Posts

Penemuan Vaksin Baru Ini Akan Bantu Musnahkan Polio

VIRUS Polio kini sudah diambang kepunahan, dengan hanya 74 kasus yang dilaporkan diseluruh dunia pada tahun 2015. Fakta di atas sangat berbanding jauh jika mengingat 3 dasawarsa silam yang mencapai 1000 anak perharinya terjangkit virus mematikan ini. Namun ada kemungkinan kemunculan kembali virus ini  lewat tempat yang menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar (bicontainment). Meski risikonya kecil, namun tak bisa diremehkan begitu saja. Maka dari itu, para peneliti sekarang mulai mengembangkan sekelompok virus polio untuk digunakan dalam generasi vaksin baru yang dapat membantu memusnahkan penyakit itu sama sekali.

Pengembangan virus Polio ini tidak perlu dikhawatirkan karena, menurut jurnal PLOS Pathogens, para peneliti dari ilmuwan-ilmuwan Belanda melaporkan bahwa galur vaksin itu dapat berkembang biak hanya dalam suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh. Organisme dalam vaksin tersebut direkayasa secara genetika supaya dapat tumbuh baik pada suhu 30 derajat Celsius tapi tidak sama sekali pada 37 derajat, suhu manusia normal. Virus itu tidak menular, jadi tidak akan ada wabah jika patogen poliomyelitis ini keluar dari lokasi.

Hal itu berarti bahwa jika ada kebocoran yang tidak disengaja dan seseorang terkena virus polio tersebut, maka virus itu tidak dapat tumbuh dan berkembang biak dalam tubuh orang yang terkena virus.

Selain itu alasan lain mengapa pengembangan vaksin ini dirasa penting karena menurut Jerome Custers, ilmuwan senior vaksin dari Jannsen Infectious Disease and Vaccines di Belanda, stok dari vaksin yang dapat disuntikkan saat ini rendah dan cukup mahal untuk dibuat.
Hanya ada enam negarayang memiliki izin prodkusi vaksin itu seperti Kanada, Belanda, Belgia, Swedia, Swiss dan Perancis. Namun Custers mengatakan adanya vaksin polio yang aman dan mudah direproduksi akan menurunkan biaya obat tersebut karena lebih banyak negara, seperti India, sudah mulai memproduksinya.

|Sumber: voaindonesia.com & http:www.unicef.org.[]

Apa Kata Rosmiyati Tentang Imunisasi

Rosmiyati SSiT MKes adalah Dosen Kebidanan Universitas Malahayati. Dosen yang bergabung sejak 2009 ini menjelaskan pentingnya Imunisasi bagi anak. Saat ini Kementerian Kesehatan bersama seluruh  Dinas Kesehatan seluruh Indonesia sedang melaksanakan Pekan Imunisasi (PIN) Polio 2016 sejak 8 Maret 2016 Lalu.

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.

Menurut Rosmiyati Imunisasi itu penting untuk pencegahan berbagai penyakit. “Imunisasi itu untuk pencegahan, Resiko terjangkit penyakit bagi anak yang tidak diimunisasi lebih besar,” ujar Rosmiyati. Vaksin yang diberikan saat Imunisasi yaitu vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP, dan campak.

Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis  atau yang lebih dikenal sebagai TBC. Sedangkan Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan pertusis.

Menurut Dosen kebidanan ini pengetahuan tetang imunisasi ini sangat penting bagi orangtua untuk mengetahui penting dan manfaat dari Imunisasi. “Masih banyak didaerah-daerah yang tidak melakukan imunisasi, Nah mempengaruhinya itu sulit sekali,” ujar Rosmiyati.

Kemenkes RI: Vaksin Polio Pekan Imunisasi Nasional 2016 Tanpa Bahan Bersumber Babi

Terkait beredarnya gambar bungkus vaksin polio yang bertuliskan pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi di media sosial, perlu kami sampaikan klarifikasi sebagai berikut:

1. Bungkus vaksin polio yang beredar di medsos dengan tulisan pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi adalah vaksin polio suntik. Sedangkan yang digunakan pada Pekan Imunisasi Nasional 2016 adalah Vaksin Tetes.

2. PIN Polio 2016 menggunakan vaksin dengan bungkus bertuliskan Oral Polio Vaccine produksi Biofarma. Tidak ada tulisan apapun terkait bahan bersumber babi.

3. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendukung program imunisasi di Indonesia, termasuk PIN Polio 2016 sebagaimana tercantum dalam fatwa MUI Nomer 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang ditetapkan pada 23 Januari 2016.

4. Pemerintah menghimbau kepada masyarakat Indonesia agar membawa anak-anaknya usia 0 sd 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8-15 Maret 2016. PIN Polio 2016 bertujuan mencegah anak-anak Indonesia tertular virus Polio. Dengan imunisasi polio masyarakat akan mendapatkan kekebalan yang tinggi sehingga dapat mempertahankan status Indonesia Bebas Polio.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

Ayo Sukseskan PIN Polio Tahun 2016

Pencapaian eradikasi polio (ERAPO) merupakan sebuah komitmen global. Diharapkan, pada tahun 2020 kita akan mewujudkan Eradikasi Polio di seluruh dunia. Jika hal ini dapat kita wujudkan, maka ini adalah sebuah prestasi besar kedua yang dicapai masyarakat dunia di bidang kesehatan setelah pembasmian atau Eradikasi Cacar atau Variolla yang dicapai pada tahun 1974.

Rangkaian strategi menuju pencapaian ERAPO dimulai pada tahun 1988, dan sejak saat itu insidens atau angka kejadian kasus polio di dunia menurun hingga lebih dari 99%. Negara endemis polio telah berkurang dari 125 negara menjadi hanya 2 negara yang tersisa yaitu Pakistan dan Afganistan.

Indonesia, bersama dengan negara-negara di Regional Asia Tenggara telah mendapatkan Sertifikat Bebas Polio dari World Health Organization (WHO) pada tanggal 27 Maret 2014. Namun, meskipun telah dinyatakan bebas polio, risiko penyebaran polio di Indonesia tetap tinggi selama virus polio liar masih bersirkulasi di dunia dan faktor risiko untuk terjadi penularan masih tetap ada oleh karena kekebalan masyarakat yang belum optimal yang disebabkan karena masih terdapatnya daerah-daerah kantong dengan cakupan imunisasi polio rutin yang rendah selama beberapa tahun.

Penularan virus polio yang berasal dari luar negeri (importasi) pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2005, padahal sebelumnya sudah 10 tahun Indonesia tidak memiliki kasus polio. Kejadian tersebut dimulai dari kasus di Sukabumi pada Januari 2005, dan kemudian menyebar ke provinsi lain di pulau Jawa dan Sumatera, dengan total kasus 305 anak.

Virus polio import tersebut diduga berasal dari Nigeria yang menyebar melalui Timur Tengah. Penularan tersebut terjadi terutama pada anak-anak yang rentan terhadap penyakit polio oleh karena belum mendapat imunisasi polio sama sekali atau imunisasi polio yang diperoleh belum lengkap.

Berdasarkan keadaan ini, maka Indonesia harus melakukan pemberian imunisasi tambahan polio untuk mendapatkan kekebalan masyarakat yang tinggi sehingga akan dapat mempertahankan status bebas polio yang telah diperoleh dan juga sebagai upaya untuk mewujudkan Dunia Bebas Polio.

Imunisasi tambahan ini dikenal dengan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 s.d 15 Maret 2016 di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di DI Yogyakarta (hal ini dikarenakan DIY tidak lagi menggunakan vaksin polio tetes, sementara PIN Polio menggunakan vaksin polio tetes), dengan target cakupan >95%.

Sasaran kegiatan PIN adalah anak usia 0-59 bulan (balita), yang merupakan kelompok paling rentan untuk tertular virus polio. PIN dilaksanakan di Pos PIN, Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat (mis: sekolah, pasar, terminal, pelabuhan, dan bandara).

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.