Posts

Berikut Ini Alur Exit-Exam UKMPPD Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

BERIKUT ini alur Exit-Exam UKMPPD. UKMPPD adalah Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter. Bagi Mahasiswa/i Univeritas Malahayati khususnya Fakultas Kedokteran yang sedang disibukkan dengan UKMPPD  berikut adalah alur Exit-Exam UKMPPD Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati untuk periode 2016:

alur exit-exam

Begini Alur Permohonan Pengurusan Cuti

Cuti Kuliah adalah menunda/berhenti sementara waktu semua kegiatan akademik untuk jangka waktu tertentu dengan seijin Rektor. Bagi Mahasisiwa/i Univewritas Malahayati yang ingin mengurus cuti, Berikut alur Pengurusan Cuti:

  1. Ambil form cuti di loket 10 P3T, lalu isi formulir tersebut sesuai dengan kebutuhan.
  2. Ambil surat bebas perpustakaan di UPT-perpustakaan Malahayati di bagian administrasi. Disana anda akan kembali mengisi formulir bebas perpustakaan.
  3. Temui Dekan atau Kaprodi sesuai fakultas dan jurusan masing-masing untuk mendapatkan persetujuan dan
  4. validasi permohonan cuti.
  5. Kembalikan formulir ke loket 10 di P3T. Tunggu hingga permintaan anda diproses. Setelah semua beres anda akan diberikan berkas pengabulan permohonan cuti yang sudah divalidasi.

Cuti juga bisa disebabkan oleh keterlambatan pengisian Kartu Rencana Study (KRS) online. Oleh karena itu jangan sampai terlambat dalam mengisi KRS sesuai dengan jadwal masing-masing prodi.

Alur Exit-Exam UKMPPD Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Exit-Exam UKMPPD adalah Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter. Bagi Mahasiswa/i Univeritas Malahayati khususnya Fakultas Kedokteran yang sedang disibukkan dengan UKMPPD  berikut adalah alur Exit-Exam UKMPPD Fakultas Kedokteran Universitas Malahyati untuk periode 2016:

alur exit-exam

Sejarah dan Perkembangan Mesin Las serta Proses Pengelasan

LAS adalah penyambungan besi dengan cara membakar. Prinsip kerja las adalah menyambung dua bagian logam atau lebih dengan menggunkan energi panas.

Pengelasan dengan metode yang dikenal sekarang, mulai dikenal pada awal abad ke 20. Sebagai sumber panas digunakan api yang berasal dari pembakaran gas Acetylena yang kemudian dikenal sebagai las karbit. Waktu itu sudah dikembangkan las listrik namun masih  langka.

Pada Perang Dunia II, proses pengelasan untuk pertama kalinya dilakukan dalam skala besar. Dengan las listrik, dalam waktu singkat, Amerika Serikat dapat membuat sejumlah kapal sekelas dengan kapal SS Liberty, yang merupakan kapal pertama yang diluncurkan dengan di las. Di mana sebelumnya kapal yang dikeluarkan, proses pengerjaan menggunakan paku keling (‘’rivets’’). Pada masa itu, muncul pula cara pertama untuk mengetes hasil pengelasan, seperti uji ‘’kerfslag’’ (lekukan yang tertutup lapisan).

Para ahli sejarah memperkirakan bahwa orang Mesir kuno mulai menggunakan pengelasan dengan tekanan pada tahun 5500 SM (untuk membuat pipa tembaga dengan memalu lembaran yang tepinya saling menutup). Winterton menyebutkan bahwa benda seni orang Mesir yang dibuat pada tahun 3000 SM terdiri dari bahan dasar tembaga dan emas hasil peleburan dan pemukulan. Jenis pengelasan ini, yang disebut pengelasan tempa {forge welding), merupakan usaha manusia yang pertama dalam menyambung dua potong logam. Contoh pengelasan tempa kuno yang terkenal adalah pedang Damascus yang dibuat dengan menempa lapisan-lapisan besi yang berbeda sifatnya.

Pengelasan tempa telah berkembang dan penting bagi orang Romawi kuno sehingga mereka menyebut salah satu dewanya sebagai Vulcan (dewa api dan pengerjaan logam) untuk menyatakan seni tersebut. Sekarang kata Vulkanisir dipakai untuk proses perlakuan karet dengan sulfur, tetapi dahulu kata ini berarti “mengeraskan”. Dewasa ini pengelasan tempa secara praktis telah ditinggalkan dan terakhir dilakukan oleh pandai besi. tahun 1901-1903 Fouche dan Picard mengembangkan tangkai las yang dapat digunakan dengan asetilen (gas karbit), sehingga sejak itu dimulailah zaman pengelasan dan pemotongan oksi-asetilen (gas karbit oksigen).

Periode antara 1903 dan 1918 merupakan periode pemakaian las yang terutama sebagai cara perbaikan, dan perkembangan yang paling pesat terjadi selama Perang Dunia I (1914-1918). teknik pengelasan terbukti dapat diterapkan terutama untuk memperbaiki kapal yang rusak. Winterton melaporkan bahwa pada tahun 1917 terdapat 103 kapal musuh di Amerika yang rusak dan jumlah buruh dalam operasi pengelasan meningkat dari 8000 sampai 33000 selama periode 1914-1918. Setelah tahun 1919, pemakaian las sebagai teknik konstruksi dan pabrikasi mulai berkembang dengan pertama menggunakan elektroda paduan (alloy) tembaga-wolfram untuk pengelasan titik pada tahun 1920.

Pada periode 1930-1950 terjadi banyak peningkatan dalam perkembangan mesin las. Proses pengelasan busur nyala terbenam (submerged) yang busur nyalanya tertutup di bawah bubuk fluks pertama dipakai secara komersial pada tahun 1934 dan dipatenkan pada tahun 1935. Sekarang terdapat lebih dari 50 macam proses pengelasan yang dapat digunakan untuk menyambung pelbagai logam dan paduan.

Pengelasan yang kita lihat sekarang ini jauh lebih kompleks dan sudah sangat berkembang. Kemajuan dalam teknologi pengelasan tidak begitu pesat sampai tahun 1877. Sebelum tahun 1877, proses pengelasan tempa dan peyolderan telah dipakai selama 3000 tahun. Asal mula pengelasan tahanan listrik {resistance welding) dimulai sekitar tahun 1877 ketika Prof. Elihu Thompson memulai percobaan pembalikan polaritas pada gulungan transformator, dia mendapat hak paten pertamanya pada tahun 1885 dan mesin las tumpul tahanan listrik {resistance butt welding) pertama diperagakan di American Institute Fair pada tahun 1887.

Pada tahun 1889, Coffin diberi hak paten untuk pengelasan tumpul nyala partikel (flash-butt welding) yang menjadi satu proses las tumpul yang penting. Zerner pada tahun 1885 memperkenalkan proses las busur nayala karbon {carbon arc welding) dengan menggunakan dua elektroda karbon, dan N.G. Slavinoff pada tahun 1888 di Rusia merupakan orang pertama yang menggunakan proses busur nyala logam dengan memakai elektroda telanjang (tanpa lapisan). Coffin yang bekerja secara terpisah juga menyelidiki proses busur nyala logam dan mendapat hak paten Amerika dalam tahun 1892. Pada tahun 1889, A.P. Strohmeyer memperkenalkan konsep elektroda logam yang dilapis untuk menghilangkan banyak masalah yang timbul pada pemakaian elektroda telanjang.

Thomas Fletcher pada tahun 1887 memakai pipa tiup hidrogen dan oksigen yang terbakar, serta menunjukkan bahwa ia dapat memotong atau mencairkan logam. Pada penggunaan dan pengembangan teknologi las. Pada waktu ini, teknik las telah dipergunakan secara luas dalam penyambungan batang-batang pada konstruksi bangunan baja dan konstruksi mesin. Luasnya penggunaan teknologi ini disebabkan karena bangunan dan mesin yang dibuat dengan mempergunakan teknik penyambungan ini menjadi lebih ringan dan proses pembuatannya juga lebih sederhana, sehingga biaya keseluruhannya menjadi lebih murah.

Berdasarkan penemuan benda-benda sejarah, dapat diketahui bahwa teknik penyambungan logam telah diketahui sejak jaman prasejarah, misalnya pembrasingan logam paduan emas tembaga dan pematrian paduan timbal-timah. Menurut keterangan yang didapat telah diketahui dan dipraktikan dalam rentang waktu antara tahun 40000 sampai 30000 SM. Sumber energi panas yang digunakan waktu itu diduga dihasilkan dari pembakaran kayu atau arang, tapi panas yang dihasilkan pembakaran dari bahan bakar itu sangat rendah, sehingga teknik penyambungan ini tidak dikembangkan lebih lanjut.

Setelah energi listrik dapat dipergunakan dengan mudah, teknologi pengelasan maju dengan pesat dan menjadi suatu teknik penyambungan yang mutakhir. Cara-cara dan teknik pengelasan yang sering digunakan pada masa itu adalah las busur, las resistansi, las termit, dan las gas, pada umumnya diciptakan pada akhir abad ke – 19.

Benardes menggunakan alat-alat las busur pada tahun 1885, dengan elektroda dibuat dari batang karbon atau grafit. Pada tahun 1892, Slavianoff adalah orang pertama yang menggunakan kawat logam elektroda yang turut mencair karena panas yang ditimbulkan oleh busur listrik yang terjadi. Kjellberg menemukan kualitas sambungan menjadi lebih baik bila kawat elektroda dibugkus dengan terak. Pada tahun 1886, Thomson menciptakan proses las resistansi listrik. Goldscmitt menemukan las termit dalam tahun 1895 dan pada tahun 1901 las oksi asetelin mulai digunakan oleh Fouche dan piccard. Pada tahun 1936 Wesserman menemukan cara pembrasingan yang mempunyai kekuatan tinggi.

Kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai sampai dengan tahun 1950, telah mulai mempercepat lagi kemajuan dalam bidang las. Pada masa ini telah ditemukan cara-cara baru dalam pengelasan antara lain las tekan dingin, las listrik terak, las busur dengan pelindung CO2, las gesek, las busur plasma dan masih banyak lagi.

|sumber: wikipedia.org dan dikutip dari berbagai sumber

Galeri Foto Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin saat Praktikum Proses Pengelasan [Part 2]

MAHASISWA Teknik Mesin Universitas Malahayati laksanakan Praktikum Proses Pengelasan di Laboratorium Teknik Mesin pada 11, Januari 2016. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak hari ini hingga 13 Januari 2016. Ini merupakan kegiatan wajib mahasiswa Teknik Mesin yang telah mengikuti teori perkuliahan proses pengelasan.

Praktikum yang diikuti 14 mahasiswa ini dibimbing langsung oleh Tumpal Ojahan R ST MT. Praktikum proses pengelasan ini diberikan untuk menambah wawasan teori dan melakukan praktek kerja pengelasan yang berkaitan dengan mata kuliah proses pengelasan.

Berikut galeri fotonya:

Galeri Foto Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin saat Praktikum Proses Pengelasan [Part 1]

MAHASISWA Teknik Mesin Universitas Malahayati laksanakan Praktikum Proses Pengelasan di Laboratorium Teknik Mesin pada 11, Januari 2016. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak hari ini hingga 13 Januari 2016. Ini merupakan kegiatan wajib mahasiswa Teknik Mesin yang telah mengikuti teori perkuliahan proses pengelasan.

Praktikum yang diikuti 14 mahasiswa ini dibimbing langsung oleh Tumpal Ojahan R ST MT. Praktikum proses pengelasan ini diberikan untuk menambah wawasan teori dan melakukan praktek kerja pengelasan yang berkaitan dengan mata kuliah proses pengelasan.

Berikut galeri fotonya:

 

Potret Praktikum Proses Pengelasan Fakultas Teknik MEsin Universitas Malahayati

MAHASISWA Teknik Mesin Universitas Malahayati laksanakan Praktikum Proses Pengelasan di Laboratorium Teknik Mesin pada 11, Januari 2016. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak hari ini hingga 13 Januari 2016. Ini merupakan kegiatan wajib mahasiswa Teknik Mesin yang telah mengikuti teori perkuliahan proses pengelasan.

Praktikum yang diikuti 14 mahasiswa ini dibimbing langsung oleh Tumpal Ojahan R ST MT. Praktikum proses pengelasan ini diberikan untuk menambah wawasan teori dan melakukan praktek kerja pengelasan yang berkaitan dengan mata kuliah proses pengelasan. Tujuan utama praktikum ini untuk mengenalkan mesin las listrik dan cara penggunaannya, mampu menentukan parameter proses pengelasan dan melakukan beberapa proses pengelasan serta mampu mengevaluasi dan menentukan jenis cacat hasil pengelasan.

Berikut potretnya:

 

Praktikum Proses Pengelasan Fakultas Teknik Mesin Universitas Malahayati

MAHASISWA Teknik Mesin Universitas Malahayati laksanakan Praktikum Proses Pengelasan di Laboratorium Teknik Mesin pada 11, Januari 2016. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak hari ini hingga 13 Januari 2016. Ini merupakan kegiatan wajib mahasiswa Teknik Mesin yang telah mengikuti teori perkuliahan proses pengelasan.

Proses pengelasan secara umum merupakan proses penyambungan dua buah atau lebih logam dasar (base metal) dengan cara pencairan material tersebut melalui masukan panas (heat input). Berdasarkan definisi dari Deatche Industri and Normen (DIN), Las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam melting atau cair.

Praktikum yang diikuti 14 mahasiswa ini dibimbing langsung oleh Tumpal Ojahan R ST MT. Praktikum proses pengelasan ini diberikan untuk menambah wawasan teori dan melakukan praktek kerja pengelasan yang berkaitan dengan mata kuliah proses pengelasan. Tujuan utama praktikum ini untuk mengenalkan mesin las listrik dan cara penggunaannya, mampu menentukan parameter proses pengelasan dan melakukan beberapa proses pengelasan serta mampu mengevaluasi dan menentukan jenis cacat hasil pengelasan.

“Praktikum ini terdapat tiga modul yaitu, Pengelasan Jalur, pengelasan Butt Joint, Pengelasan T-Joint serta bonus modul Penyambungan Pipa,” kata Tumpal.[]