Posts

John Gorrie; Penemu Air Conditioner

John Gorrie (3 Oktober 1803 – 29 June 1855) adalah seorang dokter, ilmuwan dan penemu. Ia lahir di Pulau Nevis di Kepulauan Leeward dari Hindia Barat pada 3 Oktober 1803, ia menghabiskan masa kecilnya di Carolina Selatan. Ia menempuh pendidikan medisnya di College of Dokter dan Ahli Bedah dari Distrik Barat New York di Fairfield, New York.

Pada tahun 1833, ia pindah ke Apalachicola, Florida, sebuah kota pelabuhan di pantai Teluk. Serta menjadi dokter residen di dua rumah sakit, Gorrie aktif di masyarakat. Pada berbagai waktu ia menjabat sebagai anggota dewan, Postmaster, Presiden Bank of Pensacola ini Apalachicola Branch, Sekretaris Masonik Lodge, dan salah satu vestrymen pendiri Gereja Trinity Episcopal.

Pada itu ada sebuah teori mengatakan bahwa udara yang buruk menyebabkan penyakit lazim dan berdasarkan teori ini ia dinginkan kamar dengan es dalam baskom dan digantung dari langit-langit, lalu menggunakan kipas angin sehingga hawa dari es tersebut dapat mendinginkan ruangan. 

Pada tahun 1845, ia menyerah praktek medis dan fokus mengejar proyek pendinginan. Pada tanggal 6 Mei, 1851, Gorrie diberikan Paten No 8080 untuk mebuat sebuah mesin es.

Gorrie berusaha untuk mengumpulkan uang untuk memproduksi mesinnya, namun usaha itu gagal ketika pasangannya meninggal. Ia juga menerima banyak kritikan. Kesehatannya terus menerus menurun, Gorrie meninggal di pengasingan pada 29 Juni 1855. Ia dimakamkan di Gorrie Square Apalachicola.

Mesin penemuannya kemudian dikembangkan oleh Willis Carrier yang kemudian dikenal sebagai penemu AC modern pada 1902. | sember: en.wikipedia.org

Louis Pasteur; Penemu Vaksinasi

Louis Pasteur (lahir di Dole, Jura, Franche-Comté, Perancis, 27 Desember 1822 – meninggal di Marnes-la-Coquette, Hauts-de-Seine, Perancis, 28 September 1895 pada umur 72 tahun) adalah ilmuwan yang berhasil menemukan vaksinasi.

Vaksin adalah bakteri dan virus yang telah dilemahkan. Jadi vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke tubuh manusia dengan tujuan untuk mendapatkan efek kekebalan terhadap penyakit tertentu. Jadi imunisasi adalah proses untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Louis Pasteur memulai kariernya sebagai ahli fisika di sebuah sekolah lanjutan atas. Pada tahun 1839, ia memasuki Royal College de Besançon dan meraih gelar baccalauréat ( BA ) pada tahun 1840. Dia diangkat menjadi asisten pengajar di perguruan tinggi Besançon sambil kursus matematika khusus.

Ia  dan Istrinya Marie Laurent, dikaruniai lima orang anak, hanya dua di antaranya selamat sampai dewasa, tiga lainnya meninggal karena tifus. Hal tersebut merupakan tragedi pribadi yang memotivasinya dalam menyembuhkan penyakit menular.

Pada usia 26 tahun ia sudah menjadi profesor di Universitas Strasbourg, kemudian ia pindah ke Universitas Lille dan di sana pada tahun 1856 ia melakukan penemuan yang berarti sangat besar bagi bidang kedokteran. Penemuan awalnya adalah pasteurisasi yaitu mematikan bakteri yang ada di susu dengan pemanasan.

Pasteur juga membuat penemuan penting dalam kimia, yakni teori dasar molekuler untuk kristal asimetri tertentu dan rasemisasi. Dia adalah Direktur Institut Pasteur yang didirikan pada tahun 1887. [] | sumber: id.wikipedia.org dan sumber lainnya.

Samuel Hahnemann; Bapak Pengobatan Alternatif

Christian Friedrich Samuel Hahnemann lahir 10 April 1755 di Meissen, adalah pencipta pengobatan alternatif yang sering disebut homeopati. Hahnemann belajar ilmu kedokteran selama dua tahun di Leipzig kemudian ia pindah ke Wina dan belajar selama sepuluh bulan.Dia lulus MD di University of Erlangen pada 10 Agustus 1779.

Hahnemann mahir dalam beberapa bahasa, termasuk Inggris, Perancis, Italia, Yunani dan Latin. Dia bekerja sebagai penerjemah dan guru bahasa, sampai akhirnya mendapatkan kemampuan lebih lanjut dalam “bahasa Arab, Siria, Chaldaic dan Ibrani”.

Homeopati adalah pengobatan alternatif yang diciptakan oleh Samuel Hahnemann pada abad ke-18. Teori dasar di balik homeopati adalah bahwa orang sakit dapat disembuhkan dengan menggunakan efek pantulan substansi yang menghasilkan gejala sakit pada orang sehat. Homeopati dipersiapkan dengan menambahkan banyak air dalam suatu substansi, mengocoknya, lalu mengambil sedikit air, menambahkannya ke banyak air, mengocoknya, dan proses ini diulang-ulang hingga 200 kali dalam beberapa pengobatan. Hahnmemann mengatakan ini akan mengeluarkan “kekuatan penyembuh yang ada pada obat”.

Samuel Hahnemann tidak puas dengan sistem pengobatan alopati yang sudah dia tekuni sejak masa pendidikannya di Fakultas Kedokteran di Jerman.Hal tersebut yang mendasari samuel meneliti sistem pengobatan homeopati

Pada tahun 1790 Dr.Hahnemann menterjemahkan sebuah buku berbahasa inggris karangan Dr.William Cullen  yang berjudul “ Cullen’s Materia Medika” ke dalam Bahasa Jerman. Dia menemukan teori yang berhubungan dengan aksi kulit pohon Peru (kulit pohon kina) dalam mengatasi malaria karena astringencynya. []

William Thomas Green Morton; Penemu Obat Bius Penghilang Rasa Sakit Saat Operasi

OPERASI atau pembedahan kepada pasien bukanlah hal asing di dunia Kedokteran saat ini. Namun apa jadinya jika prosedur operasi atau pembedahan tidak menggunakan obat bius atau anstesi? rasanya tentu begitu menyakitkan. Hal itu terjadi hingga seorang dokter gigi berkebangsaan Amerika menggunakan obat bius kepada pasiennya.

Ialah William Thomas Green Morton, seorang dokter gigi berkebangsaan Amerika Serikat yang lahir pada 9 Agustus 1819, di Charlton, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia sempat belajar di universitas Hartford, namun pada tahun 1841 ia keluar dari Universitas itu lalu mengikuti seorang dokter gigi bernama Horace Wells. Ia menjadi terkenal ketika berhasil mengembangkan proses solder gigi palsu ke piring emas pada tahun yang sama.

Lalu di tahun 1843, Morton menikah dengan Elizabeth Whitman di Farmington.Setahun kemudian, Morton kembali belajar diHarvard Medical School dan di didik oleh Dr. Charles T. Jacson. Dr. Charleslah yang telah memperkenalkan Morton dengan sifat anestesi eter, namun ia kembali keluar sebelum lulus. Pada 30 September, untuk pertama kalinya Morton melakukan pencabutan gigi pasiennya tanpa mengalami rasa sakit, karena diberi eter dan ia masuk di berita Koran karena berhasil mencabut gigi pasien tanpa rasa sakit.

Seorang ahli bedah bernama Henry Jacob Bigelow yang membaca berita itu, mencoba melakukan melakukan hal yang dilakukan Morton, ia mencobanya saat melakukan operasi pada pasiennya di Rumah Sakit Umum Massachusetts. Selain Jacob, cara tersebut juga digunakan oleh Dr. John Collins Warren saat melakukan operasi pengangkatan tumor di bagian leher seorang pasiennya bernama Edward Gilbert Abbott.

Karena eter berhasil dalam dunia medis, maka penggunaan eter telah menyebar hingga keseluruh dunia. Orang yang pertama kali menggunakan eter di Inggris adalah Robert Liston, dari University College Hospital pada tahun 1846.

Sebenarnya Morton mencoba untuk menyembunyikan asal mula letheon, namun segera di ubah dan ditemukan menjadi eter. Satu bulan kemudian letheon telah ia patenkan. Meskipun sudah dikenal luas bila pereda rasa sakit adalah eter, namun komunitas medis tidak menyetujuinya, karena menganggap eter tidak ilmiah. Morton meyakinkan teman-temannya bila ia tidak memberi batasan penggunaan eter dan menjelaskan bila ia mematenkannya untuk menjamin administrasi yang kompeten dan mencegah penyalahgunaan dan supaya tidak dikembangkan.

Namun Dr Wells dan Jackson mengaku sebagai penemunya, sehingga saat berlangsung kongres nasional pada tahun 1846, Morton dinyatakan gagal. Ia terus mencoba mencari rumus yang sama namun selalu gagal. Pada tahun 1852, ia mendapat gelar Ahli Bedah dari Washington University of Medicine di Baltimore. Pada tahun 1862, ia melakukan pelayanan public dengan bergabung sebagai dokter bedah sukarelawan bersama tentara Potomac, dan menggunakan eter dalam menyelamatkan para tentara tersebut.

Saat Morton akan meminta bantuan ke Central Park, ia kelelahan sehingga membuatnya pingsan dan meninggal dunia. Ia meninggal dunia pada Juli 1868 di New York City, ia dimakamkan di Mount Auburn Cemetery di Massachusetts, kota kelahirannya.

|Sumber: penemu.co

Penemu GPS Otak: Ketiga Ilmuan Ini Mendapatkan Nobel Kedokteran

Tanpa disadari otak manusia ternyata memiliki sistem navigasi yang baik. Sejarah penemuan sistem navigasi ini ada di sistem saraf kranial (baca: otak) yang pertama kali ditemukan oleh ilmuwan berdarah Amerika-Inggris, John O’Keefe, dan suami istri asal Norwegia, May-Britt Moser dan Edvard I. Moser, mendapatkan pengakuan dunia. Mereka menyabet Nobel Kedokteran dan berhak atas hadiah USD 1,1 juta (Rp 13,4 miliar) yang bakal diberikan pada 10 Desember, bebarengan dengan peringatan meninggalnya Alfred Nobel, pemrakarsa nobel.

Karolinska Institute di Stockholm, Swedia, yang bertugas menentukan pemenang nobel di bidang fisiologi atau kedokteran itu menjelaskan bahwa trio ilmuwan tersebut telah menemukan cara kerja otak yang menyerupai GPS. Otak tahu dimana kita dan bisa bernavigasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Tiga peneliti itu dianggap telah memecahkan masalah yang dihadapi para filsuf sejak ratusan tahun lalu.

Otak seperti halnya Global Positioning System (GPS), memiliki sistem navigasi yang memungkinkan manusia menciptakan sebuah peta dalam pikiran. Contohnya saat menginat parkir kendaraan, atau ketika mencari jalan pintas saat terjebak macet.

Selain kemampuan navigasi, ketiga ilmuwan tersebut juga menemukan sel-sel otak yang terkait dengan penyakit Alzheimer, penyakit di mana sel-sel saraf di otak mati dan tidak dapat mengenali lingkungan mereka.

Penelitian itu sebenarnya sudah dilakukan cukup lama, tepatnya pada 1971. Saat itu O’Keefe komponen utama ‘GPS’ pada sel otak tikus laboratorium. Sel otak yang disebut hippocampus itu terlihat aktif saat tikus berada di tempat yang berbeda, dari sini kemudian bisa dibuktikan bahwa ada sel dalam otak yang membentuk peta sebuah ruangan.

Temuan O’Keefe diperdalam, dan dilengkapi dengan hasil penelitian pasangan Mei-Britt dan Edvard Moser. Pada 2005 suami istri asal Norwegia itu menemukan komponen yang tak kalah penting pada sistem navigasi otak. Mereka menemukan sel saraf yang disebut ‘sel grid’. Sel inilah yang memunculkan titik-titik kordinat, dan terbentuklah sebuah lokasi dan sistem navigasi.

Temuan O’Keefe yang digabungkan dengan hasil penelitian Mei-Britt dan Edvard Moser membuktikan bahwa, sel otak manusia punya kemampuan menentukan titik kordinat dan sistem pembuatan peta yang canggih dan penemuan mereka menjawab teka teki mengapa tikus selalu bisa dengan tepat mengetahui posisi yang pernah disinggahi.|Dari berbagai sumber.

20141006Penerima_nobel_fisiologi_copy

Sejarah Penemu Global Positioning System

Dewasa ini, kebutuhan untuk mengetahui posisi keberadaan seseorang di muka bumi, menentukan arah yang harus ditempuh untuk menuju suatu tempat atau wilayah, mengetahui letak suatu wilayah, jarak tempuh dan waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu wilayah, dan hal-hal seperti ini akan memakan waktu serta biaya yang banyak, jika kita harus mengerahkan beberapa orang dalam beberapa tim untuk menyurveinya ke seluruh dunia.

Oleh karena itu, dibuatlah suatu alat atau sistem yang pada akhirnya melahirkan teknologi mutakhir yang mampu memenuhi semua kebutuhan manusia akan arah dan wilayah, yang disebut dengan teknologi GPS (Global Positioning System).

Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem navigasi yang memanfaatkan satelit. Penerima GPS memperoleh sinyal dari beberapa satelit yang mengorbit bumi. Satelit yang mengitari bumi pada orbit pendek ini terdiri dari 24 susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3 buah satelit sebagai cadangan. Dengan susunan orbit tertentu, maka satelit GPS bisa diterima di seluruh permukaan bumi dengan penampakan antara 4 sampai 8 buah satelit. GPS dapat memberikan informasi posisi dan waktu dengan ketelitian sangat tinggi.

Nama lengkap GPS adalah NAVSTAR GPS (Navigational satellite Timing and Ranging Global Positioning System), namun lebih sering dikenal sebagai GPS. GPS mulai diaktifkan untuk umum pada 17 Juli 1995.

Amerika Serikat merupakan negara pencetus dan pemrakarsa GPS. Pada dasarnya, bentuk sistem teknologi GPS sama dengan sistem navigasi radio pangkalan pusat, seperti LORAN dan Decca Navigator yang dikembangkan pada tahun 1940-an dan digunakan selama Perang Dunia II. Inspirasi pembuatan sistem GPS sebenarnya datang dari Uni Soviet yang pada saat itu, tahun 1957, meluncurkan satelit pertama mereka, Sputnik.

Sebuah tim ilmuwan AS yang dipimpin oleh Dr. Richard B. Kershner saat itu memonitor transmisi radio Sputnik. Mereka menemukan bahwa Efek Doppler berpengaruh pada transmisi radio, di mana sinyal frekuensi yang ditransmisi Sputnik sangat tinggi saat baru diluncurkan dan semakin rendah seiring dengan satelit menjauhi bumi. Mereka menyadari bahwa dengan mengetahui letak bujur lokasi mereka dengan tepat di peta dunia, mereka mampu melacak posisi satelit tersebut mengorbit berdasarkan tolak ukur penyimpangan Efek Doppler.

Transit, satelit sistem navigasi pertama yang digunakan oleh Angkatan Laut AS sukses diujicobakan pertama kali pada tahun 1960. Sistem yang menggunakan kumpulan dari lima satelit ini mampu menentukan posisi sekali tiap jamnya. Pada 1967, AL AS mengembangkan satelit Timation yang membuktikan kemampuannya dengan menetapkan waktu yang akurat di angkasa, merupakan teknologi acuan sistem GPS. Tahun 1970-an, Sistem Navigasi Omega pangkalan pusat, berdasarkan pembandingan fase sinyal, menjadi sistem navigasi radio pertama yang meliputi seluruh dunia.

Satelit percobaan pertama Block-I GPS diluncurkan pada Februari 1978. Satelit-satelit GPS pertama kali dibuat oleh Rockwell International (sekarang merupakan bagian dari Boeing) dan sekarang dibuat oleh Lockheed Martin (IIR/IIR-M) dan Boeing (IIF).
Arah dan posisi suatu wilayah memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aktivitas. Dan seringkali proses atau cara yang digunakan untuk mendapatkannya tidak praktis. Kehadiran teknologi GPS telah menjawab tantangan yang ada untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan teknologi ini manusia dapat mengetahui posisi secara real time dan juga arah jalan yang dituju.Sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih awam dengan gadget canggih yang satu ini. Hal ini mungkin dikarenakan penggunaan GPS hanya bagi mereka yang berkendaraan. Namun, tak dapat dipungkiri, faktor penghambat lain yang utama adalah GPS masih merupakan barang mahal bagi masyarakat kita.

Kebutuhan manusia akan arah dan letak memang merupakan barang langka yang baru bisa dipenuhi satu dekade terakhir ini. Penemuan dan pengembangan teknologi GPS merupakan terobosan suskes manusia yang semakin merealisasikan ungkapan “dunia dalam genggaman manusia”. Bagaimana tidak jika teknologi GPS yang dengan bantuan “kroni-kroni” satelitnya mampu merekam bumi dari berbagai sudut ini bahkan sudah dimasukkan ke dalam teknologi telpon genggam yang sudah marak beredar di pasaran saat ini.|Dari berbagai sumber.

Niels Ryberg Finsen; Sang Penemu Pengobatan Penyakit Lupus

Niels Ryberg Finsen (15 Desember 1860-24 September 1904) dokter dan pemenang Hadiah Nobel dari Denmark yang membuat penemuan penting mengenai penggunaan gelombang cahaya dalam pengobatan penyakit.

Finsen menamatkan pendidikan awalnya di Denmark dan di Reykjavik, Islandia. Pada 1891 Finsen mengikuti Universitas Kopenhagen di Denmark, menerima gelar dokternya. Ia kemudian mengajar anatomi di Departemen Pembedahan. Namun  pada 1893 ia memutuskan untuk mencurahkan dirinya secara penuh untuk mempelajari “fototerapi,” atau efek cahaya bernilai pengobatan. Pada 1896 ia mendirikan Institut Cahaya di Kopenhagen.

Pada 1903 untuk sumbangan pencangkulan pertamanaya pada bidang baru fototerapi, Niels Finsen menerima Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran. Finsen telah tertarik dengan efek cahaya matahari terhadap makhluk hidup. sejak usia belia.

Pada 1893 ia mulai mempelajari penggunaan cahaya matahari yang disaring dalam pengobatan luka kulit yang disebabkan oleh cacar, penyakit virus.  Cahaya merah—cahaya dari akhir spektrum merah—dengan cahaya panasnya yang berbahaya yang disaring, membuktikan kesuksesan dalam mengembangkan penyembuhan luka cacar.

Sukses dengan karya penting pada fototerapi pada 1893 dan 1894, Finsen mulai meneliti pengobatan lupus vulgaris.  Finsen telah mencatat penemuan peneliti sebelumnya, yang menemukan bahwa cahaya dapat membunuh bakteri. , Finsen menampakkan jaringan yang sakit pada konsentrasi tinggi sinar ultraviolet dengan memfokuskan cahaya buatan melalui prisma.

Lupus adalah penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru sehingga mulai menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri.

Cara ini membuktikan keefektifan tinggi dalam pengobatan lupus vulgaris. Finsen mendirikan Institut Cahaya-nya di Kopenhagen, disana ratusan pasien lupus vulgaris secara berhasil disembuhkan lebih dari beberapa tahun berikutnya. Penggunaan sinar ultraviolet menjadi pengobatan pokoq untuk lupus vulgaris selama sekian dasawarsa. |sumber: id.wikipedia.org

Sejarah dan Penemu Bilangan Biner Modern

SISTEM bilangan biner atau sistem bilangan basis dua adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17 dan muncul dalam artikelnya penjelasan de l’ Arithmétique Binaire . Judul lengkap diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai ”Penjelasan dari aritmatika biner , yang hanya menggunakan karakter 1 dan 0 , dengan beberapa catatan mengenai kegunaannya , dan lampu melempar pada angka Cina Fu XI”.

Sistem ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal. Sistem ini juga dapat disebut dengan istilah bit atau Binary Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8, dengan istilah 1 Byte/bita. Dalam istilah komputer, 1 Byte = 8 bit. Kode rancang bangun komputer, seperti ASCII, American Standard Code for Information Interchange menggunakan sistem pengkodean 1 Byte.

Gottfried Wilhem Leibniz atau kadangkala dieja sebagai Leibnitz (1 Juli (21 Juni menurut tarikh kalender Julian) 1646 – 14 November 1716) adalah seorang filsuf Jerman keturunan Sorbia dan berasal dari Sachsen. Selain seorang filsuf, ia adalah ilmuwan, matematikawan, diplomat, ahli fisika, sejarawan dan doktor dalam hukum duniawi dan hukum gereja. Ia dianggap sebagai Jiwa Universalis zamannya dan merupakan salah seorang filsuf yang paling berpengaruh pada abad ke-17 dan ke-18.

Perhitungan dalam biner mirip dengan menghitung dalam sistem bilangan lain. Dimulai dengan angka pertama, dan angka selanjutnya. Dalam sistem bilangan desimal, perhitungan mnggunakan angka 0 hingga 9, sedangkan dalam biner hanya menggunakan angka 0 dan 1. Contoh: mengubah bilangan desimal menjadi biner. Desimal = 10. Berdasarkan referensi diatas yang mendekati bilangan 10 adalah 8 (23), selanjutnya hasil pengurangan 10-8 = 2 (21). sehingga dapat dijabarkan seperti berikut 10 = (1 x 23) + (0 x 22) + (1 x 21) + (0 x 20). dari perhitungan di atas bilangan biner dari 10 adalah 1010.|Dari berbagai sumber.

Robert Heinrich Herman Koch; Penemu Penyebab Tuberkolosis

Robert Heinrich Herman Koch lahir di Clausthal, Kerajaan Hanover, Jerman, 11 Desember 1843 – meninggal di Karlsruhe, Keharyapatihan Baden, 27 Mei 1910 pada umur 66 tahun), dianggap sebagai pendiri modern bakteriologi. Sebagai hasil dari terobosan penelitian pada Tubercle bacillus (TB), Koch menerima Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada 1905.

Tuberkulosis (Tuberculosis, disingkat Tbc), atau Tb (singkatan dari “Tubercle bacillus“) merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis (disingkat “MTb” atau “MTbc”).

Selama waktunya sebagai penasihat pemerintah dengan Imperial Departemen Kesehatan di Berlin pada 1880, Robert Koch menjadi tertarik pada TB penelitian. Pada saat itu, secara luas diyakini bahwa TBC adalah penyakit bawaan. Namun, Koch yakin bahwa penyakit itu disebabkan oleh bakteri dan menular, dan diuji empat postulat menggunakan kelinci percobaan. Melalui percobaan ini, Koch menemukan bahwa eksperimen dengan tuberkulosis puas keempat postulat nya. Pada 1882, ia menerbitkan penemuannya tentang TBC, di mana ia menemukan agen penyebab penyakit menjadi lambat tumbuh Mycobacterium tuberculosis. Karyanya dengan penyakit ini memenangkan Koch yang Nobel dalam Fisiologi dan Kedokteran pada 1905.

Selain itu, penelitian Koch pada tuberkulosis, bersama dengan studi tentang penyakit tropis, dia memenangkan Orde Prusia Pour le Kemuliaan pada 1906 dan Robert Koch medali, didirikan untuk menghormati dokter hidup terbesar, pada 1908.

Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru dan dapat berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatikdan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50% orang yang terinfeksi bisa meninggal.

Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari, dan berat badan turun (dahulu TB disebut penyakit “konsumsi” karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami kemerosotan berat badan). Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Pengobatan sulit dilakukan dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama. Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu. Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR). Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette–Guérin.

Tuberkulosis tidak tersebar secara merata di seluruh dunia. Dari populasi di berbagai negara di Asia dan Afrika yang melakukan tes tuberkulin, 80%-nya menunjukkan hasil positif, sementara di Amerika Serikat, hanya 5–10% saja yang menunjukkan hasil positif. Masyarakat di dunia berkembang semakin banyak yang menderita Tuberkulosis karena kekebalan tubuh mereka yang lemah. Biasanya, mereka mengidap Tuberkulosis akibat terinfeksi virus HIV dan berkembang menjadi AIDS. Pada 1990-an Indonesia berada pada peringkat-3 dunia penderita TB, tetapi keadaan telah membaik dan pada tahun 2013 menjadi peringkat-5 dunia. |Dikutip dari berbagai sumber

 

 

Glenn Theodore Seaborg Penemu Sepuluh Unsur Transuranium

Glenn Theodore Seaborg seorang ilmuan berkebangsaan Amerika Serikat yang lahir pada 19 April 1912, Ishpeming, Michigan. Ia bergerak di bidang kimia nuklir. Seaborg dikenal Kontribusiya sebagai bagian dari tim untuk sintesis, penemuan dan penyelidikan dari sepuluh unsur transuranium.

Glenn Theodore Seaborg adalah seorang ahli kimia Amerika yang terlibat dalam sintesis, penemuan dan penyelidikan dari sepuluh unsur transuranium yang membuatnya mendapatkan bagian dari hadiah nobel kimia tahun 1951. Hasil karyanya tersebut menyebabkan pengembangan tentang konsep aktinida dan susunan seri aktinida dalam tabel periodik unsur.

Seaborg menghabiskan sebagian besar karirnya sebagai seorang pendidik dan ilmuwan peneliti di University of California, Berkeley, menjabat sebagai profesor. Antara tahun 1958 dan 1961 ia menjadi kanselir kedua universitas. Ia menyarankan sepuluh Presiden AS – dari Harry S. Truman ke Bill Clinton – kebijakan nuklir dan Ketua Komisi Energi Atom Amerika Serikat 1961-1971, ia mendorong untuk energi nuklir komersial dan aplikasi ilmu nuklir damai. Sepanjang karirnya, Seaborg bekerja untuk pengawasan senjata. Dia adalah seorang penandatangan Laporan Franck dan berkontribusi pada Uji Terbatas Ban Treaty, yakni Nuclear Non-Proliferation Treaty dan Comprehensive Test Ban Treaty . Dia adalah seorang advokat terkenal pendidikan sains dan pendanaan federal untuk penelitian murni. Menjelang akhir pemerintahan Eisenhower, ia adalah penulis utama Laporan Seaborg pada ilmu pengetahuan akademik, dan sebagai anggota Presiden Ronald Reagan ‘s Komisi Nasional Keunggulan dalam Pendidikan, dia adalah seorang kontributor kunci untuk 1983 laporan  “A Nation at Risk”.

Seaborg adalah kepala sekolah atau co-penemu sepulu helements: plutonium, americium, curium, berkelium, californium, einsteinium, fermium, mendelevium, nobelium and Unsur 106, yang sementara ia masih hidup, bernama Seaborgium menghormatinya. Dia juga menemukan lebih dari 100 atom isotop dan dikreditkan dengan kontribusi penting untuk plutonium kimia, awalnya sebagai bagian dari Proyek Manhattan di mana dia mengembangkan proses ekstraksi yang digunakan untuk mengisolasi bahan bakar plutonium untuk bom atom kedua. Pada awal karirnya, dia adalah seorang pelopor dalam kedokteran nuklir dan menemukan elemen isotop dengan aplikasi penting dalam diagnosis dan pengobatan penyakit, terutama yodium-131, yang digunakan dalam pengobatan penyakit tiroid. Selain karya teoretisnya dalam pengembangan konsep aktinida, yang menempatkan seri aktinida bawah lantanida seri pada tabel periodik, ia mendalilkan adanya unsur super berat di transactinide dan seri superactinide.

Setelah berbagi Hadiah Nobel Kimia tahun 1951 dengan Edwin McMillan , ia menerima sekitar 50 gelar doktor kehormatan dan banyak penghargaan dan kehormatan lainnya. Daftar hal-hal yang dinamai Seaborg berkisar dari unsur atom untuk asteroid. Dia adalah seorang penulis produktif, menuliskan berbagai buku dan 500 artikel jurnal, sering bekerja sama dengan orang lain. Dia pernah tercantum dalam Guinness Book of World Records sebagai orang dengan banyak masukan terpanjang Who’s Who in America. 

Seaborg meninggal: 25 Februari 1999 (umur 86) Lafayette, California. Dari berbagai sumber