Posts

Potret Keramaian Saat Daftar Ulang Dan Wawancara Mahasiswa Baru 2016

KEGIATAN daftar ulang dan wawancara mahasiswa baru Universitas Malahayati berlangsung ramai pada Rabu, 14 September 2016. Ini adalah hari pertama daftar ulang dan wawancara oleh para mahasiswa baru yangt didampingi oleh orang tua wali. Daftar ulang dan wawancara mahasiswa baru diadakan hingga 18 September 2016 sebelum adzan dzuhur.

Kini Universitas Malahayati dipadati oleh mahasiswa baru beserta wali dari berbagai daerah baik Lampung maupun luar Lampung. Terlihat begitu ramai di setiap stand yang sudah disediakan oleh panitia. Begitu antusias para mahasiswa baru berserta wali di hari pertama daftar ulang.

Berikut potret keramaian saat daftar ulang dan wawancara mahasiswa baru 2016:

img_20160914_113006 img_20160914_112901 img_20160914_112841  img_20160914_112812 img_20160914_113522  img_20160914_113511 img_20160914_113017 img_20160914_112957

 

Batas Penerimaan Mahasiswa Baru Untuk Profesi Ners Tahun 2016/2017

BATAS Penerimaan mahasiswa baru untuk Profesi Ners tahun 2016/2017 adalah sampai 18 Agustus 2016. Silahkan segera daftarkan diri karena Kuota penerimaan terbatas untuk mahasiswa baru Profesi Ners tahun ini. Wakil Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Malahayati, Muhammad, S Kom, MM, mengatakan untuk para calon mahasiswa yang ingin mendaftar, silahkan datang lansung ke Sekretariat PMB di Malahayati di Gedung Perpustakaan Pusat Lantai 8, Jalan Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar Lampung, Telp (0721)273592, 271112; — Fax: (0721) 271119.

Muhammad juga mempersilahkan untuk mengontak dirinya secara langsung. Ia siap memberi pelayanan yang sebaik-baiknya pada calon mahasiswa yang akan menimba ilmu di Universitas Malahayati. Program Profesi Ners Universitas Malahayati telah terakreditasi B, Nomor SK 488/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2014.

SYARAT PENDAFTARAN
• SMU/SMA atau sederajat
• Foto Copy STTB atau Ijazah 3 Lembar dan Hasil ujian Nasional 1 lembar (legalisir)
• Khusus untuk Jurusan Kesehatan (Kedokteran Umum, Keperawatan, Kebidanan, Farmasi, dan Kesehatan Masyarakat) syarat utama memiliki surat keterangan sehat dan surat keterangan tidak buta warna dari dokter.
• Khusus untuk Fakultas kedokteran Umum Harus lulusan SMA jurusan IPA.
• Untuk program studi DIII Kebidanan dan DIV Kebidanan. Tinggi bdan minimal 150 cm.
• Tinggi Badan untuk DIIi Keperawatan : Laki – laki 155 cm. Perempuan 150 cm.
• Untuk Siswa yang belum lulus dari SMA/SMU boleh memberikan syarat surat keterangan masih sekolah dari Kepala Sekolah dan foto copy raport kelas 1-3.

Untuk Keterangan Tambahan bisa menghubungi kontak di bawah ini:
CP : Muhammad, S.Kom.,MM (0821 8688 9977), Email : muhammad.6889977@gmail.comØ
Atau bisa langsung datang ke Sekretariat Pendaftaran: ke Sekretariat PMB Uniersitas Malahayati di Gedung Perpustakaan Pusat Lantai 8.[]

 

Destiawati: Mahasiswa Tinggal di Asrama adalah Sistem yang Baik

Penerimaan mahasiswa asrama sudah mulai dipadati oleh mahasiswa baru. Seperti Dea Murniati, cita-citanya mengantarkan ia untuk menimba ilmu di Universitas Malahayati. Dan mahasiswa asal Sorong, Ternate ini memilih tinggal di asrama Green Dormitory VIP sebagai tempat tinggalnya.

Keinginanya berkuliah disini sangat didukung oleh kedua orang tuanya, khususnya sang bunda. “Kita sebagai orang tua hanya mengarahkan dan mendukung, selebihnya tergantung anak,” ujar Destiawati, ibunda Dea saat ditemui tim malahayati.ac.id di asrama VIP Rabu 2 September 2015.

Gadis lugu kelahiran Jakarta, 28 Maret 1998 ini mengaku terkesan dengan Malahayati, itu yang membuatnya tertarik dengan Fakultas Kedokteran disini. Sama halnya dengan sang ibunda, “selain lingkungan kampus yang mendukung dan fasilitas asrama yang memadai, peraturan yang mengatur tentang asrama juga adalah sistem yang baik,” ujar Destiawati.

Destiawati menambahkan pendapatnya mengenai santunan anak yatim disini, “hal yang tak pernah terpikirkan tetapi kampus ini mewajibkan mahasiswanya untuk menyantuni anak yatim dan saya sangat mengapresiasi itu,” ujarnya.[]

Niken Veladita; Tentang Ramainya Peminat Akafarma Malahayati

NIKEN Veladita adalah salah satu staf pengajar Akafarma Malahayati yang terlibat dalam Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Malahayati. Sesuai dengan tempatnya mengajar, maka fokusnya adalah Akafarma Malahayati.

Ia menjelaskan, saat ini sangat ramai lulusan sekolah lanjutan atas yang ingin menimba ilmu di Akafarma Malahayati. Sebab itu, PMB telah membuat beberapa lokasi penerimaan mahasiswa untuk pelayanan yang lebih baik.

“Pihak Akafarma sudah menyebarluaskan panitia-panitia PMB di sekolah-sekolah dan membuat tenda-tenda stand di Politeknik Kesehatan Tanjung Karang (Poltekkes), untuk Registrasi pendaftaran. Saat ini banyak sekali peminat yang hendak menimba ilmu di Akafarma,” katanya.

Kebanyakan calon mahasiswa yang mendaftar sebagian besar dari luar kota Bandar Lampung, katanya.

Regulasinya sendiri masih sama dengan PMB sebelumnya, untuk Akafarma sendiri tidak boleh buta warna dan kemudian harus ada test kesehatan dari rumah sakit, yang menyatakan bahwa calon mahasiswa ini sehat, katanya.

kemudian setelah mengumpulkan syarat-syarat, dan sekaligus mengumpulkan surat keterangan sehat tersebut diserahkan langsung ke PMB dan langsung mengikuti test, dan disitu akan langsung ditentukan diterima atau tidaknya. Jadi, test tersebut dilakukan secara langsung, dan tidak secara kolektif, “ujarnya.[]

Hardini Arinigrum; Ayo Buruan Daftar ke Fakultas Ekonomi

“KAMI sudah melempar bola, tinggal menunggu bola itu kembali”. Begitu istilah kata yang diucapkan salah satu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malahayati, Hardini Ariningrum. Jadi, kami hanya tinggal menunggu hasil dari apa yang telah kami kerjakan.

Mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), pihak kampus telah menyebarluaskan informasi kepada keluarga, masyarakat sekitar dan masyarakat umum.

Media penyebaran melalui media langsung, media brosur dan media website atau online.

Sejauh ini penerimaan calon mahasiswa masih dibuka untuk umum hingga tanggal 25 Agustus 2015.

Khusus untuk Fakultas Ekonomi dan Teknik ada potongan biaya sumbangan wajib sebesar Rp.4.000.000,00 bagi yang mendaftar sebelum 1 Agustus 2015.

Selain itu, Universitas Malahayati juga punya asrama putra/i yang memudahkan mahasiswa agar tidak sulit mencari tempat tinggal, juga lebih terkontrol.

Banyak keuntungannya juga tinggal di asrama, sebab banyak fasilitas yang tersedia yaitu kolam renang, lapangan olahraga, cuci laundry gratis dan masih banyak lagi.

Info lebih lanjut bisa kunjungi website kami di www.malahayati.ac.id

Potret Penerimaan Mahasiswa Baru Gelombang ke-3

Gelombang III penerimaan mahasiswa baru, Universitas Malahayati sudah berjalan sesuai jadwal. Para pendaftar dari dalam dan luar daerah Lampung mulai memilih Malahayati sebagai tempatnya menuntut ilmu beberapa tahun kedepan.

Hari ini saja, 23 Juli 2015, sejak pagi calon mahasiswa baru berbondong-bondong mendaftar bersama orang tuanya agar tidak kehabisan kuota. Untungnya, panitia PMB selalu siap dan sigap dalam melayani setiap calon mahasiswa demi efektifitas dan kenyamanan mereka.

Ruangan sekretariat PMB semakin lama semakin ramai, satu persatu pendaftar masuk melalui pintu ditemani keluarganya, mereka yang sudah mengisi formulir langsung mengikuti ujian masuk Universitas. Sedangkan yang sedang menunggu giliran test, bisa menunggu di ruang tamu sambil menonton film yang diputarkan agar tidak bosan. Bagi mereka juga disiapkan air mineral jika merasa haus.

Begini momen yang sempat diambil tim malahayati.ac.id:

Calon Maba mengisi formulir

Calon Maba mengisi formulir

Calon Maba mengisi formulir sambil diarahkan oleh petugas

Calon Maba mengisi formulir sambil diarahkan oleh petugas

Calon Maba Sedang test masuk Unimal

Calon Maba Sedang test masuk Unimal

Maba asal jambi bersama keluarga di beri penjelasan oleh panitia

Maba asal jambi bersama keluarga di beri penjelasan oleh panitia

Maba asal Lampung bersama keluarga di beri penjelasan oleh panitia

Maba asal Lampung bersama keluarga di beri penjelasan oleh panitia

Rizki, Dokter yang Rahmatan Lil Alamin

JANJI bertemu dipenuhinya tepat waktu, itu mengisyaratkan kedisiplinannya menjalani hidup. Caranya berdiskusi; mendengar dengan seksama, berfikir sebelum menjawab, menerangkan dengan struktur kalimat yang runut dan jelas, itu menunjukkan kecermatannya dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Ketika ia menyebutkan tokoh idolanya adalah Ibnu Sina, maka ia menyingkap identitasnya. “Siapapun yang menggeluti ilmu kedokteran tentu tahu Ibnu Sina. Sampai sekarang saya masih membaca bukunya tentang kedokteran,” kata Muhammad Rizki, alumni Universitas Malahayati yang kini adalah seorang dokter dan sedang mengabdi di pelosok perkampungan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Ibnu Sina yang disebut Rizki itu tak lain adalah ilmuan Islam yang paling terkenal di dunia. Tokoh ini bernama lengkap Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina (980-1037). Ia seorang filsuf, ilmuan, dan juga dokter yang berasal dari Persia (Uzbekistan), yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern.

Selama hidupnya, Ibnu Sina telah mengarang 450 buku. Karyanya yang sangat terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb). Buku-buku itulah yang didalami Rizki ketika menimba ilmu kedokteran di Universitas Malahayati. “Sungguh luar biasa. Ibnu Sina menulis bukunya berabad-abad yang lalu, sampai kini kita masih membaca dan mempelajarinya,” kata Rizki.

****

LAPANGAN Golf itu terletak di sebelah kanan Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Di sinilah Rizki menerima saya untuk ngobrol ringan akhir pekan pada pukul 12,00, Sabtu 30 Mei 2015. Kami memilih kursi di pojok kiri tempat yang bernama Rizki Golf ini.

Pemuda kelahiran Lampoh Keudee, Aceh Besar, pada 1989 ini, berpenampilan sederhana. Mengenakan t-shirt biru dan celana gelap serta sepatu sport warna hitam. Ketika bersua, ia langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk salaman. Berkulit putih, ia membiarkan kumis dan janggutnya tumbuh begitu saja.

Saya memulai pembicaraan dengan bertanya, “apa sebenarnya yang dicari dalam hidup Ini?”. Sejenak Rizki memandang hamparan rerumputan yang terpangkas rapi lapangan golf. “Sejatinya saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin berada dalam kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain, bagi masyarakat luas,” katanya.

Kehidupan yang seperti itu pula yang kemudian mengantarkan Rizki menempuh pendidikan kedokteran. Ia mengawali pendidikan dasarnya di Aceh, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati pada 2008. Empat tahun kemudian ia menyelesaikannya.

Selanjutnya ia koas di Kuningan, Jawa Barat. Setelah itu ia mengabdi di Muaro Jambi, di Rumah sakit tipe D, sejak Februari 2015. Ini rumah sakit yang stratanya paling bawah. Di sinilah Rizki menemukan realita kehidupan yang paling mendasar. “Banyak hal yang kita temukan dalam realitas kehidupan. Dan itu tidak kita temukan dalam buku di kuliahan,” kata Rizki.

Tempat Rizki mengabdi sekarang adalah perkampungan yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai buruh perkebunan. Mereka rata-rata hidup pas-pasan. “Ketika mereka sakit dan membutuhkan pertolongan, maka kita juga harus memikirkan bagaimana mereka bisa berobat hingga sembuh namun jangan sampai keluarganya malah kelaparan,” kata Rizki.

Menyangkut masalah sosial ekonomi seperti itu, Rizki dan sejawatnya yang bertugas di pelosok menempuh solusi dengan membuat semacam celengan. Mereka mengumpulkan uang yang digunakan saat ada anggota masyarakat membutuhkannya. “Dengan itulah kita membeli obat dan membiyai pengobatan,” kata Rizki.

Dinamika sosial seperti itu, kata Rizki, pasti akan bersentuhan dengan seorang dokter. Selain itu, kata Rizki, ada juga soal budaya. “Misalnya, pengalaman saya sendiri, tentu menemukan perbedaan budaya yang tajam di Kuningan, Jawa Barat, dan di Jambi. Perbedaan karakter orang Jawa dan Sumatera, maka berbeda pula cara menanganinya,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Rizki, penting bagi seorang dokter untuk mengetahui dan memahami kearifan lokal di setiap daerah yang akan dilaluinya. “Jangan sampai, kita yang berniat baik malah nanti ditanggapi berbeda,” katanya.

“Begitu juga soal bahasa daerah, setidaknya ketika berada di satu daerah kita juga memahami bahasa lokalnya. Minimal bahasa percakapan yang paling dasar. Sehingga tak ada kendala saat kita berada di lapangan.”

Bagi Rizki, ilmu kedokteran adalah penggabungan seni dan ilmu pengetahuan. Sehingga, menjadi sesuatu yang sangat menarik didalami dalam kehidupan ini. “Tak semata-mata materi. Intinya adalah bagaimana dalam kehidupan ini kita menjadi sangat berarti. Kita benar-benar hidup dalam arti yang sebenarnya,” katanya.

Karena itu, Rizki ingin menambah perbendaharaan ilmunya dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan. Namun ia bukan orang yang berkemauan berlebihan, ia belum ingin melanjutkan sampai ke luar negeri. “Di Indonesia saja, sebab saya ingin mengabdi di negeri sendiri. Jadi alangkah baiknya jika ilmu yang saya dapat juga dari dalam negeri,” katanya.

Rizki berkata bukan tanpa alasan. Menurut Rizki, di setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Bahkan termasuk karakter kumannya pun berbeda. Misalnya, seseorang yang terkena infeksi di Malaysia, akan berbeda unsur bakterinya dengan orang di Indonesia. “Jadi saya memilih pendidikan dengan tempat penerapan yang sesuai juga,” katanya.

Namun, saya masih penasaran untuk mencari tahu inti dari pendidikan yang ditekuninya ini. Sehingga timbul pertanyaan, “apa sebetulnya yang menarik dari ilmu kedokteran?”

Rizki kembali merenungkannya. Ia lalu menghela nafasnya secara perlahan. Kami beradu pandang saat ia menoleh, dan menjawab pertanyaan saya.

“Sangat menarik, semakin saya mendalaminya semakin saya memahami bahwa kehidupan di alam ini ada yang mengaturnya. Pada akhirnya saya ingin menjadi dokter yang Rahmatan lil Alamin,” kata Rizki. Sejenak kami berdua terdiam.

****

JENUH duduk di tepi lapangan golf, kami sepakat beranjak ke tempat lain. Pilihannya jatuh ke lapangan futsal di lantai tujuh gedung rektorat. Kami berjalan dan menaiki tangga menuju lapangan futsal. Di sana ada tiga lapangan futsal.

Setelah dari lapangan futsal, kami berdiri di balkon lantai tujuh. Rizki memandang hamparan gedung-gedung perkuliahan di kompleks Universitas Malahayati ini. Berada di lahan 84 hektar, gedung-gedung ini bertebar di antara pepohonan rimbun dipayungi awan bak lukisan berkanvaskan langit biru.

Di sini, Rizki mengutarakan harapannya. “Saya berharap kampus ini lebih baik lagi, dari segi fasilitas, dan juga kualitasnya. Kita jangan menutup diri pada kekurangan, ini perlu kita minimalisir, sedangkan kelebihannya perlu kita eksplor lebih jauh,” katanya.

Ia juga memesan kepada khalayak yang berkaitan dengan Universitas Malahayati untuk betul-betul menjaga nama baik almamater. “Jika ada kekurangan, mari perbaiki bersama-sama. Jika kita sudah menjadi almamater, otomatis dalam kehidupan bermasyarakat pun kita tidak lagi membawa diri kita sendiri. Pada diri kita melekat almamater juga,” kata Rizki.

Soal almamater ini, Rizki pernah mendapat nasihat dari seorang guru besar. “Beliau memesan jangan kita mengumbar keburukan almamater, sebab itu sama saja dengan memperburuk diri sendiri,” katanya.

Selain itu, Rizki juga memesan agar mahasiswa di Universitas Malahayati segera memprakarsai ikatan alumni. “Ini sangat berguna. Selain memperkuat tali persaudaraan, juga mempermudah komunikasi berbagai hal yang berkaitan dengan berbagai informasi,” katanya.

Usai berbincang singkat di balkon, kami turun. Di teras rektorat kami pun berpisah. Rizki kembali mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ia, pemuda yang rendah hati. []

Pendapat Mahasiswa Tentang Perpustakaan Malahayati

HIJAU dan teduhnya suasana perpustakaan Universitas Malahayati, Bandarlampung. Lumbung ilmu terbesar di kampus ini diberi nuansa nusantara dari Sabang sampai Meurauke. Berjejer berbagai rumah adat dari berbagai daerah menjadi tempat mahasiswa belajar.

Shelva salah satu pengunjung perpustakaan mengaku senang berkunjung ke perpustakaan untuk mencari bahan tugas. “Nyaman,” kata mahasiswi Prodi Akafarma Universitas Malahayati ini. “Suarjana dan fasilitasnya sangat bagus dan baik.”

Di malam hari pun mahasiswa ada yang belajar di sini. Misalnya, ketika malahayati.ac.id berkunjung ke sini, ada sekelompok asisten dosen Lab Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati yang akan melaksanakaan persamaan presepsi. Mereka sedang mempersiapkan kegiatan praktikum.

“Kami memanfaatkan tempat yang tenang di perpustakaan sehingga kosentrasi bisa tejaga,” kata Elang, asisten dosen lab fisiologi angkatan 2013.

Elang mengatakan sangat sering datang ke perpustakaan, karena fasilitas yang menunjang sangat lengkap. Ia berharap koleksi buku diperbanyak. “Karena sangat menunjang pembelanjaran di fakultas,” kata Elang.

Mari Keliling Indonesia di Perpustakaan Malahayati!

PENASARAN kan bagaimana rasanya keliling Indonesia di dalam sebuah perpustakaan? Perpustakaan Universitas Malahayati yang terletak di lantai 8 gedung F ini menawarkan pengalaman berkeliling Indonesia ditemani buku-buku referensi yang cukup lengkap. Nah, seperti apakah suasana perpustakaan yang unik ini?

Ketika pertama melangkahkan kaki di pintu perpustakaan kita akan disambut cahaya lampu yang lembut. Jika mengarahkan mata ke depan, maka akan tampak sulur-sulur pohon anggur di sekitar papan yang memuat daftar nama-nama rumah adat dari 34 provinsi di indonesia.

Tolehkan kepala ke kiri maka kita akan melihat bagian administrasi umum serta loker tempat menyimpan tas dan barang-barang bawaan yang lain. Di sebelah kanan adalah bagian sirkulasi tempat meminjam dan mengembalikan buku.

Konsep perpustakaan yang bernuansa budaya Nusantara ini diprakarsai langsung Ketua Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi H. Rusli Bintang. Dibangun sebagai sarana untuk menunjang proses belajar mahasiswa serta sebagai bentuk pelestarian budaya, fasilitas di perpustakaan ini disediakan cukup lengkap mulai dari meja, kursi, papan tulis, LCD, AC dan mesin fotokopi. Fasilitas ini dapat dinikmati oleh semua prodi bahkan oleh mahasiswa dan masyarakat umum dengan syarat menjadi anggota perpustakaan.

Jika berjalan berkeliling, maka kita akan melihat ke-34 rumah adat dibangun mengelilingi sebuah sungai kecil. Hal yang menarik dari rumah adat ini adalah pembangunannya yang melibatkan orang-orang dari daerah asal mereka masing-masing. Misalnya rumah adat Bali yang dibangun langsung oleh orang Bali dan rumah adat Jawa Tengah yang dibangun oleh orang asli Jawa Tengah.

Selain rumah adat, perpustakaan ini juga dilengkapi dengan beberapa pohon yang memberikan kesan teduh dan sejuk serta kursi-kursi berbentuk angsa dan gajah yang nyaman untuk membaca. Di tengah  sungai kecil yang melingkar bederet rak-rak berisi buku bacaan,mulai dari buku teknik, kesehatan, ekonomi dan farmasi, semuanya tersedia.

Di dekat rumah adat Aceh yang sekaligus berfungsi sebagai mushola, kita akan mendapati sebuah pintu untuk masuk ke ruang baca yang bernuansa modern. Diadaptasi dari gaya interior negeri kincir angin Belanda, ruangan ini tampak sangat elegan dan nyaman.

Ruangan ini terdiri dari sebuah ruang pustaka digital, 14 ruang belajar dan diskusi serta sebuah ruang referensi. Ruang belajar dan diskusi disediakan dalam dua bentuk, yang pertama kita bisa memilih duduk di kursi dan pilihan kedua kita bisa duduk di sofa atau lesehan.

“Sayangnya masih ada mahasiswa yang tidak kenal dengan perpustakaannya sendiri, padahal fasilitas perpustakaan ini sudah sedemikian lengkap dan bisa digunakan oleh semua prodi bahkan oleh masyarakat umum sekalipun,” ungkap Meni Sutarsih, S. Pd, M. Si. selaku Ketua Perpustakaan Unimal.

Sudah terbayang kan bagaimana luar biasanya perpustakaan Universitas Malahayati? Tunggu apa lagi, ayo ke perpustakaan sambil keliling Indonesia!