan sebagai tempat wisata agar sejarah terus diketahui oleh generasi selanjutnya.

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sejarah, budaya, bahasa dan adat istiadat. Semua sejarah ditulis dan dikenang oleh para generasi muda dengan berbagai cara.

Cut Mutiawati salah seorang mahasiwa Teknik Lingkungan Universitas Malahayati berziarah ke Makam pahlawan Nasional Iskandar Muda pada 26 Juli 2016. Ia berziarah bersama kakak dan dua orang temannya. Salah satunya Khairan Niswaty, mahasiswa Teknik Lingkungan angkatan 2014 yang berasal juga dari Aceh.

Makam Iskandar Muda yang ia kunjungi berada di dekat Krueng Daroy, bersebelahan dengan Meuligoe Aceh, kediaman resmi Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, berdampingan dengan Museum Aceh. Makam ini sempat dihilangkan jejaknya oleh Belanda ketika berlangsung perang Aceh.

Baru pada 19 Desember 1952 lokasi Makam Sultan Iskandar Muda itu bisa ditemukan kembali, berkat petunjuk yang diberikan oleh bekas permaisuri salah seorang Sultan Aceh yang bermana Pocut Meurah.

Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636, dan membawanya pada puncak kejayaan. Pada abad ke-17 itu, Kerajaan Aceh berada di peringkat terbesar kelima di antara kerajaan-kerajaan Islam di dunia. Banda Aceh ketika itu telah menjadi bandar perniagaan internasional, disinggahi kapal-kapal asing yang mengangkut hasil bumi dari kawasan Asia ke benua Eropa.

Sultan Iskandar Muda juga dikenal sebagai raja yang adil, termasuk kepada keluarganya sendiri. Salah satu puteranya yang bernama Meurah Pupok dipancungnya di depan umum karena melakukan kesalahan yang berat. Makam Murah Pupok berada di dalam kompleks KerKhoff Peutjoet.

Peristiwa itu memunculkan ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak Syiah Kuala, yang artinya “Adat dipelihara Sultan, hukum ada pada Syiah Kuala”. Syiah Kuala adalah nama lain dari Tengku Abdul Rauf As Singkili, seorang ulama besar Aceh abad ke-17 yang terkenal ahli di bidang ilmu hukum dan keagaaman.[]

Sejarah Perjuangan Radin Inten II Sebagai Pahlawan Nasional Lampung

RADEN Inten II seorang pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Lampung. Namanya telah diabadikan sebagai nama Bandar Udara dan sebuah Perguruan Tinggi di Lampung. Tepatnya Bandara Radin Inten II dan perguruan tinggi IAIN Raden Intan di Lampung.

RADIN Inten II atau Radin Intan II merupakan putra dari Radin Intan Kesuma II dan cucu dari Radin Intan I. Beliau lahir di desa Kuripan, yang sekarang dikenal sebagai Lampung pada tahun 1834. Beliau merupakan keturunan darah biru yang bersaudara dengan kerajaan Banten. Radin Intan termasuk seorang penentang Belanda yang saat itu menjajah negeri kita. Beliau tidak menghendaki adanya kolonialisme di bumi pertiwi. Beliau dikenal sebagai pemimpin sekaligus panglima perang yang tak hanya memiliki fisik yang kuat, namun juga pemikiran yang cemerlang.

Pada saat Radin Inten II lahir tahun 1834, ayahnya, Radin Imba II, ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke P. Timor, karena memimpin perlawanan bersenjata menentang kehadiran Belanda yg ingin menjajah Lampung. Istrinya yg sedang hamil tua, Ratu Mas, tidak dibawa ke pengasingannya. Lalu Pemerintahan Keratuan Lampung dijalankan oleh Dewan Perwalian, yg dikontrol oleh Belanda.

Radin Inten II sendiri tidak pernah mengenal ayah kandungnya tersebut, namun ibunya selalu menceritakan perjuangan ayahnya sehingga pada saat dinobatkan sebagai Ratu (Raja) Negara Ratu, Radin Inten II melanjutkan berjuang memimpin rakyat di Lampung untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.

Belanda yakin, selama Radin Inten II masih berkuasa, kedudukan mereka di Lampung akan tetap terancam. Namun, sebelum memulai serangan-serangan baru, Belanda berusaha memecah belah masyarakat Lampung. Kelompok yang satu diadu dengan kelompok yang lain. Di kalangan masyarakat ditimbulkan suasana saling mencurigai.

Pada tanggal 10 Agustus 1856 pasukan Belanda diberangkatkan dari Batavia dengan beberapa kapal perang. Pasukan ini dipimpin oleh Kolonel Welson dan terdiri atas pasukan infanteri, artileri dan zeni disertai sejumlah besar kuli pengangkut barang. Esok harinya mereka mendarat di dermaga Canti. Kekuatan mereka bertambah dengan bergabungnya pasukan Pangeran Sempurna Jaya Putih, bangsawan Lampung yang sudah memihak Belanda.

Iring – iringan kapal perang Belanda yang memasuki perairan Lampung ini dilihat oleh Singaberanta dari Benteng Bendulu. Ia segera mengirim kurir ke Benteng Ketimbang untuk memberitahukan hal itu kepada Radin Inten II yang selanjutnya memerintahkan pasukannya di benteng-benteng lain agar menyiapkan diri.

Belanda mengirim ultimatum kepada Radin Inten II agar paling lambat dalam waktu lima hari, ia dan seluruh pasukannya menyerahkan diri. Bila tidak, Belanda akan melancarkan serangan. Singaberanta pun dikirimi surat yang mengajaknya untuk berdamai. Sambil menunggu jawaban dari Radin Inten II dan Singaberanta, pasukan Belanda mengadakan konsolidasi. Radin Inten II pun meningkatkan persiapannya.

Maka, pada tanggal 16 Agustus 1856 pasukan Belanda pun mulai melancarkan serangan. Sasaran mereka hari itu ialah merebut Benteng Bendulu. Pukul 08.00 mereka sudah tiba di Bendulu setelah menempuh jarak setapak di punggung gunung yang cukup terjal. Akan tetapi, mereka menemukan benteng itu dalam keadaan kosong.

Singaberanta sudah memindahkan pasukannya ke tempat lain. Ia dengan sengaja menghindari perang terbuka, sebab yakin bahwa pasukan lawan yang dihadapinya jauh lebih kuat. Pasukannya disebar di tempat-tempat yang cukup tersembunyi dengan tugas melakukan pencegatan terhadap patroli pasukan Belanda yang keluar benteng. Sesudah menduduki Benteng Bendulu, sebagian pasukan Belanda bergerak ke benteng Hawi Berak yang dapat mereka kuasai pada tanggal 19 Agustus.

Sampai bulan Oktober 1856 sudah dua setengah bulan Belanda melancarkan operasi militer. Satu demi satu benteng pertahanan Radin Inten II berhasil mereka duduki. Namun, Radin Inten II masih belum tertangkap. Sementara itu, Belanda mendapat laporan bahwa Radin Inten II sudah pergi ke bagian utara Lampung, menyeberangi Way Seputih. Berita lain mengabarkan bahwa Singaberanta berada di Pulau Sebesi.

Belanda mengarahkan pasukan untuk memotong jalan Radin Inten II. Pasukan juga dikirim ke Pulau Sebesi untuk mencari Singaberanta. Hasilnya nihil. Baik Radin Inten II maupun Singaberanta tidak mereka temukan. Kolonel Welson hampir putus asa, ia merasa dipermainkan oleh seorang anak muda berumur 22 tahun.

Pada saat Radin Inten menyantap makanan tersebut, secara tiba-tiba ia diserang oleh Radin Ngerapat dan anak buahnya. Perkelahian yang tidak seimbang pun terjadi. Serdadu Belanda keluar dari tempat persembunyiannya dan ikut mengeroyok Radin Inten II. Radin Inten II tewas dalam perkelahian itu. Malam itu juga mayatnya yang masih berlumuran darah diperlihatkan kepada Kolonel Welson.

Raden Inten II tewas karena pengkhianatan yang dilakukan oleh orang sebangsanya dalam usia sangat muda, 22 tahun. Pada tahun 1986 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar pahlawan nasional (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 082 Tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986).

Sumber: |www.wikipedia.org dan beberapa sumber lainnya.

Radin Inten II; Pahlawan Nasional Lampung

RADIN Inten II atau Radin Intan II merupakan putra dari Radin Intan Kesuma II dan cucu dari Radin Intan I. Beliau lahir di desa Kuripan, yang sekarang dikenal sebagai Lampung pada tahun 1834. Beliau merupakan keturunan darah biru yang bersaudara dengan kerajaan Banten. Radin Intan termasuk seorang penentang Belanda yang saat itu menjajah negeri kita. Beliau tidak menghendaki adanya kolonialisme di bumi pertiwi. Beliau dikenal sebagai pemimpin sekaligus panglima perang yang tak hanya memiliki fisik yang kuat, namun juga pemikiran yang cemerlang.

Radin Intan II resmi dinobatkan sebagai Ratu Lampung, pemimpin rakyat untuk memerangi kolonialisme pada usia yang bisa dibilang masih belia, yakni pada usia 16 tahun. Beliau dilantik pada tahun 1850, dan setelahnya beliau langsung dihadapkan dengan serangan pihak Belanda beserta ratusan tentaranya di daerah Merambung, tempat Radin Intan menjalankan roda pemerintahan kerajaan. Dari beberapa kali serangan yang dilakukan Belanda, pasukan Radin Intan selalu dapat mengandaskannya.

Serangan demi serangan terus berusaha dilancarkan Belanda untuk menghancurkan Lampung dan Radin Intan sebagai penguasa. Hingga pada tahun 1856 Belanda melakukan serangan besar-besaran dengan mengerahkan 9 kapal perang, 3 kapal pengangkut alat perang, dan puluhan kapal lainnya. Serangan Belanda kala itu dipimpin oleh Kolonel Welson.

Pasukan Radin Intan II mencoba melawan serangan tersebut secara gerilya, dan terbukti cukup efektif. Namun, Belanda tak kehabisan akal dan mencoba taktik licik, yakni dengan membayar dan memperalat salah seorang pasukan Radin Intan II, untuk mengatur kondisi dimana Belanda bisa menyergap dan mengalahkan Radin Intan II. Rencana mereka pun berhasil, hingga terjadi pertempuran antara Radin Intan II melawan beberapa pasukan Belanda. Meskipun telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengalahkan Belanda, namun akhirnya Radin IntanII gugur di tangan Belanda karena kalah persenjataan dan kalah jumlah. Beliau wafat pada 5 Oktober 1856 pada usia 22 tahun.

Atas jasa-jasanya Radin Inten II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.048/TK/1998 dan namanya diabadikan sebagai nama sebuah Bandara dan nama perguruan tinggi IAIN di Lampung.

|| Sumber: Ensiklonesia-Ensiklopedi Tokoh Indonesia